Catatan saya kali ini lebih pada menguatkan
pembahasan saya pada catatan-catatan saya sebelumnya yakni “catatan 57 : JANGAN
DIDIK ANAKMU MENJADI GENERASI YANG “KEHILANGAN” WAKTU SUBUH”. Mendidik anak
agar “memiliki” waktu subuh dengan baik memang tidak mudah dilakukan oleh
setiap orang tua muslim hari ini. Sebab “memiliki” waktu subuh tidak sekedar
membangun rutinitas harian saja, tapi harus diiringi proses membangun kesadaran
anak.
Sedangkan proses membangun kesadaran anak tidak
bisa dilakukan secara instans, asal-asalan, tetapi melalui proses yang panjang.
Dari kesadaran, nantinya akan lahir menjadi kebutuhan, anak merasa butuh untuk bisa
bangun pagi dengan baik, lalu dari kebutuhan akan lahirlah yang namanya rasa “memiliki”.
Jika, anak mampu “memiliki” maka waktu subuh akan menjadi bagian dari karakter
pribadinya, sehingga dimana pun dan kapan pun, susah/berat, longgar/sibuk pasti
anak mampu menunaikan dengan baik, minimal anak akan berjuang sekuat tenaga
agar mampu menunaikan dengan baik.
Maka, ketika anak telah “memiliki” waktu
subuhnya dengan baik sejak usia dini (hasil dari proses pengasuhan/pendidikan),
maka sudah sepantasnya para orang tua tidak kuatir dengan masa depan anak
nantinya. Biarlah anak terus berkembang sesuai dengan potensi dan bakatnya
selama tidak melanggar syariat Allah Ta’ala. Dan jika dirinya nanti berkeluarga
dan memiliki anak sebagaimana kita saat ini,Insya Allah dirinya akan mampu
mendidik anaknya agar memiliki waktu subuhnya dengan baik. Sebab orang tuanya
telah “memiliki”nya, sedangkan orang tua yang tak “memiliki” waktu subuhnya
dengan baik, niscaya tak mampu memberi pada anak-anak mereka.
Jujur kita akui, bahwa hari ini masjid kita
khususnya sholat subuhnya sepi dari generasi muda bahkan dari para
santri/alumni pondok pesantren sekalipun (saat mereka pulang/liburan di rumah).
Sepinya masjid disaat waktu subuh tidak serta merta gagalnya masjid membangun
dakwah yang simpatik pada ummat sekitar masjid. Tapi, kegagalan ini lebih pada gagalnya
proses pengasuhan/pendidikan anak di keluarga muslim saat ini. Dimana seorang
bapak/ayah tak mampu menjadi tauladan/contoh kesholehan bagi anak-anaknya dan
seorang ibu tak bisa mendidik anaknya dengan baik. Jangankan sholat subuh ke
masjid, bangun di waktu pagi saja kadang tak mampu ditunaikan dengan baik
Anak “memiliki” waktu subuh adalah bagian
dari karakter dasar anak (Amal Yaumi Muslim) yang seharusnya menjadi prioritas
dan salah satu indikator keberhasilan didik anak bagi orang tua muslim saat ini.
Punya nilai yang baik, bakat yang berkembang, gelar pendidikan adalah bonus
orang tua semata, yang apabila mampu diraih anak perlu kita syukuri bersama. Adapun
jika tak mampu juga tidak masalah. Tapi lain, jika anak mampu/tidaknya menjaga
waktu subuhnya dengan baik. Sebab tidak ada jaminan pula orang tua yang
mondokkan anaknya di pondok pesantren anak mampu memiliki waktu subuhnya dengan
baik.
Maka tidak heran, jika saat anak aktif
dipondok pesantren anak-anak kita kebanyakan mampu menunaikan dengan sangat baik,
tapi saat kembali pulang/liburan di rumah anak tak mampu menunaikan waktu
subuhnya dengan baik. Sekalipun telah nyantri lama di pondok pesantren tidak
ada jaminan anak “memiliki” waktu subuh dengan baik. Banyak anak yang
pulang/liburan pondok dan di rumah justru tak mampu menjaga waktu subuhnya
dengan baik, hp an melulu, tak empati pada pekerjaan rumah orang tuanya dll
Pertanyaannya kenapa, ada beberapa faktor
antara lain :
1. Membangun
anak agar “memiliki” waktu subuh sejatinya tanggungjawab pertama ada pada orang
tua khususnya anak usia di mana anak sudah diajari untuk menunaikan sholat
dengan baik pada usia 7 tahun dan 10 tahun boleh dipukul jika anak meninggalkan
sholat. Proses pengasuhan/pendidikan terbaik bagi anak adalah selama anak bersama/dekat
dengan orang tua.
Maka, saat anak
mondok di pesantren idealnya sholat 5 waktu anak, khususnya sholat subuh
berjama’ah ke masjid (bagi laki-laki) telah biasa dilakukan anak sebelum anak
mondok, sehingga pesantren tinggal menguatkan proses pengasuhan/pendidikan anak
saja
2. Disaat
anak mondok di pesantren orang tua enggan berubah menjadi lebih baik, khususnya
sholat subuhnya. Kenyataannya banyak orang tua yang anaknya mondok di pesantren
justru tak mampu menjaga waktu subuhnya. Tidak ada empati orang tua pada anak
yang sedang berjuang menjadi anak sholeh/ah di Pondok pesantren, padahal anak
rela diatur ini dan itu, dihukum, disuruh2, harus bangun jauh sebelum waktu
subuh dan kalau terlambat kena hukuman dll (CATATAN 84 : BEREMPATI PADA ANAK YANG SEDANG
BERJUANG MENUNUT ILMU DI PESANTREN)
Tapi, disatu sisi
orang tuanya santai, seakan-akan tidak ada beban, malas-malasan untuk bangun
pagi. Orang tua menganggap spp dan uang jajan anak sudah cukup untuk peduli
pada anak yang sedang mondok di pesantren.
3. Ditengah-tengah
munculnya banyak pondok pesantren saat ini dengan berbagai model dan metode
pendidikan, yang menawarkan kenyamanan dengan bangunan fisiknya yang megah,
sapra yang komplit dll. Tanpa kita sadari ponpes terjebak pada persaingan antar
pondok pesantren untuk mendapatkan santri/wati agar mau mondok di pesantrennya.
Akhirnya, pondok pesantren kehilangan orientasi dan fokus pada “branding alumni
pesantren” semata. Sedangkan sistem pendidikannya hanya “memoles” anak, tapi
tak mampu “menempa” anak dengan baik
Dari ke 3 faktor di atas jadi pelajaran kita,
bahwa mendidik anak agar “memiliki” waktu subuh dengan baik sangat tergantung
pada proses pengasuhan/pendidikan anak saat anak bersama/dekat orang tua,
proses perubahan orang tua dan pemilihan pesantren yang tepat untuk anak,
antara pesantren yang basis membangun karakter dasarnya lebih dominan atau ke
pesantren yang basis keilmuan/pengembangan bakatnya lebih dominan.
Jika anak kita karakter dasar yang kita
bangun di rumah menurut kita sangat kurang, maka masukkan ke pesantren yang
basis membangun karakter dasarnya lebih dominan, cari pesantren yang kecil dan
sederhana, mudah dipantau perkembangannya dll. Tapi, jika kita merasa telah
mampu meletakkan dasar karakter anak dengan baik dan yakin anak kita mampu
menjaga karakternya, maka jangan segan-segan masukkan anak di ponpes yang basis
keilmuan/bakatnya dominan.
Akan tetapi jika anak karakter dasarnya saja
masih belum beres, masuk ke pesantren yang dominan keilmuan/bakatnya,
dikuatirkan karakternya tidak semakin baik, berbagai kendala karakter anak tak
tertangani dengan baik, pengasuh pesantren tidak maksimal memberi pengasuhan
pada anak kita sebab fokus keilmuan/bakat anak asuhnya. Terlebih lagi yang
diberi tugas mengasuh pesantren secara langsung adalah ustadz/ah penugasan atau
ustadz muda.
Jadi, pemilihan pesantren untuk anak itu
tidak asal-asalan atau atas gensi orang tua semata, tapi semua atas
pertimbangan kebaikkan anak ke depan nantinya. Untuk itu, jangan buru2
menyalahkan pesantren jika ada yang kurang dari proses pengasuhan/pendidikan
anak kita selama mondok, setiap orang tua harus punya ilmu, pemahaman dan bijak
melihat proses pendidikan ala pesantren.
Wallahu 'alam bishowab
________
MENDIDIK ANAK BERKARAKTER SEJAK USIA DINI
(Diambilkan dari Catatan harian Pola Pendidikan di PONPES TAHFIZHUL QUR'AN
"KH khoirotun Hisan"
PENDAFTARAN SETIAP SAAT SELAMA KUOTA MASIH ADA
DAPATKAN BUKU :
SERIAL 01 MENDIDIK ANAK BERKARAKTER SEJAK
USIA DINI (BERBASIS PESANTREN)/ 0823 2474 5151




Posting Komentar
Yuk, tinggalkan komentar mu