CATATAN 105 : SUDAH LAMA NYANTRI DI PONDOK PESANTREN, TAPI TAK “MEMILIKI” WAKTU SUBUH DENGAN BAIK

 



Catatan saya kali ini lebih pada menguatkan pembahasan saya pada catatan-catatan saya sebelumnya yakni “catatan 57 : JANGAN DIDIK ANAKMU MENJADI GENERASI YANG “KEHILANGAN” WAKTU SUBUH”. Mendidik anak agar “memiliki” waktu subuh dengan baik memang tidak mudah dilakukan oleh setiap orang tua muslim hari ini. Sebab “memiliki” waktu subuh tidak sekedar membangun rutinitas harian saja, tapi harus diiringi proses membangun kesadaran anak.

 

Sedangkan proses membangun kesadaran anak tidak bisa dilakukan secara instans, asal-asalan, tetapi melalui proses yang panjang. Dari kesadaran, nantinya akan lahir menjadi kebutuhan, anak merasa butuh untuk bisa bangun pagi dengan baik, lalu dari kebutuhan akan lahirlah yang namanya rasa “memiliki”. Jika, anak mampu “memiliki” maka waktu subuh akan menjadi bagian dari karakter pribadinya, sehingga dimana pun dan kapan pun, susah/berat, longgar/sibuk pasti anak mampu menunaikan dengan baik, minimal anak akan berjuang sekuat tenaga agar mampu menunaikan dengan baik.

 

Maka, ketika anak telah “memiliki” waktu subuhnya dengan baik sejak usia dini (hasil dari proses pengasuhan/pendidikan), maka sudah sepantasnya para orang tua tidak kuatir dengan masa depan anak nantinya. Biarlah anak terus berkembang sesuai dengan potensi dan bakatnya selama tidak melanggar syariat Allah Ta’ala. Dan jika dirinya nanti berkeluarga dan memiliki anak sebagaimana kita saat ini,Insya Allah dirinya akan mampu mendidik anaknya agar memiliki waktu subuhnya dengan baik. Sebab orang tuanya telah “memiliki”nya, sedangkan orang tua yang tak “memiliki” waktu subuhnya dengan baik, niscaya tak mampu memberi pada anak-anak mereka.     

 

Jujur kita akui, bahwa hari ini masjid kita khususnya sholat subuhnya sepi dari generasi muda bahkan dari para santri/alumni pondok pesantren sekalipun (saat mereka pulang/liburan di rumah). Sepinya masjid disaat waktu subuh tidak serta merta gagalnya masjid membangun dakwah yang simpatik pada ummat sekitar masjid. Tapi, kegagalan ini lebih pada gagalnya proses pengasuhan/pendidikan anak di keluarga muslim saat ini. Dimana seorang bapak/ayah tak mampu menjadi tauladan/contoh kesholehan bagi anak-anaknya dan seorang ibu tak bisa mendidik anaknya dengan baik. Jangankan  sholat subuh ke masjid, bangun di waktu pagi saja kadang tak mampu ditunaikan dengan baik

 

Anak “memiliki” waktu subuh adalah bagian dari karakter dasar anak (Amal Yaumi Muslim) yang seharusnya menjadi prioritas dan salah satu indikator keberhasilan didik anak bagi orang tua muslim saat ini. Punya nilai yang baik, bakat yang berkembang, gelar pendidikan adalah bonus orang tua semata, yang apabila mampu diraih anak perlu kita syukuri bersama. Adapun jika tak mampu juga tidak masalah. Tapi lain, jika anak mampu/tidaknya menjaga waktu subuhnya dengan baik. Sebab tidak ada jaminan pula orang tua yang mondokkan anaknya di pondok pesantren anak mampu memiliki waktu subuhnya dengan baik.

 

Maka tidak heran, jika saat anak aktif dipondok pesantren anak-anak kita kebanyakan mampu menunaikan dengan sangat baik, tapi saat kembali pulang/liburan di rumah anak tak mampu menunaikan waktu subuhnya dengan baik. Sekalipun telah nyantri lama di pondok pesantren tidak ada jaminan anak “memiliki” waktu subuh dengan baik. Banyak anak yang pulang/liburan pondok dan di rumah justru tak mampu menjaga waktu subuhnya dengan baik, hp an melulu, tak empati pada pekerjaan rumah orang tuanya dll

 

Pertanyaannya kenapa, ada beberapa faktor antara lain :

1.  Membangun anak agar “memiliki” waktu subuh sejatinya tanggungjawab pertama ada pada orang tua khususnya anak usia di mana anak sudah diajari untuk menunaikan sholat dengan baik pada usia 7 tahun dan 10 tahun boleh dipukul jika anak meninggalkan sholat. Proses pengasuhan/pendidikan terbaik bagi anak adalah selama anak bersama/dekat dengan orang tua.

 

Maka, saat anak mondok di pesantren idealnya sholat 5 waktu anak, khususnya sholat subuh berjama’ah ke masjid (bagi laki-laki) telah biasa dilakukan anak sebelum anak mondok, sehingga pesantren tinggal menguatkan proses pengasuhan/pendidikan anak saja

 

2. Disaat anak mondok di pesantren orang tua enggan berubah menjadi lebih baik, khususnya sholat subuhnya. Kenyataannya banyak orang tua yang anaknya mondok di pesantren justru tak mampu menjaga waktu subuhnya. Tidak ada empati orang tua pada anak yang sedang berjuang menjadi anak sholeh/ah di Pondok pesantren, padahal anak rela diatur ini dan itu, dihukum, disuruh2, harus bangun jauh sebelum waktu subuh dan kalau terlambat kena hukuman dll (CATATAN 84 : BEREMPATI PADA ANAK YANG SEDANG BERJUANG MENUNUT ILMU DI PESANTREN)               

 

Tapi, disatu sisi orang tuanya santai, seakan-akan tidak ada beban, malas-malasan untuk bangun pagi. Orang tua menganggap spp dan uang jajan anak sudah cukup untuk peduli pada anak yang sedang mondok di pesantren.

 

3. Ditengah-tengah munculnya banyak pondok pesantren saat ini dengan berbagai model dan metode pendidikan, yang menawarkan kenyamanan dengan bangunan fisiknya yang megah, sapra yang komplit dll. Tanpa kita sadari ponpes terjebak pada persaingan antar pondok pesantren untuk mendapatkan santri/wati agar mau mondok di pesantrennya. Akhirnya, pondok pesantren kehilangan orientasi dan fokus pada “branding alumni pesantren” semata. Sedangkan sistem pendidikannya hanya “memoles” anak, tapi tak mampu “menempa” anak dengan baik

 


Rp 100.000,- + Ongkir 


Dari ke 3 faktor di atas jadi pelajaran kita, bahwa mendidik anak agar “memiliki” waktu subuh dengan baik sangat tergantung pada proses pengasuhan/pendidikan anak saat anak bersama/dekat orang tua, proses perubahan orang tua dan pemilihan pesantren yang tepat untuk anak, antara pesantren yang basis membangun karakter dasarnya lebih dominan atau ke pesantren yang basis keilmuan/pengembangan bakatnya lebih dominan.

 

Jika anak kita karakter dasar yang kita bangun di rumah menurut kita sangat kurang, maka masukkan ke pesantren yang basis membangun karakter dasarnya lebih dominan, cari pesantren yang kecil dan sederhana, mudah dipantau perkembangannya dll. Tapi, jika kita merasa telah mampu meletakkan dasar karakter anak dengan baik dan yakin anak kita mampu menjaga karakternya, maka jangan segan-segan masukkan anak di ponpes yang basis keilmuan/bakatnya dominan.

 

Akan tetapi jika anak karakter dasarnya saja masih belum beres, masuk ke pesantren yang dominan keilmuan/bakatnya, dikuatirkan karakternya tidak semakin baik, berbagai kendala karakter anak tak tertangani dengan baik, pengasuh pesantren tidak maksimal memberi pengasuhan pada anak kita sebab fokus keilmuan/bakat anak asuhnya. Terlebih lagi yang diberi tugas mengasuh pesantren secara langsung adalah ustadz/ah penugasan atau ustadz muda.   

 

Jadi, pemilihan pesantren untuk anak itu tidak asal-asalan atau atas gensi orang tua semata, tapi semua atas pertimbangan kebaikkan anak ke depan nantinya. Untuk itu, jangan buru2 menyalahkan pesantren jika ada yang kurang dari proses pengasuhan/pendidikan anak kita selama mondok, setiap orang tua harus punya ilmu, pemahaman dan bijak melihat proses pendidikan ala pesantren.     

 

Wallahu 'alam bishowab

________





MENDIDIK ANAK BERKARAKTER SEJAK USIA DINI (Diambilkan dari Catatan harian Pola Pendidikan di PONPES TAHFIZHUL QUR'AN "KH khoirotun Hisan" 

PENDAFTARAN SETIAP SAAT SELAMA KUOTA MASIH ADA

 

DAPATKAN BUKU :

SERIAL 01 MENDIDIK ANAK BERKARAKTER SEJAK USIA DINI (BERBASIS PESANTREN)/ 0823 2474 5151

 

0/Post a Comment/Comments

Yuk, tinggalkan komentar mu

Ads1
Ads2