..........................Sambungan dari
1. Ketika anak sedang belajar di pesantren, maka orang tua tidak perlu di libatkan menjadi bagian dari proses pendidikan dan pembinaan anak
Pada point ini, saya
awali dengan pertanyaan kira-kira apa masih perlu orang tua dilibatkan dalam
proses pendidikan dan pembinaan anak selama di pesantren, padahal anak selama
24 jam tinggal di pesantren ? Jawabannya : bisa ya dan bisa tidak, tergantung pada
persoalan dan sisi mana orang tua bisa terlibat dan pada sisi mana orang tua
tidak perlu terlibat.
Pembatasan ini tentu sepenuhnya menjadi kewenangan pihak pesantren sebagai pihak yang bertanggungjawab menyelenggarakan pendidikan. Jika ada yang bertanya kenapa ? Maka, jawabannya sebagai berikut :
- a. Pengasuh pesantren adalah pihak yang diberi dan menerima amanah khusus dari para orang tua yang mondokkan anak di pesantren. Amanah ini punya konsekwensi yang tidak ringan sebab mengharuskan adanya pertanggungjawaban pada orang tua dan tentunya pada Allah Ta’ala kelak.
- b. Pengasuh pesantren sejatinya berposisi diri sebagai penganti orang tua selama anak di pesantren, mereka tidak hanya menjaga 24 jam anak asuhnya, tapi juga menyiapkan sarana pra sarana, makanan yang layak, tempat tidur, pendidikan dan pembinaan bagi anak-anak kita selama mondok. Bagi pondok pesantren berbayar, tugas dan amanah pengasuh mungkin akan sedikit lebih ringan, jika dibandingkan dengan para pengasuh yang diamanahi anak yatim/kurang mampu, mereka sudah pasti punya tugas dan amanah yang sangat banyak dan berlipat-lipat
- c. Pengasuh
pesantren sebagai pihak yang diamanahi anak mondok, tentu pengasuh lebih paham bagaimana
proses pendidikan dan pembinaan anak selama mondok
Ke 3 hal tersebut
yang merupakan alasan kenapa kewenangan jalannya proses pendidikan dan
pembinaan anak kita perlu diberikan pada pihak ponpes. Sehingga para orang tua bisa
memahami tugas dan fungsi pengasuh di pesantren dengan baik. Sayangnya,
terkadang banyak orang tua tidak paham dengan persoalan ini, bahkan ada pula orang
tua yang terlalu “pintar” ikut mencampuri urusan proses pendidikan dan
pembinaan yang sedang berjalan di pesantren.
Ada kalanya pula, orang tua yang ikut mencampuri sistem yang telah dibuat pesantren hanya mempertimbangkan kepentingan anaknya sendiri, aturan yang sudah buat baik-baik dilanggar, tata tertib dan ketentuan yang telah disepakati bersama dengan ringannya di lobi agar anaknya bisa ikut ini dan itu sesuai keinginan orang tua dll. Bahkan tak jarang orang tua yang berduit atau berkantong tebal mempengaruhi kebijakan pesantren yang telah dibuat, jika tidak dituruti bantuan atau donasi yang selama ini diberikan akan di hentikan.
Akhirnya pesantren kehilangan arah dan tidak sesuai dengan visi dan misi yang telah di tancapkan sejak awal. Sebab orang yang mampu (dalam hal ini pengasuh) saat menjalankan proses pendidikan dan pembinaan anak di pondok pesantren ada dalam tekanan dan mudah dikendalikan oleh orang yang tak paham pendidikan ala pesantren.
Dari sini, seakan-akan orang tua masih merasa kurang dengan proses pendidikan dan pembinaan anaknya selama bersamanya, sehingga dirinya merasa perlu dan repot-repot ikut mencampuri urusaan ponpes yang telah dia beri amanah mendidik anaknya. Pada akhirnya tanpa disadarinya orang tua ikut andil merusaknya proses pendidikan yang tengah berjalan di pesantren selama ini.
Hal ini bermula karena kurang ikhlas dan ridho nya orang tua mengamanahkan anak-anaknya pada pengasuh pesantren. Dari persoalan ini seringkali pengasuh pesantren pun binggung harus bagaimana mengambil kebijakan, karena ulah orang tua sebagaimana penjelasan di atas.
Lalu bagaimana sikap dan prilaku yang harus ditunjukkan para orang tua selama anak mondok ? Sikap yang paling bijak yakni berada pada sikap pertengahan, Tidak ikut campur dengan proses pendidikan dan pembinaan anak-anak kita di pesantren secara langsung, tapi juga tidak abai jika peran orang tua dibutuhkan pesantren
A. Para
orang tua harus paham setiap level pendidikan anak pada prinsipnya ada
massanya. Masa anak masih kecil adalah masa dimana proses pendidikan anak
seharusnya ada ditangan orang tua. Ditangan orang tuanya lah pondasi pendidikan
dasar harus mampu tertanam dengan baik pada anak-anak kita. Dan seharusnya pula
pendidikan dasar anak tidak boleh diwakilkan oleh siapa pun, jika ada orang
lain yang ikut terlibat semua hanya bersifat pelengkap semata.
Pada intinya setiap orang tua yang ingin mondokkan anaknya di pesantren sejatinya telah diberikan waktu dan ruang yang cukup luas sebelum anak benar-benar mondok di pesantren. Jika boleh dibuat hitungan tahun mungkin sejak anak lahir hingga usia 13 tahun (Anak lulus dari SD/MI). Jadi sejatinya waktu anak ada disisi orang tua seharusnya sudah cukup menjadikan anak-anak siap berpetualang untuk menuntut ilmu dan pengalaman hidupnya di dunia nyata yang diawali dengan masuk ke pondok pesantren.
Bahkan pada level ini adalah level yang paling penting dari sekian proses pendidikan yang nantinya akan dijalani anak-anak kita. Dan pada level ini pula seringkali menjadi kunci kesuksesan anak mondok di pesantren atau kunci sukses pada saat dirinya telah benar-benar menjalani hidup yang sesungguhnya.
Sayangnya, waktu dan ruang yang cukup luas ini seringkali tak mampu dimanfaatkan dengan baik oleh para orang tua untuk memberikan yang terbaik untuk anak-anak kita. Pada level ini seringkali orang tua hanya mampu memberikan sisa-sisa pada anaknya, perhatiannya sisa-sisa, waktu luangnya sisa, kebersamaan dengan anak juga sisa-sisa, dan yang lebih ironis lagi hatinya pun sisa-sisa untuk anaknya.
Akibatnya pondasi dasar anak tak mampu tertanam dengan baik, kebiasaan amal yaumi yang seharusnya dimiliki anak tak mereka punyai. Semua ikut karena orang tua yang super sibuk, orang tua yang lalai, orang tua yang tak bisa fokus mendidik anaknya dengan baik disaat anak-anak membutuhkan kita.
Sedih rasanya, melihat generasi kita atau generasi Islam masa depan dibawah asuhan orang tua yang tak paham dan mengerti tentang bagaimana mendidikan anak yang baik menurut Islam.
Akhirnya ketika anak benar-benar mondok dipesantren mereka masih merasa kurang memberikan perhatian dan bekal pada anaknya, sehingga ikut mengintervensi proses pendidikan anak selama mondok di pesantren. Padahal pesantren sejatinya hanya berfungsi menguatkan apa telah tertanam baik di rumah, menambah apa yang kurang selama di rumah selebihnya Insya Allah pesantren akan dimampukan Allah Ta’alla mendidik dan membina anak kita menjadi lebih baik
B. Setelah
proses di level dasar pada saat anak berada di sisi orang tua sudah dianggap
cukup, maka saatnya amanah pendidikan dan pembinaan anak beralih ke pengasuh
pesantren.
Maka saat itu pula orang tua harus ikhlas dan ridho anaknya berada dibawa asuhan pengasuh pesantren selama 24 jam. Sebuah amanah yang tidak mudah dan ringan bagi pesantren mengurus sekian banyak anak-anak dari latar belakang yang berbeda-beda. Mereka tidak hanya memastikan anak-anak terjaga dengan baik, tapi juga terawat, terdidik dan terbina dengan baik pula, belum lagi jika ada masalah/persoalan pada anak selama mondok, tak jarang para pengasuh justru menjadi pihak yang paling disalahkan. Naudzubillahi min dzalik
Sebagaimana penjelasan saya sebelumnya, bahwa pesantren sejatinya mitra orang tua untuk mendidik anak-anak kita. Pengasuh adalah orang tua ke 2 dan pesantren adalah rumah ke 2 anak-anak kita, jangan sampai kebalik. Pesantren sejatinya hanya berfungsi menguatkan apa telah tertanam baik di rumah, menambah apa yang kurang selama di rumah. Maka, memililih pesantren yang tepat untuk anak-anak kita tak kalah pentingnya dari proses lanjutan pendidikan anak-anak kita.
............................... Bersambung


Posting Komentar
Yuk, tinggalkan komentar mu