Pondok pesantren adalah
salah satu wadah pendidikan untuk menempa anak. Sebagai wadah pendidikan tentu
pesantren punya ciri kas khusus yang membedakan dengan wadah pendidikan anak
lainnya. Dengan ciri kasnya yang unik ternyata banyak orang tua saat ini yang
mulai tertarik dengan dunia pesantren, walaupun banyak pula yang enggan memondokkan
anaknya di pesantren karena sistem pendidikan yang mengharuskan orang tua
berpisah dengan anak mereka selama anak mondok dalam waktu yang lama.
Pondok pesantren adalah
hanya salah satu pilihan dari sekian banyak model pendidikan anak, tentu
kehadirannya jauh dari kata sempurna, apalagi konsep pendidikan pesantren pun berkembang
sangat pesat, ada yang fokus pada basis keilmuan, ada yang khusus tahfizh,
bahkan ada yang khusus anak-anak yatim/dhu’afa. Dari sisi banguan pun juga
beragam, ada yang sederhana, biasa saja, bahkan ada yang megah bagaikan hotel
berbintang dengan biaya masuk dan bulanan yang sangat mahal untuk ukuran orang
tua menengah ke bawah.
Terlepas dari itu
semua, tentu kehadiran ponpes dengan latar belakang berbeda-beda harus kita
syukuri bersama, sebab orang tua bisa punya banyak pilihan untuk mondokkan
anaknya di pesantren yang sesuai. Tapi sayangnya, untuk memilihkan pesantren
yang tepat seringkali orang tua binggung dan tidak memahami dengan baik.
Akhirnya memondokan anak di pesantren lebih pada keinginan/gengsi orang tua,
bukan karena kebutuhan anak.
MONDOKKAN
ANAK DI PESANTREN, ANTARA KEBUTUHAN ANAK DAN KEINGINAN/GENGSI ORANG TUA .......Ya,
iniah catatan saya kali ini, memondokkan
anak di pesantren bagi orang tua dahulu mungkin sangat rumit dan sulit sebab
tidak banyak ponpes yang berdiri, selain itu pilihan pun tak banyak. Sedangkan
untuk saat ini tentu sangat mudah dilakukan orang tua, apalagi banyak pula
ponpes yang biayanya ringan dan terjangkau bahkan gratis/full beasiswa. Tetapi
terkadang justru pemilihan ponpes mana yang tepat untuk anak kurang mendapatkan
perhatian dari orang tua. Akhirnya orang tua asal mondokkan anak atas dasar keinginan/gengsi
orang tua, padahal keinginan/gengsi orang tua belum tentu dibutuhkan anak
mereka.
Saya
ambilkan contoh sederhana, jika seorang anak ditakdirkan kehilangan kedua orang
tuanya atau salah satunya (yatim/Piatu) atau anak pada posisi orang tua pisah
“broken home” atau anak tak terurus dengan baik karena orang tua yang super
sibuk, tentu kurang tepat jika anak dimasukkan di pondok pesantren yang basis
keilmuannya lebih dominan dan pengasuhan anak dianggap telah selesai oleh
pesantren.
Padahal
anak sebagaimana di atas termasuk anak-anak yang berpotensi menjadi bagian anak
“yang punya masalah” sebab pengasuhan belum sepenuhnya selesai atau tuntas
diberikan padanya. Di satu sisi pesantren yang dirinya mondok, lingkungannya tidak menjadikan dirinya
mendapatkan pola pengasuhan yang baik, sebab rata-sara temannya punya latar
belakang orang tua yang lengkap dan harmonis, punya finasial yang cukup,
perhatian orang tua saat anaknya mondok bisa diberikan secara maksial dll.
Belum lagi pengasuh kurang mampu memberikan perhatian yang maksimal pada anak
karena keterbatasan ilmu yang dimiliki nya (masih ustadz/ah muda atau
pengabdian) dan berbagai kesibukkan lainnya.
Untuk
anak-anak yang punya latar belakang sebagaimana di atas sebaiknya di tempatkan
di ponpes yang pola pengasuhan fokus dan dominan dari pada basis keilmuannya. Misalkan
anak yatim/dhu’afa di masukkan di ponpes khusus anak yatim/dhu’afa sehingga apa
yang dibutuhkan anak bisa didapatkan dengan baik, khususnya dalam persoalan
pengasuhan. Sedangkan untuk anak-anak yang punya problem pada pengasuhan (orang
tua sangat kurang dalam memberikan pengasuhan) tempatkan di ponpes yang kecil,
sederhana dan jumlah santri/watinya tidak banyak, sehingga anak akan
mendapatkan apa yang dibutuhkannya yakni pengasuhan yang baik. Khususnya
anak-anak yang masih dalam proses membutuhkan pengasuhan dari orang
tua/keluarga terdekat (Usia 0 s/d 15 Tahun)
Tidak
perlu buru-buru memintarkan atau mengembangkan potensi anak atau memberikan
berbagai disiplin ilmu yang banyak pada anak, anak harus bisa ini dan itu,
sedangkan pengasuhan anak masih dirasa belum beres. Padahal untuk anak yang
tidak mendapatkan pola pengasuhan yang cukup, pengasuhan yang fokus dan baik
sejatinya yang dibutuhkan anak. Ketika pengasuhan mampu secara maksimal
diberikan (pada posisi tidak tersandra kurikulum), baru anak mulai di agendakan
untuk mulai dibekali berbagai disiplin ilmu dan pengembangan potensi/bakatnya
Yang
jadi pertanyaan, apakah pengasuhan, memberikan keilmuan dan bakat anak, belum
lagi anak-anak sekolah tak bisa diberikan secara bersamaan ? Bisa, tetapi untuk
anak-anak yang pengasuhan bersama/dekat orang tua bisa berjalan dengan baik,
kalaupun pun ada yang kurang itu hal yang biasa sebab tidak ada orang tua yang
sempurna mendidik anak-anak mereka.
Sedangkan
menurut pengalaman saya selama ini untuk anak yang dikatagorikan anak “yang
punya masalah” pengganti/memberikan pengasuhan yang baik selama anak mondok di
pesantren adalah harga mati (alamiyah dan tak tersandra kurikulum ponpes).
Sedangkan yang lainnya sifatnya tambahan semata artinya seorang anak tidak
wajib pintar/punya bakat hebat, tetapi anak mendapatkan pengasuhan yang baik
dan maksimal adalah keharusan, sehingga di saat anak telah mulai dewasa dan
mulai membangun cita-cita sudah tidak ada lagi “hutang pengasuhan” yang belum
tuntas. Kemudian baru anak mulai di pintarkan dengan berbagai disiplin ilmu dan
dikembangkan bakatnya.
Sedangkan
untuk anak yang pola pengasuhan yang diberikan orang tua/keluarga terdekat anak
dirasa cukup, orang tua mampu memberikan perhatian dengan baik, siap dengan finansial
dll, maka tempatkan anak seperti ini di ponpes yang basis keilmuan dan pengembangan
bakat anak dominan. Insya ALLA anak akan terus berkembang dan tidak ada
persoalan di pengasuhan nantinya (menggapai cita-cita tidak terhambat oleh
pengasuhan yang belum beres). Dan tentunya pengasuh ponpes pun akan ringan dan
mudah mendidik anak-anak seperti ini.
Kesimpulannya,
ada baiknya jika orang tua mondokkan anak di pesantren jangan melihat bangunan
fisik dan sapra pesantren, jangan melihat anak orang lain, jangan atas dasar
keinginan/gengsi orang tua, tapi sesuaikan dengan kebutuhan anak. Jika kita
orang yang berduit dan mampu memondokkan anak di tempat ponpes yang terkenal,
megah dan biaya yang mahal, sedangkan anak masih labil dan pengasuhan belum
bisa kita berikan dengan baik (kita tidak yakin kesiapan anak kita), sebaiknya
anak tidak dipondokkan di pesantren yang megah, besar dan jumlah santri/wati
banyak dll.
Begitu
pula, anak-anak yang atas takdir Allah Ta’ala hidup sebagai anak
yatim/paitu,anak yang terbuang (pengasuhannya hilang), maka sebaiknya tidak
dimasukkan ponpes yang basis keilmuannya dan pengembangan bakatnya dominan, sekali pun anak dibiaya secara gratis dan
ditanggung seluruh kebutuhan ponpes. Tapi, tempatkan anak di ponpes yatim/dhu’afa
yang tidak besar dan sederhana dan pastikan terawasi langsung oleh pengasuh
pesantren. Untuk anak-anak seperti ini, Insya Allah kebutuhan apapun akan
dicukupi oleh Allah Ta’ala melalui hamba-hamba Allah yang terpilih. Ingat, yang
dibutuhkan anak seperti ini bukan finansial, tapi pengasuhan yang baik
(mengembalikan kembali pengasuhan yang hilang)
Jadi,
untuk orang tua yang mau mondokkan anak di pesantren, berpikir dan bersikaplah
secara bijak, bahwa mondokkan anak harus benar-benar atas dasar kebutuhan anak
(bukan keinginan anak ?). Dan saya yakin setiap orang tua sejatinya tahu benar
apa yang dibutuhkan anak-anak mereka.
________
MENDIDIK ANAK
BERKARAKTER SEJAK USIA DINI (Diambilkan dari Catatan harian Pola Pendidikan di
PONPES TAHFIZHUL QUR'AN "KH khoirotun Hisan"
PENDAFTARAN SETIAP SAAT
SELAMA KUOTA MASIH ADA
DAPATKAN BUKU :
SERIAL 01 MENDIDIK ANAK
BERKARAKTER SEJAK USIA DINI (BERBASIS PESANTREN)/ 0823 2474 5151








Posting Komentar
Yuk, tinggalkan komentar mu