CATATAN 110 : MONDOKKAN ANAK DI PESANTREN, ANTARA KEBUTUHAN ANAK DAN KEINGINAN/GENGSI ORANG TUA ....

 


 

Pondok pesantren adalah salah satu wadah pendidikan untuk menempa anak. Sebagai wadah pendidikan tentu pesantren punya ciri kas khusus yang membedakan dengan wadah pendidikan anak lainnya. Dengan ciri kasnya yang unik ternyata banyak orang tua saat ini yang mulai tertarik dengan dunia pesantren, walaupun banyak pula yang enggan memondokkan anaknya di pesantren karena sistem pendidikan yang mengharuskan orang tua berpisah dengan anak mereka selama anak mondok dalam waktu yang lama.

 

Pondok pesantren adalah hanya salah satu pilihan dari sekian banyak model pendidikan anak, tentu kehadirannya jauh dari kata sempurna, apalagi konsep pendidikan pesantren pun berkembang sangat pesat, ada yang fokus pada basis keilmuan, ada yang khusus tahfizh, bahkan ada yang khusus anak-anak yatim/dhu’afa. Dari sisi banguan pun juga beragam, ada yang sederhana, biasa saja, bahkan ada yang megah bagaikan hotel berbintang dengan biaya masuk dan bulanan yang sangat mahal untuk ukuran orang tua menengah ke bawah.

 

Terlepas dari itu semua, tentu kehadiran ponpes dengan latar belakang berbeda-beda harus kita syukuri bersama, sebab orang tua bisa punya banyak pilihan untuk mondokkan anaknya di pesantren yang sesuai. Tapi sayangnya, untuk memilihkan pesantren yang tepat seringkali orang tua binggung dan tidak memahami dengan baik. Akhirnya memondokan anak di pesantren lebih pada keinginan/gengsi orang tua, bukan karena kebutuhan anak. 

 

MONDOKKAN ANAK DI PESANTREN, ANTARA KEBUTUHAN ANAK DAN KEINGINAN/GENGSI ORANG TUA .......Ya, iniah catatan saya kali ini,  memondokkan anak di pesantren bagi orang tua dahulu mungkin sangat rumit dan sulit sebab tidak banyak ponpes yang berdiri, selain itu pilihan pun tak banyak. Sedangkan untuk saat ini tentu sangat mudah dilakukan orang tua, apalagi banyak pula ponpes yang biayanya ringan dan terjangkau bahkan gratis/full beasiswa. Tetapi terkadang justru pemilihan ponpes mana yang tepat untuk anak kurang mendapatkan perhatian dari orang tua. Akhirnya orang tua asal mondokkan anak atas dasar keinginan/gengsi orang tua, padahal keinginan/gengsi orang tua belum tentu dibutuhkan anak mereka.  

 


Saya ambilkan contoh sederhana, jika seorang anak ditakdirkan kehilangan kedua orang tuanya atau salah satunya (yatim/Piatu) atau anak pada posisi orang tua pisah “broken home” atau anak tak terurus dengan baik karena orang tua yang super sibuk, tentu kurang tepat jika anak dimasukkan di pondok pesantren yang basis keilmuannya lebih dominan dan pengasuhan anak dianggap telah selesai oleh pesantren.

 

Padahal anak sebagaimana di atas termasuk anak-anak yang berpotensi menjadi bagian anak “yang punya masalah” sebab pengasuhan belum sepenuhnya selesai atau tuntas diberikan padanya. Di satu sisi pesantren yang dirinya mondok,  lingkungannya tidak menjadikan dirinya mendapatkan pola pengasuhan yang baik, sebab rata-sara temannya punya latar belakang orang tua yang lengkap dan harmonis, punya finasial yang cukup, perhatian orang tua saat anaknya mondok bisa diberikan secara maksial dll. Belum lagi pengasuh kurang mampu memberikan perhatian yang maksimal pada anak karena keterbatasan ilmu yang dimiliki nya (masih ustadz/ah muda atau pengabdian) dan berbagai kesibukkan lainnya.  

 


Untuk anak-anak yang punya latar belakang sebagaimana di atas sebaiknya di tempatkan di ponpes yang pola pengasuhan fokus dan dominan dari pada basis keilmuannya. Misalkan anak yatim/dhu’afa di masukkan di ponpes khusus anak yatim/dhu’afa sehingga apa yang dibutuhkan anak bisa didapatkan dengan baik, khususnya dalam persoalan pengasuhan. Sedangkan untuk anak-anak yang punya problem pada pengasuhan (orang tua sangat kurang dalam memberikan pengasuhan) tempatkan di ponpes yang kecil, sederhana dan jumlah santri/watinya tidak banyak, sehingga anak akan mendapatkan apa yang dibutuhkannya yakni pengasuhan yang baik. Khususnya anak-anak yang masih dalam proses membutuhkan pengasuhan dari orang tua/keluarga terdekat (Usia 0 s/d 15 Tahun)

 


Tidak perlu buru-buru memintarkan atau mengembangkan potensi anak atau memberikan berbagai disiplin ilmu yang banyak pada anak, anak harus bisa ini dan itu, sedangkan pengasuhan anak masih dirasa belum beres. Padahal untuk anak yang tidak mendapatkan pola pengasuhan yang cukup, pengasuhan yang fokus dan baik sejatinya yang dibutuhkan anak. Ketika pengasuhan mampu secara maksimal diberikan (pada posisi tidak tersandra kurikulum), baru anak mulai di agendakan untuk mulai dibekali berbagai disiplin ilmu dan pengembangan potensi/bakatnya

 

Yang jadi pertanyaan, apakah pengasuhan, memberikan keilmuan dan bakat anak, belum lagi anak-anak sekolah tak bisa diberikan secara bersamaan ? Bisa, tetapi untuk anak-anak yang pengasuhan bersama/dekat orang tua bisa berjalan dengan baik, kalaupun pun ada yang kurang itu hal yang biasa sebab tidak ada orang tua yang sempurna mendidik anak-anak mereka.

 

Sedangkan menurut pengalaman saya selama ini untuk anak yang dikatagorikan anak “yang punya masalah” pengganti/memberikan pengasuhan yang baik selama anak mondok di pesantren adalah harga mati (alamiyah dan tak tersandra kurikulum ponpes). Sedangkan yang lainnya sifatnya tambahan semata artinya seorang anak tidak wajib pintar/punya bakat hebat, tetapi anak mendapatkan pengasuhan yang baik dan maksimal adalah keharusan, sehingga di saat anak telah mulai dewasa dan mulai membangun cita-cita sudah tidak ada lagi “hutang pengasuhan” yang belum tuntas. Kemudian baru anak mulai di pintarkan dengan berbagai disiplin ilmu dan dikembangkan bakatnya.   

  


Sedangkan untuk anak yang pola pengasuhan yang diberikan orang tua/keluarga terdekat anak dirasa cukup, orang tua mampu memberikan perhatian dengan baik, siap dengan finansial dll, maka tempatkan anak seperti ini di ponpes yang basis keilmuan dan pengembangan bakat anak dominan. Insya ALLA anak akan terus berkembang dan tidak ada persoalan di pengasuhan nantinya (menggapai cita-cita tidak terhambat oleh pengasuhan yang belum beres). Dan tentunya pengasuh ponpes pun akan ringan dan mudah mendidik anak-anak seperti ini.

 

Kesimpulannya, ada baiknya jika orang tua mondokkan anak di pesantren jangan melihat bangunan fisik dan sapra pesantren, jangan melihat anak orang lain, jangan atas dasar keinginan/gengsi orang tua, tapi sesuaikan dengan kebutuhan anak. Jika kita orang yang berduit dan mampu memondokkan anak di tempat ponpes yang terkenal, megah dan biaya yang mahal, sedangkan anak masih labil dan pengasuhan belum bisa kita berikan dengan baik (kita tidak yakin kesiapan anak kita), sebaiknya anak tidak dipondokkan di pesantren yang megah, besar dan jumlah santri/wati banyak dll.

 


Begitu pula, anak-anak yang atas takdir Allah Ta’ala hidup sebagai anak yatim/paitu,anak yang terbuang (pengasuhannya hilang), maka sebaiknya tidak dimasukkan ponpes yang basis keilmuannya dan pengembangan bakatnya dominan,  sekali pun anak dibiaya secara gratis dan ditanggung seluruh kebutuhan ponpes. Tapi, tempatkan anak di ponpes yatim/dhu’afa yang tidak besar dan sederhana dan pastikan terawasi langsung oleh pengasuh pesantren. Untuk anak-anak seperti ini, Insya Allah kebutuhan apapun akan dicukupi oleh Allah Ta’ala melalui hamba-hamba Allah yang terpilih. Ingat, yang dibutuhkan anak seperti ini bukan finansial, tapi pengasuhan yang baik (mengembalikan kembali pengasuhan yang hilang)

 

Jadi, untuk orang tua yang mau mondokkan anak di pesantren, berpikir dan bersikaplah secara bijak, bahwa mondokkan anak harus benar-benar atas dasar kebutuhan anak (bukan keinginan anak ?). Dan saya yakin setiap orang tua sejatinya tahu benar apa yang dibutuhkan anak-anak mereka.    

 Wallahu 'alam bishowab





________

MENDIDIK ANAK BERKARAKTER SEJAK USIA DINI (Diambilkan dari Catatan harian Pola Pendidikan di PONPES TAHFIZHUL QUR'AN "KH khoirotun Hisan" 

 

PENDAFTARAN SETIAP SAAT SELAMA KUOTA MASIH ADA

 

DAPATKAN BUKU :

SERIAL 01 MENDIDIK ANAK BERKARAKTER SEJAK USIA DINI (BERBASIS PESANTREN)/ 0823 2474 5151

 

 

 

0/Post a Comment/Comments

Yuk, tinggalkan komentar mu

Ads1
Ads2