CATATAN 111 : PROSES PENDIDIKAN YANG LUPA MENDEWASAKAN ANAK

  


Catatan saya kali ini saya awali dari cerita pengalaman mengasuh anak di ponpes selama ini. Ada cerita anak yang pernah mondok di pesantren kami, cerita ini bukan untuk menjelekkan pribadi seseorang, tapi lebih pada mengambil pelajaran terhadap proses pendidikan anak-anak kita ke depan, bahwa mendidik anak-anak jaman sekarang tidak mudah dilakukan oleh para orang tua saat ini meskipun anak dididik di lingkungan pesantren. Saya yakin, bahwa cerita yang saya sampaikan ini sejatinya mewakili salah satu problematika pada anak-anak yang belajar di pesantren, atau paling tidak mirip dan mendekati 

 

Kami pernah punya santri, yang masuk di ponpes kami pada usia SMA/MA, saat usia SMP/MTs anak ini tidak mondok di pesantren kami. Artinya pada usia tersebut kami tidak tahu bagaimana latar belakang, karakter, kepribadian, kebiasaan anak tersebut. Setelah masuk ponpes kami dan kemudian menjalani rutinitas pondok tinggal 24 jam selama hampir 3 bulan lamanya, kemudian anak sudah merasa nyaman dengan lingkungan ponpes, mulai tampak apa yang ada pada diri anak, baik sikap, prilaku, kebiasaan, ucapannya dll

 

Tampak apa yang ada pada diri anak ini (Sikap, prilaku, karakter, kebiasaan dll) sifatnya alamiah dan tidak bisa dibuat-buat oleh anak, sebab ini adalah bagian dari problem anak yang tak disadari oleh anak dan orang tuanya sendiri, tapi biasanyanya problem ini di ketahui, sadari dan dipahami oleh pengasuh pesantren (sebagai mitra orang tua). Apakah pasti tampak ? Jawabnya : Ya, jika pengasuh benar-benar perhatian dengan pola pengasuhan anak, pasti diketahui oleh pengasuh. Kemudian baru diupayakan untuk diperbaiki dan diluruskan kembali agar anak tidak terus-terusan punya masalah pada dirinya.

 

Lalu, apa yang nampak dari anak ini ? Yakni Sifat kekanak-kanakan yang masih dominan atau bahasa lainnya “telat menjadi dewasa”. Maka, ada ungkapan bahwa usia seorang anak itu tidak identik anak bisa menjadi dewasa atau anak yang sudah usia dewasa sudah pasti membawa karakter, kepribadian, ucapan, kebiasaannya dll yang dewasa pula. Sebab kedewasaan anak itu hanya bisa di wujudkan dari proses pendidikan anak, sedangkan proses pendidikan yang mampu mendewasakan anak yakni dengan jalan “BELAJAR TENTANG KEHIDUPAN SECARA LANGSUNG”. Semakin anak banyak belajar tentang kehidupan secara langsung, maka anak akan tumbuh semakin dewasa, segitu pula sebaliknya  




Saat mondok di tempat kami, saya perhatikan dan amati dengan seksama, kok anaknya masih ke kakak-kakakkan tidak seperti usianya yang sudah menginjak dewasa. Biasanya, jika ada problem anak yang seperti ini, sejak awal mondok pasti akan saya dialogkan pada orang tua untuk menggali lebih dalam tentang anak, jika problem anak mengharuskan didialogkan pada orang tua untuk mencari solusi bagi kebaikkan anak ke depan. Selain itu agar kita bisa memperlakukan dan memberikan pengasuhan yang tepat pada anak tersebut, sebab terkadang masing-masing anak butuh perlakuannya yang tidak sama. Dalam hal ini saya pribadi menyakini bahwa tidak ada anak yang salah karena pada dasarnya fitroh setiap anak adalah siap untuk dididik dengan hal yang baik/sesuai syariat oleh siapa pun, khususnya kedua orang tuanya. Kesalahannya seringkali ada pada proses pengasuhan/pendidikan yang kurang tepat yang diberikan pada anak.

 

Setelah berdialog dengan orang tua anak dan bercerita banyak hal tentang anak, akhirnya saya punya pemahaman utuh bahwa anak ini sejak kecil (usia SD/MI) kurang mendapatkan pengasuhan yang baik dari orang tuanya. Sebab kedua orang tuanya disibukkan menata pondasi rumah tangga. Sehingga anak kehilangan hak pengasuhan di waktu kecil, padahal itu adalah hak anak yang seharusnya mampu diberikan oleh setiap orang tua. Tidak peduli orang tua itu kaya/miskin, pendidikan rendah/pendidikan tinggi, punya gelar/tidak, kalau itu menyangkut hak anak, maka anak pasti akan mengambil haknya kembali (kapan dan caranya bagaimana kita tidak tahu, Allahu’alam bishowab).

 




Jika saat kecil anak tak bisa mendapatkan haknya dengan baik, maka anak akan mengambil dari keluarga terdekatnya, jika tidak bisa dirinya akan mengambil dari orang lain. Dan jika tak bisa juga, maka dirinya akan mengambil haknya kembali pada suami/istrinya kelak atau mengambilnya dari orang tuanya kembali disaat orang tua telah lanjut dan tak berdaya. Untuk itulah, pentingnya kenapa kita perlu menuntaskan hak-hak anak sejak dini agar anak bisa menjalani proses perjalanan hidupnya dengan baik dan tidak disibukkan mengambil haknya yang belum didapatkannya.   

 

Saat mengetahui kondisi anak seperti ini, yakni anak yang berpotensi “bermasalah” kemudian orang tuanya memasukkan anak ke pesantren agar anak bisa mendapatkan pendidikan yang lebih baik, tidak sebagaimana saat bersama orang tua. Tapi sayangnya pemilihan pesantren mana yang tepat untuk anak tidak dipahami dengan baik oleh orang tua karena kurang pahamnya orang tua terhadap dunia pesantren, akhirnya anaknya di masukkan ke pesantren yang tak sesuai dengan kebutuhan anak. Anak ini dimasukkan ponpes yang besar, megah dengan jumlah santri yang banyak (yang pengasuhan anak dianggap selesai oleh pesantren)      

 


Maka, saat anak mondok di usia transisi (usia 12 – 15 tahun) selama 3 tahun, anak tidak mendapatkan sentuhan pengasuhan yang maksimal selama mondok di pesantren, sebab kesibukkan pengasuh dan memang sejak awal fokus pesantren bukan pada pengasuhan. Akhirnya problem anak masih melekat dan tak mampu selesai selama mondok. Saat orang tua saya tanya : “Apakah anak bapak yang ke kanak-kanakkan seperti ini dulunya saat mondok di pesantren (sebelum mondok ke sini) tidak terpantau dan disampaikan pengasuh pesantren di sana ?” Beliau Jawab : “Tidak, sebab selama ini dianggap baik-baik saja dan tidak ada masalah terhadap anaknya”

 

Dari cerita ini kita bisa mengambil pelajaran, bahwa proses pendidikan anak harus dilakukan dengan baik dan benar sekalipun anak di pondok pesantrenkan. Sebab tidak ada ponpes yang bisa menjamin anak hasil dididikannya pasti menjadi anak sholeh/ah. Terkadang pemilihan pondok pesantren yang tak sesuai kebutuhan anak, pada akhirnya menjadi problem tersendiri di saat anak mulai tubuh dewasa, kemudian melahirkan generasi yang “telat menjadi dewasa”   

 

Saat anak menjalani proses pendidikan, baik di pesantren/sekolah, banyak hal diberikan pada anak, baik keilmuan, skill, kebiasaan yang baik dll, tetapi terkadang proses pendidikan yang dijalani anak lupa mendewasakan anak-anak kita. Akhirnya, terlahir generasi yang “telat dewasa”. Maka, jangan heran jika saat ini banyak orang tua yang dihadapkan kenyataan bahwa anaknya tak dewasa sesuai dengan usianya. Kita menghadapi anak-anak kuliahnya, tapi sikap, prilaku, ucapan, mental, karakternya tak ubahnya seperti anak-anak SMA/MA atau bahkan SMP/MTs. Kita menghadapi anak usia SMA/MA, tapi tak ubahnya seperti anak usia SMP/MTs atau bahkan SD/MI.

 

Ya, itulah kenyataan yang kita hadapi hari ini bahwa proses pendidikan anak-anak kita sedang “sakit” dan tidak dalam kondisi baik-baik saja. Hal ini diperparah banyaknya orang tua (Khususnya ibu) yang tak siap dan mampu mendidik anaknya dengan baik. Seorang ibu sosialita yang punya jaringan sosial yang luas, sering travel ke sana kemarin, punya skill yang luar biasa dalam banyak hal, punya leterasi yang hebat, punya gelar akademik, punya finansial dll, tapi tak memiliki ilmu mendidik anak dengan baik, tidak betah berlama-lama dengan anak, tak pernah punya waktu hanya sekedar bermain-main dengan anak. Ya, itulah kualitas orang tua macam kita, tak bisa diandalkan mendidik anak, sebab kita memang sejak kecil tak terdidik dengan baik dan malas untuk belajar menjadi orang tua yang hebat serta enggan berubah demi kebaikkan anak-anak kita.   

 

Belum lagi, jika kita melihat proses pendidikan anak di pondok pesantren yang semua serba dilayani. Akhirnya melahirkan generasi yang telat dewasa karena tak tertempa dengan baik.  

 

Sebagai akhir dari catatan ini, mari kita sebagai orang tua terus berbenah menjadi orang tua yang pandai mendidik anak-anak kita dengan baik. Sebab ditangan orang tua yang hebat, sejatinya pondasi pendidikan anak itu lahir, bukan dari pengasuh dan lingkungan pesantren. Pesantren hanya sebatas mitra orang tua mendidik anak dan tidak mengambil tanggung jawab orang tua. Tanggung jawab tetap melekat pada diri orang tua, meskipun anak kita waktu, tenaga dan pikirannya lebih banyak berada di pesantren.   

 


 

Wallahu 'alam bishowab

________

MENDIDIK ANAK BERKARAKTER SEJAK USIA DINI (Diambilkan dari Catatan harian Pola Pendidikan di PONPES TAHFIZHUL QUR'AN "KH khoirotun Hisan" 

 

PENDAFTARAN SETIAP SAAT SELAMA KUOTA MASIH ADA

 

DAPATKAN BUKU :

0/Post a Comment/Comments

Yuk, tinggalkan komentar mu

Ads1
Ads2