Catatan saya kali ini
saya awali dari cerita pengalaman mengasuh anak di ponpes selama ini. Ada
cerita anak yang pernah mondok di pesantren kami, cerita ini bukan untuk
menjelekkan pribadi seseorang, tapi lebih pada mengambil pelajaran terhadap
proses pendidikan anak-anak kita ke depan, bahwa mendidik anak-anak jaman sekarang
tidak mudah dilakukan oleh para orang tua saat ini meskipun anak dididik di lingkungan
pesantren. Saya yakin, bahwa cerita yang saya sampaikan ini sejatinya mewakili
salah satu problematika pada anak-anak yang belajar di pesantren, atau paling
tidak mirip dan mendekati
Kami pernah punya
santri, yang masuk di ponpes kami pada usia SMA/MA, saat usia SMP/MTs anak ini
tidak mondok di pesantren kami. Artinya pada usia tersebut kami tidak tahu bagaimana
latar belakang, karakter, kepribadian, kebiasaan anak tersebut. Setelah masuk
ponpes kami dan kemudian menjalani rutinitas pondok tinggal 24 jam selama
hampir 3 bulan lamanya, kemudian anak sudah merasa nyaman dengan lingkungan
ponpes, mulai tampak apa yang ada pada diri anak, baik sikap, prilaku,
kebiasaan, ucapannya dll
Tampak apa yang ada
pada diri anak ini (Sikap, prilaku, karakter, kebiasaan dll) sifatnya alamiah
dan tidak bisa dibuat-buat oleh anak, sebab ini adalah bagian dari problem anak
yang tak disadari oleh anak dan orang tuanya sendiri, tapi biasanyanya problem
ini di ketahui, sadari dan dipahami oleh pengasuh pesantren (sebagai mitra
orang tua). Apakah pasti tampak ? Jawabnya : Ya, jika pengasuh benar-benar perhatian
dengan pola pengasuhan anak, pasti diketahui oleh pengasuh. Kemudian baru
diupayakan untuk diperbaiki dan diluruskan kembali agar anak tidak
terus-terusan punya masalah pada dirinya.
Lalu, apa yang nampak dari
anak ini ? Yakni Sifat kekanak-kanakan yang masih dominan atau bahasa lainnya
“telat menjadi dewasa”. Maka, ada ungkapan bahwa usia seorang anak itu tidak
identik anak bisa menjadi dewasa atau anak yang sudah usia dewasa sudah pasti membawa
karakter, kepribadian, ucapan, kebiasaannya dll yang dewasa pula. Sebab
kedewasaan anak itu hanya bisa di wujudkan dari proses pendidikan anak,
sedangkan proses pendidikan yang mampu mendewasakan anak yakni dengan jalan “BELAJAR
TENTANG KEHIDUPAN SECARA LANGSUNG”. Semakin anak banyak belajar tentang
kehidupan secara langsung, maka anak akan tumbuh semakin dewasa, segitu pula
sebaliknya
Saat mondok di tempat
kami, saya perhatikan dan amati dengan seksama, kok anaknya masih ke
kakak-kakakkan tidak seperti usianya yang sudah menginjak dewasa. Biasanya, jika
ada problem anak yang seperti ini, sejak awal mondok pasti akan saya dialogkan
pada orang tua untuk menggali lebih dalam tentang anak, jika problem anak
mengharuskan didialogkan pada orang tua untuk mencari solusi bagi kebaikkan
anak ke depan. Selain itu agar kita bisa memperlakukan dan memberikan
pengasuhan yang tepat pada anak tersebut, sebab terkadang masing-masing anak
butuh perlakuannya yang tidak sama. Dalam hal ini saya pribadi menyakini bahwa
tidak ada anak yang salah karena pada dasarnya fitroh setiap anak adalah siap untuk
dididik dengan hal yang baik/sesuai syariat oleh siapa pun, khususnya kedua
orang tuanya. Kesalahannya seringkali ada pada proses pengasuhan/pendidikan
yang kurang tepat yang diberikan pada anak.
Setelah berdialog
dengan orang tua anak dan bercerita banyak hal tentang anak, akhirnya saya
punya pemahaman utuh bahwa anak ini sejak kecil (usia SD/MI) kurang mendapatkan
pengasuhan yang baik dari orang tuanya. Sebab kedua orang tuanya disibukkan
menata pondasi rumah tangga. Sehingga anak kehilangan hak pengasuhan di waktu
kecil, padahal itu adalah hak anak yang seharusnya mampu diberikan oleh setiap
orang tua. Tidak peduli orang tua itu kaya/miskin, pendidikan rendah/pendidikan
tinggi, punya gelar/tidak, kalau itu menyangkut hak anak, maka anak pasti akan mengambil
haknya kembali (kapan dan caranya bagaimana kita tidak tahu, Allahu’alam
bishowab).
Jika saat kecil anak tak
bisa mendapatkan haknya dengan baik, maka anak akan mengambil dari keluarga
terdekatnya, jika tidak bisa dirinya akan mengambil dari orang lain. Dan jika
tak bisa juga, maka dirinya akan mengambil haknya kembali pada suami/istrinya
kelak atau mengambilnya dari orang tuanya kembali disaat orang tua telah lanjut
dan tak berdaya. Untuk itulah, pentingnya kenapa kita perlu menuntaskan hak-hak
anak sejak dini agar anak bisa menjalani proses perjalanan hidupnya dengan baik
dan tidak disibukkan mengambil haknya yang belum didapatkannya.
Saat mengetahui kondisi
anak seperti ini, yakni anak yang berpotensi “bermasalah” kemudian orang tuanya
memasukkan anak ke pesantren agar anak bisa mendapatkan pendidikan yang lebih
baik, tidak sebagaimana saat bersama orang tua. Tapi sayangnya pemilihan
pesantren mana yang tepat untuk anak tidak dipahami dengan baik oleh orang tua karena
kurang pahamnya orang tua terhadap dunia pesantren, akhirnya anaknya di
masukkan ke pesantren yang tak sesuai dengan kebutuhan anak. Anak ini dimasukkan
ponpes yang besar, megah dengan jumlah santri yang banyak (yang pengasuhan anak
dianggap selesai oleh pesantren)
Maka, saat anak mondok
di usia transisi (usia 12 – 15 tahun) selama 3 tahun, anak tidak mendapatkan
sentuhan pengasuhan yang maksimal selama mondok di pesantren, sebab kesibukkan
pengasuh dan memang sejak awal fokus pesantren bukan pada pengasuhan. Akhirnya problem
anak masih melekat dan tak mampu selesai selama mondok. Saat orang tua saya
tanya : “Apakah anak bapak yang ke kanak-kanakkan seperti ini dulunya saat
mondok di pesantren (sebelum mondok ke sini) tidak terpantau dan disampaikan
pengasuh pesantren di sana ?” Beliau Jawab : “Tidak, sebab selama ini dianggap
baik-baik saja dan tidak ada masalah terhadap anaknya”
Dari cerita ini kita
bisa mengambil pelajaran, bahwa proses pendidikan anak harus dilakukan dengan
baik dan benar sekalipun anak di pondok pesantrenkan. Sebab tidak ada ponpes
yang bisa menjamin anak hasil dididikannya pasti menjadi anak sholeh/ah.
Terkadang pemilihan pondok pesantren yang tak sesuai kebutuhan anak, pada
akhirnya menjadi problem tersendiri di saat anak mulai tubuh dewasa, kemudian
melahirkan generasi yang “telat menjadi dewasa”
Saat anak menjalani
proses pendidikan, baik di pesantren/sekolah, banyak hal diberikan pada anak, baik
keilmuan, skill, kebiasaan yang baik dll, tetapi terkadang proses pendidikan
yang dijalani anak lupa mendewasakan anak-anak kita. Akhirnya, terlahir
generasi yang “telat dewasa”. Maka, jangan heran jika saat ini banyak orang tua
yang dihadapkan kenyataan bahwa anaknya tak dewasa sesuai dengan usianya. Kita
menghadapi anak-anak kuliahnya, tapi sikap, prilaku, ucapan, mental,
karakternya tak ubahnya seperti anak-anak SMA/MA atau bahkan SMP/MTs. Kita
menghadapi anak usia SMA/MA, tapi tak ubahnya seperti anak usia SMP/MTs atau
bahkan SD/MI.
Ya, itulah kenyataan
yang kita hadapi hari ini bahwa proses pendidikan anak-anak kita sedang “sakit”
dan tidak dalam kondisi baik-baik saja. Hal ini diperparah banyaknya orang tua
(Khususnya ibu) yang tak siap dan mampu mendidik anaknya dengan baik. Seorang ibu
sosialita yang punya jaringan sosial yang luas, sering travel ke sana kemarin,
punya skill yang luar biasa dalam banyak hal, punya leterasi yang hebat, punya
gelar akademik, punya finansial dll, tapi tak memiliki ilmu mendidik anak
dengan baik, tidak betah berlama-lama dengan anak, tak pernah punya waktu hanya
sekedar bermain-main dengan anak. Ya, itulah kualitas orang tua macam kita, tak
bisa diandalkan mendidik anak, sebab kita memang sejak kecil tak terdidik
dengan baik dan malas untuk belajar menjadi orang tua yang hebat serta enggan berubah
demi kebaikkan anak-anak kita.
Belum lagi, jika kita
melihat proses pendidikan anak di pondok pesantren yang semua serba dilayani.
Akhirnya melahirkan generasi yang telat dewasa karena tak tertempa dengan baik.
Sebagai akhir dari
catatan ini, mari kita sebagai orang tua terus berbenah menjadi orang tua yang pandai
mendidik anak-anak kita dengan baik. Sebab ditangan orang tua yang hebat, sejatinya
pondasi pendidikan anak itu lahir, bukan dari pengasuh dan lingkungan pesantren.
Pesantren hanya sebatas mitra orang tua mendidik anak dan tidak mengambil
tanggung jawab orang tua. Tanggung jawab tetap melekat pada diri orang tua,
meskipun anak kita waktu, tenaga dan pikirannya lebih banyak berada di pesantren.
Wallahu 'alam bishowab
________
MENDIDIK ANAK
BERKARAKTER SEJAK USIA DINI (Diambilkan dari Catatan harian Pola Pendidikan di
PONPES TAHFIZHUL QUR'AN "KH khoirotun Hisan"
PENDAFTARAN SETIAP SAAT
SELAMA KUOTA MASIH ADA
DAPATKAN BUKU :







Posting Komentar
Yuk, tinggalkan komentar mu