CATATAN 62 : JIKA KITA TAK “MEMILIKI” AMAL YAUMI DENGAN BAIK, MAKA JANGAN HARAP KITA MAMPU “MEMBERI” PADA ANAK-ANAK KITA (Oleh : Nashrullah Jumadi)



Pada catatan kali ini, saya ingin mengulang sedikit pada catatan sebelumnya, kalau tidak salah pada Buku saya SERIAL 01 : 50 Catatan Mendidik Anak Berkarakter Sejak Usia Dini (Berbasis Pesantren), tepatnya pada catatan ke 47 dengan tema MEMBANGUN KESADARAN ANAK MENJALANI KEBIASAAN (AMAL YAUMI MUSLIM/AH) DENGAN BAIK.

Dalam catatan ini dijelaskan beberapa hal penting terkait dengan Kebiasaan Amal Yaumi Muslim/ah, antara lain :

  • Tidak setiap kebiasaan baik itu menjadi bagian dari Amal Yaumi, maknanya bahwa ORANG YANG MELAKUKAN KEBIASAAN BAIK, BELUM TENTU MENJADI BAGIAN DARI AMAL YAUMI MUSLIM/AH, tapi amal yaumi muslim/ah sudah pasti Kebiasaan baik

  • AMAL YAUMI ADALAH KEBIASAAN MILIK MUSLIM/AH, sehingga kebiasaan ini harus menjadi bagian dari kehidupan seorang muslim/ah.

  • Amal yaumi ini adalah ciri khas dari kebiasaan orang2 sholeh dan merupakan bagian dari CIRI KEBIASAAN ANAK SHOLEH/AH.

  • AMAL YAUMI MUSLIM/AH ADALAH KUNCI SUKSES MENJALANI HIDUP YANG SESUNGGUHNYA, yang mampu dijalani siapa pun.

  • AMAL YAUMI ADALAH LADANG AMAL SHOLEH kita dihadapan Allah Ta’alla, yang diawali dari bangun tidur hingga tidur kembali dengan mendasarkan setiap aktivitasnya atas dasar kesadaran untuk mengharap ridho Allah Ta’ala   

 

Pertanyaannya yakni, kira-kira sudahkah kebiasaan amal yaumi yang baik itu telah kita “miliki”, sebagai bagian dari bekal-bekal kita mendidik anak-anak kita ? Saya yakin, setiap kita sebagai orang tua akan punya jawaban yang berbeda. Kalau boleh di kelompokkan ada beberapa kelompok, antara lain :

1.  Orang tua yang telah “MEMILIKI” amal yaumi dengan baik, mampu mengamalkan untuk dirinya dan sekaligus MAMPU MENANAMKANNYA pada anak-anaknya dengan baik pula.

Pada kelompok ini tidak banyak kita temukan pada sosok orang tua saat ini, mungkin level kita belum sampai pada kelompok ini. Sebab sosok orang tua dalam kelompok ini biasanya mereka bukan berasal dari prodak pendidikan instans, tapi dari proses pendidikan yang terbangun dengan baik sejak dini oleh orang tuanya dulu.


Orang tua yang paham betul pentingnya membangun kebiasaan yang baik untuk anak-anak mereka. Orang tua yang paham bekal pondasi anak-anak mereka di masa depan. Orang tua yang lebih takut kehilangan waktu subuhnya dari pada urusan dunia yang remeh. Orang tua yang fokus dan tidak kehilangan momentum mendidik anaknya menjadi anak berkarakter. Orang tua yang lebih mengutamakan akhirat untuk anak-anak mereka.


Sosok hadirnya orang tua yang hebat seperti ini tentunya akan sangat mampu menanamkan amal yaumi yang baik pada anak-anak mereka, apalagi dirinya juga memiliki pasangan suami/istri yang hampir sama dalam mendapatkan pendidikan orang tua saat kecil dulu. Orang tua yang “memiliki” kebiasaan amal yaumi akan dengan mudah memberi pada orang-orang sekitar, khususnya anak-anak mereka.    

 

2. Ada pula orang tua yang telah “MEMILIKI” amal yaumi dengan baik dan mampu mengamalkannya, tapi TAK MAMPU MENANAMKANNYA pada anak-anaknya dengan baik.

Pada kelompok ini hampir sama dengan kelompok 1, akan tetapi masih ada yang kurang pada dirinya yakni TAK MAMPU MENANAMKAN pada anak-anaknya.Ketidakmampuan ini lebih pada karena kurang nya ilmu bagaimana menanamkan nya pada anak-anak. Kekurangan ilmu ini bisa didapatkan dengan mudah, jika dirinya mau belajar ilmu tentang bagaimana mendidik anak berkarakter dengan baik.


Yang terpenting yakni dirinya telah “memiliki” sedangkan memberi adalah tinggal soal waktu saja.

Seringkali dalam kelompok ini banyak dijumpai orang tua nya rajin sholat ke masjid, punya kebiasaan yang baik, tapi tidak diiringi oleh keluarga atau anak-anaknya. Kebiasaan baiknya hanya untuk dirinya sendiri, sedangkan anak-anak justru terabaikan.

 

3. Orang tua yang telah “TIDAK MEMILIKI” amal yaumi dengan baik, Tak mampu mengamalkannya dengan baik untuk dirinya dan sekaligus TAK MAMPU MENANAMKANNYA pada anak-anaknya dengan baik pula, tapi berharap anaknya mememiliki kebiasaan Amal yaumi dengan baik

Pada kelompok ini mungkin mayoritas orang tua seperti kita ada pada kelompok ini. Kelompok yang “tak memiliki” dan tak mengamalkan Amal yaumi dengan baik, serta tak mampu pula menanamkan pada anak-anak, tapi berharap anaknya bisa memiliki kebiasaan amal yaumi yang baik.


Jujur kita akui, bahwa orang tua seperti kita saat ini mayoritas bukan hasil proses pendidikan orang tua yang paham bagaimana membangun kebiasaan yang baik untuk anak-anak nya. Banyak orang tua kita dulu dalam mendidik kita saat kecil minim ilmu dan fasilitas, sehingga wajar banyak dari kita yang saat ini telah menjadi orang tua bukan dari prodak pendidikan yang baik.


Salah satunya kebiasaan bangun waktu subuh dan mengisi waktu-waktu subuh dengan amal sholeh. Banyak orang tua yang tak “memiliki” ini, sehingga dirinya pun tak mampu “memberi” pada anak-anaknya. Bagaimana akan memberi memilikinya saja tidak ? 


Dulu kita tak dibiasakan menyambut waktu subuh dengan baik, bangun kesiangan dibiarkan, begadang malam-malam yang akhirnya tidak bisa subuh dibiarkan, bahkan tidak sholat subuh pun orang tua cuek dan menganggap biasa.


Bentuk pembiaran ini karena sejatinya orang tua tak “memiliki” amal yaumi dengan baik, sehingga dirinya tak mampu “memberi” pada anak-anaknya.


Untuk itu, Jika di tarik ke belakang, kenapa “tidak memiliki” dan mampu mengamalkan amal yaumi dengan baik ? Maka ujung-ujung nya adalah sebab ketika kecil (usia emas/pertumbuhan) tidak mendapatkan proses pendidikan amal yaumi yang baik dari orang tua dulu, sehingga bekal amal yaumi itu tidak dimilikinya dengan baik bahkan hingga dirinya dewasa atau menua.


Pertanyaan selanjutnya yakni, Ketika orang tua “TIDAK MEMILIKI” dan tak mampu mengamalkannya amal yaumi dengan baik dan sekaligus TAK MAMPU MENANAMKANNYA pada anak-anaknya dengan baik pula, apa tidak boleh berharap anaknya bisa memiliki kebiasaan Amal yaumi dengan baik?

 

Jawabannya : Sangat boleh, bahkan keharusan bahwa setiap orang tua harus punya harapan agar anaknya bisa lebih baik dari dirinya, tetapi dengan syarat :

  1. Bahwa harapan itu bukan harapan kosong semata, tapi harapan yang butuh buktinya nyata. Butuh kesungguh-sungguhan orang tua untuk mau BELAJAR dan BERUBAH Sayangnya, banyak orang tua saat ini yang sedikit sekali mau belajar, apalagi yang mau berubah demi anak-anaknya
  2. Jika kita sebagai orang tua merasa “Tidak memiliki” amal yaumi itu dengan baik, karena tidak ditanamkan oleh orang tua kita saat kecil dulu, maka kita harus mampu “MENDAPATKAN” kebiasaan amal yaumi melalui usaha, perjuangan dan pengorbanan kita, sehingga Allah Ta’ala memudahkan kita mampu dan layak “MENDAPATKAN” Kebiasaan amal yaumi itu dengan baik.

 

Menjalani proses pendidikan yakni membangun kebiasaan amal yaumi orang tua pada kelompok 1 dan 2, tentu akan sangat berbeda tingkat kesulitannya dan hasilnya. Insya Allah, dari orang tua ini akan terlahir generasi pilihan dan hebat, sebab mereka terlahir dari sosok orang tua yang hebat.


Kelompok 1 dan 2 lebih mudah sebab dia telah memilikinya, sedangkan kelompok ke 3 dia harus mampu “MENDAPATKAN” sekaligus harus mampu “memberi” pada anak-anakya. Orang tua dan anak harus sama-sama saling menguatkan untuk berproses menjadi lebih baik.  

    

Untuk itu jangan salah fokus dan lupa untuk membangun kebiasaan amal yaumi anak-anak kita dengan baik agar anak-anak kita mampu “memiliki” bekal itu dengan baik sebagai bagian dari kriteria anak-anak sholeh/ah.


Jika mereka telah “memiliki”nya tidak perlu mereka harus repot-repot untuk mencari dan kemudian “mendapatkannya” nanti, sebab banyak sekali yang berusaha untuk mencari, tapi belum tentu mampu “mendapatkannya”


Bantu anak-anak kita untuk mampu berjuang membangun kebiasaan amal yaumi nya dengan baik, jangan biarkan anak-anak kita berjuang sendirian. Bimbing mereka, bantu mereka. Jangan lupa beri mereka hak-haknya dengan baik Nasehati, Beri Tauladhan, Tegur dan Beri pujian pada mereka selama berjuang membangun kebiasaan Amal yaumi dengan baik.


Kasihanilah anak-anak kita, jangan sampai mereka menjadi generasi yang kehilangan waktu subuh, generasi yang cerdas dan berprestasi tapi tak mampu menjalani amal yaumi dengan baik. Generasi yang sukses dan hebat, tapi amal yauminya amburadul, Naudzubillahi min dzalik


Pada akhirnya orang tua akan tahu dan paham bahwa sejatinya memiliki anak yang mampu menjalani amal Yaumi dengan baik adalah wujud kenikmatan dan berkah Luar biasa dari Allah Ta'ala yang harus kita syukuri

        

Wallahu 'alam bishowab

________

  • MENDIDIK ANAK BERKARAKTER SEJAK USIA DINI (Diambilkan dari Catatan harian Pola Pendidikan di PONPES TAHFIZHUL QUR'AN "KH khoirotun Hisan" 
  • PENDAFTARAN SETIAP SAAT SELAMA KUOTA MASIH ADA
  • DAPATKAN BUKU : SERIAL 01 MENDIDIK ANAK BERKARAKTER SEJAK USIA DINI (BERBASIS PESANTREN)/ 0823 2474 5151

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2/Post a Comment/Comments

Yuk, tinggalkan komentar mu

Posting Komentar

Yuk, tinggalkan komentar mu

Ads1
Ads2