Berempati pada anak, ya inilah tema catatan saya selanjutnya, tema yang barangkali tidak setiap kita sebagai orang tua mampu berempati pada anak, khususnya anak kita yang sedang berjuang menuntut ilmu di pesantren.
Punya anak mondok di pesantren tentu beda dengan orang tua yang anaknya tidak mondok, ada sekian bekal yang harus dipersiapkan dengan baik oleh setiap orang tua.Tidak cukup materi bulanan berupa spp rutin, biaya makan, uang kebutuhan bulanan atau uang jajan anak semata.
Diantara sekian bekal, bekal materi finansial adalah bekal yang paling mudah diupayakan. Orang tua yang tak mampu pun mereka saat ini bisa mondokkan anak-anak di pondok dipesantren. Apalagi banyak bermunculan pondok pesantren yang seluruh biayanya sesuai kesiapan orang tua (tidak ada tuntutan bayar ini dan itu), bahkan ada yang gratis 100 %. Tentu kemudahan ini adalah caranya Allah Ta’ala memudahkan agar anak-anak yang tak mampu bisa menggenyap belajar di pesantren melalui hamba-hamba Allah Ta’ala yang terpilih
Sedangkan bekal mondokkan anak dipesantren yang tak mudah diupayakan oleh setiap orang tua yakni bekal non materi. Salah satunya “BEREMPATI PADA ANAK KITA SENDIRI”, saat anak berjuang menuntut ilmu di pesantren. Empati adalah kapasitas untuk memahami atau merasakan apa yang dialami orang lain dari sudut pandang mereka, yakni kapasitas untuk menempatkan diri sendiri pada posisi orang lain. Orang tua ikut merasakan apa yang dialami anak di pesantren dengan segala pengorbanannya.
Banyak orang tua yang saat mondokkan anak hanya sekedar menyerahkan begitu saja pada pengasuh pesantren, kemudian menganggap urusan orang tua selesai. Orang tua tinggal menjalani rutinitas yang biasa dilakukannya, sambil menunggu hasil dari prodak pendidikan anaknya di pesantren oleh pengasuh. Kalau hasil didikan anak kita baik tinggal diberi pujian-pujian saja, tapi jika hasil anak kita buruk tak jarang pihak pesantren yang paling di salahkan.
Disaat proses menunggu anak yang sedang menutut ilmu di pesantren dalam massa yang lama, terkadang orang tua menganggap biasa saja. Dirinya beranggapan kalau anak sudah mondok ya sudah ? Tidak perlu orang tua dilibatkan.
Akhirnya, orang tua pun tidak berproses menjadi baik, sholat subuh jarang atau bahkan kesiangan melulu, tak bisa membaca qur’an dianggap biasa saja dan ngak ada niatan untuk belajar, jarang sholat ke masjid, ngak pernah ngaji, hp an melulu bahkan main games, pergi kesana kemarin tanpa tujuan yang jelas, begadang tanpa kepentingan, ngak pernah baca Qur’an dll
Apa yang saya sampaikan diatas adalah cerminan dari sikap dan prilaku orang tua yang tak punya empati pada anaknya yang sedang berjuang menunut ilmu di pesantren. Ingat, bapak/ibu, anak kita saat ini sedang berjuang mengubur rasa rindu pada orang tua dan saudara lainya, mereka harus mampu bangun subuh dengan baik, jika tidak berbagai hukuman pun siap dijalani, makan seadanya, kalau mandi harus rela antri, tidur sembarangan. Anak-anak kita sedang berpayah-payah, lelah, kecapean, terkadang harus rela jatuh sakit demi berjuang menuntut ilmu di pesantren dll
Disaat anak berjuang menutut ilmu mati-matian di pesantren, orang tua nya nyantai, tak peduli, menganggap biasa saja dan tidak berjuang menjadi orang tua yang lebih baik lagi. Seharusnya setiap orang tua yang mondokkan anak di pesantren juga ikut merasakan perjuangan anak-anak mereka. Jika kita sebagai orang tua enggan berubah paling tidak berempatilah pada anakmu, apalagi berempati pada anak tidak mengharuskan kita keluar biaya.
Jika anak kita selama mondok harus berjuang bisa bangun subuh dengan baik, paling tidak orang tua harus ikut mengiringi dengan menjaga waktu subuhnya dengan baik. Jika anak kita di pesantren didik agar bisa membaca Al Qur’an dengan baik, paling tidak orang tua juga mengiringi belajar membaca Qur’an bagi yang belum bisa dan berusaha rutin bisa membaca bagi yang sudah mampu. Jika anak sedang menghadapi ujian di pesantren, maka orang tua seharusnya lebih kuat ruhiyahnya pada Allah Ta’ala.
Intinya, berempatilah pada anak selama anak kita di pesantren. Jangan biarkan anak-anak kita berjuang sendirian untuk menjadi anak sholeh/ah. Teruslah belajar dan berproses menjadi orang tua yang sholeh/ah demi anak-anak kita saat ini. Punya anak mondok di pesantren harusnya mampu merubah diri kita menjadi lebih baik. Tidak ada kata terlambat untuk menjadi orang tua yang sholeh/ah selama kita siap untuk berubah.
Wallahu 'alam bishowab
________
MENDIDIK ANAK BERKARAKTER SEJAK USIA DINI Diambilkan dari Catatan harian Pola Pengasuhan di PONPES TAHFIZHUL QUR'AN "KH khoirotun Hisan"
DAPATKAN BUKU :
SERIAL 01 MENDIDIK ANAK BERKARAKTER SEJAK USIA DINI (Berbasis Pesantren) 0823 2474 5151



Posting Komentar
Yuk, tinggalkan komentar mu