CATATAN 49 : MEMBANGUN EMPATI DAN KEPEDULIAN ANAK (Oleh : Nashrullah Jumadi)


 

MEMBANGUN EMPATI DAN KEPEDULIAN ANAK, Ya, itulah tema catatan saya kali ini. Empati dan kepedulian anak bukan prodak turunan dari orang tuanya. Bukan berarti orang tua yang empati dan peduli sudah bisa dipastikan anaknya punya empati dan kepedulian. Tapi empati dan kepedulian adalah HASIL DARI PROSES PENDIDIKAN yang ditanamkan pada anak sejak usia dini.

Maka  jangan heran, jika ada orang tua yang begitu empati dan peduli berbagi pada orang lain, seringkali justru tidak diikuti dan dilanjutkan oleh anak2 nya sendiri. Bahkan anak tak jarang justru punya pemahaman yang bertolak belakang dari apa yang dipahami dan dilakukan oleh orang tuannya selama ini.

Ya, memang empati dan kepedulian memang BUKAN HASIL DARI WARISAN ORANG TUA, tapi merupakan bagian dari PROSES PENDIDIKAN YANG HARUS DI AJARKAN PADA ANAK2 KITA.

Maka, jangan lupa dan kehilangan momentum MENDIDIK ANAK UNTUK PUNYA EMPATI DAN KEPEDULIAN di saat mereka masih kecil dan mudah kita arahkan. Sebab empati dan peduli pada orang lain adalah bagian dari karakter dasar anak2 kita.

Proses membangun empati dan kepedulian ini antara orang tua dan ponpes harus punya pemahanan yang sama, sehingga proses pendidikan karakter dasar ini tidak hanya berjalan saat ada di rumah saja atau pada saat ada di ponpes saja. Tapi harus berjalan terus menerus, tanpa ada liburnya.

PEDULI ITU ADALAH KEBUTUHAN KITA, SEDANGKAN UNTUK MENJADI ORANG YANG PEDULI KITA BUTUH BELAJAR ......

Itulah ungkapan motivasi kita pada para santri/wati KH bahwa PEDULI ADALAH KEBUTUHAN KITA, sedangkan untuk menjadi ORANG YANG PEDULI KITA BUTUH BELAJAR. Kenapa kita mesti belajar ? Sebab memang tidak mudah menjadi orang yang peduli, terlebih lagi seorang anak yang hidup bersama orang tua yang kurang punya empati dan peduli pada orang lain

Ada banyak hambatan yang seringkali membuat kita sulit mendidik anak2 kita agar punya empati dan kepedulian, hambatan itu antara lain :

1.    RENDAHNYA NILAI KE TAUHID AN KITA PADA ALLAH TA’ALLA, sehingga kita lupa bahwa Allah Ta’alla yang telah memberikan semuanya pada kita. Allah Ta’alla yang punya hak MENDATANGKAN HARTA untuk kita dan Allah Ta’alla punya HAK PULA MENGELUARKAN HARTA dari kita dengan cara Nya.

Maka jika kita punya Tauhid yang lurus, tentu harta yang kita dapatkan hari ini hanya sekedar titipan semata agar bisa berbagi pada orang lain.

 

2.    KONSEP BERBAGI YANG SALAH, karena kesalahan memahami konsep berbagi, akhirnya empati dan peduli pada orang lain menjadi sulit kita lakukan, apalagi kita mampu menanamkan empati dan kepedulian pada anak2 kita (......baca CATATAN 14 : MEMBANGUN PONPES KH YANG PEDULI .....

Adapun kesalahan pemahaman konsep yang secara umum dimiliki oleh mayoritas dari kita antara lain :      

·        PEDULI JANGAN DIARTIKAN TIDAK BUTUH, Jika Kita PEDULI, maka kepedulian itu bisa mengalahkan kebutuhan kita. Tp jika kita terus merasa butuh, belum tentu kita PEDULI.

·        Kepedulian itu BUKAN BESARNYA NOMINAL YANG KITA BERIKAN, tapi menjadi bagian dari orang2 yang peduli itu jauh lebih utama

·        KAYA/MISKIN TETAP BERBAGI 

·        DILIHAT ATAU TIDAK, ITU TIDAK PENTING yang penting Allah Ta’alla ridho pada mu

 

Dari sini harus kita pahami, bahwa konsep berbagi yang telah Allah Ta’alla berikan pada kita sejatinya sangat sederhana sekali, maka tidak ada alasan bahwa kita untuk tidak empati dan peduli pada orang lain. Dan tidak ada alasan pula kita TIDAK MAMPU MENDIDIK DAN MENANAMKAN EMPATI DAN KEPEDULIAN PADA ANAK2 KITA saat ini.

 

Pertanyaannya yakni sampai kapan empati dan kepedulian itu kita tanamkan pada diri dan anak2 kita ? Jika kita berbicara sampai kapan, tentu ada Level yang harus kita raih agar Allah Ta’alla memberikan kita derajat yang paling mulia. Adapun level berbagi kita, kalau boleh saya sampaikan, ada beberapa level, antara lain :

1.   Level 1 yakni dimana orang menggagap bahwa berbagi itu TIDAKLAH PENTING, bahkan berbagi itu selain mengurangi harta kita juga membuat kita sulit

2.   Level 2, yakni level dimana saat berbagi masih harus diingatkan dan diberikan motivasi2 agar mau berbagi pada orang lain

3.    Level 3, yakni Level dimana ketika dirinya berbagi, kadang ingat dan lupa (....mungkin masih banyak lupa nya .....he he)

4.     Level 4, yakni dimana dia telah terbangun kesadarannya dengan baik, bahwa berbagi adalah kebutuhan dirinya. Jadi ada yang datang minta bantuan atau membawa proposal permohonan dana, atau datang kerumah langsung atau saat ketemu dijalan, bagi dia tidak ada masalah.

Sebab berbagi telah menjadi kebutuhannya, bahkan tak jarang orang2 mulia seperti ini seringkali minta diingatkan atau ditagih infaqnya (.......jika infaq nya diminta dimerasa suka dan merasa dihargai sebab dilibatkan dalam amal sholeh yang tak mampu dilakukannya)

5.    Level 5, adalah LEVEL TERBAIK di mana dirinya mampu menjadikan amaliyah berbagi sebagai sarana untuk meningkatkan kualitasnya dihadapan Allah Ta’alla. Akhirnya Allah Ta’alla pun tak ragu menjadikan dirinya sebagai hamba Nya yang terpilih untuk menaggung hidup dan kebutuhan hamba Allah Ta’alla lainnya.

Maka, jika kita sampai pada Level terbaik ini, maka KITA TIDAK AKAN PERNAH BISA MEMINTA PADA MANUSIA sebab Allah Ta’alla akan menjamin kehidupannya dan orang2 yang dibawa tanggungannya.

Berbahagia lah, jika kita sampai pada Level ini, sebab kita menjadi bagian solusi bagi orang lain. Tidak ada yang datang padanya, pasti akan ada solusinya ......

 

Kira2 kita sampai pada level mana ya ? .....Yuk tingkatkan Level kita dan didik anak2 kita agar sampai pada level terbaik .....

 

Wallahu 'alam bishowab

______________________

·      MENDIDIK ANAK BERKARAKTER SEJAK USIA DINI

(Diambilkan dari Catatan harian Pola Pendidikan di PONPES TAHFIZHUL QUR'AN "KH khoirotun Hisan" (KH PUTRA) & (KH PUTRI)

·      PENDAFTARAN SANTRI/WATI BARU (PUTRA/PUTRI) LULUSAN SD/MI + SANTRIWATI BERKARYA (LULUSAN SMA/MA)

·      PENDAFTARAN SETIAP SAAT SELAMA KUOTA MASIH ADA : 0823 2474 5151 (WA)

 

YUK BANTU SHARE, Semoga jadi amal sholeh kita bersama, Aamiin

1/Post a Comment/Comments

Yuk, tinggalkan komentar mu

Posting Komentar

Yuk, tinggalkan komentar mu

Ads1
Ads2