MEMBANGUN EMPATI
DAN KEPEDULIAN ANAK, Ya, itulah tema catatan saya kali ini. Empati dan
kepedulian anak bukan prodak turunan dari orang tuanya. Bukan berarti orang tua
yang empati dan peduli sudah bisa dipastikan anaknya punya empati dan kepedulian.
Tapi empati dan kepedulian adalah HASIL DARI PROSES PENDIDIKAN yang ditanamkan
pada anak sejak usia dini.
Maka jangan heran, jika ada orang tua yang begitu empati dan peduli berbagi pada orang lain, seringkali justru tidak diikuti dan dilanjutkan oleh anak2 nya sendiri. Bahkan anak tak jarang justru punya pemahaman yang bertolak belakang dari apa yang dipahami dan dilakukan oleh orang tuannya selama ini.
Ya, memang empati dan kepedulian memang BUKAN HASIL DARI WARISAN ORANG TUA, tapi merupakan bagian dari PROSES PENDIDIKAN YANG HARUS DI AJARKAN PADA ANAK2 KITA.
Maka, jangan lupa dan kehilangan momentum MENDIDIK ANAK UNTUK PUNYA EMPATI DAN KEPEDULIAN di saat mereka masih kecil dan mudah kita arahkan. Sebab empati dan peduli pada orang lain adalah bagian dari karakter dasar anak2 kita.
Proses membangun
empati dan kepedulian ini antara orang tua dan ponpes harus punya pemahanan
yang sama, sehingga proses pendidikan karakter dasar ini tidak hanya berjalan
saat ada di rumah saja atau pada saat ada di ponpes saja. Tapi harus berjalan
terus menerus, tanpa ada liburnya.
PEDULI ITU ADALAH KEBUTUHAN KITA, SEDANGKAN UNTUK MENJADI ORANG YANG PEDULI KITA BUTUH BELAJAR ......
Itulah ungkapan motivasi kita pada para santri/wati KH bahwa PEDULI ADALAH KEBUTUHAN KITA, sedangkan untuk menjadi ORANG YANG PEDULI KITA BUTUH BELAJAR. Kenapa kita mesti belajar ? Sebab memang tidak mudah menjadi orang yang peduli, terlebih lagi seorang anak yang hidup bersama orang tua yang kurang punya empati dan peduli pada orang lain
Ada banyak hambatan yang seringkali membuat kita sulit mendidik anak2 kita agar punya empati dan kepedulian, hambatan itu antara lain :
1.
RENDAHNYA NILAI KE TAUHID AN KITA PADA
ALLAH TA’ALLA, sehingga kita lupa bahwa Allah Ta’alla yang telah memberikan
semuanya pada kita. Allah Ta’alla yang punya hak MENDATANGKAN HARTA untuk kita
dan Allah Ta’alla punya HAK PULA MENGELUARKAN HARTA dari kita dengan cara Nya.
Maka jika kita punya Tauhid yang lurus, tentu harta yang kita dapatkan hari ini hanya sekedar titipan semata agar bisa berbagi pada orang lain.
2.
KONSEP BERBAGI YANG SALAH, karena
kesalahan memahami konsep berbagi, akhirnya empati dan peduli pada orang lain
menjadi sulit kita lakukan, apalagi kita mampu menanamkan empati dan kepedulian
pada anak2 kita (......baca CATATAN 14 : MEMBANGUN PONPES KH YANG PEDULI .....
Adapun kesalahan pemahaman konsep yang secara umum dimiliki oleh mayoritas dari kita antara lain :
·
PEDULI JANGAN
DIARTIKAN TIDAK BUTUH, Jika Kita PEDULI, maka kepedulian itu bisa mengalahkan
kebutuhan kita. Tp jika kita terus merasa butuh, belum tentu kita PEDULI.
·
Kepedulian itu
BUKAN BESARNYA NOMINAL YANG KITA BERIKAN, tapi menjadi bagian dari orang2 yang
peduli itu jauh lebih utama
·
KAYA/MISKIN TETAP
BERBAGI
·
DILIHAT ATAU
TIDAK, ITU TIDAK PENTING yang penting Allah Ta’alla ridho pada mu
Dari
sini harus kita pahami, bahwa konsep berbagi yang telah Allah Ta’alla berikan
pada kita sejatinya sangat sederhana sekali, maka tidak ada alasan bahwa kita
untuk tidak empati dan peduli pada orang lain. Dan tidak ada alasan pula kita
TIDAK MAMPU MENDIDIK DAN MENANAMKAN EMPATI DAN KEPEDULIAN PADA ANAK2 KITA saat
ini.
Pertanyaannya
yakni sampai kapan empati dan kepedulian itu kita tanamkan pada diri dan anak2
kita ? Jika kita berbicara sampai kapan, tentu ada Level yang harus kita raih
agar Allah Ta’alla memberikan kita derajat yang paling mulia. Adapun level
berbagi kita, kalau boleh saya sampaikan, ada beberapa level, antara lain :
1. Level 1 yakni dimana orang menggagap
bahwa berbagi itu TIDAKLAH PENTING, bahkan berbagi itu selain mengurangi harta
kita juga membuat kita sulit
2. Level 2, yakni level dimana saat
berbagi masih harus diingatkan dan diberikan motivasi2 agar mau berbagi pada
orang lain
3. Level 3, yakni Level dimana ketika
dirinya berbagi, kadang ingat dan lupa (....mungkin masih banyak lupa nya
.....he he)
4. Level 4, yakni dimana dia telah
terbangun kesadarannya dengan baik, bahwa berbagi adalah kebutuhan dirinya.
Jadi ada yang datang minta bantuan atau membawa proposal permohonan dana, atau
datang kerumah langsung atau saat ketemu dijalan, bagi dia tidak ada masalah.
Sebab berbagi telah menjadi kebutuhannya, bahkan tak jarang orang2 mulia seperti ini seringkali minta diingatkan atau ditagih infaqnya (.......jika infaq nya diminta dimerasa suka dan merasa dihargai sebab dilibatkan dalam amal sholeh yang tak mampu dilakukannya)
5. Level 5, adalah LEVEL TERBAIK di mana
dirinya mampu menjadikan amaliyah berbagi sebagai sarana untuk meningkatkan
kualitasnya dihadapan Allah Ta’alla. Akhirnya Allah Ta’alla pun tak ragu
menjadikan dirinya sebagai hamba Nya yang terpilih untuk menaggung hidup dan
kebutuhan hamba Allah Ta’alla lainnya.
Maka, jika kita sampai pada Level terbaik ini, maka KITA TIDAK AKAN PERNAH BISA MEMINTA PADA MANUSIA sebab Allah Ta’alla akan menjamin kehidupannya dan orang2 yang dibawa tanggungannya.
Berbahagia
lah, jika kita sampai pada Level ini, sebab kita menjadi bagian solusi bagi
orang lain. Tidak ada yang datang padanya, pasti akan ada solusinya ......
Kira2 kita sampai
pada level mana ya ? .....Yuk tingkatkan Level kita dan didik anak2 kita agar
sampai pada level terbaik .....
Wallahu 'alam
bishowab
______________________
·
MENDIDIK ANAK BERKARAKTER SEJAK USIA
DINI
(Diambilkan
dari Catatan harian Pola Pendidikan di PONPES TAHFIZHUL QUR'AN "KH
khoirotun Hisan" (KH PUTRA) & (KH PUTRI)
·
PENDAFTARAN SANTRI/WATI BARU
(PUTRA/PUTRI) LULUSAN SD/MI + SANTRIWATI BERKARYA (LULUSAN SMA/MA)
·
PENDAFTARAN SETIAP SAAT SELAMA KUOTA
MASIH ADA : 0823 2474 5151 (WA)
YUK BANTU SHARE, Semoga jadi amal sholeh kita bersama, Aamiin
.jpg)

Alhamdulillah
BalasHapusPosting Komentar
Yuk, tinggalkan komentar mu