Pada catatan saya kali ini saya ingin menyambung pada catatan saya sebelumnya yakni catatan ke 95 HILANGNYA FUNGSI KONSELING DI PONDOK PESANTREN. Hanya saja pada catatan saya kali ini saya menjadikannya catatan tersendiri.
Dunia pondok pesantren adalah lembaga pendidikan yang menerapkan pola bordhing school dimana anak-anak yang menjadi asuhannya diwajibkan tinggal selama 24 jam di pesantren. Pola pengasuhan/pendidikan di pesantren hanya dikenal di Indonesia dan jika kita menengok asal muasal pesantren hadir di Indonesia tentu ada latar belakang khusus kenapa para kyai terdahulu memilih model pondok pesantren untuk mengasuh dan membina anak asuhannya.
Pada prinsipnya ponpes hanyalah wasilah yang berfungsi sebagai mitra orang tua dalam mendidik anak dalam segala aspeknya, baik ruhiyah, kebiasaan, karakter, keilmuaan dan bakatnya dll. Fungsi pengasuh pesantren hakekatnya adalah orang tua anak-anak saat di pesantren menggantikan fungsi orang tua biologis anak, sehingga tugas pengasuh yang berat ini harus mampu ditunaikan dengan ikhlas dan ridho karena Allah Ta’ala.
Prinsip dan fungsi pola pengasuhan pesantren yang baik, tidak serta merta baik pula untuk setiap anak yang masuk ke pesantren. Sebab anak yang dimasukkan ke pesantren masing-masing punya niat dan latar belakang yang tidak sama satu sama lainnya. Maka, jika kita masuk ke lingkungan GONTOR ada tulisan yang cukup besar terpampang sangat jelas agar bisa kita baca dan kita jadikan renungan yakni DI GONTOR, APA YANG KAU CARI ?
Tentu tulisan ini tidak muncul secara tiba-tiba, tapi pasti berawal dari perjalanan panjang Gontor selama hampir 100 Tahun mengasuh anak dengan niat dan latar belakang yang berbeda-beda. Pada akhirnya toh semua akan kembali pada niat kita masing-masing saat mondokkan anak di pesantren, maka senantiasa meluruskan niat menjadi penting saat anak mondok di pesantren
Selain punya niat atau motivasi yang tidak sama, anak-anak juga berangkat dari latar belakang keluarga yang kompleks pula. Maka, pengasuh pesantren dituntut memahami dengan baik dan mampu mengidentifikasi anak-anak asuhannya dengan baik, agar proses pengasuhan bisa berjalan dengan baik pada setiap anak.
Jika kita kelompokkan anak-anak yang masuk ke
pondok pesantren berdasarkan pada latar belakang orang tua mereka, maka bisa
kita kelompokkan menjadi :
1. Anak yang tumbuh di tengah-tengah keluarga yang sempurna (kedua orang tua masih ada) dan mendapatkan pendidikan karakter sesuai dengan kemampuan orang tua.
Anak yang tumbuh di lingkungan seperti ini biasanya potensi menjadi anak yang “punya masalah” sangat kecil, walaupun orang tua dalam memberikan pengasuhan pada anaknya sangat terbatas, sebab tidak ada orang tua yang sempurna dalam mendidik anak sekalipun dirinya adalah pengasuh pesantren, pakar pendidikan, motivator parenting atau lainnya.
Tetapi potensi menjadi anak “bermasalah” bisa saja dimiliki, sebab pola pengasuhan yang tidak sempurna yang dilakukan oleh orang tua dan lingkungan terdekat anak. Maka, menjadi orang tua yang pintar mendidik anak itu mutlak diperlukan sebagai bagian dari proses memperbaiki generasi masa depan.
Pertanyaannya, kenapa anak pada kelompok ini potensi menjadi anak yang “punya masalah” kecil ? Sebab secara fitroh, anak telah memiliki perangkat yang cukup untuk menjalani proses pengasuhan ketika dirinya terlahir di dunia. Bagi seorang anak itu yang terpenting adalah proses pengasuhan untuknya, sebab proses ini adalah bagian dari hak anak yang harus didapatkannya sejak usia dini.
Bagi anak tidak
penting, siapa yang memberi pengasuhan pada mereka, walaupun sejatinya kedua
orang tua dan lingkungan terdekat anak yang lebih punya tanggungjawab dan
kewajiban utama. Tapi, jika orang tua dan lingkungan terdekat enggan memberikan
pengasuhan pada anaknya, pasti Allah Ta’ala punya cara untuk tetap memberikannya
pada anak (sebagai seorang hamba) dengan cara yang Allah kehendaki. Dan ingat
bahwa orang tua dan lingkungan terdekat anak yang enggan memberi pengasuhan
termasuk orang tua yang telah gagal mengemban amanah anak yang diamanahkan Allah
pada mereka.
2. Anak
yang tumbuh ditengah keluarga yang “tidak sempurna” disebabkan karena :
- · Takdir
yang harus dijalani (kedua orangtuanya atau salah satunya meninggal diunia)
atau
- · Anak
tumbuh di tengah keluarga yang broken home kedua orang tuanya berpisah
Bahwa hadirnya anak-anak yang “tidak sempurna” yang masih membutuhkan proses pengasuhan/pendidikan adalah kenyataan yang harus diterima, khususnya di lingkungan pendidikan pondok pesantren
Anak-anak yang terlahir sebagaimana diatas, memang harus kuat menerima kenyataan hidup, ridho dan ikhlas dengan ketetapan Allah Ta’ala.
Lalu apakah anak pada kondisi seperti ini punya potensi menjadi anak yang “punya masalah” dan “bermasalah” ? Jawabannya : Tentu Iya, anak seperti ini sangat rentang menjadi anak yang “punya masalah” dan sekaligus “bermasalah”, sebab secara fitroh anak tidak punya perangkat yang cukup untuk mendapatkan pola pengasuhan/pendidikan dari orang tuanya langsung.
Kondisi anak yang “tak sempurna” karena orang tua meninggal (karena takdir Allah Ta’ala) tentu lebih mudah di konseling dari pada anak yang memiliki orang tua yang sempurna tetapi berpisah (broken home), kenapa ?
Sebab kondisi yang dialami anak bukan karena keinginan orang tua, lingkungan terdekat anak atau pun anak sendiri, tetapi semata-mata adalah takdir Allah Ta’ala (Artinya Allah Ta’ala yang menghendakinya), sedangkan anak yang tumbuh karena sebab orang tua berpisah disebabkan karena keinginan kedua/salah satu orang tua nya yang menginginkan berpisah, walaupun anak bisa jadi tidak menghendaki berpisahnya kedua orang tuanya
Jika dilihat dari
sudut pandang anak, kondisi sebagaimana di atas, sama-sama tidak diinginkan
oleh setiap anak
Anak pada kelompok ke 2 ini akan tumbuh
menjadi hebat jika kita mampu menanamkan pada anak 2 hal yakni :
Pertama, “MENERIMA KETENTUAN ALLAH DENGAN IKHLAS DAN RIDHO” (Penanaman Aqidah yang lurus) serta Kedua, POLA PENGASUHAN YANG HEBAT DARI ORANG-ORANG TERDEKAT ANAK
Ke 2 hal diatas menjadi point penting dalam mendidikan anak yang barangkali tidak sebagaimana anak pada umumnya. Sayangnya anak-anak seperti ini seringkali tidak mendapatkan penanaman aqidah yang baik dan pola pengasuhan yang hebat dari orang terdekat anak, tapi cenderung dibiarkan, dibenci, “dibuang” atau diserahkan pada orang lain (di pondok pesantrenkan) untuk mengurusi semuanya.
Mari kita belajar sedikit dari perjalanan siroh Rasulullah Shollahu ‘alahi wa salam. Terlepas Muhammad kecil mendapatkan bimbingan Allah Ta’ala, tetapi proses perkembangan pola pengasuhan Beliau syarat hikmah dan nilai yang luar biasa untuk kita jadikan pedoman mendidik anak-anak yang “kurang sempurna”, bahkan pola pengasuhan ini menjadi pijakan dasar “konseling modern” saat ini.
Selain itu jika kita pelajari pola pengasuhan Beliau pun tidak
jauh berbeda anak-anak secara umum, sehingga kita pun bisa mengambil pelajaran dari
proses “konseling” yang dialami Muhammad kecil saat itu, sehingga lahir dan
tumbuh menjadi orang hebat sampai saat ini
Rasulullah Shollahu a’alaihi wa salam ketika kecil sudah tinggal mati oleh ayahnya Abdullah, kemudian dirawat oleh ibunya sampai umur 6 tahun, kemudian ibunya pun meninggal. Sejak kecil tidak tahu wajah ayahnya dan ketika usia 6 tahun (anak sedang lucu-lucunya dan sangat harus kasih sayang orang tua, khususnya ibu, ibunya pun meningal)
Tentu sebagai seorang anak kecil pada umumnya Beliau akan menghadapi tekanan yang sangat luar biasa dan jika kita/ada anak yang mengalami kondisi seperti ini sudah pasti tidak akan mudah menjalani kehidupannya. Tetapi Muhammad kecil mampu mengatasi tekanan itu, tumbuh dan berkembang menjadi orang hebat. Pertanyaannya kenapa ?
Sekali lagi terlepas dari Muhammad kecil adalah pilihan Allah Ta’ala yang kelak akan mengemban risalah kenabian, tapi jika kita pelajari dari sudut padang pola pengasuhan/pendidikan, maka ada hal yang sangat luar biasa untuk kita dapatkan yakni HADIRNYA ORANG TERDEKAT BELIAU YANG SIAP MEMBERIKAN PENGASUHAN YANG HEBAT. Sayangnya anak-anak yang punya latar belakang yang “tidak sempurna” seringkali tidak mendapati orang terdekatnya memberikan pengasuhan yang terbaik, bahkan cenderung dibuang, diserahkan orang lain, dibenci keluarga terdekat, disalahkan dll. Padahal anak sejatinya tidak tahu apa-apa atas apa yang terjadi pada dirinya.
Ketika Muhammad kecil menjadi seorang yatim/piatu (yang masih membutuhkan pengasuhan sebagai seorang anak pada umumnya), peran kedua orang tuanya digantikan oleh orang terdekat Beliau yakni kakeknya selama 2 tahun. Pengasuhan yang diberikan kakeknya pun luar biasa, sampai-sampai ada riwayat Kakek Beliau ini ketika berkumpul dengan anak-anaknya (paman Beliau) punya kursi khusus yang ada disampingnya dan tidak boleh ada yang mendudukinya kecuali cucunya sendiri yakni Muhammad kecil saat itu
Setelah 2 tahun dalam pengasuhan kakeknya kemudian kakek tercinta Beliau pun meninggal, maka sang kakek menyerahkan pengasuhan pada anaknya yang dipandang mampu mengasuh Muhammad kecil kala itu yakni Abu Tholib. Lalu, apa yang dilakukan oleh Abu Tholib dalam memberikan pengasuhan pada Muhammad kecil ? Mungkin dalam riwayat siroh, Abu Tholib mengajak serta Muhammad kecil untuk ikut berdagang ke Syam, mengembala kambing dll, Beliau belajar tentang kehidupan secara langsung. Sedangkan realitas saat ini jarang2 kita temukan seorang paman mau dan siap mengasuh ponakannya sedemikian rupa
Dari gambaran diatas, bisa kita ambil
pelajaran bahwa orang terdekat Beliau saat kecil yakni Kaklek dan paman Beliau,
mampu memberikan pengasuhan yang hebat pada cucu dan keponakkannya di saat
Muhammad kecil sedang haus kasih sayang, kerinduan, perhatian dari orang tuanya
(masa ketika anak membutuhkan pengasuhan). Orang terdekat anak menjadi kunci
bagi pola pengasuhan anak-anak yang “tidak sempurna”.
Tapi hari ini realitas tidak sebagaimana yang kita paparkan diatas, khususnya di pondok pesantren. Anak-anak pada kelompok ke 2 ini seringkali dianggap beban oleh orang terdekatnya, tak jarang dibenci dan disalahkan. Kemudian orang terdekat anak enggan untuk dibebani anak yang bukan anak kandungnya sendiri, akhirnya jalan pintas pun ditempuh dengan memasukkan anak ke pondok pesantren.
Jika faktanya di pondok pesantren “beban kehidupan” anak tidak tuntas/berkurang atau anak bahkan menjadi anak yang “bermasalah” memang konselingnya tidak tepat jika yang harus melakukannya adalah pengasuh pesantren. Terlebih lagi pengasuh pesantren adalah orang lain yang tidak ada kedekatan khusus dengan anak, maka sehebat apapun perhatian, pengasuhan tetap tidak akan memberikan perubahan yang baik pada anak, jika ada pun bukan pada inti persoalan anak. Lalu yang tepat bagaimana ?
Ya, dikembalikan pada proses bagaimana mana Beliau Rasulullah Shollahu ‘alahi wa salam kecil dulu mendapatkan pengasuhan dari orang-orang terdekat Beliau.
Maka ketika kita mendapati anak2 dalam
kondisi seperti ini, seharusnya di diasuh dulu oleh orang-orang terdekat anak
sampai masa usia pertumbuhan. Dengan membangun kedekatan, hubungan pada anak,
perhatian, belajar tentang kehidupan dll, setelah secara mental siap dan usia
telah cukup, baru dimasukkan ke pondok pesantren yang basis pembangunan karakternya
lebih dominan dengan jumlah santri/wati yang terbatas agar anak bisa terpantau
dengan baik setiap perkembangannya (Bukan ke pondok pesantren yang basis
keilmuan/bakatnya lebih dominan)
Ketika mentalitas anak telah terbanggun oleh orang-orang terdekat melalui pola pengasuhan yang hebat dan karakternya terbangun dengan baik saat di ponpes, baru langkah selanjutnya anak mulai dipintarkan/dikembangkan bakatnya
Tapi realitanya lain, ketika kita dapati anak-anak seperti ini buru2 dimasukkan ke ponpes dan lucunya pesantren justru mendorong anak-anak ini segera dimasukkan ke pesantren saja dengan harapan ponpes bisa mendapatkan santri/wati yang banyak. Kemudian tinggal dibuatkan proposal pembangunan yang layak dan megah dan biaya rutin harian, maka donatur pun akan berbondong-bondong untuk datang sebab kita sedang mengasuh anak-anak yang “tidak sempurna”
Yang jadi pertanyaan, apakah problem anak dengan masukkan ke pesantren akan hilang ? Jawabannya : Tidak, sebab ketika anak dimasukkan pesantren dan orang-orang terdekat tidak memberikan perhatian yang maksimal, maka sejatinya problem anak itu tidak hilang hanya berpindah sesaat saja (kecuali anak yang sebatangkara yang tidak punya rumah dan tidak diinginkan kehadirannya oleh orang terdekat anak)
Belum lagi jika para pengasuh pesantren berharap banyak dengan anak-anak seperti ini, harus hafal qur’an, punya keilmuan yang lebih, bakatnya hebat dan lain-lain, sedangkan anak masih harus berjuang mengatasi problem dirinya sendiri. Akhirnya, dampaknya tidak sesuai harapan pengasuh, anak cenderung nakal, semau gue, ngak suka diatur, menyimpang dll,.
Karena tidak sesuai dengan harapan pengasuh,
pengasuh pun lelah dan capai ngurus anak-anak seperti ini, apalagi minim
dukungan, akhirnya model ponpes pun dirubah dan hanya menerima anak-anak yang
sudah beres saja, kalau perlu berbayar yang mahal sekalian sebagai bentuk
profesionalisme ponpes
Kesimpulannya, sejatinya anak itu tidak salah,
hanya saja dirinya pada posisi yang tidak sebagaimana anak pada umumnya.
Anak-anak seperti ini punya potensi yang besar untuk menjadi orang hebat
dikemudian hari, sebab Allah Ta’ala yang melatih sendiri arti sabar, menerima
kenyataan hidup, arti kekurangan, menerima perbedaan, dididik untuk jadi anak
yang tangguh dan kuat dll, asal dengan pengasuhan yang tepat sebagaimana yuang
telah saya paparkan diatas
Wallahu 'alam bishowab
________
MENDIDIK ANAK BERKARAKTER SEJAK USIA DINI (Diambilkan dari Catatan harian Pola Pendidikan di PONPES TAHFIZHUL QUR'AN "KH khoirotun Hisan"
PENDAFTARAN SETIAP SAAT SELAMA KUOTA MASIH
ADA
DAPATKAN BUKU :
SERIAL 01 MENDIDIK ANAK BERKARAKTER SEJAK
USIA DINI (BERBASIS PESANTREN)/ 0823 2474 5151






Posting Komentar
Yuk, tinggalkan komentar mu