Maknanya bahwa pada usia 21 tahun dirinya sudah menikah, kemudian punya anak. Dan anaknya pun punya anak juga. Akhirnya dia diusia 21 tahun dirinya layak menyandang predikat sebagai seorang nenek karena telah memiliki cucu
Coba jika dibandingkan dengan zaman kita saat ini, usia 21 tahun ngak ada yang berstatus sebagai nenek-nenek dan hampir mayoritas usia segitu belum bisa apa-apa, apalagi dewasa. Ya, telat menjadi dewasa, itulah kata-kata yang pas, sebab SEJATINYA KEDEWASAAN SESEORANG TIDAK DIUKUR DARI USIA ATAU UMUR NYA. Banyak hari ini orang yang usianya sudah berumur, sudah berkeluarga dan punya anak, bahkan sudah tergolong manula, tapi prilakunya masih seperti anak kecil
Begitu pula KEDEWASAAN TIDAK DITENTUKAN DARI TINGKATAN PENDIDIKANNYA, kalau sudah kuliah terus dikatakan dewasa ? Atau sudah sarjana berarti sudah dewasa ? Sedangkan yang masih duduk dibangku SD/SMP dianggap masih anak-anak ? Ooo Tidak begitu ....? Kisah Jaman Imam Syari'i diatas sebagai bukti bahwa kedewasaan dan kematangan seorang anak bisa dipercepat dan tidak mendasarkan pada usia atau tingkat pendidikan seseorang.
_______________________________
Pertanyaannya yakni, bagaimana kita mempercepat proses kedewasaan anak ? Syaikh Ramadhan Al Buthi mengatakan bahwa semua tergantung dari PROSES PENDIDIKAN yang di berikan pada anak-anak kita selama ini. Jujur harus kita akui, bahwa proses pendidikan kita saat ini, (termasuk di pesantren) masih jauh dari proses pendidikan yang mengenalkan anak tentang kehidupan, sehingga anak-anak kita tak kunjung bisa dewasa
__________________________________
Semua hanya konsumsi otak, semua serba instan dan banyak yang jauh dari nilai-nilai kehidupan yang nantinya dijalani seorang anak. Akhirnya anak tak peka dan tak mengerti tentang hidup itu sendiri.
BELAJAR ADALAH DUNIA YANG TERPISAH DARI PROSES BELAJAR TENTANG KEHIDUPAN, PADAHAL SEJATINYA BELAJAR ADA DALAM PROSES KEHIDUPAN ITU SENDIRI
Wallahu 'alam bishowab


Posting Komentar
Yuk, tinggalkan komentar mu