Hidup di dunia adalah bagian dari perjalanan yang harus dilalui oleh setiap manusia. Karena perjalanan hidup ini adalah bagian dari takdir Allah Ta’ala untuk menguji hambaNya, mampu menjadi hamba yang Ta’at pada Allah Ta’ala atau tidak.
Maka ketika manusia hadir di dunia tak lepas dari berbagi macam problematika hidup. Ada yang sukses dan ada yang merana, ada yang kaya dan ada yang miskin, ada yang pintar dan ada pula yang bodoh. Ada yang mampu hidup bahagia dan banyak pula yang kehidupan berselimutkan kesedihan.
Terkait dengan kebahagiaan dan kesediaan, menjadi bagian yang tak terpisahkan pada setiap manusia. Pergantian kebahagian dan kesedihan bisa berubah dalam waktu yang sangat lama, tapi juga bisa berlangsung dengan sangat cepat.
Maka tidak ada jaminan, orang yang hari ini bahagia besok akan terus merasakan kebahagiaan. Dan tidak ada jaminan pula 5 menit yang lalu kita diliputi dengan kesedihan, kemudian 5 menit setelahnya kita tak mampu bahagia. Itulah misteri dari kebahagiaan dan kesedihan manusia.
Kebahagiaan adalah amalan hati seseorang, bukan amalan lisan atau amalan perbuatan. Maknanya jika seseorang mengucapkan “saya bahagia” atau aktivitasnya menunjukkan “keceriaan” di hadapan manusia, maka sejatinya ITU BUKAN KEBAHAGIAAN YANG HAKIKI.
Sebab Kebahagian yang hakiki tersembunyi dalam hati manusia yang paling dalam dan hanya Allah Ta’ala dan dirinya yang tahu, apakah dirinya bahagia atau tidak.
Maka, kehadiran anak berkebutuhan khusus yang dititipan pada kita selaku orang tua harus mampu menghadirkan kebahagian yang hakiki, bukan kebahagian yang penuh dengan kepura-puraan,
Kebahagiaan semu yang tak mampu mendapatkan amal sholeh dan tak mampu mengangkat derajat orang tua nya di hadapan Allah Ta’ala.
Sayangnya, banyak orang tua yang dititip anak berkebutuhan khusus seringkali menjadikan anak-anak kita sebagai “ALAT KESEDIHAN” kita. Ini lho, saya orang yang paling sedih sebab Allah Ta’ala menitipkan anak dengan kondisi seperti ini kepada saya. Seakan-akan kita adalah orang yang paling sedih di dunia dan orang yang paling pantas diberi belas kasihan, sehingga lupa untuk menggapai hidup bahagia dan berkah bersama anak kita yang ABK.
Mari, kita hadirkan kebahagiaan itu dalam kehidupan kita selama bersama anak kita yang Abk dengan terus berbagi pada orang lain. Sabab dengan kita terus berbagi pada orang lain, Insya Allah kita akan temukan kebahagiaan yang hakiki
Wallahu ‘alam bishowab
Solo, 10 Maret 2022
Salam Untuk Para Orang Tua Hebat
Nashrullah Jumadi
________________________


Posting Komentar
Yuk, tinggalkan komentar mu