CATATAN 81 : BELAJAR SABAR DAN ISTIQOMAH DALAM MEMBERI PENGASUHAN ANAK YANG PUNYA LATAR BELAKANG “KURANG SEMPURNA” Oleh : Nashrullah Jumadi

 



BELAJAR SABAR DAN ISTIQOMAH DALAM MEMBERI PENGASUHAN ANAK YANG PUNYA LATAR BELANG “KURANG SEMPURNA” .....Ya, ini tema catatan saya kali ini, tema yang barangkali kita semua tidak membutuhkannya sebab anak-anak kita terlahir dengan “sempurna”. Kita saat ini hidup mapan bersama anak-anak kita selama ini, kita bisa bersendau gurai, santai, bisa pergi bersama anak kemana kita suka, semua kita nikmati dengan bahagia bersama anak-anak kita. Bahkan kita tidak pernah berpikir bahwa sejatinya anak-anak kita pun punya potensi yang sama untuk menjadi anak yang punya latar belakang “tidak sempurna”  

Tema yang barangkali hanya cocok untuk mereka yang ditakdirkan Allah Ta’ala menjadi anak yang tidak “sempurna”, menjadi orang tua yang tak “sempurna” dan untuk mereka yang peduli akan pendidikan anak-anak seperti ini. Semoga catatan ini memberikan motivasi dan spirit untuk terus mengasuh anak-anak dengan sabar dan istiqomah.

Anak sejatinya terlahir di dunia pada dasarnya semua sama, tidak ada yang membedakannya, persamaan itu antara lain :  

1.     Semua Anak terlahir tidak punya apa-apa dan memakai apa-apa

2.     Anak sejatinya terlahir pasti ada sosok orang tua, yakni ayah/ibunya (Kecuali Nabi Isa bin Maryam Alaihissalam), entah hasil dari perbuatan zina orang tuanya atau salah satu orang tuanya kabur meninggalkannya, anak pasti memiliki orang tua yang diamanahi untuk membesarkan dan mendidiknya di dunia

3.     Seorang anak sudah ada rizqinya masing-masing yang dititipkan pada orang tuanya atau orang yang mengasuhnya, maka dimana pun anak tinggal seperti di kolong jembatan, di desa yang terpencil yang jauh dari keramaian, di pondok pesantren dll sesungguhnya mereka tidak datang tanpa Allah Ta’ala berikan modalnya yakni membawa rizqinya masing-masing    

4.     Setiap anak juga membutuhkan makan, minum, pakaian, tempat tinggal dan lain-lain sebagaimana anak pada umumnya

5.     Setiap anak juga memiliki fitrohnya yakni mudah di didik dan membutuhkan pendidikan yang baik dari orang tuanya atau yang peduli dengannya sampai mereka mampu menjalani kehidupannya sendiri  

Beberapa point diatas, adalah gambaran pada kita semua, bahwa setiap anak sejatinya memiliki modal awal dan potensi yang sama, tidak ada perbedaan anak seorang jendral, pengusaha sukses, petani, buruh, guru, karyawan, bahkan anak orang yang hidup di kolong jembatan sekali pun dll.

Maka, kehadiran mereka susungguhnya tidak merepotkan kita, baik urusan makan, minum dll (sebab mereka telah Allah beri modal pula untuk bisa bertahan hidup, yakni rizqi nya sendiri), yang dibutuhkan mereka adalah nasehat dan bimbingan agar mereka bisa menerima takdir Allah dengan ikhlas dan ridho serta proses pendidikan yang baik untuk mereka. Agar mereka bisa dan mampu menjadi anak sholeh/ah walaupun mereka punya latar belakang tidak sebagaimana anak pada umumnya. Sebab untuk menjadi anak sholeh/ah setiap anak punya peluang yang sama, walaupun untuk menjadi anak pintar dan berbakat tidak setiap anak punya peluang yang sama.  

Menghadapi anak-anak seperti ini, seringkali kita sebagai manusia tak peduli dan terkadang sombong bahwa saat kedatangan anak-anak seperti ini kita merasa yang menanggung semua kehidupannya. Padahal yang dibutuhkan anak hanya bimbingan agar menerima takdir Allah dan proses pendidikan yang baik, sebab proses ini hanya bisa diberikan oleh hamba Allah Ta’ala yang terpilih saja. Ingat sekali lagi, bahwa kita hanya bimbingan agar menerima takdir Allah dan memberi pendidikan yang baik, bukan menghidupi mereka    

Kemudian yang membedakan setiap anak, khususnya anak yang “tak sempurna” dengan anak yang “sempurna” hanya pada posisinya saja atau tempatnya dimana dirinya menjalani kehidupannya dan Allah Ta’ala yang berhak dan tahu di mana anak-anak ini ditempatkan pada orang tua yang tepat.

Lalu apa yang dimaksudkan anak yang punya “latar belakang tidak sempurna” ? Mereka yakni :

1.    Anak yang terlahir didunia atas Takdir Allah Ta’ala tidak memiliki orang tua orang tua, baik ayahnya sudah meninggal atau ibu nya yang sudah tiada atau keduanya sudah tiada.

2.  Anak yang orang tuanya berpisah (broken home) termasuk anak yang punya latar belakang “kurang sempurna” biasanya anak seperti ini mengalami goncangan hidup apalagi terjadi pada saat anak masih kecil    

3.  Anak yang tak terurus dengan baik oleh orang tuanya atau saudara dekatnya, walaupun kedua orang tuanya masih ada

Ke 3 hal ini menjadi bagian dari anak-anak yang punya latar belakang “kurang sempurna” sehingga mereka seharusnya mendapatkan proses pendidikan yang terbaik, melebihi proses pendidikan untuk anak yang “sempurna”. Jika anak yang “sempurna” saja membutuhkan 100% proses pendidikannya, tentu anak-anak seperti ini membutuhkan > 100%.

Dan mengasuh anak seperti ini seharusnya pengasuh bisa totalitas dan memberikan perhatian yang terbaik sebab mereka saat ini sedang mengasuh anak-anak yang punya beban hidup yang tak dikehendakinya. Tapi sayang hal ini seringkali tidak terjadi, sebab pengasuh terkadang harus mengurusi semuanya termasuk keluarganya sendiri dan semua anak asuhnya, semua itu dilakukan marena minimnya kepedulian pada anak-anak seperti ini.Bahkan tak jarang, justru banyak pengasuh yang sibuk dengan urusan dan kesibukkannya sendiri, akhirnya tidak fokus dan totalitas mengasuh anak      

Pertanyaannya, apakah anak-anak seperti ini bisa menjadi anak yang baik (sholeh/ah) ? Jawabnya : Sangat bisa, semua pada akhirnya akan kembali pada 2 hal yakni :

1. MENERIMA TAKDIR yang telah Allah Ta’ala tetapkan padanya (maka proses pendidikan Islam pada intinya adalah menanamkan Aqidah yang lurus, menerima setiap yang telah Allah tetapkan dengan ikhlas dan ridho, bukan mengilmui (memiliki) ilmu aqidah  (......Insya Allah akan kita bahas secara khusus). Sampai ketika anak sudah berhak memilih jalan hidupnya sendiri

2.  PROSES PENDIDIKAN yang baik, yang diberikan pada seorang anak oleh orang terdekat anak atau yang peduli dengan mereka.      

Insya Allah, ke 2 hal ini yakni menerima Takdir Allah Ta’ala (dimiliki anak sendiri) dan proses pendidikan yang baik pada anak, maka akan tumbuh menjadi pribadi yang baik sholeh/ah.

Sebagai akhir dari catatan ini, memberikan pola pengasuhan anak-anak seperti ini memang harus sabar dan istiqomah menjalaninnya sebab anak tentu punya sikap dan prilaku yang tidak mudah ditundukkan. Maka, seharusnya memberikan pola pengasuhan anak seperti ini lebih maksimal dan full perhatian, diasuh pengasuh yang berpengalaman, difasilitasi dengan baik, punya sumber dana yang cukup dll

Kalau semua asal berjalan, tentu pengasuhan anak-anak seperti ini juga pada akhirnya hasilnya akan asal-asalan juga dan kurang maksimal. Pada akhirnya membuat pengasuh lelah dan jenuh mengasuh mereka. Kalau sudah jenuh, maka ujung-ujung nya merubah haluan pondok pesantren dan secara perlahan namun pasti tidak lagi ngasuh mereka, padahal selama ini lembaga, para pengasuh dll sudah sangat dikenal dalam mengasuh anak-anak seperti ini. 

Wallahu 'alam bishowab

________

MENDIDIK ANAK BERKARAKTER SEJAK USIA DINI (Diambilkan dari Catatan harian Pola Pendidikan di PONPES TAHFIZHUL QUR'AN "KH khoirotun Hisan" 

PENDAFTARAN SETIAP SAAT SELAMA KUOTA MASIH ADA

DAPATKAN BUKU : SERIAL 01 MENDIDIK ANAK BERKARAKTER SEJAK USIA DINI (BERBASIS PESANTREN)/ 0823 2474 5151

 

0/Post a Comment/Comments

Yuk, tinggalkan komentar mu

Ads1
Ads2