Di zaman ini, semua serba sulit dan rumit, lebih lagi kebutuahan pokok yang terus naik, menjadikan masyarakat semakin terjepit dan binggung untuk sekedar mencari sesuap nasi. Akhirnya persoalan memenuhi kebutuhan perut telah menjadi kebutuhan prioritas bagi masyarakat kita, tidak pandang bulu siapapun dia, entah buruh, pekerja kantoran, karyawan dll, yang terpenting perut dan perut keluarganya kenyang setiap hari, walaupun kebutuhan tersebut hanya cukup untuk sehari sekalipun. Kita betul-betul prihatin dengan kondisi masyarakat kita saat ini, semua berkeluh akan sulitnya menjalani hidup.
Gambaran
persoalan diatas, langsung maupun tidak tentu berimplikasi pula bagi seluruh
pola dan sikap masyarakat kita saat ini, salah satunya barangkali memandang
remeh Ilmu dan pentingnya mendalami Islam, serta kurang pedulinya mereka akan
bekal-bekal Islam, apalagi sampai tertarik untuk tekun datang ke masjid. Coba kita
perhatikan dengan seksama realitas masjid-masjid hari ini, dari sekian banyak
jama’ah yang sholat, mayoritas mereka adalah orang-orang yang secara ekonomi
telah mapan, kemudian urutan kedua adalah para pensiunan, dan urutan ketiga
adalah para manula. Sedangkan masyarakat yang memiliki latar belakang ekonomi
lemah dan para pemuda, menduduki prosentase yang sangat kecil, bahkan
dibeberapa masjid mereka tidak terlihat. Dan tidak terlihatnya bukan berarti
dikampung/desa tersebut tidak ada orang yang miskin atau pemuda, tapi tidak
adanya mereka karena enggan datang ke masjid.
Komunitas
orang-orang lemah kebanyakan sibuk mencari sesuap nasi dijalan-jalan tanpa
menghiraukan sudah tiba waktu sholat apa belum, sedangkan para pemuda hidup
dijalannya dengan berfoya-foya mencari kesenangan sesaat, karena binggung untuk
mencari pekerjaan. Inilah saudaraku gambaran nyata masyarakat kita saat ini dan
bagaimana rasa peduli mereka dengan masjid, yang bisa kita katakan sangat
rendah sekali.
Disisi
yang lain kita banyak jumpai masjid-masjid hari ini yang berlomba-lomba untuk
membangun fisik masjid dan berbagai kegiatan yang glamor, yang menghabiskan
dana jutaan rupiah. Barangkali mereka beranggapan dengan masjid yang indah dan
bagus serta kegiatan yang serba wah, sebagai tolak ukur kemakmuran masjid,
padahal banyak masyarakat sekitar masjid yang menjerit dihimpit sulitnya
mencari sesuap nasi, banyak ummat dipinggir-pinggir masjid binggung untuk
membiayai sekolah anak-anak mereka, serta tak luput pula para pemuda yang nongkrong
dijalan-jalan dekat masjid binggung harus berbuat apa. Atas fenomena ini kita
seringkali dibuat binggung kemana harus berkeluh dan kemana pula harus mencari
solusi, bahkan masjid yang diharapkan mampu memberikan solusi, sebagai tempat
untuk meminta pertimbangan dan pencerahan serta bimbingan pada ummat disekiar
masjid, tak berdaya dan tak mampu
berbuat apa-apa. Ya...beginilah kenyataan masjid-masjid kita hari ini, yang
hanya sebatas untuk ibadah sholat, pengajian atau ceramah semata serta
membangun dan membangun. Memang tidak salah membangun fisik masjid, jika itu
memang sangat prioritas, begitu pula dengan berbagai kegiatan Islam, jika tidak
berlebih-lebihan, tetapi ada satu fungsi dan peran masjid yang hari ini telah
ditinggalkan, yakni fungsi pemberdayaan ummat.
Ditengah
sulitnya mencari ekomini saat ini peran masjid seharusnya bisa berbuat banyak,
karena masjid adalah basis ummat di masyakarat, sehingga seyogyanyalah masjid
memerankan fungsi dan kiprahnya sebagai pembimbing, pemberi arah dan pemberi
solusi bagi ummat sekitar masjid, melalui program-program pemberdayaan ummat.
Kalau pemberdayaan ummat ini mampu diperankan masjid-masjid saat ini, maka hal
ini sangat membantu masyarakat khususnya kalangan kurang mampu.
Tetapi menjadikan masjid yang berfungsi dan berperan
membatu ummat dengan berbagai program pemberdayaan bukan hal yang mudah
dilakukan, dibutuhkan keberanian untuk berbuat dan mengambil keputusan.
Ya......keberanian
berbuat dan mengambil keputusan inilah kuncinya, karena jika ada masjid yang
berani menjadikan pemberdayaan ummat sebagai prioritas programmnya, maka
sesungguhnya masjid tersebut ibarat menentang arus dari kebanyakan masjid yang
ada saat ini.
Dan
keberanian untuk berbuat dan mengambil keputusan itu, ada ditangan para Ta’mir
Masjid. Kita tidak menutup mata ditangan Ta’mir masjidlah, masjid dan ummat itu
bisa berjaya dan mampu merasakan kehadiran masjid, karena masjid juga
merasakan, mendengar dan mampu memberi solusi nyata atas derita dan keluhan
ummat, tapi sayang Ta’mir masjid saat ini belum seperti yang kita harapkan,
sehingga setiap usaha ataupun program yang mengarah pada pemberdaayaan ummat
seringkali kandas ditengah jalan, mengapa ..? Karena kebanyakan masjid saat ini
hanya sebatas dikelola dan dijalankan semata, tanpa memiliki Visi & Misi
yang jelas kemana mau diarahkan.
Maka,
kehadiran seorang Ta’mir masjid yang memiliki Visi & Misi Pemberdayaan
ummat merupakan kebutuhan mendesak hari ini, karena program pemberdayaan ummat
atau yang semisal sangat relevan dengan kondisi masyarakat kita hari ini.
Apabila tidak ada Ta’mir masjid yang memiliki Visi & Misi Pemberdayaan
ummat, apa perlu kita membuka lowongan ...? Tentu tidak bukan ..? Karena jika
program pemberdayaan ummat dicanangkan masjid, saya yakin banyak potensi ummat
yang mampu dirakit, sehingga kita tidak perlu membuka lowongan hanya untuk
sekedar mencari Ta’mir masjid, malu kan kalau mencari Ta’mir masjid yang
memiliki Visi & Misi Pemberdayaan ummat harus membuka lowongan , kayak
lowongan pekerjaan aja ..........
Wallahu alam bishowab .
Kehadiran seorang Ta’mir masjid yang memiliki Visi
& Misi Pemberdayaan ummat merupakan kebutuhan mendesak hari ini, karena
program pemberdayaan ummat atau yang semisal sangat relevan dengan kondisi
masyarakat kita hari ini.


Posting Komentar
Yuk, tinggalkan komentar mu