Tema tersebut saya angkat, berawal dari perjumpaanku dengan salah seorang pengajar TPA/TPQ disalah satu masjid. Ia menceritakan bagaimana beratnya tanggungjawab sebagai pengelola dan sekaligus pengajar TPA/TPQ selama ini, hampir waktu sorenya dihabiskan untuk mendampingi anak-anak belajar Al Qur'an. Padahal jika dibandingkan pemuda seusianya, banyak para pemuda yang menghabiskan waktu sorenya untuk les pelajaran sekolah, ada yang berolah raga, ada yang bersendau gurau dengan teman lainnya dll, tapi dirinya rela dan ikhlas mendampingi, membimbing dan mengajar di TPA/TPQ. Walaupun ilmu yang dimilikinya terbatas, tapi dirinya tetap bersemangat dan terus berusaha semampunya mengemban amanah dengan sebaik-baiknya, demi adik- adik kampungnya agar bisa membaca Al Qur'an dengan baik. .
Ditengah asiknya dirinya bercerita, saya
sesekali bertanya padanya untuk lebih menjelaskan lagi bagaimana suka dan
dukanya menjadi pengajar TPA/TPQ selama ini, Saat itu saya bertanya padanya,
apakah selama ini tidak ada pertemuan rutin dengan pengurus masjid setempat
(sebagai bentuk dukungan) dan dana operasional dari pengurus masjid ? Ia
memberikan jawaban yang sangat
mengherankan saya, jangankan pertemuan mas, melihat langsung TPA/TPQ saja ngak
pernah dilakukannya. Sedangkan untuk dana operasional TPA/TPQ saja kita
diharuskan membuat proposal terlebih dulu,
padahal dana yang kita minta hanya cuma Rp. 50 ribu saja. Mendengar
jawaban tersebut, saya sangat heran dan tak hampir pikir dengan perjalanan
TPA/TPQ di masjid tersebut. Dalam hati saya hanya bisa prihatin, kok zaman
sekarang masih ada saja pengurus masjid yang tidak peduli dengan TPA/TPQ,
khususnya lagi pengajar TPA/TPQ (seiring dengan perjalanan waktu, pada akhirnya
TPA/TPQ di masjid tersebut mati karena tak terurus dengan baik).
Pembaca sekalian, inilah gambaran nyata
dari perjalanan TPA/TPQ kita saat ini, yang tidak mendapatkan perhatian sama
sekali. Semua ini terjadi salah satunya karena masjid hari ini enggan untuk
“memuliakan” para pengajar Al Qur'an, khususnya pengajar TPA/TPQ saat ini.
Banyak pengurus masjid dan masyarakat muslim saat ini sangat meremehkan tenaga
pengajar Al Qur'an. Sehingga banyak pengajar TPA/TPQ yang tidak terurus dengan
baik (padahal dana kas masjid sangat melimpah), jangankan subsidi yang layak
sebagai salah satu bentuk cara kita “memuliakan” tenaga pengajar TPA/TPQ,
peduli disaat sakit ataupun peduli disaat keluarganya mengalami kesusahan pun
sangat jarang dilakukan. Padahal ditangan merekalah anak-anak kita bisa membaca
Al Qur'an dan akhirnya mengenal Islam. Dan ditangan- tangan merekalah generasi
masjid terbangun, terlebih lagi tidak ada yang paling berharga di dunia ini
sebagai bekal utama anak kita, kecuali bekal-bekal Al Qur'an.
Kenyataan saat ini sangat jauh, jika kita
melihat bagaimana para salafusholeh dahulu menghormati dan memuliakan tenaga
pengajar Al Qur'an. Mereka rela berkorban apapun agar anak-anak mereka bisa
diajari Al Qur'an. Hal ini terlihat dengan jelas pada kisah dibawah ini, yakni
ketika Hamad bin Abi hanifah telah lancar membaca Surat Al fatihah, Abu Hanifah
memberi imbalan kepada gurunya 100 dirham. Padahal ketika itu dengan uang 1
dirham saja sudah bisa dibelikan seekor domba. Gurunya merasa bahwa imbalan
yang diterimanya terlalu besar baginya, padahal ia baru mengajarkan surat Al
fatihah. Karena tahu bahwa sang guru merasakan hal itu, maka Abu Hanifah
berkata kepadanya : “Janganlah kamu menganggap remeh apa yang kamu ajarkan
kepada anakku. Andaikan saja aku punya lebih banyak lagi, aku akan berikan
padamu sebagai bentuk pengagungan kepada Al Qur'an” (Sumber : “Mendidik Anak
Bersma Nabi” karya Muhammad Suwaid :
Penerbit Pustaka Arofah)
Kisah di atas memberi pelajaran yang cukup
berharga bagaimana mereka “memuliakan” tenaga pengajar Al Qur'an (karena yang
diajarkan adalah Al Qur'an), walaupun bentuk memuliakan tersebut tidak mesti
harus diukur dengan materi semata, misalkan mendahulukan mereka menjadi seorang
pemimpin/Iman Rowatib masjid (bukan ketua takmir secara otomatis Iman Rowatib,
tapi dicari yang paling banyak hafalan
dan memamahi Islam). Jika perhatian, kepedulian, dan rasa penghormatan terhadap
pengajar Al Qur'an tidak dijunjung tinggi ketika itu, mungkin saat ini kita
tidak akan bisa mengenal Al Qur'an dan pada akhirnya kita tidak mengenal Islam.
Pembaca sekalian, tidak adanya usaha
“memuliakan” pengajar Al Qur'an yang dilakukan masjid disebabkan karena tak
mampu, barangkali bisa kita maklumi bersama, tapi kenyataan dilapangan memberi
bukti bahwa tidak “memuliakan” lebih karena masjid hari ini enggan. Keengganan
ini bukan tanpa konsekwensi, adapun konsekwensinya, antara lain :
1.
Taman
Pendidikan Al Qur'an di masjid sudah pasti tidak akan berjalan atau mati,
karena tidak adanya tenaga pengajar Al Qur'an di sekitar masjid yang mampu
memberikan pengajaran Al Qur'an di TPA/TPQ
2.
Kalau
TPA/TPQ masjid mati, sudah bisa dipastikan remaja atau pemudanya pun akan jauh
dari Al Qur'an dan masjidnya (maka anda jangan heran, jika ada masjid tanpa
pemuda)
3.
Maka
secara otomatis masjid telah gagal membangun generasi karena pemuda/i sudah
jauh dari masjid, kalau pun hadir biasanya hanya dibulan Ramadhan saja.
4.
Masjid
akan berlomba-lomba membangun fisik masjid, tapi gagal membangun masyarakatnya,
terlebih lagi generasi mudanya
5.
Implikasi
lainnya adalah kualitas bacaan Imam Sholat Rowatibnya pun tidak memiliki bacaan
yang sesuai kaidah membaca Al Qur'an yang baik dan benar, hal ini bisa
dimungkinkan dulunya sang imam tidak pernah belajar Al Qur'an di TPA/TPQ.
Sebagai
akhir dari tulisan ini, sudah saatnya kita hormati dan “muliakan” pengajar
TPA/TPQ saat ini, kita berikan apresiasi yang setinggi-tingginya pada mereka,
sebab tanpa mereka, anak dan generasi kita tak akan mampu dan mengerti Al
Qur'an. Tempatkan para pengajar Al Qur'an di makam kita yang tertinggi,
dahulukan mereka untuk menjadi Imam sholat walaupun kita lebih pandai dan tua.
Hormatilah mereka karena dipundaknya Al Qur'an diamanahkan, ringankan mereka
untuk mengemban amanah Al Qur'an.Maka dari itu, jangan harap masjid akan
menemukan kemakmurannya jika para pengurus masjid tidak menghormati dan
“memuliakan” para pengajar TPA/TPQ yang ada di masjidnya. Dan jangan harap pula
para orang tua akan menjumpai anak-anak mereka pandai membaca dan memahami Al
Qur'an, jika tidak ada usaha untuk menghormati dan “memuliakan” tenaga pengajar
Al Qur'an, khususnya pengajar TPA/TPQ.
Untuk itu hormati dan “muliakanlah” mereka
........................
Wallahu a’alam bishowab
......ketika Hamad bin Abi hanifah telah lancar
membaca Surat Al fatihah, Abu Hanifah memberi imbalan kepada gurunya 100
dirham. Padahal ketika itu dengan uang 1 dirham saja sudah bisa dibelikan
seekor domba. Gurunya merasa bahwa imbalan yang diterimanya terlalu besar
baginya, padahal ia baru mengajarkan surat Al fatihah. Karena tahu bahwa sang
guru merasakan hal itu, maka Abu Hanifah berkata kepadanya : “Janganlah kamu
menganggap remeh apa yang kamu ajarkan kepada anakku. Andaikan saja aku punya
lebih banyak lagi, aku akan berikan padamu sebagai bentuk pengagungan kepada Al
Qur'an” (Sumber : “Mendidik Anak Bersma Nabi” karya Muhammad Suwaid : Penerbit Pustaka Arofah)
JANGAN HARAP MASJID AKAN MENEMUKAN KEMAKMURANNYA, JIKA
PARA PENGURUS MASJID ENGGAN MENGORMATI DAN “MEMULIAKAN” PARA TENAGA PENGAJAR AL
QUR’AN (TPA/TPQ) DI MASJIDNYA ....
DAN JANGAN HARAP PULA PARA ORANG TUA AKAN MENJUMPAI
ANAK-ANAK MEREKA PANDAI MEMBACA, BAHKAN MENGHAFAL AL QUR’AN, JIKA TIDAK ADA
USAHA UNTUK MENGHORMATI dan “MEMULIAKAN” TENAGA PENGAJAR AL QUR’AN ....


Posting Komentar
Yuk, tinggalkan komentar mu