Tulisan saya kali ini saya awali dari kisah yang terjadi saat saya masa kecil dulu terkait dengan kehidupan pesantren. Yakni ada tetangga rumah yang punya anak yang sulit diatur. Anaknya senantiasa membuat ulah dan selalu merepotkan orang tuanya. Karena sudah tak bisa sabar lagi menghadapi sang anak yang bandel, akhirnya orang tua pun menebar ancaman pada anak. Orang tua nya bilang : “Awas kamu kalau masih nakal dan sulit diatur, nanti tak pondokkan di pesantren lho !”
Kisah lainnya juga, ada satu keluarga yang punya banyak anak yang masih kecil-kecil. Karena tekanan hidup yang berat dijalani satu keluarga ini, akhirnya orang tua pun memutuskan untuk mondokkan anak-anaknya di pesantren, padahal anaknya masih kecil dan belum lulus SD/MI. Dengan masuk pesantren, apalagi yang gratis harapannya beban hidup orang tua bisa berkurang, sebab beban hidup untuk merawat dan membiayai anak pindah ke pesantren.
Bahkan, orang tua pun dengan kata-kata yang bijak menyampaikan pada anaknya, bahwa semua yang diputuskan orang tua adalah demi kebaikkan dan masa depan anaknya. Ya, apa sih yang bisa dilakukan oleh seorang anak kecil ? Jika orang tua sudah memutuskan, maka suka atau tidak suka anak pun harus menerima kenyataan kalau harus mondok di pesantren dan hidup jauh dari orang tuanya.
Dari Ke 2 kisah diatas, jika kita lihat seakan-akan orang tua begitu peduli dan sangat perhatian dengan masa depan dan kebaikkan anaknya nanti, yakni dengan memondokkan anaknya di pesantren. Tetapi jika ditinjau dari sisi anak yang belum punya penalaran yang baik. Maksud dan tujuan baik orang tua, tidak sepenuhnya dipahami oleh seorang anak. Maknanya, bahwa anak bisa jadi punya pandangan dan penilaian yang berbeda atas apa yang kita lakukan orangt tua pada dirinya.
Sekalipun kita telah memberikan pemahaman dan pengertian padanya bahwa maksud dan tujuan kita baik, tapi fitroh seorang anak yang masih kecil belum tentu bisa memahami maksud dan tujuan kita mondokkan anak. Untuk itulah kenapa seorang anak, bagaimana pun kondisinya, entah nakal atau tidak, entah bodoh atau tidak atau bahkan cacat fisik/mentalnya atau tidak, seharus tetap bersama orang tuanya di rumah. Apa pun yang terjadi dan bagaimana pun jadinya anak kita, bersama orang tua saat masih kecil adalah hal yang terbaik bagi anak-anak kita.
Lalu, pertanyaannya yakni apa kira-kira pemahaman dan penilaian anak pada orang tua yang mondokkannya, padahal dirinya masih kecil dan masih ingin bersama orang tuanya ?
Salah satu penilaian anak bisa jadi mereka punya pemahanan bahwa dirinya sejatinya “dibuang” oleh orang tuanya di pesantren. Maka jangan heran, jika pada kenyataannya anak-anak seperti ini akan banyak mengalami banyak masalah kepribadian adan karakter dasarnya. Dan kecenderungannya pun anak sulit sekali diatur dan diarahkan. Sebab dirinya tidak diperlakukan sebagai anak dengan baik dan hak-hak sebagai seorang anak diambil dengan cara yang dholim oleh orang tuanya.
ANTARA MONDOKKAN ANAK DI PESANTREN DENGAN “MEMBUANG” ANAK .....Ya, itulah tema catatan saya kali ini
Lalu kapan dan bagaimana harus mulia memondokkan anak di pesantren ?
1.
Mondokkan
anak di pesantren harus atas dasar KEIKHLASAN dan PEMAHAMAN YANG BENAR demi
kebaikkan proses pendidikan anak-anak kita kedepan, bukan atas dasar kebencian
atau atas dasar ketidaksabaran kita atas prilaku dan sikap anak-anak kita
selama bersama kita di rumah
2.
TANAMKAN
SEJAK DINI KECINTAAN HIDUP DI PESANTREN, khusunya bagi keluarga yang belum
pernah ada satu pun yang mengeyam dunia pesantren. Sebab bagi keluarga yang
tidak punya latar belakang pesantren, mondokkan anak di pesantren tentu butuh
pertimbangan yang matang.
3.
PAHAMI
KAPAN WAKTU YANG TEPAT mondokkan anak di pesantren
Memahami
kapan waktu yang tepat mondokkan anak dipesantren, menurut pemahaman saya
(boleh sepakat, boleh tidak), ada alokasi waktunya, antara lain :
·
Anak
usia 0 – Usia SD/MI :
Sebaiknya dia tetap
dekat dengan orang tuanya sebagai bagian dari proses pendidikan karakter anak
sejak usia dini. Jadi jangan dipondok pesantrenkan dengan alasan apapun.
·
Anak
usia SMP :
Anak usia SMP/MTs
(Lullusan SD/MI) sudah bisa mondok dipesantren, tapi dengan catatan, antara
lain :
1.
Cari
pesantren yang masih dekat dengan kita, jadi orang tua masih memungkinkan untuk
jenguk anak di pesantren.
2.
Cari
sistem pesantren yang membolehkan anak untuk pulang ke rumah 1 bulan sekali,
sebab 1 bulan sekali pulang ke rumah untuk ketemu dengan orang tua, saudara dan
lingkungan, Insya Allah akan baik bagi perkembangan karakter anak kedepan
·
Anak
usia SMA/MA :
Tidak ada batasan khusus, sebab anak sudah dipandang sosok yang dewasa
Mendidik anak dengan cara mondokkan anak kepesantren, kalau boleh saya ibaratkan sebagaimana kita memainkan layangan. Layangan yang akan kita naikkan di atas langit sudah harus benar2 siap, kemudian kita mulai mengulur tali secara perlahan2 sambil memastikan layangan tetap statil. Jika, layangan telah stabil, maka tali akan terus kita ulur agar layangan terus terbang tinggi dan mampu menyeimbangan tekanan yang di hadapinya.
Wallahu 'alam bishowab
______________________
·
MENDIDIK
ANAK BERKARAKTER SEJAK USIA DINI
(Diambilkan dari
Catatan harian Pola Pendidikan di PONPES TAHFIZHUL QUR'AN "KH khoirotun
Hisan" (KH PUTRA) & (KH PUTRI)
·
PENDAFTARAN
SETIAP SAAT SELAMA KUOTA MASIH ADA : 0823 2474 5151 (WA)
YUK
BANTU SHARE, Semoga jadi amal sholeh kita bersama, Aamiin


Posting Komentar
Yuk, tinggalkan komentar mu