Ada ungkapan atau apa saya kurang tahu
persis, yang mengatakan bahwa IBU ADALAH MADRASAH (SEKOLAH PERTAMA) BAGI ANAK.
Ungkapan ini sangat tepat sekali jika kita lihat peran dan jati diri seorang
ibu bagi anak-anaknya, bahwa sekolah pertama bagi seorang anak ada pada ibunya.
Pertanyaannya, yakni kira-kira masih relevan tidak untuk saat ini, bahwa IBU ADALAH MADRASAH BAGI ANAK ? Atau ibu hanya sebatas tempat melahirkan dan membesarkan anak semata ? Sedangkan fungsi madrasah lambat namun pasti hilang dari sosok seorang ibu hari ini.
Maka jangan heran jika saat ini kita banyak jumpai, sosok ibu yang begitu kuat dan hebat, tapi sangat lemah dimata anak-anaknya. Banyak kita temukan Sosok ibu yang mampu membuat karya hebat bagi orang lain, lembaga/institusi dimana dirinya bekerja, tapi tak mampu menjadi pengajar yang hebat bagi anak-anaknya. Memiliki disiplin ilmu luar biasa, S1, S2, S3 bahkan menjadi seorang profesor, tapi tak punya cukup bekal dan ilmu mendidik anak-anaknya sendiri.
Itulah sosok ibu saat ini yang telah kehilangan jati dirinya, sosok ibu yang tidak lagi mampu menyelenggarakan madrasah untuk anak-anak mereka sendiri. Akhirnya, generasi masa depan yang terlahir pun tidak berkualitas, sebab seorang ibu sebagai madrasah bagi anak tak berjalan sebagaimana yang seharusnya.
Persoalannya kenapa hari ini madsarah bagi anak begitu rapuhnya ? Sehingga tak muncul kader2 terbaik dan berkualitas dari madsarah yang hebat ?
Jika kita ingin mencari jawabannya, maka jawaban itu akan sangat banyak sekali dan butuh dibahas lembih detail tentunya. Tapi ada salah satu faktor yang menjadikan “madrasah” bagi anak kita rapuh dan tak berkualitas, yakni adanya “Kepala madrasah yang lemah”
Ya, “Kepala Madrasah” yang lemah, dalam hal ini seorang ayah/bapak sejatinya menjadi faktor utama rapuh dan tak berkualitasnya “madrasah” seorang anak di rumah. Maka, keberadaan sosok suami/bapak menjadi sangat penting bagi perjalanan “madrasah” anak di rumah. Kesibukkan yang ada seharusnya tidak menghalanginya untuk mampu memerankan “Kepala Madrasah” yang hebat bagi anak-anaknya. Sebab menjadi “Kepala Madrasah” bagi anak dirumah adalah peran yang harus dijalani oleh seorang suami/ayah.
Tapi sayangnya, banyak para suami/bapak menyerahkan sepenuhnya proses pendidikan anaknya pada seorang ibu semata, karena beranggapan bahwa mereka sudah tidak ada waktu mendidik anak-anaknya. Padahal kenyataannya, tidak setiap istri/ibu mampu menjalankan “madrasah” bagi anaknya di rumah dengan baik.
Akhirnya karakter dasar anak lebih pada seorang ibu sebab seorang ayah tak punya/berperan pada proses pendidikan anak-anaknya. Padahal menanamkan karakter dasar anak adalah tugas utama seorang ayah. Untuk itu se sibuk diri kita dengan berbagai rutinitas kita jangan sampai abai terhadap proses membangun karakter dasar anak-anak kita.
Maka memiliki ilmu dan bekal2 proses
pendidikan karakter dasar anak seharusnya juga dimiliki oleh seorang ayah yang
hebat. Tidak cukup punya ilmu dan bekal pula, tapi juga tahu bagaimana cara
menanamkannya pada anak-anaknya.
Wallahu 'alam bishowab
______________________
- · MENDIDIK
ANAK BERKARAKTER SEJAK USIA DINI (Diambilkan dari Catatan harian Pola
Pendidikan di PONPES TAHFIZHUL QUR'AN "KH khoirotun Hisan"
- · PENDAFTARAN
SETIAP SAAT SELAMA KUOTA MASIH ADA : 0823 2474 5151 (WA)
YUK
BANTU SHARE, Semoga jadi amal sholeh kita bersama, Aamiin



Posting Komentar
Yuk, tinggalkan komentar mu