Yang saya maksudkan “orang ke 3” dalam tema catatan saya kali ini, yakni ORANG TUA KITA SENDIRI, KHUSUSNYA IBU KITA SENDIRI. Jujur harus kita akui, Ibu yang telah mengasuh dan merawat kita selama ini seringkali menjadi “orang ke 3” yang memberi andil atas “rusaknya” proses pendidikan anak-anak kita selama ini, walaupun ada pula seorang ibu yang justru lebih pandai mendidik anak-anak kita dari pada kita sendiri.
Kalaupun orang tua kita ikut andil “merusak” proses pendidikan yang kita jalankan pada anak-anak kita. Mungkin latar belakang orang tua dan kita yang beda, mungkin orientasi mendidik anak, antara kita dan orang tua beda atau lainnya. Tapi yang jelas, ikut andilnya orang tua kita sengaja/tidak punya motivasi/niat yang baik pada kita selaku anaknya.
Ibu ..., ibu dan ibu. Terus terang catatan ini tidak gampang dan berat untuk ditulis, semua itu karena menyangkut ibu kita. Ibu yang selama ini telah berjasa besar atas apa yang kita raih saat ini. Jika hari ini kita yang telah menjadi orang tua dan masih memiliki orang tua yang hasih hidup, maka muliakanlah mereka.
Kehadirat “orang ke 3” dalam hal ini Ibu, dalam proses pendidikan anak-anak kita selama ini bisa terjadi karena 2 kondisi, yakni :
1. SENGAJA KITA HADIR DITENGAH-TENGAH MEREKA (ORANG TUA KITA)
Menjadi orang tua mungkin bukanlah keinginan kita, tapi menjadi orang tua adalah proses kehidupan yang harus dilalui. Suka tidak suka, senang atau tidak, terpaksa atau tidak proses menjadi sosok orang tua adalah fitroh kehidupan manusia. Maka saat manusia menjadi menua, lambat laut fisik melemah dan pikiran ikut melemah pula.
Kemudian seiring dengan itu pula, anak-anak yang dulu bersama-sama kita mulai mencari kehidupannya sendiri dan kemudian satu persatu meninggalkan kita seorang diri. Entah, alasan ikut suami/istri, alasan pekerjaan, entah alasan kuatir kalau hidup bersama orang tua justru akan merusak kelangsungan rumah tangga kita dll. Akhirnya ibu/bapak kita hidup sendirian, tak ada satu pun anak-anaknya mampu hidup bersamanya. Ketika mereka makan/minum sendiri, bahkan ketika sakit pun mereka pun harus mampu mengurus dirinya sendiri, karena dari sekian banyak anaknya yang katanya sukses itu tak sanggup hidup bersamanya.
Ya, itula dunia dimana kita hidup saat ini, bahwa semuanya adalah hanya sekedar sandiwara semata, yang harus kita terima dengan lapang dada atas takdir Allah Ta'lla.
______________
Maka, tidak salah jika ada ungkapan yang mengatakan bahwa : “SEORANG IBU SANGGUP MENGASUH DAN MERAWAT 10 ANAK, TAPI 10 ANAK TAK SANGGUP MENGASUH/MERAWAT 1 IBU”. Dari sekian anaknya yang hebat-hebat itu, yang mereka punya gelar, jabatan dan terpandang di masyarakat, seringkali tak sanggup berkorban demi orang tuanya. Dan anak itu mungkin salah satunya adalah kita saat ini.
___________________
Sedih rasanya, saat nulis catatan ini teringat kembali bagaimana perjuangan ibu kita yang belum sempat kita balas dan kita bahagiakan.
Untuk itu, jika saya bertanya pada kiri saya sendiri dan pada kita para orang tua sekalian, beranikah kita SENGAJA HADIR ditengah-tengah orang tua kita ? Saya amat yakin tidak setiap kita mampu menjawabnya, apalagi orang tua di kampung sedang dalam kondisi lemah, rapuh, tak berdaya dan sakit-sakitan dll. Ya, ketidak sanggupan kita pun seringkali atas dasar urusan dunia semata.
Maka SENGAJA HADIR DITENGAH-TENGAH ORANG TUA bukan hal mudah dijalani anak-anak seperti kita saat ini, anak yang barangkali tidak paham dan mengerti akan perjuangan orang tua selama ini. Sebab konsekwensi dari kehadiran kita ditengah-tengah mereka sangat banyak dan tak gampang kita jalani. Belum lagi jika orang tua kita termasuk orang tua yang punya tipe sering ikut campur rumah tangga anaknya, tentu menambah berat perjuangan kita saat hadir ditengah-tengah orang tua kita.
Konsekwensi itu seringkali membuat kita tak mampu bekerja secara maksimal karena ngurus orang tua ini dan itu, hubungan kita dengan suami/istri sering bersitegang, hubungan anak-anak kita jadi kurang nyaman dll, terlebih lagi proses pendidikan anak-anak kita. Sebuah pilihan yang tak mudah dan berat tentunya bagi seorang anak, walau hanya sekedar Sengaja Hidup ditengah-tengah mereka.
Ingat, bahwa anak yang mampu dan siap hadir ditengah orang tua, walaupun mereka serba kurang hidupnya, baik harta, tingkat pendidikannya atau lainnya. Sesungguhnya mereka adalah anak yang terbaik dan sekaligus terpilih untuk mendapatkan pahala BIRUL WALiDAIN (Berbakiti pada orang tua). Berbakti yang SESUNGGUHNYA baik tenaga, waktu, pikiran bahkan terkadang harta pun habis karena baktinya pada orang tua. Mereka anak-anak yang hebat yang pantas kita muliakan. Bukan anak-anak yang baru datang ketika orang tua butuh atau anak yang datangnya 1 tahun sekali pada saat lebaran tiba.
Untuk itu, jika hari ini kita berada di posisi dimana kita mampu dan siap HADIR DITENGAH-TENGAH ORANG TUA KITA, maka syukuri nikmat itu dan ikhlaskan lah setiap apa yang dilakukan orang tua kita sebagai bagian kita Birrul Walidain. MENGGAPAI HIDUP BERKAH BERSAMA ORANG TUA harus menjadi motivasi kita, sebab tidak ada lainnya yang pantas kita perjuangan, kecuali Ridho Orang tua adalah Ridho Nya Allah Ta'ala pula.
Biar kita hidup serba sulit dan pas-pasan, biarlah keluarga dan anak sedikit kurang perhatian, asal orang tua terawat, sehat dan bahagia, serta ridho dengan kita. Sebab sejatinya saat kita SENGAJA HADIR DITENGAH-TENGAH MEREKA sejatinya KUNCI SURGA telah ada dalam gengaman kita. Beda dengan anak-anak lainnya yang tak perpilih, mereka harus mencari KUNCI SURGA LAINNYA, itu pun jika mereka mampu mendapatkannya dengan mudah.
Ada kisah, saat itu saya pernah jumpa seorang nenek yang usia nya sudah sangat lanjut. Nenek ini tergolong orang yang sangat kaya, rumahnya besar dan luas, sertifikat tanahnya pun bertumpuk sampai tidak tahu di mana letak tanah-tanahnya. Anaknya sukses, tapi tak satu pun sanggup hidup bersama dengan ibunya, entah apa alasannya. Dia bercerita ke saya : “Apa sih manfaatnya yang ada semua ini kalau kita sudah tua, bahkan saya ini mas, kalau tidur harus bayari orang untuk menemani saya tidur di sini” Naudzubillahi min dzalik
Pertanyaan, kemana anak-anaknya ? Kemana anak yang berbakti itu ? Kemana anak yang siap dan tega memandikan, ceboki dan merawat orang tua itu ? Kemana anak yang sanggup mengorbankan pekerjaan demi merawat orang tua yang sedang sakit itu ? Kemana anak sholeh/ah yang berbakti pada orang tua itu ? Kemana anak yang katanya paling cinta pada orang tua itu ? Ternyata anak-anak itu bukanlah kita.
Ternyata, kita bukanlah yang terbaik dan terpilih dari sekian anak-anak orang tua kita saat ini, sebab berbaktinya kita hanya mampu melalui WA, berbakti kita hanya mampu transfer uang semata, berbakti kita hanya mampu ketemu saat pulang lebaran. Kemudian setelah itu kita tinggalkan dan kita lupakan.
Mari, kita sama-sama intropeksi pada diri kita masing-masing. Jika kita memang kenyataannya bukanlah anak-anak yang terpilih secara langsung merawat orang tua kita, tapi justru dia adalah saudara kita lainnya. Padahal saudara kita ini hidupnya nya pas-pasan, ilmu nya terbatas dan banyak kekurangan tidak sebagaimana kita, maka sudah sepantasnya kita harus mendukung dan muliakan diri dan keluarganya. Memuliakan mereka sebagai cara kita memuliakan dan bakti pada orang tua kita. Jangan biarkan dirinya menanggani beban sendirian, sebab berbakti pada orang tua disaat tua atau sakit-sakitan itu tidaklah mudah.
Bagi kita yang membaca catatan ini, coba lah ingat 1 kebaikan ibu kita saja. Sebab jika saya minta menyebutkan banyak, saya yakin kita semua tak sanggup menyebutnya, karena terlalu banyak.
Ya, kehadiran “orang ke 3” seringkali “merusak” proses pendidikan anak-anak kita selama ini. Untuk itu jika kita telah punya niat dan azzam yang kuat SENGAJA HADIR DITENGAH-TENGAH MEREKA (ORANG TUA), maka kita sebagai orang tua harus sadar dan paham akan perjalanan proses pendidikan anak-anak kita.
Jika anak-anak kita tampil lebih baik, maka tidak ada kata yang paling tepat kita ucapkan, kecuali syukur Alhamdulillah. Tapi, jika pada kenyataannya proses pendidikan anak-anak kita jadi “rusak” tidak sebagaimana yang kita harapkan, maka bersabarlah dan jangan lupa terus berdoa pada Allah Ta'ala untuk ikut “campur tangan” langsung mendidik anak-anak kita menjadi pribadi yang sholeh/ah. Sampaikan pada Allah Ta'ala agar disaat kita berada ditengah-tengah orang tua kita, kita juga diberi kemampuan mendidik anak-anak kita menjadi anak sholeh/ah
Mudah bagi Allah Ta'alla mendidik anak-anak kita menjadi anak-anak sholeh/ah, sepanjang kita pun juga mampu untuk ikhlas dan sabar saat kita SENGAJA HADIR DITENGAH-TENGAH MEREKA.
2. SENGAJA MEREKA (ORANG TUA) HADIR/KITA HADIRKAN DITENGAH-TENGAH KITA
SENGAJA KITA HADIR di tengah-tengah mereka (orang tua) kita, TIDAK SAMA dengan SENGAJA MEREKA (ORANG TUA) HADIR/KITA HADIRKAN DITENGAH-TENGAH KITA. Jika yang ke 1 adalah atas kesadaran dan kepentingan orang tua kita, sedangkan kalau yang ke 2 lebih pada kepentingan kita semata. Kenyataan seperti ini, sering kita saksikan ditengah-tengah masyarakat kita hari ini, bahwa orang tua kita sengaja hadir/kita hadirkan adalah hal biasa-biasa saja. Sedangkan kondisi seperti ini terjadi karena 2 kemungkinan yakni :
A. MEREKA (ORANG TUA) KITA YANG SENGAJA HADIR ditengah-tengah kita padahal kita telah memiliki rumah tangga sendiri. Hal ini terjadi bukan tanpa alasan sama sekali. Salah satu alasannya yakni bahwa ORANG TUA KITA MASIH BELUM YAKIN/PERCAYA, bahwa kita mampu membangun kehidupan rumah tangga secara mandiri tanpa melibatkan mereka. Terlebih lagi selama ini kita termasuk anak yang terlalu dimanja dan tak pernah diberikan kepercayaan oleh orang tua, atau pola pendidikan yang salah penerapannya.
Akhirnya pada saat kita berumah tangga, orang tua tak tega dengan jalan hidup yang sedang kita lalui dan mengharuskan mereka pun rela hadir ditengah-tengah kita hanya ingin berbagi peran yang sebenarnya sudah bukan saatnya berbagi peran dengan kita lagi, yang telah hidup berkeluarga dan punya anak.
“Telat berbagi peran dengan anak”, itulah realita nya. Seharusnya saat kecil berbagi peran itu telah dijalani secara rutin menjadi bagian dari proses belajar tentang kehidupan, bukannya pada saat kita telah dewasa bahkan berkeluarga. (Baca CATATAN 52 : BERANI MEMBERI KEPERCAYAAN PADA ANAK)
Untuk itu, jika kita dihadapkan dengan kondisi seperti ini, pasti seorang anak akan binggung harus bersikap bagaimana dengan orang tuanya yang sengaja hadir ditengah-tengah keluarga kita. Mau ditolak jelas tidak mungkin, sebab itu adalah keinginan orang tua kita, sedangkan kalau diterima, tentu juga punya konsekwensi tersendiri atas keluarga yang kita bangun selama ini. Dan tidak perlu kita mencari siapa yang salah, sebab mencari siapa yang salah bukan tindakan yang bijak kita lakukan. Tapi yang jelas ada yang salah dari proses pendidikan karakter sejak usia dini yang diterapkan selama ini pada kita.
Disinilah pentingnya orang tua yang paham bagaimana membangun pendidikan karakter dasar anak sejak dini. Sebab jika karakter itu tidak mampu atau kurang sempurna kita tanamkan pada anak-anak kita saat mereka masih kecil, maka implikasinya bisa berkepanjangan, sampai tua dan punya anak-anak pun seringkali masih menjadi masalah yang tak kunjung ada akhirnya.
Tidak salah jika, kegagalan kita membangun karakter dasar anak, akan berakibat pada saat dewasa atau tua nantinya. Maka, jangan heran jika kita seringkali menjumpai orang yang telah dewasa, telah menjadi orang tua, bahkan sudah menua, tapi karakter dasarnya masih seperti anak-anak yang masih membutuhkan pendidikan dan pembinaan.
Terkait dengan kehadiran orang tua ditengah2 kita tentu harus kita sikapi dengan bijak, apalagi itu adalah orang tua kita. Khususnya lagi terkait dengan proses pendidikan anak-anak kita. “RUSAKNYA” PROSES PENDIDIKAN ANAK, SERIKALI DIKARENAKAN KEHADIRAN “ORANG KE 3”. Untuk itu, jika kita berada pada kondisi seperti ini yakni orang tua sengaja hadir ditengah-tengah kita, maka kita sebagai anak yang sekaligus orang tua bagi anak-anak kita harus pandai-pandai memilih dan memilah mana yang baik dan mana yang tak baik untuk anak-anak kita.
Kondisi seperti ini biasanya akan berlangsung sangat lama, sampai orang tua merasa cukup dan yakin bahwa kita mampu menjalani hidup kita secara mandiri. Selain itu, tidak setiap anaknya akan diperlakukan sama, orang tua terkadang punya cara menilai sendiri bagaimana anak-anaknya.
B. MEREKA (ORANG TUA) SENGAJA KITA HADIRKAN ditengah-tengah kita padahal kita telah memiliki rumah tangga sendiri. Bukan karena kita tidak mampu atau bukan karena tidak siap hidup secara mandiri, tapi lebih karena kita belum paham bagaimana cara “MEMULIAKAN ORANG TUA KITA SENDIRI”, mungkin salah satu anak itu adalah diri kita saat ini. Naudzubillahi min dzalik
______________
Ada sedikit cerita, pernah suatu saat saya bertamu ke rumah seseorang. Rumahnya cukup besar dan terkesan mewah, yang menandakan bahwa penghuninya adalah bukan orang sembarangan. Sebelum masuk, saya ucapkan : ”Assalamualaikum, beberapa kali dari pintu gerbang luar. Kemudian ada seorang ibu yang sedang mengendong bayi yang masih kecil dan balita yang telah mampu jalan. Sambil membalas salam : “Waalaikumsalam, kemudian ibu tadi membuka kan pintu gerbang.
Selanjutnya Ibu tadi bertanya : ”Maaf, cari siapa nak dan ada perlu apa ? Aku pun menjawab : “Mau ketemu pak “Fulan” bu, mau ngantarkan barang pesanannya, tadi saya sudah hubungi beliau nya katanya minta dititipkan saja yang di rumah. Ibu tadi bilang :”Oya, terima, kasih nak”.
Kemudian saat hendak pamit pulang, saya menyempatkan bertanya pada ibu tadi (untuk memastikan siapa yang menerima barang kiriman saya secara langsung). “Maaf bu, kalau boleh tahu, ibu ini siapa ya ? Ibu itu menjawab : “Saya orang tua (Ibunya) pak “Fulan” nak, ini saya tinggal disini nak, sambil ngasuh anak-anak, sebab istrinya pun juga kerja. Paling pulangnya sore atau nanti malam. Setelah jelas siapa yang menerima barang saya, saya pun permisi pulang sambil mengucapkan salam pada ibu tadi.
Disepanjang perjalanan pulang, saya terus saja kepikiran sosok ibu tadi. Kok anak-anaknya yang nota bene masih kecil-kecil dititipkan orang tua nya ya ? Padahal rumah tergolong mewah, hidup pun berkecukupnan dan masih banyak lainnya. Kok Orang tuanya kayak “pembatu rumah tangga ” saja ya ? Kok, gitu ya ? Kenapa ya ?
_________________________
Fenomena seperti yang saya ceritakan diatas banyak sekali kita jumpai ditengah masyarakat kita saat ini, mungkin kita salah satu nya. Saya tidak bisa membayangkan begitu beratnya “Si ibu” yang harus ngasuh anak dari anak-anaknya (cucu-cucunya), padahal tidak ada alasan yang syar'i sehingga dirinya menyerahkan asuhannya pada nenek/kakeknya. Belum lagi orang tua yang sakit-sakitan, tubuh sudah semakin lemah dll. Pertanyaan, kok ada ya anak seperti itu ? Menghadirkan orang tua ditengah-tengah kita, tapi memperlakukan bak ubahnya seperti “Pembantu Rumah tangga” Naudzubillahi min dzalik
Maka, wajar saja jika pada kenyataannya ada anak yang seperti ini biasanya kehidupannya jauh dari keberkahan. Hidupnya hanya dikerja dengan urusan dunia semata. Dari anggsuran satu ke anggsuran lainnya. Dari cicilan satu ke cililan lainnya, dari tagihan satu ke tagihan lainnya. Sibuk, tapi hasilnya tak bisa membuat kita dan keluarga kita bisa menikmati dan bahagia. Sibuk, tapi hasilnya tak mampu menjadikan kita punya kualitas yang hebat di hadapan Allah Ta'alla.
Semua itu tak lain disebabkan memperlakukan orang tua tidak sebagaimana yang dituntunkan oleh syari'at. Untuk itu, jika kita sampai saat ini masih pada posisi seperti ini, maka tidak ada jalan lain kecuali kita harus bertaubat pada Allah Ta'alla dan mohon maaf pada orang tua kita. Kemudian meluruskan niat kembali, serta memperlakukan orang tua kita dengan baik dan muliakan nya sesuai dengan kemampuan kita. Tidak perlu kuatir dengan dunia kita, sepanjang kita memuliakan orang tua kita, maka Insya Allah hidup kita akan berkah.
Mumpung mereka saat ini masih bersama-sama kita, maka tidak ada langkah yang paling tepat kecuali “MEMULIAKAN MEREKA” dengan baik.
Belum lagi jika ditinjau dari sisi pendidikan anak-anak kita selama orang tua kita hadirkan ditengah-tengah kita. Ada beberapa hal yang perlu kita pahami bersama yakni :
- Pola pendidikan anak-anak kita sudah pasti akan didominasi oleh orang tua kita (kakek/neneknya), sehingga karakter dasarnya tentu akan lebih kuat melekat pada kakek/neneknya dari pada kita selaku orang tuanya.
- Tak jarang anak begitu jauh dari orang tuanya dan begitu dekat dengan kakek/neneknya, sebab bagi anak yang dicari adalah siapa yang mampu memenuhi hak-haknya dengan baik. Terkadang saking dekatnya anak dengan nenek/ kakeknya orang tua tak mampu menganti peran yang seharusnya dilakukannya sebagai orang tua anak. Anak lebih nurut dan patuh pada kakek/neneknya dari pada orang tua sendiri dsb
- Tidak menciptakan pola pendidikan yang berbeda dan lebih kualitas antara kita sebagai orang tua dan anak-anak kita, sebab hakekatnya kita dan anak-anak kita masih berada dalam satu produk yang sama atau satu asuhan, yakni orang tua kita. Padahal seringkali kita juga sadar bahwa apa yang selama ini ditanamkan orang tua pada kita, tidak selamanya baik dan cocok untuk kita jalani, mungkin cocok bagi anaknya yang lain tapi tidak dengan kita
Untuk itu, pola pendidikan kita dahulu yang ditanamkan orang tua kita seharusnya berbeda dengan pola pendidikan anak-anak kita yang kita tanamkan. Kalau anak berada dibawa asuhan kita, maka kita bisa memilah mana yang terbaik untuk anak-anak kita. Kalau tidak terjadi pola yang berbeda dan lebih berkualitas, lalu apa yang membedakan pendidikan kita dengan anak-anak kita ? Mungkin yang membedakan hanya objek dan waktunya saja, kalau dulu orang tua mendidik kita, maka saat ini orang tua mendidik anak-anak kita.
Ya, pada intinya sama saja, yang membedakan hanya assesories nya saja. Dulu kita ngak punya laptop dan HP kini anak-anak kita punya. Dulu serba jadul, kini anak-anak kita serba modern. Tapi pendidikan karakter dasar anak-anak kita cenderung tidak berubah karena dibawa 1 pola asuhan yakni orang tua yang sengaja kita hadirkan. Kinilah konsekwensi pola pendidikan anak-anak kita ke depan, jika kita mengambil langkah MENGHADIRKAN ORANG TUA ditengah-tengah kita.
Menghadirkan orang tua ditengah-tengah kita itu sah-sah saja, apalagi orang tua dikampung/desa tidak ada yang dekat dan mampu merawat dengan baik, kecuali kita. Tapi ingat dengan syarat perlakukan mereka dengan baik dan muliakan mereka semampu kita.
Wallahu 'alam bishowab ______________________
MENDIDIK ANAK BERKARAKTER SEJAK USIA DINI Diambilkan dari Catatan harian Pola Pengasuhan di PONPES TAHFIZHUL QUR'AN "KH khoirotun Hisan"
DAPATKAN BUKU :
SERIAL 01 MENDIDIK ANAK BERKARAKTER SEJAK USIA DINI (Berbasis Pesantren) 0823 2474 5151




SIP
BalasHapusPosting Komentar
Yuk, tinggalkan komentar mu