Kehadiran pondok pesantren ditengah
masyarakat kita saat ini bukan hal yang baru bagi kita, tapi kehadiran ponpes
telah lama wujud bahkan sebelum negara NKRI ini ada. Maka, kiprah ponpes bagi
perbaikan ummat dari dulu hingga saat ini begitu nyata sebagai wadah pembinaan karakter
anak. Menarik memang, jika mengupas tentang pesantren terlebih lagi sistem
pendidikan yang diterapkan pada anak asuhnya selama ini.
Kalau kita memahami sistem pendidikan pesantren ada beberapa point penting harus kita pahami, yakni bahwa ponpes itu memiliki :
- POLA PENGASUHAN (Biasanya ponpes kultur tempo dulu kendali dan kebijakan utama ada pada kyai)
- POLA PENDIDIKAN yakni mendidik anak agar pintar/punya bakat yang hebat (semua bisa berkontribusi dalam proses ini jika punya kemampuan dan kepakaran pada displin ilmu yang dibutuhkan)
- SUMBER PENDANAAN PONPES
- FASILITAS DAN SARANA PRASARANA PONPES
- MANAJEMEN PENGELOLAAN PONDOK
Dari ke 5 point diatas (walaupun semua penting) yang terpenting yakni ada pada POLA PENGASUHAN. Jika kita keliling dari satu ponpes ke ponpes lainnya, baik yang tradisional, modern atau menggambungkan tradisional dan modern kita akan temukan bahwa pola pengasuhan menjadi inti dari proses pendidikan di ponpes. Maka, baik atau buruknya, berkualitas atau tidaknya proses pendidikan anak ada pada pola pengasuhannya.
Pertanyaannya yakni, kenapa pola pengasuhan anak di pesantren sangat menentukan kualitas dari proses pendidikan di pesantren ?
1. Pola
pengasuhan ini sangat menentukan karakter anak selama di pesantren
2. Dari
pola pengasuhan ini kita akan mengetahui sejauhmana karakter dasar anak kita
dan sejauhmana pula kita telah memberikannya pendidikan yang baik bagi
anak-anak kita.
Pengasuh yang fokus mengasuh anak dengan baik, akan mengetahui karakter anak-anak kita dan kualitas kita membina anak selama ini. Kemudian dari pengetahuan ini, dijadikan rujukan untuk proses menguatkan, menambah, bahkan memperbaiki karakter anak (tentu dengan dukungan orang tua)
3. Dari
pola pengasuhan ini pada akhirnya akan dijadikan landasan menguatkan pembinaan karakter anak
yang selama ini ditanamkan di rumah/ dekat orang tua dan menambah
apa-apa yang kurang dari karakter anak kita.
Sebagaimana catatan-catatan saya sebelumnya,
jika anak kita pada akhirnya kita planning mondok di pesantren, maka karakter
dasar anak harus mampu dibangun orang tua selama anak dekat/bersama orang tua.
Sehingga pihak pesantren tinggal menguatkan dan menambah apa-apa yang kurang
dari karakter anak kita, kemudian menguatkan basis keilmuan anak-anak kita.
Lalu bagaimana pola pengasuhan yang baik itu ? Kalau boleh berpendapat bahwa pola pengasuhan itu harus meliputi beberapa hal :
1. Pola
pengasuhan yang baik harus bervisi ke depan, maknanya bahwa pola pengasuhan itu
tidak luntur dengan kemajuan jaman dan bergantinya generasi. Jaman boleh terus
berubah, generasi boleh terus berganti tapi pola pengasuhan harus tetap kokoh
dengan prinsip2 nya, maka harus dikawal pengasuh yang punya prinsip yang kuat
pula dalam mengasuh anak2 (Pengasuh yang punya prinsip ini lah yang sangat kita
butuhkan)
Maka, jika belajar dari ponpes gontor saat ini, pola pengasuhan cenderung jadul dan tak mengalami perubahan, tidur ngak pakai dipan, harus rame-rame antri, berlari, ke kamar mandi + wc harus rela bergantian dll. Saat belum mengenal gontor, saya banyak bertanya2 kenapa harus begitu, jaman sudah berubah dan teknologi semakin berkembang, tapi kenapa pola pengasuhan yang “kurang populer” cenderung dipertahankan ?
Akhirnya terjawab juga, bahwa pola pengasuhan itu sangat menentukan real model karakter anak yang diasuh. Sebab pola pengasuhan yang cenderung “kuno” pada kenyataan justru yang mampu menyiapkan anak-anak dengan yang tegar, siap berkorban, tidak manja dan lain sebagainya
2. Pola pengasuhan ini se nyata mungkin selaras dengan kehidupan anak-anak nanti saat mereka benar-benar siap hidup ditengah masyarakat. Semakin nyata, tentu akan semakin baik bagi pola pengasuhan anak di pondok, sehingga anak tidak dimanjakan dengan berbagai kemudahan dan teknologi yang ada saat ini.
3. Pola
pengasuhan itu harus menjadikan anak-anak sebagai subjek langsung pelaksanaan
program-program pondok, bukan sebagai subjek semata dan apa-apa dilayani
Ke 3 hal inilah yang bisa menentukan pola
pengasuhan anak yang baik, sayangnya ke 3 hal ini seringkali diabaikan bahkan
dikalahkan dengan pola mendidik anak pintar dan berbakat, sehingga pola
pengasuhan tidak mendapatkan prioritas utama di pondok pesantren. Sebab
keberhasilan pola pengasuhan ini seringkali tidak tampak nyata, sehingga tidak
bisa di branding untuk mendongkrak pamor pondok pesantren. Hal ini beda dengan
keberhasilan pada pola pendidikan anak yang nampak jelas untuk nikmati.
Selain itu keberhasilan pola pengasuhan mengharuskan anak punya menjalankan materi asuhan yang diberikan pengasuh selama ini disegala waktu, tempat dan kondisi apapun. Jadi anak harus dipastikan mampu menerapkan karakter dan kebiasaan Amal yaumi dengan baik, baik di pondok pesantren, khususnya saat mereka berada di rumah atau ketika mereka sudah hidup ditengah-tengah masyarakat nanti
Wallahu 'alam bishowab
________
MENDIDIK ANAK BERKARAKTER SEJAK USIA DINI
(Diambilkan dari Catatan harian Pola Pendidikan di PONPES TAHFIZHUL QUR'AN
"KH khoirotun Hisan"
PENDAFTARAN SETIAP SAAT SELAMA KUOTA MASIH ADA
DAPATKAN BUKU : SERIAL 01 MENDIDIK ANAK BERKARAKTER SEJAK USIA DINI (BERBASIS PESANTREN)/ 0823 2474 5151


Posting Komentar
Yuk, tinggalkan komentar mu