Anak adalah anugerah sekaligus amanah yang diberikan Alloh Ta'ala kepada setiap orang tua. Berbagai cara dan upaya dilakukan orang tua agar dapat melihat anak-anaknya tumbuh dan berkembang sebagaimana mestinya.
Namun seringkali harapan tidak sesuai dengan kenyataan, entah karena terhambatnya komunikasi atau minimnya pengetahuan kita selaku orang tua tentang bagaimana Al Islam memberikan tuntunan dan pedoman tentang memperlakukan anak sesuai dengan proporsinya.
Berkaitan dengan eksistensi anak, Al Quran menyebutnya dengan beberapa istilah antara lain :
1. Perhiasan atau kesenangan
Sebagaimana firman Allah Ta'ala : “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” ( QS.18 Al Kahfi : 46 )
2. Musuh
Sebagaimana Firman Allah Ta'ala : “Hai orang-orang mukmin, Sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu. Maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) Maka Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” ( QS.64 Ath-Taghobun : 14 )
3. Fitnah
Sebagaimana Firman Allah Ta'ala : “Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan disisi Allah-lah pahala yang besar.” ( QS.64 Ath-Taghobun : 15 )
4. Amanah
Sebagaimana Firman Allah Ta'ala : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui. Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan Sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar. ( QS.8 Al Anfal : 27-28 )
5. Penentram dan penyejuk hati
Sebagaimana Firman Allah Ta'ala : “Dan orang orang yang berkata: “Ya Tuhan Kami, anugrahkanlah kepada Kami isteri-isteri Kami dan keturunan Kami sebagai penyenang hati (Kami), dan Jadikanlah Kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” ( QS.25 Al Furqon : 74 )
Penjelasan tentang pandangan kehadiran anak menurut Islam sebagaimana diatas meliputi : bahwa anak bisa sebagai perhiasan, anak juga bisa menjadi musuh orang tuanya, anak bisa jadi fitnah. Anak juga bisa sebagai amanah dan menjadi penyejuk hati orang tua.
Ketika seorang anak lahir di dunia, maka saat itulah anak menjadi tanggungjawab orang tuanya untuk dibesarkan serta diberikan makan, tempat tinggal yang layak, pakaian yang pantas. Juga pendidikan dan pembinaan akhlak sejak dini, agar bisa tumbuh menjadi anak yang sholeh/ah.
Maka setiap orang tua akan dimintai pertanggungjawaban terhadap pendidikan dan pembinaan anaknya agar mengenalkannya kepada Allah Ta'ala dan mengajarkan syariah Islam sebelum anak itu baligh (dewasa). Sedangkan anak perempuan sampai menikahkannya dengan laki-laki yang baik dan sholeh.
Jika anak telah tumbuh dewasa dan bisa menentukan pilihan, mana yang baik dan mana yang buruk, saat itulah tanggungjawab ada pada diri si anak. Orang tua tidak ada kewajiban lebih atas segala pilihan yang dilakukan anaknya, kecuali orang tua hanya punya kewajiban untuk menasehati dan mengingatkannya jika salah.
_____________________
Menasehati dan mengingatkan harus terus dilakukan orang tua pada anaknya hingga anak tumbuh semakin dewasa, sebab itu adalah bentuk dari tanggungjawabnya selaku orang tua dihadapan Allah Ta'ala kelak di hari akhir nanti. Entah diterima atau tidak, didengar atau tidak, semua kembali pada diri sang anak.
________________
Apa yang disampaikan diatas, sebagai gambaran bagi setiap orang tua yang diamanahi Allah Ta'ala anak yang normal dan sempurna akalnya, sehingga ketika anak telah baligh (dewasa menurut kaca mata syariah), maka saat itulah anak punya tanggungjawab yang sama atas diri mereka sendiri.
Anak adalah bagian dari amanah yang harus ditunaikan orang tua, tidak sebatas memberi makan, pakai atau tempat tinggal semata, tapi juga punya kewajiban mendidik dan membinanya sehingga menjadi anak yang punya pribadi baik dan sholeh/ah.
___________________________________
Sholeh/ah disini bukan bermakna bahwa anak punya hartanya melimpah di mana-mana, gelar akademiknya banyak atau menjadi seorang pejabat di tengah masyarakat. Harta, gelar dan jabatan hanya bonus semata ketika di dunia.
Tapi makna sholeh/ah disini adalah anak mampu menjadi pribadi yang senantiasa taat dan patuh pada perintah Allah Ta'ala dan mampu menjauhi segala laranganNya. Berbakti pada orang tua, peduli dan berbagi, menegakkan sholat dengan baik dan lain sebagainya.
Anak yang patuh pada Allah Ta'ala sudah pasti akan patuh pada kedua orang tuanya, sebab ketaatan pada Allah Ta'ala tidak akan pernah bertentangan dengan ketaatannya pada kedua orang tuanya.
_____________________________
Disisi lain banyak di masyarakat kita temukan orang tua yang mampu memberikan segalanya untuk anaknya, baik itu makan, pakaian, tempat tinggal dan lain sebagainya, tapi gagal membina dan membimbing anaknya menjadi anak yang baik dan sholeh/ah. Maka hakekatnya orang tua seperti ini telah gagal menjadi orang tua, walaupun mereka berhasil dalam memberikan segala materi yang ada untuk anaknya.
Sholeh/ah disini bukan bermakna bahwa anak punya hartanya melimpah di mana-mana, gelar akademiknya banyak atau menjadi seorang pejabat di tengah masyarakat. Harta, gelar dan jabatan hanya bonus semata ketika di dunia.
____________________
Tapi makna sholeh/ah disini adalah anak mampu menjadi pribadi yang senantiasa taat dan patuh pada perintah Allah Ta'ala dan mampu menjauhi segala laranganNya. Berbakti pada orang tua, peduli dan berbagi, menegakkan sholat dengan baik dan lain sebagainya.


Posting Komentar
Yuk, tinggalkan komentar mu