INTI PENDIDIKAN ANAK YAKNI MENANAMKAN TAUHID
YANG BENAR PADA ANAK, inilah tema catatan saya selanjutnya. Tema yang
barangkali kita heran, kenapa inti pendidikan anak ada pada Tauhidnya ?
Berdasarkan pengalaman selama ini menjadi bagian dari proses pendidikan anak
dan pengalaman mereka yang selama ini peduli pada proses pendidikan anak, serta
intens bergelut dengan problematika anak, maka kita akan sampai pada pemahanan
yang sama bahwa muara akhir dari proses pendidikan anak muslim yakni ada pada mampukah
diri kita sebagai orang tua dan pengasuh (Mitra orang tua) menanamkan tauhid
yang benar pada anak, bahwa Allah Ta’ala
satu-satunya tempat untuk beribadah, bergantung, berharap, meminta, berserah
diri dan bertawakal dan tidak ada sekutu bagi Nya.
Saya memakai kata “MENANAMKAN” Tauhid yang benar, bukan “MENGILMUI” tentang Tauhid, lalu apa yang membedakannya MENANAMKAN dengan MENGILMUI ? MENANAMKAN itu lebih pada memberikan pemahaman secara langsung pada anak dalam kehidupan nyata tentang bagaimana bertauhid pada Allah yang benar, baik dalam kondisi lapang maupun sempit, senang maupun susah, bahagia atau sengsara dll. Maka, proses menanamkan Tauhid pada anak yang paling tepat saat anak belajar tentang kehidupan yang sesungguhnya.
Sedangkan MENGILMUI tauhid, yakni memberikan pemahaman tauhid pada anak hanya terbatas di ruang belajar dan membaca kitab-kitab Tauhid. Sedangkan anak tidak/kurang ada kesempatan untuk belajar tentang kehidupan yang sesungguhnya sehingga anak benar-benar bisa paham dan tertanam dengan baik Tauhid nya.
Selain itu menanamkan tauhid yang benar pada anak setiap orang tua mampu melaksanakan dengan baik sekalipun minim referensi dan rujukan kitab, sedangkan mengilmui tauhid tidak setiap orang tua mampu melakukannya sebab dibutuhkan kepakaran seseorang untuk bisa menyampaikan.
Kemudian yang jadi pertanyaan yakni, jika INTI DARI PENDIDIKAN ANAK ADALAH MENANAMKAN TAUHID YANG BENAR, lalu bagaimana dengan berbagai disiplin ilmu pendidikan selama ini, Metodologi pendidikan, perkembangan peserta didik, manajemen pendidikan, Psikolagi anak dll ?
Ilmu-ilmu yang saya sebutkan diatas adalah disiplin ilmu hasil dari akal manusia yang telah Allah berikan pada setiap manusia. Dengan kecerdasanmnya manusia terus berusaha untuk menemukan solusi yang bisa dimanfaatkan oleh manusia dalam mendidikan anak mereka atau anak orang lain, baik untuk saat ini maupun yang akan datang. Sehingga akan lahir peradaban baru yang lebih hebat dan berkualitas, karena dijalankan oleh generasi yang terdidik dengan baik
Apa yang dilakukan dan diusahakan manusia dalam membuat konsep pendidikan anak yang baik itu boleh dan sah-sah saja, sepanjang konsep pendidikan yang dihasilkan TIDAK MENJAUHKAN atau MENGELUARKAN FITROH ANAK dari tempatnya semestinya. Maka sebagaimana pada catatan saya sebelumnya bahwa proses pendidikan yang baik pada anak yakni proses pendidikan yang tidak menjauhkan atau mengeluarkan anak dari fitroh anak.
Lalui apa fitroh anak itu ?
- 1. Meluruskan
Tauhid, diawali saat lahir hingga meninggal (sepanjang hidup harus tetap murni)
- 2.
Memahami
sikap & prilaku anak yang selaras dengan usia anak
- 3. Tidak
mengabaikan hak-hak anak ( termasuik hak anak untuk di nasehati, dikasih tauladan,
di teguran dan puji / disanjung).
Maka sehebat atau sepakar apapun
guru/pengasuh anak kita, semegah apapun bangunan pesantren/sekolah, selengkap
apapun sarana prasanara belajar anak-anak kita, sebagus apapun konsep
pendidikannya, jika mengabaikan salah 1 atau ke 3 hal ini, sudah bisa
dipastikan proses pendidikan anak pasti akan rusak dan tidak berjalan dengan
baik. Kalau sudah rusak, maka yang akan muncul adalah generasi yang lebih lemah
dari kita, lebih malas, mudah mengeluh, generasi semau gue, generasi yang maunya
hanya dilayani dsb.
Mari kita buat permisalan, jika ada orang tua yang tak memahami sikap dan prilaku anak yang selaras dengan usia anak dengan baik, maka orang tua tersebut pasti akan memperlakukan anak dengan cara yang salah. Ada orang tua yang selalu minta pendapat dan persetujuan anak untuk memutuskan apa yang akan diberikan pada anak nya sendiri, padahal anaknya masih usia dini (usia anak SD/MI) adalah pemahaman oarang tua yang kurang tepat. Akhirnya anak kebinggung saat dimintai pendapatnya dan tidak tahu harus bagaimana menyikapi orang tua nya. Di satu sisi ketika anak sudah dewasa, justru tidak pernah diajak diskusi (untuk dimintai pendapat) dengan baik oleh orang tuanya.
Kebinggungan ini bukan tanpa alasan, sebab anak usia SD/MI memang belum cukup umur untuk diajak diskusi atau dimintai pendapat. Hal ini sering terjadi dan dilakukan oleh para orantua yang ingin bersikap “demokratis” pada anak, tapi tak paham sikap/prilaku anak dan usia anak dengan baik. Jika hal ini terus berlarut-larut dan tidak ada perbaikan, maka proses pendidikan anak akan rusak sebab tidak selaras dengan fitroh anak yang seharusnya.
Contoh lainnya yakni jika orang tua tidak memberikan hak-hak anak dengan baik, khususnya hak anak untuk di nasehati, dikasih tauladan, ditegur dan puji/ disanjung, maka sudah bisa dipastikan anak-anak akan mendapatkan proses pendidikan yang tidak baik.
Mungkin kita pernah mendapati ada anak yang semau gue, bisa jadi anak tersebut kehilangan hak-hak mereka untuk dinasehati dan dikasih tauladhan oleh orang tuanya, jika anak sering berontak dan tidak patuh bisa jadi anak tidak pernah mendapatkan teguran yang seharusnya. Dan jika anak minder dan tidak percaya diri bisa jadi anak-anak kita tak pernah kita berikan pujian yang baik oleh orang tuanya.
Sampai sini, bisa tarik kesimpulan bahwa SEMUA
PROBLEMATIKA YANG TERJADI PADA ANAK, SUDAH BISA DIPASTIKAN AKAR PERSOALANNYA
YAKNI ANAK TIDAK MENDAPATKAN PROSES PENDIDIKAN YANG SELARAS DENGAN FITROH ANAK.
Ditambah lagi jika proses pendidikan anak-anak kita selama ini dibangku
pesantren/sekolah tidak mendekatkan fitroh anak, tapi justru menjauhkan/mengeluarkan
fitroh anak dari tempat yang seharusnya.
Lalu timbul pertanyaan, bagaimana jika orang tua tak mampu mendidik anak sesuai fitroh anak ? Dalam mendidik anak sesuai dengan fitroh anak setiap orang tua tidak boleh mengatakan tidak mampu sebab proses pendidikan ini menjadi bagian dari tugas pokok orang tua yang telah Allah Ta’ala amanahkan anak pada setiap orang tua.
Pada point fitroh anak POINT 2 (memahami sikap & prilaku anak yang selaras dengan usia anak) dan POINT 3 (tidak mengabaikan hak-hak anak ( termasuik hak anak untuk di nasehati, dikasih tauladan, di teguran dan puji / disanjung) adalah ruang yang sangat luas untuk setiap orang tua, para pengasuh/guru, para pakar pendidikan berkarya menciptakan model dan konsep pendidikan yang baik untuk anak. Akhirnya lahirlah berbagai disiplin ilmu tentang pendidikan anak yang banyak kita kenal saat ini. Tetapi perlu dicatat, bahwa ilmu ini hanya sebatas ilmu yang tentu jauh dari kata sempurna, begitu pula orang tua, pengasuh, guru atau mereka yang peduli dengan dunia pendidikan anak, maka promblematika anak tetap akan terus ada.
Masya Allah....Allahu Akbar, uniknya berbagai promblematika anak akibat dari penerapanan yang ada pada POINT 2 dan POINT 3 ini akan selesai jika POINT Ke 1 kokoh dan kuat serta dimiliki anak dengan baik yakni LURUS TAUHIDNYA.
Mari kita buktikan pernyataan ini, jika kita mendapati anak yang punya latar belakang “tidak sempurna” proses pendidikannya, yakni :
1.
Anak
yang kehilangan orang tuanya (keduanya atau salah satunya)
2.
Anak
yang keluarganya broken home (orang tua cerai)
3.
Anak
yang kedua orang tua lengkap, tapi tak terdidik dengan baik
Biasanya anak-anak ini punya beban hidup yang tidak mudah dijalani, jika beban hidup ini tak mampu diselesaikan dengan baik, maka akan menimbulkan problematika anak, baik untuk dirinya maupun orang lain. Timbulnya berbagai kenakalan dan prombelatika anak jika diruntut kebelakang pasti akan mengarah pada bagaimana proses pendidikan anak saat dekat/bersama orang tua dulu.
Dan jika diruntut ke belakang kembali sampai pada akar persoalan, maka ujung-ujungnya akan berakhir pada TIDAK IKHLAS & RIDHO DENGAN TAKDIR ALLAH TA’ALA (Tidak Menerima Kenyataan Hidup) yang dijalani saat ini. Untuk itu menanamkan tauhid yang benar pada anak menjadi solusi bagi promblematika anak. Persoalannya yakni tinggal bagaimana cara kita menanamkan tauhid yang benar pada anak
Wallahu 'alam bishowab
________
MENDIDIK ANAK BERKARAKTER SEJAK USIA DINI
(Diambilkan dari Catatan harian Pola Pendidikan di PONPES TAHFIZHUL QUR'AN
"KH khoirotun Hisan"
PENDAFTARAN SETIAP SAAT SELAMA KUOTA MASIH ADA
DAPATKAN BUKU : SERIAL 01 MENDIDIK ANAK BERKARAKTER SEJAK USIA DINI (BERBASIS PESANTREN)/ 0823 2474 5151


Posting Komentar
Yuk, tinggalkan komentar mu