TAK TERASA ANAKKU KINI TELAH TUMBUH DEWASA ..Tema catatan saya kali ini sebagai pelengkap dari catatan saya yang telah lalu ......
Anak pada akhirnya tumbuh dewasa adalah bagian dari fase perjalanan pendidikan yang mau tak mau, suka atau tidak suka, terpaksa atau tidak, harus diterima sebagaian bagian dari kenyataan hidup setiap orang tua yang sedang berproses mendidik anak-anak mereka.
Mungkin kini kita yang baru pertama kali memiliki anak yang telah menginjak dewasa merasa agak sedikit “gamang” menyaksikan anak kita tidak sebagaimana yang selama ini kita lihat. Kayaknya baru kemarin kita terus menerus bisa mendidik anak dengan mudahnya, sebab anak masih dalam kendali kita sepenuhnya. Mudah diatur, tidak banyak keinginan, tidak perlu banyak diskusi dan musyawarah dll. Semua seakan-akan mudah untuk kita programkan pada anak-anak kita.
Tapi kini setelah anak tumbuh dewasa dan telah menjadi diri mereka sendiri semua tentu akan berubah dengan sendirinya, sebab proses pendidikan bagi anak telah usai/berlalu seiring dengan bertambahnya usia anak. Anak tidak lagi membutuhkan pendidikan dari orang tua secara langsung, sebab anak telah masuk pada fase belajar tentang hidup yang sesungguhnya.
Maka, saat anak telah tumbuh dewasa dan harus siap berjuang mengarungi kehidupannya tidak ada bekal yang sangat penting bagi anak kecuali karakter dasar anak yang selama ini ditanamkan orang tua, selebihnya biarkan anak menjadi dirinya sendiri
Bersyukurlah jika kita sebagai orang tua telah berjuang mendidik anak-anak kita selama ini dengan baik, baik pada saat anak dirumah/bersama orang tua maupun pada saat anak mondok di pesantren. Walaupun, kita bukanlah orang tua yang sempurna dalam mendidik anak-anak kita selama ini. Paling tidak pada usia dasar s/d transisi kita telah memberikan yang terbaik pada anak-anak kita selebihnya biar Allah Ta’ala yang mengatur masa depan anak-anak kita nanti.
Adapun bagi orang tua yang abai dan tidak memberikan pendidikan yang terbaik bagi anak dalam membangun karakter dasarnya, tentu mereka akan merasa was was, cemas, kuatir dengan anaknya, merasa belum siap melepas anak dan merasa kurang dalam mendidik anak-anaknya. Sedih rasanya, ketika anak telah dewasa justru belum mampu menjaga waktu subuhnya dengan baik, sholat masih harus di suruh-suruh, tidak punya empati pada orang tua, tidak mengerti pekerjaan rumah dll
Akhirnya, orang tua justru yang tak siap anaknya menginjak usia dewasa kemudian bersikap seakan-akan peduli dengan pendidikan anaknya, sok ngatur ini dan itu, ingin anaknya seperti ini dan itu dll, disatu sisih anak telah menjadi diri mereka sendiri yang tak mudah ditundukkan oleh orang tua sebab proses pendidikan anak telah berlalu, yang ada dan harus ditempuh orang tua yakni membangun kesadaran anak dengan baik. Lalu bagaimana caranya membangun kesadaraan anak yang telah menginjak dewasa ? ................. Insya Allah kita akan sampaikan pada catatan berikutnya
Salah satu bentuk ketidaksiapan orang tua saat anaknya menginjak dewasa yakni memaksakan harapan/cita-cita orang tua pada anak. Agar anaknya bisa mewujudkan harapan/cita-cita orang tua yang selama ini belum mampu diraihnya. Dulu orang tuanya gagal menjadi hafizh/ah, maka orang tua memaksa anak agar bisa menjadi hafizh/ah, dulu orang tua gagal meraih mimpinya untuk kuliah di Perguruan Tinggi Favorit, kini anaknya dipaksa untuk mewujudkanya, Orang tua punya usaha yang telah berjalan, maka anak dipaksa untuk meneruskannya dll
Sikap sebagaimana yang saya sampaikan diatas, tak jarang antara orang tua dan anak bersitegang yang tak kunjung usai, selalu diungkit dan diungkit, mengatakan anak tidak patuh pada orang tua, anak durhana Naudzubillahi min dzalik dll, Akhirnya orang tua dan anak tak sejalan lagi menggapai berkah hidup bersama.
Yang jadi pertanyaan, apakah tidak boleh orang tua menaruh harapan/cita-cita pada anaknya ? Boleh, sepanjang anak mampu dan mau menjalaninya dengan baik. Mampu dalam artian punya bekal ilmu dan pengalaman yang cukup dan mau menjalani dengan baik. Maka, jika anak tidak punya ke 2 hal ini yakni mampu dan mau menjalani, biarkan anak menjadi diri mereka sendiri. Yang penting anak masih menjadi bagian anak sholeh/ah (komitmen dengan karakter dasarnya dengan baik)
Terlebih lagi jika kita dikarunia anak lebih dari 1, tentu orang tua bisa memilih dari sekian anak-anaknya mana yang bisa meneruskan harapan/cita-cita orang tua dan mana yang tidak. Biarkan anak menjadi diri mereka sendiri dalam arti yang sesungguhnya.
Sebagai akhir dari catatan ini, masa anak tumbuh dewasa pada akhirnya akan sampai juga, sebagaimana orang tua dimana masa tak berdaya pun akan kita lalui juga. Yang terpenting, bagi orang tua yang masih punya anak usia dasar s/d Transisi siapkan dengan benar proses pendidikan anak kita dengan baik agar kita bisa menyaksikan anak kita menjalani hidup dengan tetap berpegang pada prinsip2 Islam yang benar
Wallahu 'alam bishowab
______
MENDIDIK ANAK BERKARAKTER SEJAK USIA DINI (Diambilkan dari Catatan harian Pola Pendidikan di PONPES TAHFIZHUL QUR'AN "KH khoirotun Hisan" 0823 2474 5151
GROUP WA : https://chat.whatsapp.com/HTRRBOKd9F5KypFKquVgpH
https://ponpeskhoirotunhisan.blogspot.com/?m=1

Posting Komentar
Yuk, tinggalkan komentar mu