Saya awali tulisan ini dari cerita
awal saat KH dirintis dulu. Salah satu materi yang diberikan pada para
santri/wati adalah belajar utk bisa mandiri,
dari materi2 ini ternyata anak2 memberikan respon secara spontan ingin
belajar secara riel yakni dengan cara berjualan di lingkungan ponpes. Sebagai
pengasuh kita merasa senang, sebab mereka punya inisiatif sendiri, tanpa di suruh
dan tanpa di perintah
Mulai lah mereka merancang jualan
bersama2, dari menyiapkan kompor, wajan, bahan dll semua dilakukan secara
mandiri sebagai sebuah team. Hari H nya pun tiba, mulai lah mereka menjajakan
jajannya pada anak2 sekitar, melihat aksi anak2 jualan ini terus terang saja kagum
dan salut pada mereka
Tidak hanya kompaknya mereka, tapi
berani dan punya mentalitas adalah hal penting utk kita tanamkan. Bukan hasil
yang kita nilai, tapi lebih pada proses mereka menjalani nya
Salah, keliru, rugi, bahan dagangan
tidak sesuai atau lainnya, ngak masalah yang penting mereka mau bergerak dan
berbuat. Kalau dilihat hasil, ternyata saat jualan, anak2 saat itu hanya dengan modal 6.000 (yang
diambilkan dari kas internal mereka sendiri), sedangkan laba kotor dari
penjualan saat itu ternyata bisa dapat 30.000
Ya, walaupun berjualan 1 pekan sekali
ngak masalah, sebab berjualan adalah bagian dari proses membangun karakter
dasar santri/wati KH sejak dini. Tapi, ironisnya program jualan ini tidak bisa berlangsung
lama. Kenapa ? ya Karena dikritik dan digembosi sama salah satu orang tua
santriwati saat itu
Pada saat para santriwati jualan, di
datangi salah satu orang tua santriwati yg kebetulan rumahnya tidak jauh dari
ponpes. Dengan nada yang agak kesal dia mengatakan : "Lho kok malah pada
jualan ? Apa ngak belajar ? Siapa yang menyuruh mu jualan, Ustadz/ah mu ya ?
Dari komentar salah satu orang tua santriwati ini, akhirnya anak2 memutuskan
tidak jualan lagi.
Terus terang, sy sebagai salah satu
pengasuh sangat menyayangkan sikap orang tua diatas, kenapa ?
🔳. Dia tidak mengerti tentang pendidikan dan
pembinaan yang selama ini di amanah pengasuh, tapi intervensi langsung pada
anak2
🔳. Tidak memiliki adab yang baik, seharusnya
bisa disampaikan pada pengasuh baik2
🔳. Dia tidak memahami bahwa Jualan langsung
adalah bagian dari salah satu proses pembinaan santri/wati, bukan satu2 nya
pembinaan yg diterapkan, apalagi diwajibkan
Jadi MEMBANGUN METALITAS ANAK DENGAN
JUALAN itu harus dipahami sebagai bagian dari proses pembinaan santri/wati. Kita
semua tidak tahu, besok anak2 kita jadi apa, mungkin jd pengusaha, pengajar,
mungkin pedagang atau lainnya dll
Tp prinsip kemandirian, punya mentalitas,
kerja keras, menjalani proses, Tawakal dengan perolehan hasilnya adalah bagian
terpenting dari PEMBINAAN SANTRI/WATI KH DENGAN JUALAN. Jangan dilihat hasilnya,
tapi lihatlah prosesnya

SEKOLAJH MANDIRI ENTREPREUNERSHIP (SME)
Buat PISANG COKLAT
Model pembinaan seperti ini
barangkali, agak berat utk para orang tua yang secara finasial berkecukupan, utk
apa repot2 jualan segala minta pada orang tua saja kan sdh beres. Pemahaman
seperti ini juga tidak salah dimiliki orang tua, masing2 orang tua punya latar
belakang dan perjalanan hidup yang beda2
Dalam tulisan ini, saya hanya sekedar
memberikan pemahaman, bahwa PROSES JUALAN SANTRI/WATI KH adalah bagian dari
proses belajar tentang kehidupan.
Wallahu 'alam bishowab
______________________
• MENDIDIK
ANAK BERKARAKTER SEJAK USIA DINI (Diambilkan dari Catatan harian Pola
Pendidikan di PONPES TAHFIZHUL QUR'AN "KH khoirotun Hisan"
• PENDAFTARAN
SETIAP SAAT SELAMA KUOTA MASIH ADA : 0823 2474 5151 (WA)
YUK BANTU SHARE, Semoga jadi amal
sholeh kita bersama, Aamiin


Posting Komentar
Yuk, tinggalkan komentar mu