__________________________________________
Setiap orang tua muslim punya tannggungjawab
yang sama dihadapan Allah Ta’ala yakni mendidik anak menjadi anak sholeh/ah,
tidak hanya orang tua yang berpendidikan saja atau orang tua yang mampu secara
finansial, tapi orang tua yang pendidikan rendah atau bahkan tidak
berpendidikan pun atau yang miskin sekali pun punya tanggungjawab yang sama
dihadapan Allah Ta’ala
Dalam mengemban amanah sebagai orang tua,
Allah Ta’ala tidak membiarkan setiap orang tua mendidik anak dengan caranya
sendiri-sediri. Tapi Allah Ta’ala menyiapkan segalanya agar setiap orang tua
mampu mendidik anak dengan baik, baik
rizqinya, fitroh setiap anak yang mudah dididik, bahan ajar, metode
pendidikannya dll, sampai indikator kesuksesannya pun telah Allah tentukan
yakni anak sholeh/ah.
Ya, ....Indikator yang sebenarnya mudah
sekali bagi setiap orang tua untuk mencapai target itu, tapi realitanya tidak
semudah yang kita bayangkan jika proses pendidikan itu sudah keluar dari konsep
pendidikan illahiyah, yakni konsep pendidikan anak yang mampu menjaga dan
merawat fitroh anak yang lurus. Akhirnya proses pendidikan yang dijalani anak
sudah terkontaminasi dengan banyak kepentingan, harapan yang tak sejalan dengan
konsep mendidik anak sholeh/ah.
Dalam usahanya mengemban amanah anak yang
harus dididik menjadi anak sholeh/ah, orang tua terus berjuang untuk
mendapatkan hasil yang maksimal. Salah satu caranya yakni memasukkan anak ke
pondok pesantren. Memasukkan anak di ponpes ini adalah salah satu upaya yang
bisa dilakukan orang tua dalam mendidik anak menjadi anak sholeh/ah. Maknanya
bahwa upaya selain mondokkan anak di pesantren pun tidak ada persoalan, sebab
tidak ada ketentuan atau keharusan bahwa kalau anak kita ingin menjadi anak
sholeh/ah harus mondok di ponpes.
Pesantren hanya sekedar wasilah, pesantren
hanya sekedar mitra orang tua mendidik anak menjadi anak sholeh/ah dan
tanggungjawab tetap melekat pada orang tua. Maka, tidak ada jaminan anak yang mondok di
pesantren pasti akan menjadi anak sholeh/ah, sebab proses mendidik anak menjadi
anak sholeh/ah adalah akumulasi dari proses pendidikan yang terjadi pada 3
kondisi, antara lain :
1. PROSES
PENDIDIKAN SAAT ANAK DEKAT/BERSAMA ORANG TUA DI RUMAH
2. PROSES
PENDIDIKAN ANAK DI LINGKUNGAN TERDEKAT (Keluarga ayah/ibu, tetangga dan teman2
dekat)
3. PROSES
PENDIDIKAN SAAT ANAK DI PONPES
Jika kita memahami persoalan diatas, maka memasukkan
anak ke pondok pesantren tidak otomatis menjadi solusi bagi proses pendidikan setiap
anak. Bisa jadi ada anak yang memang tepat untuk mondok di pesantren, tapi ada
juga yang kurang tepat.
Pertanyaannya, lho kenapa ada anak yang kurang tepat untuk
mondok di pesantren ? Sedangkan pesantren adalah tempat pembinaan anak menjadi
anak yang baik ?
Proses mendidik anak menjadi anak sholeh/ah itu
bukan masalah tepat atau tidak tepat anak masuk pondok pesantren, sebab anak
yang tidak pernah mondok pun juga punya kesempatan yang sama untuk menjadi anak
sholeh/ah, walau pun keilmuan syar’inya kurang.
Kita bisa mengambil pelajaran dari Siroh Rasulullah
Shollahu ‘alahi wa salam saat Beliau kecil dulu, Beliau juga tidak hidup di
pondok pesantren atau di lingkungan mulazamah seorang syaikh, tapi Rasulullah
bisa menjadi pribadi hebat dan sholeh serta jadi uswah setiap pribadi muslim. Tapi
dengan satu catatan, proses pendidikan anak menjadi anak sholeh/ah harus tetap
diberikan dalam kondisi dan ruang yang berbeda. Anak harus bisa tegak
sholatnya, ngaji dengan baik, amal yaumi berjalan dengan baik, mampu menjaga
waktu subuh dll
Kembali pada tema catatan saya kali ini, lalu
bagaimana TIP MEMILIHKAN PONDOK PESANTREN YANG TEPAT UNTUK ANAK KITA ?
Tip ini sangat penting sekali untuk kita
pahami bersama, agar anak-anak kita tidak salah masuk ke pondok pesantren.
Jangan berpikir asal mondok ? jika orang tua hanya berpikir asal mondok,
berarti belum paham bagaimana proses pendidikan ala pesantren. Inilah beberapa tip
yang perlu kita pahami bersama, antara lain :
1. Ketika kita menjatuhkan pilihan anak-anak kita nanti harus mondok dipesantren, maka siapkan jauh-jauh hari anak kita agar secara mental, fisik, ilmu dasar dan finansial siap menjalani hidup di pesantren selama 24 Jam
Dalam hal ini orang
tua yang nanti anaknya mondok dipesantren harus lebih siap segala hal dari pada
orang tua yang tidak. Sebab kebersamaan orang tua bersama anak tentu juga lebih
terbatas dari pada yang tidak.
2. Kemudian
bangun karakter dasarnya sebaik mungkin dan semaksimal mungkin, baik itu amal
yauminya, baca qur’annya, kebiasaannya, adab dan akhaqnya, aqidahnya dll sesuai
dengan kemampuan orang tua melakukan dan menjalani (Tidak ada orang tua yang
sempurna)
3.
Kemudian
pilihkan ponpes yang tepat untuk anak kita.
Adapun pertimbangan,
antara lain :
a)
Bagaimana
karakter dasar anak kita sebelum mondok sudah cukup kokoh tidak untuk mondok
(masih harus diperbaiki terus atau tidak). Ini nanti akan jadi acuan anak
mondok di ponpes yang basis keilmuan dominan atau ponpes yang kuat di pola
pengasuhan.
b)
Kira2
anak kita kuat dan mampu menjalani hidup ala pesantren atau tidak (khususnya
pesantren yang basis keilmuannya lebih dominan). Sebab jika anak mondok di
pesantren yang basis keilmuan dominan, biasanya pola pengasuhan sudah dianggap
cukup/selesai. Jadi anak tinggal dipintarkan dan diasah bakatnya dengan baik
c) Bagaimana
kesiapan ortu sendiri dalam mendampingi anak selama anak mondok dipesantren
(khususnya saat awal mondok), khususnya kesiapan finansial. Dalam hal ini orang
tua saat ini pun sudah banyak pilihan, baik pesantren yang berbayar atau tidak
Demikian catatan saya kali ini, semoga
catatan ini bisa dijadikan rujukan bagi setiap orang tua muslim yang akan
mondokkan anak di pesantren. Semoga kita senantiasa diberikan keberkahan hidup
bersama anak-anak kita, Aamiin
Wallahu 'alam bishowab
________
MENDIDIK ANAK BERKARAKTER SEJAK USIA DINI
(Diambilkan dari Catatan harian Pola Pendidikan di PONPES TAHFIZHUL QUR'AN
"KH khoirotun Hisan"
PENDAFTARAN SETIAP SAAT SELAMA KUOTA MASIH
ADA
DAPATKAN BUKU :
SERIAL 01 MENDIDIK ANAK BERKARAKTER SEJAK
USIA DINI (BERBASIS PESANTREN)/ 0823 2474 5151

Posting Komentar
Yuk, tinggalkan komentar mu