Berbicara tentang dunia pendidikan serasa tidak ada habisnya, karena pendidikan sendiri adalah bagian proses penting yang harus di jalani manusia. Sebagai makhluk pembelajar, manusia dituntut untuk terus berproses menjadi lebih hebat, lebih trampil, lebih maju dalam menyikapi perkembagan jaman dimana manusia menjalani hidup.
Seiring dengan kemajuan jaman, para pakar pendidikan terus mengadakan riset, menghasilkan berbagai karya ilmiah, ekperimen pendidikan, workshop, sekolah parenting, seminar pendidikan dll, dengan satu tujuan akhir yakni menghasilkan prodak pendidikan yang relevan dengan perkembangan setiap jaman. Ada banyak prodak pendidikan yang kita kenal saat ini, antara lain : Perkembangan peserta didik, psikologi perkembangan, kurikulum, manajemen pendidikan, Quantum Learning, Learning to Learning dan masih banyak lagi. Salah satu prodak pendidikan yang akan kita bahas pada tema catatan saya kali ini yakni BIMBINGAN KONSELING.
HILANGNYA FUNGSI KONSELING DI PONDOK PESANTREN ... itulah tema catatan saya kali ini, tema yang barangkali sangat penting yang harus dimiliki oleh para pengasuh pesantren. Seorang pengasuh pesantren (yang diamanahi untuk mendidik anak) idealnya punya kemampuan konseling yang mumpuni dalam melihat sikap dan prilaku anak didiknya dengan baik. Kemampuan yang mumpuni ini tidak serta merta akan mampu dimiliki oleh pengasuh dalam waktu singkat, tetapi membutuhkan proses yang panjang, tapi dengan catatan sabar, tekun dan istiqomah mendampingi anak dengan baik
Kemampuan konseling ini akan menjadi lengkap jika pengasuh punya kemampuan dalam hal literasi ilmiah, baik secara syar’i maupun pendidikan modern, kemudian di padukan dengan kemampuan riel mendidik anak di lapangan dengan segala problematikannya. Jika hal ini dimiliki oleh para pengasuh pesantren, maka problem terhadap anak yang katanya “punya masalah” di pesantren akan mampu tertangani dengan baik (baik mendeteksi dini, cara memberi konseling, mencari jalan keluar dll)
Selain itu kekuatan dan ruh pola pengasuhan
di pondok pesantren sejatinya ada pada kemampuan konseling para pengasuhnya. Maka
tidak salah jika kita pernah mendengar ada orang tua yang ketika melihat
anaknya nakal dan susah diatur, orang tua itu akan mengancam anaknya : “Kamu
kalau nakal dan ngak bisa diatur nanti tak masukkan ke pesantren lho !”
Ancaman ini jika dipandang dari sudut pendidikan ala pesantren adalah bentuk pengakuan secara tidak langsung kehebatan dunia pesantren dalam mendidik anak, khususnya anak yang “punya masalah” (baca catatan saya lainnya : “Menjadi Pengasuh Sejati”). Jujur harus kita akui, bahwa para pengasuh pesantren tempo dulu sangat luar biasa dalam mendidik anak asuhannya. Sehingga anak yang punya masalah apapun mampu ditangani dengan baik, jika kita runtut ke sistem pendidikan modern saat ini, kemampuan ini (yang sangat langka kita dapatkan pada para pengasuh pesantren saat ini) yakni MEMBERIKAN BIMBINGAN KONSELING
Sedangkan jika kita lihat pola pengasuhan di pesantren modern saat ini fungsi konseling pada anak bisa jadi masih ada dan berlaku, tapi tidak berfungsi dengan baik. Sehingga anak-anak yang “punya masalah” cenderung dibuang dari pada ditangani dengan baik oleh seorang yang punya kemampuan konseling yang mumpuni (Psikiater).
Sebab anak dianggap menganggu proses belajar di pesantren, membuat gaduh di pesantren dan membuat repot para pengasuh pesantren. Menghabiskan energi dan waktu yang sia-sia hanya untuk mengurusi anak-anak yang “punya masalah”.
Lalu yang jadi pertanyaan kita yakni kenapa
fungsi konseling di pesantren tidak berjalan dengan baik ?
1. Tidak menganggap fungsi konseling anak di pesantren itu penting untuk anak, yang penting anak dididik dengan baik karakternya, kebiasaannya, keilmuaan dan bakatnya dll toh nanti anak akan baik dengan sendirinya.
Maka implikasi dari anggapan ini, banyak kita temukan ponpes yang pengasuhnya saja ngak memahami konseling dengan baik, atau pesantren yang tidak memiliki mitra luar sebagai pakar konseling yang hebat untuk mendampingi anak-anak asuhnya, khususnya anak-anak yang punya latar belakang tidak sempurna
Dari anggapan ini
sepertinya ada pemahaman salah yang perlu kita luruskan, bahwa konseling tidak
ada kaitannya dengan pembinaan karakter, keilmuan/bakat anak, terapi dia
berdiri sendiri menjadi bagian dari proses pendidikan anak.
2. Tidak
memiliki ilmu konseling anak dan tidak berjuang meningkatkan kemampuan sebagai
pengasuh pesantren yang paham konseling, sebab pengasuh sibuk ngurus
pembangunan dan renovasi yang tak kunjung selesai, sibuk ngurus ini dan itu
yang tak terkait dengan pengasuhan anak, sibuk menggali dana ini dan itu
walaupun secara kebutuhan pondok pesantren sudah tercukupi dengan baik, masih
pingin ini dan itu, akhirnya, pengasuhan anak tak terjaga dan terurus dengan
baik.
3. Salah memamahi tentang BIMBINGAN KONSELING itu sendiri. Sebagaimana pada point ke 1, bahwa konseling tidak ada kaitannya dengan pembinaan karakter, keilmuan/bakat anak, tetapi dia berdiri sendiri menjadi bagian dari proses pendidikan anak.
Banyak yang menganggap bahwa setiap anak yang punya masalah di pesantren larinya ada pada karakter dasar anak yang buruk, sehingga cukup anak ditangani dengan membina karakter anak dan kebiasaan anak dengan baik. Jadi tidak diperlukan adanya bimbingan konseling pada anak.
Kenapa pemahaman ini
muncul ? Kemunculan pemahaman ini berangkat dari tidak mampunya membedakan
antara “anak yang bermasalah” dengan anak yang “punya masalah”
Memahami dan mampu mengidentifikasi antara “anak yang bermasalah” dengan anak yang “punya masalah” itu penting, sehingga kita bisa melakukan perlakuan yang tepat pada anak. Anak ini termasuk anak “anak yang bermasalah” atau anak yang “punya masalah” ? Jika kita tidak bisa atau salah mengidentifikasi, maka perlakuan kita pun akan salah dan solusi yang diberikan pun juga pasti tidak sesuai dengan problematika yang dihadapi anak
Jika kita jeli dengan anak-anak pesantren saat ini, maka kita akan dapatkan bahwa setiap anak yang masuk pesantren itu semuanya tidak dalam kondisi baik-baik saja. Ada anak yang “punya masalah” dan sekaligus “bermasalah” secara karakter, tapi ada juga anak yang punya karakter baik, tapi “punya masalah”. Ada pula anak yang tak “punya masalah” tapi bermasalah secara karakter.
Penangganan anak yang “punya masalah” dengan
yang “bermasalah” tidak sama, menanggani anak yang “punya masalah” jelas lebih
sulit dari pada anak yang “bermasalah”. Menanggani anak yang “punya masalah”
butuh konseling dan penangganan sedini mungkin, semakin cepat akan semakin baik
bagi anak kedepannya
Maka, identifikasi awal itu penting untuk melihat anak ini termasuk anak yang “punya masalah” atau anak yang “bermasalah”. Sayangnya hanya untuk sekedar mengidentifkasi saja banyak dari kita tak punya kemampuan.
Benar, jika kita tarik benang merah, kenapa di negara maju yang punya sistem pendidikan terbaik di dunia untuk anak usia dasar justru ditangani oleh para pakar pendidikan langsung yang bergelar Doktor dan Profesor ? tujuannya hanya satu yakni meminimalkan adanya anak-anak yang “punya masalah” dan tak mampu menyelesaikan masalahnya dengan baik.
Sebab anak yang “punya masalah” dan tidak
segera dibantu menyelesaikannya cenderung akan menjadi masalah dikemudian hari.
Jangan sampai tumbuh generasi Islam yang dilahirkan dan dibesarkan oleh orang tua
yang “punya masalah”
Wallahu 'alam bishowab
________
MENDIDIK ANAK BERKARAKTER SEJAK USIA DINI (Diambilkan dari Catatan harian Pola Pendidikan di PONPES TAHFIZHUL QUR'AN "KH khoirotun Hisan"
PENDAFTARAN SETIAP SAAT SELAMA KUOTA MASIH ADA
DAPATKAN BUKU : SERIAL 01 MENDIDIK ANAK BERKARAKTER SEJAK USIA DINI (BERBASIS PESANTREN)/ 0823 2474 5151

Posting Komentar
Yuk, tinggalkan komentar mu