Catatan ini saya awali dari pengalaman saya jenguk anak di ponpes, saat kami sedang asik-asiknya bercengkramah dengan anak. Disamping kami persis sedang terjadi argumentasi yang agak sedikit panas antara seorang ayah dan anak. Berdebatan antara ayah dan anak ini lebih kepada perdebatan yang biasa terjadi ketika anak menginjak dewasa, yakni seputar masa depan anak setelah selesai dari mondok di pesantren. Sang ayah menanyakan pada anak : Le, setelah selesai mondok kamu mau kemana ? Dijawab sang anak : “Setelah selesai mondok saya ingin mengabdi di pondok pak“
Mendengar jawaban anak, sang ayah agak kaget, kesal dan sekaligus kecewa sebab apa yang didengarnya tidak seperti apa yang diinginkan dan diharapkan sang ayah. Kemudian Sang ayah melanjutkan pembicaran : “Apa kamu tidak ingin jadi orang yang punya pendapatan, punya gaji bulanan, punya rumah, mobil dll ?” Apa kamu bisa dapatkan itu semua dengan hanya mengabdi di pondok pesantren ?
Tapi, ternyata sang anak tetap kekeh dengan pendiriannya untuk tetap mengabdi di pesantren. Atas pendirian anaknya, sang ayah dengan nada kesal berkata : “Terus terang le, ayah menyesal telah mengeluarkan biaya untuk mondok mu selama ini, ternyata cita-citamu tak sesuai dengan keinginan dan harapan ayah selama ini”
Pembaca sekalian, apa yang saya ceritakan
diatas mungkin saja mewakili kita saat ini, yang barangkali keinginan dan
harapan kita sebagai orang tua ternyata tidak selasas dengan cita-cita anak
kita. Ada orang tua ingin anaknya bisa mondok, tapi anaknya tidak suka mondok
di pesantren, Ada orang tua yang anaknya ingin kuliah, tapi justru anaknya
ingin mondok diponpes. Ada juga orang tua yang ingin anaknya bisa hafal Qur’an,
tapi anaknya ingin kuliah, Ada orang tua yang anaknya ingin kuliah, tapi
anaknya justru ingin menghafal Qur’an dll
Perbedaan ini hal yang biasa terjadi antara orang tua dan anak. Bisa jadi orang tua dan anak pada posisi yang tepat atas pendiriannya masing-masing. Bisa jadi orang tua tepat dan anak kurang tepat atau sebaliknya anak pada posisi yang tepat dari pada orang tuanya.
Terkait dengan tema diatas, ada hal yang
mendasar yang harus kita pahami bersama bahwa :
1. Cita-cita anak adalah keniscayaan yang pasti akan muncul ketika anak mulai tumbuh dewasa yang harus siap dihadapi orang tua. Dan cita-cita anak ini muncul pada level di mana anak sejatinya tidak membutuhkan lagi pengasuhan dan pendidikan dari orang tua atau orang terdekatnya. Sebab anak telah menjadi diri mereka sendiri dan punya hak untuk menentukan masa depannya sendiri
2. Sedangkan kalau dilihat dari proses pengasuhan/pendidikan dan usia anak, anak telah mencapai usia dewasa, usia yang sangat tepat untuk memulai mewujudkan cita-citanya sendiri. Beda dengan anak usia dasar s/d Transisi yang masih membutuhkan dukungan penuh oleh orang tua
3. Jika
dilihat dari jenjang mendidik anak, proses anak untuk menggapai cita-cita itu
ada pada point e , yakni
- a. Mendidik anak menjadi PRIBADI YANG SHOLEH/AH
- b. Mendidik anak agar siap menjadi SUAMI/ISTRI yang paham dengan tugas dan tanggungjawabnya masing-masing
- c. Mendidik anak agar nantinya mampu menjadi ORANG TUA YANG PANDAI MENDIDIK ANAK DENGAN BAIK
- d.Mendidik anak paham dan sadar dirinya menjadi bagian dari DAKWAH IQOMATUDDIN (Menegakkan Agama) dimana pun dan kapan pun
- e. Mendidik dan membekali anak agar menjadi ANAK PINTAR /BERBAKAT agar sukses dan mampu untuk berkontribusi pada umat dan masyarakat secara umum
Terkadang banyak kita temukan orang tua yang tak bijak menyikapi persoalan ini (mungkin kita salah satu orang tua itu), karena lemahnya akidah dan tak pahamnya bagaimana mendidik anak yang baik dan benar. Sehingga banyak orang tua yang saat anak masih butuh pengasuhan/pendidikan yang terbaik dari orang tua, justru orang tua tak bersemangat untuk memberinya. Disaat anak pada usia dasar s/d transisi membutuhkan dukungan orang tua, orang tua justru abai dan tidak memberikan dukungan yang terbaik pada anak.
Tapi disaat anak tumbuh dewasa dan bersiap-siap
membangun cita-citanya sendiri, seringkali orang tua ikut mencampuri dan bahkan
menentukan cita-cita apa yang harus dijalani anak. Padahal tidak setiap
anak-anak kita punya kemampuan yang sama satu sama lainnya. Dengan segala argumentasi
orang tua pun menyampaikan pada anak, bahwa semua itu demi masa depan anaknya. Anak
tak mampu menjadi diri mereka sendiri, tapi menjadi seperti orang tuanya.
Sebenarnya, keinginan dan harapan orang tua yang tak selaras dengan cita-cita anak itu bukan hal yang prinsip bagi proses pendidikan anak kedepan, sepanjang TIDAK MERUSAK PONDASI KARAKTER DASAR ANAK yang telah dibangun selama ini dan TIDAK MENDHOLIMI ANAK yang sedang berproses membangun cita-citanya. Artinya, anak punya kesiapan dan mampu menjalaninya dengan ikhlas dan ridho untuk menggapai cita-cita yang diinginkan dan diharapkan orang tuanya (mengorbankan cita-citanya sendiri).
Tapi pada kenyataan, perbedaan antara orang
tua dan anak ini seringkali justru merusak pondasi karakter dasar anak yang
selama ini dibangun dan mendholimi anak. Berapa banyak anak yang membangun
cita-citanya di lembaga pendidikan ternama dan biaya yang cukup mahal, mengorbankan
sholat berjama’ah ke masjid, tak mampu menjaga waktu subuhnya dengan baik, tak
menjadi bagian dari dakwah Islam, tak pernah menyentuh Al Qur’an, pergaulannya
rusak dll, padahal sebelumnya mampu ditunaikan anak dengan baik.
Begitu pula, berapa banyak anak yang tak
berkembang potensi/bakatnya, malas menggapai cita-citanya, merasa terpaksa
menjalani proses belajar mengajar dll sebab apa yang dijalani tak sesuai dengan
cita-cita nya selama ini
Pertanyaannya kenapa hal ini terjadi ?
Jika kita kembali pada catatan-catatan saya sebelumnya, bahwa sejatinya tugas pokok orag tua terhadap anak yang diamanahkan padanya sangatlah sederhana yakni mendidik anak menjadi anak sholeh/ah. Tugas yang setiap orang tua muslim bisa dipastikan mampu menjalankan dengan baik, sebab tanpa membutuhkan biaya dan real model pendidikan pun telah Allah Ta’ala siapkan semuanya.
Sampai disini kita harus paham dulu, bahwa
tanggungjawab orang tua pada Allah Ta’ala hanya sampai pada target keberhasilan
anak sholeh/ah. Maknanya, bahwa jika orang tua mampu mendidik anak menjadi anak
sholeh/ah, maka sejatinya dia adalah orang tua yang sukses dan berhasil
mendidik anak dengan baik dan mampu mengemban amanah anak yang dibebankan
padanya, begitupula sebaliknya
Pondasi karakter dasar anak itu, antara lain
:
1.
TAUHID
YANG LURUS (PRINSIP2 DASAR ISLAM YANG LURUS)
2.
Memiliki
kebiasaan AMAL YAUMI SEORANG MUSLIM/AH
3.
IBADAHNYA
LURUS
4.
Memiliki
ADAB YANG BAIKl
5.
Memiliki
AKHLAQ YANG TERPUJI
6.
MEMILIKI
KECINTAAN DAN BEKAL2 AL QUR’AN (Minimal anak cinta membaca Al Qur’an, jika
mampu hafal 30 Juz Alhamdulillah)
Yang jadi persoalan, justru pada level mendidik anak menjadi pintar/berbakat sebagai bagian dari khalifah fi Ardhi (memakmurkan bumi dengan kebaikkan). Sebab pada level ini anak mulai membangun cita-citanya. Tak jarang cita-cita anak justru merusak pondasi karakter anak sholeh/ah yang telah dibangun jauh sebelum anak tumbuh dewasa.
Kadang saat kesempatan dan waktu tersedia, tidak
kita gunakan dengan baik untuk membangun pondasi karakter dasar anak kita
dengan baik. Tapi kita justru asal-asalan, tak fokus dan tak mengerahkan
segenap kemampuan. Akhirnya di saat anak mulai membangun cita-citanya dengan
segenap perjuangan dan pengorbanan, seringkali justru meruntuhkan pondasi anak
sholeh/ah yang dibangun selama ini.
Kembali pada catatan saya diatas, kenapa disaat anak mulai membangun cita-citanya, banyak orang tua yang ikut “mencampuri” anak ? Walaupun, anak sudah memiliki pondasi yang baik sebagai anak sholeh/ah dan sudah berada di real yang benar ?Dan kenapa masih belum cukup bagi orang tua sampai pada level anak sholeh/ah ? Sehingga tak jarang orang tua ikut menentukan cita-cita yang harus diambil anaknya ?
Sebab cita-cita yang akan dijalani anak
tentunya sangat terkait dengan berapa biaya yang akan dikeluarkan orang tuanya.
Pada level ini orang tua sudah merasa berjasa dan berkorban untuk anak,
sehingga pengorbanannya menuntut balasan dari anak. Bahkan ada orang tua yang
menjadikan alat anak2nya sebagai investasi dunia, anak dikatakan berhasil dan
sukses jika bisa memberi uang orang tua, membelikan ini dan itu.
Tidak hanya itu saja, bahwa cita-cita anak juga seringkali terkait dengan status dan harga diri orang tuanya. Jika kita tarik ke belakang, muara akhirnya lebih pada ketakutan akan masa depan anak nanti. Ketakutan ini pun lebih pada lemahnya aqidah atas rizqi Allah Ta’ala dan tidak pahamnya pola pendidikan anak dalam Islam.
Karena terkait dengan biaya yang sudah
dikeluarkan, harga diri, gensi, status orang tua, maka cita-cita anak yang
awalnya mudah sebagai bagian dari melengkapi pondasi karakter dasar anak
sholeh/ah dan harapan bisa memberi manfaat untuk kebaikan Islam dan masyarakat,
justru salah arah dan jauh dari orientasi
hidup berkah bersama anak.
Sebab tak sedikit orang tua yang ketika anak-nya menentukan jalan cita-citanya terselip kepentingan dunia sesaat. Ambilan contoh, berapa banyak anak yang rusak dan tak mampu mengembangkan potensi dan bakatnya ketika dipaksa orang tua untuk mengambil program studi yang sesuai dengan keinginan orang tua. Berapa banyak anak yang dipaksa untuk bisa melanjutkan cita-cita orang tuanya sendiri dll
Kesimpulannya, pada dasarnya cita-cita anak yang selaras atau tidak dengan keinginan dan harapan orang tua itu bukan hal yang prinsip dalam mendidik anak di dalam Islam, yang penting cita-cita itu tidak bertentangan dengan syariat Allah Ta'ala. Sebab cita-cita anak hanya sebatas wasilah menuju kesuksesan anak ke depan. Yang harus menjadi muara akhir orang tua mendidik anak yakni HIDUP BERKAH BERSAMA ANAK.
Sebab banyak orang tua ingin anaknya sukses
dan berjuang mati-matian demi kesuksesan anak, tapi lupa menggapai HIDUP BERKAH
BERSAMA ANAK. Dan kehidupan yang berkah bersama anak itu akan kita dapatkan, jika
pondasi karakter dasar mampu dimiliki anak dengan baik, selebihnya biar Allah
Ta’ala yang mengatur semua urusan anak-anak kita
Tidak usah kuatir dengan masa depan anak dan nantinya
anak kita mau jadi apa, sepanjang pondasi karakter dasar telah dimiliki anak,
Insya Allah anak-anak kita akan tetap menjadi pribadi yang sholeh/ah dan Insya
Allah, Allah akan menantiasa menjaga anak-anak kita.
Apa yang saya sampaikan diatas, jangan dijadikan dasar pembenaran dengan mencukupkan diri mendidik anak sampai level anak sholeh/ah semata. Ngak perlu anak dipintarkan/dikembangkan bakatnya dan ngak usah punya cita-cita yang berlebihan, yang penting anak sholeh/ah dll ?
Jika anak kita punya kesiapan dan kemampuan
untuk menggapai cita-cita yang tinggi (tidak setiap anak kita siap dan mampu).
Sedangkan orang tua pun mampu secara finasial dan mampu mendukung anak dengan
baik, maka permudah anak untuk menggapai cita-citanya sebagai bentuk rasa syukur
kita pada Allah Ta’ala. Sebab kita telah terpilih menjadi saah satu orang tua
yang diberikan kemudahan dan kesempatan untuk mendampingi anak menggapai cita-citanya
tertinggi.
Wallahu 'alam bishowab
________
MENDIDIK ANAK BERKARAKTER SEJAK USIA DINI (Diambilkan dari Catatan harian Pola Pendidikan di PONPES TAHFIZHUL QUR'AN "KH khoirotun Hisan"
PENDAFTARAN SETIAP SAAT SELAMA KUOTA MASIH ADA
DAPATKAN BUKU :
SERIAL 01 MENDIDIK ANAK BERKARAKTER SEJAK
USIA DINI (BERBASIS PESANTREN)/ 0823 2474 5151






Posting Komentar
Yuk, tinggalkan komentar mu