CATATAN 98 : KETIKA PROSES PEMBANGUNAN/ PERBAIKAN KARAKTER DASAR ANAK “TERSANDRA” OLEH KURIKULUM (Oleh : Nashrullah Jumadi)

  

Manusia adalah makhluk Allah yang beri karunia akal, dari akal inilah yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya. Sehingga manusia dituntut untuk terus belajar dan belajar. Sebagai makhluk pembelajaran manusia membutuhkan pengasuhan/pendidikan yang berkelanjutan agar mampu menjalani kehidupannya dengan baik.

 

Maka, ketika anak manusia terlahir di dunia dan tumbuh menjadi dewasa kemudian menjadi sosok orang tua, sejatinya Allah Ta’ala memberikannya fitroh pada setiap orang tua MAMPU DAN BISA MENDIDIK ANAK mereka menjadi anak sholeh/ah dengan baik. Begitu pula sosok anak yang terlahir di dunia, mereka memiliki fitroh SIAP UNTUK MENERIMA PENGASUHAN/PENDIDIKAN dari orang tuanya atau orang terdekat anak.

 

Tidak hanya itu saja, Allah Ta’ala juga MENITIPKAN RIZQI ANAK yang diamanahkan Allah Ta’ala pada setiap orang tua/keluarga terdekat anak agar orang tua benar-benar mampu, punya cukup waktu, tidak terbebani nanti anaknya mau dikasih makan apa dll, sehingga  orang tua dalam mendidik anak bisa fokus dan mendapatkan hasil yang terbaik dalam mendidik anak. Jadi setiap orang tua punya fitroh mendidik anak, anak pun punya fitroh untuk siap dididik dengan baik, sedangkan rizqi anak Allah Ta’ala pun telah menyiapkan semuanya.

 

ujian Tahfizh Qur'an 


Hari penjelasan diatas, rasanya tidak mungkin dan hampir dikatakan mustahil ada orang tua yang sampai gagal mendidik anak, terlebih lagi jika kegagalan itu diakibatkan ketakutan tidak bisa ngasih makan anak-anaknya nanti dan kuatir dengan masa depan anak kelak. 

Tapi kenyataan lain, banyak kita temukan orang tua yang justru gagal membangun karakter dasar anak dan tak mampu mendidik anaknya dengan baik disaat anak masih membutuhkan pengasuhan/pendidikan dari orang tua/keluarga terdekat anak. Orang tua yang tak mampu mendidik anaknya menjadi anak sholeh/ah, maka sudah bisa dipastikan orang tua tersebut telah keluar/meninggalkan dari fitroh yang seharusnya dijaga dan dirawatnya dengan baik.

 

Sedangkan anak sendiri yang secara fitroh telah siap untuk menerima pendidikan dasar dari orang tua hingga dewasa, sejatinya memliki rentang waktu yang cukup untuk membangun karakter dasarnya dengan baik, yakni pada usia 0 s/d 15 tahun.

Rentang waktu usia 0 s/d 15 tahun usia anak adalah waktu emas yang dimiliki oleh setiap orang tua untuk membangun karakter dasar anak dengan baik saat anak dekat/bersama orang tua.

 

Orang tua yang pendidikannya tinggi punya gelar akademik yang hebat punya waktu yang sama dengan orang tua yang punya pendidikan rendah. Orang tua kaya, punya jabatan dll pun,  punya waktu yang sama dengan orang tua miskin dan warga biasa. Maknanya bahwa setiap orang tua punya modal waktu yang sama dalam membangun karakter dasar anak-anak mereka dengan baik.


OTTOMAN LIBRARY 
GERAKAN LIERASI ANAK NEGERI 

Pertanyaanya, kenapa rentang waktu usia 0 s/sd 15 tahun usia anak banyak orang tua (mungkin kita salah satunya) yang tak bisa/ mampu membangun karakter dasar anak dengan baik ? Ada banyak faktor yang mempengaruhinya, mari kita urai satu persatu, faktor itu antara lain :

1.     Banyak orang tua yang sengaja/tidak sengaja KELUAR/ MENINGGALKAN FITROHNYA sebagai orang tua dalam mengasuh dan mendidik anak, sebab mereka beranggapan hadirnya anak adalah beban hidup, pengeluaran biaya yang tak sedikit, tidak betah berlama-lama dengan anak, banyak anak merepotkan, banyaknya anak menghambat kesuksesan, anak membuat lelah dll   

Akhirnya, banyak kita temukan orang tua yang memilih untuk meninggalkan dan tidak merawat fitrohnya dengan baik sebagai orang tua. Akibatnya lahirlah seorang laki-laki/suami/ayah yang tak mampu mendidik keluarganya (istri dan anak2nya) sendiri. Lahir pula sosok wanita/istri/ibu yang tak mampu mendidik anak dengan baik. Semua ini berawal dari meninggalkan/tidak merawat fitroh yang telah Allah Ta’ala berikan dengan baik.   

  

2.     Orang tua yang TAK TERDIDIK DENGAN BAIK oleh orang tuanya ketika kecil dulu sehingga dirinya tak memiliki modal untuk mendidik anak dengan baik. _(baca catatan saya sebelunya : Jika tak memiliki, maka tak akan mampu memberi)_. Ditambah lagi dirinya enggan belajar dan siap berubah menjadi lebih baik untuk anak.

 

3.     TIDAK MEMILIKI ILMU MENDIDIK ANAK DENGAN BAIK sebab ilmu tentang mendidik anak dianggap tidak penting atau berpikir nanti juga bisa dipelajari kalau benar-benar sudah berkeluarga. Akhirnya, lahirlah orang tua yang minim literasi tentang pendidikan anak.

 

4.     Banyak orang tua yang TIDAK FOKUS DALAM MENDIDIK ANAK disaat anak membutuhkan proses pendidikan yang baik dari orang tua, sebab orang tua sibuk dengan urusanya sendiri atau urusan menata ekonomi keluarga. Ingin bisa segera sukses sebagaimana lainnya, tapi dirinya tak menyadari bahwa ternyata masih ada amanah anak-anak (Usia 0 s/d 15 tahun) yang membutuhkan dukungan dan perhatian terbaik dari orang tuanya.

 

5.     ORANG TUA YANG KEKANAK-KANAKAN ikut menjadi andil tak terbangunnya karakter anak-anak kita dengan baik. Dhohirnya dan usianya sih sebagaimana orang tua yang matang, tapi karakter, sikap dan prilakunya bak ubahnya masih kekanak-kanakan.

 

6.     Orang tua TERLALU BANYAK KEINGINAN terhadap proses pendidikan anak, sedangkan anaknya masih pada usia dasar yakni Usia 0 s/d 15 Tahun. Ingin anaknya bisa ini dan itu, ingin anaknya hafal qur’an 30 juz, punya keilmuan mumpuni, bisa teknologi, menguasai bahasa, punya karakter hebat, punya kebiasaan yang baik dll, tapi tidak tahu cara memberinya.

 

Jika kita ibaratkan proses pengasuhan/pendidikan adalah menu makanan, maka orang tua yang pintar, paham dan bijak mendidik anak tentunya tidak sembarangan memberi makan meskipun makanan itu baik dan punya nilai gizi tinggi pada anak, tapi memberikannya sesuai dengan kebutuhan anak dengan porsi yang tepat. Sebab dengan gizi terbaik dan porsi yang tepat, akan menjadikan anak sehat dan tumbuh kembangnya pun akan baik, tidak terjadi obesitas dan sakit-sakitan

 

Inilah ke 6 point yang seringkali merusak proses pembangunan karakter dasar anak-anak kita saat ini. Sehingga karakter dasar yang seharusnya punya cukup waktu untuk kita berikan pada anak-anak kita, justru tak fokus dan tak bisa maksimal diberikan.


SEKOLAH MANDIRI ENTREPREUNERSHIP (SME) 

Padahal karakter dasar anak, jika kita ibaratkan bangunan rumah dia adalah pondasi awal yang akan menjadi pendompang seluruh stuktur bangunan yang ada di atasnya. Pondasi yang kokoh tentu dibangun tidak asal-asalan, terlebih lagi pondasi gedung pencakar langit, semua harus diperhitugkan dan direncanakan dengan matang, fokus, totalitas, diberi perhatian terbaik, siap dengan anggaran maksial, dikerjakan dengan baik dll

 

Tapi, sayangnya disaat proses pembangunan karakter dasar anak sudah dilakukan dengan baik saat anak dekat/bersama orang tua di rumah, kemudian anak sudah memasuki usia sekolah,  khususnya usia SD/MI s/d SMP/MTs anak sudah dibebani dengan banyak tugas2 sekolah yang luar biasa, sebagai bagian dari mengejar target kurikulum sekolah yang harus tuntas untuk waktu tertentu.

 

Bahkan banyak anak-anak kita diusia dini sudah harus mulai sekolah melalui pendidikan usia dini. Hari ini banyak orang tua yang tak berani mengambil jalan beda dalam mendidik anak yakni anak usia 0 s/d 6 (sebelum sekolah SD/MI) dididik sendiri di rumah karena ada sekian banyak alasan  

KH PEDULI 

Hadirnya kurikulum ponpes/ sekolah diera pendidikan modern saat ini, tidak serta merta baik untuk proses pengasuhan/ pendidikan anak-anak kita, khususnya terkait dengan membangun/ memperbaiki karakter dasar anak. Mungkin saja kehadiran kurikulum ini baik untuk proses pendidikan anak dalam hal kelimuan/ pengembangan bakat/ mengasah ketrampilan anak dll agar mendapatkan hasil yang maksimal dengan pengeluaran yang minimal, tapi tidak dengan membangun/ memperbaiki karakter dasar anak.   

 

Membangun/memperbaiki karakter dasar anak tidak boleh “tersandra” oleh kurikulum, dia harus berjalan sealamiyah mungkin, sebab masing-masing anak butuh penanganan yang berbeda satu sama lainnya. Anak yang “punya masalah” tentu beda dengan anak yang “tak punya masalah”, anak yang “punya masalah” butuh cukup waktu untuk membangun/ memperbaiki karakter dasar anak dan tidak bisa dibatasi kurun waktu tertentu, misalkan 3 tahun dll

 

Sayangnya hari ini pola pendidikan berbasis kurikulum ini banyak dipakai di pondok pesatren kita saat ini. Waktu lamanya anak di ponpes anak dibatasi dengan target pembelajaran kurikulum yang harus diselesaikan dan waktu yang dibatasi dengan ijazah formalitas sekolah anak. Bahkan ponpes yang katanya sih pakai sistem mulazamah pun seringkali “tersandra” oleh kurikulum yang ada, tak mampu dan berani mengambil jalan beda sebab kuatir nanti tak mendapatkan santri/wati baru.

 

Sebab banyak ponpes yang perjalanan pondoknya ditompang oleh spp bulanan santri/watinya, sehingga jika berani mengambil jalan beda kuatir tidak mendapatkan santri/wati baru (minim peminat ditengah persaingan ponpes yang ada). Akhirnya mencari jalan aman adalah langkah yang menurutnya paling rasional, walaupun banyak sisi pendidikan anak yang fondamental harus dikorbankan, yakni proses membangun/memperbaiki karakter dasar anak yang tak tuntas.  

 

Tak peduli proses pembanguan/ perbaikan karakter dasar anak di ponpes tuntas atau tidak, kalau target kurikulum dan waktu nya sudah tersampaikan, maka anak harus diluluskan (keluar pondok) sebab sistem dan kurikulum yang menghendaki.

 

Akhirnya pola pengasuhan pondok yang menjadi indikator real model karakter anak, terkalahkan dengan sistem dan kurikulum yang diterapkan pondok. Sehingga jika kurikulum sudah selesai maka otomatis pola pengasuhan anak juga ikut-ikutan selesai.

 

Padahal bisa saja pola pengasuhan pondok dijadikan dasar pijakan berjalannya kurikulum di ponpes. Maknanya jika anak mampu menyelsaikan kurikulum dengan cepat dan mudah, sedangkan karakternya belum beres anak tidak diijinkan untuk keluar dari pondok sampai benar-benar pengasuhan pondok maksimal dan tuntas diberikan pada anak. Cuma kebijakan ini tentu tidak poluler jika diterapkan pada ponpes era saat ini, kecuali ponpes yang mengusung KONSEP PONPES TEMPO DULU.       

 

 

Wallahu 'alam bishowab

________

MENDIDIK ANAK BERKARAKTER SEJAK USIA DINI (Diambilkan dari Catatan harian Pola Pendidikan di PONPES TAHFIZHUL QUR'AN "KH khoirotun Hisan"  

PENDAFTARAN SETIAP SAAT SELAMA KUOTA MASIH ADA 

DAPATKAN BUKU :

SERIAL 01 MENDIDIK ANAK BERKARAKTER SEJAK USIA DINI (BERBASIS PESANTREN)/ 0823 2474 5151

 

 

0/Post a Comment/Comments

Yuk, tinggalkan komentar mu

Ads1
Ads2