Manusia adalah makhluk Allah yang beri
karunia akal, dari akal inilah yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya. Sehingga
manusia dituntut untuk terus belajar dan belajar. Sebagai makhluk pembelajaran
manusia membutuhkan pengasuhan/pendidikan yang berkelanjutan agar mampu
menjalani kehidupannya dengan baik.
Maka, ketika anak manusia terlahir di dunia
dan tumbuh menjadi dewasa kemudian menjadi sosok orang tua, sejatinya Allah
Ta’ala memberikannya fitroh pada setiap orang tua MAMPU DAN BISA MENDIDIK ANAK mereka
menjadi anak sholeh/ah dengan baik. Begitu pula sosok anak yang terlahir di
dunia, mereka memiliki fitroh SIAP UNTUK MENERIMA PENGASUHAN/PENDIDIKAN dari
orang tuanya atau orang terdekat anak.
Tidak hanya itu saja, Allah Ta’ala juga
MENITIPKAN RIZQI ANAK yang diamanahkan Allah Ta’ala pada setiap orang tua/keluarga
terdekat anak agar orang tua benar-benar mampu, punya cukup waktu, tidak
terbebani nanti anaknya mau dikasih makan apa dll, sehingga orang tua dalam mendidik anak bisa fokus dan mendapatkan
hasil yang terbaik dalam mendidik anak. Jadi setiap orang tua punya fitroh
mendidik anak, anak pun punya fitroh untuk siap dididik dengan baik, sedangkan
rizqi anak Allah Ta’ala pun telah menyiapkan semuanya.
Hari penjelasan diatas, rasanya tidak mungkin dan hampir dikatakan mustahil ada orang tua yang sampai gagal mendidik anak, terlebih lagi jika kegagalan itu diakibatkan ketakutan tidak bisa ngasih makan anak-anaknya nanti dan kuatir dengan masa depan anak kelak.
Tapi kenyataan lain, banyak kita temukan orang
tua yang justru gagal membangun karakter dasar anak dan tak mampu mendidik anaknya
dengan baik disaat anak masih membutuhkan pengasuhan/pendidikan dari orang
tua/keluarga terdekat anak. Orang tua yang tak mampu mendidik anaknya menjadi
anak sholeh/ah, maka sudah bisa dipastikan orang tua tersebut telah keluar/meninggalkan
dari fitroh yang seharusnya dijaga dan dirawatnya dengan baik.
Sedangkan anak sendiri yang secara fitroh telah
siap untuk menerima pendidikan dasar dari orang tua hingga dewasa, sejatinya memliki
rentang waktu yang cukup untuk membangun karakter dasarnya dengan baik, yakni pada
usia 0 s/d 15 tahun.
Rentang waktu usia 0 s/d 15 tahun usia anak
adalah waktu emas yang dimiliki oleh setiap orang tua untuk membangun karakter
dasar anak dengan baik saat anak dekat/bersama orang tua.
Orang tua yang pendidikannya tinggi punya gelar akademik yang hebat punya waktu yang sama dengan orang tua yang punya pendidikan rendah. Orang tua kaya, punya jabatan dll pun, punya waktu yang sama dengan orang tua miskin dan warga biasa. Maknanya bahwa setiap orang tua punya modal waktu yang sama dalam membangun karakter dasar anak-anak mereka dengan baik.
Pertanyaanya, kenapa rentang waktu usia 0 s/sd 15 tahun usia anak banyak orang tua (mungkin kita salah satunya) yang tak bisa/ mampu membangun karakter dasar anak dengan baik ? Ada banyak faktor yang mempengaruhinya, mari kita urai satu persatu, faktor itu antara lain :
1. Banyak orang tua yang sengaja/tidak sengaja KELUAR/ MENINGGALKAN FITROHNYA sebagai orang tua dalam mengasuh dan mendidik anak, sebab mereka beranggapan hadirnya anak adalah beban hidup, pengeluaran biaya yang tak sedikit, tidak betah berlama-lama dengan anak, banyak anak merepotkan, banyaknya anak menghambat kesuksesan, anak membuat lelah dll
Akhirnya, banyak kita
temukan orang tua yang memilih untuk meninggalkan dan tidak merawat fitrohnya
dengan baik sebagai orang tua. Akibatnya lahirlah seorang laki-laki/suami/ayah
yang tak mampu mendidik keluarganya (istri dan anak2nya) sendiri. Lahir pula
sosok wanita/istri/ibu yang tak mampu mendidik anak dengan baik. Semua ini
berawal dari meninggalkan/tidak merawat fitroh yang telah Allah Ta’ala berikan dengan
baik.
2.
Orang
tua yang TAK TERDIDIK DENGAN BAIK oleh orang tuanya ketika kecil dulu sehingga
dirinya tak memiliki modal untuk mendidik anak dengan baik. _(baca catatan saya
sebelunya : Jika tak memiliki, maka tak akan mampu memberi)_. Ditambah lagi
dirinya enggan belajar dan siap berubah menjadi lebih baik untuk anak.
3.
TIDAK
MEMILIKI ILMU MENDIDIK ANAK DENGAN BAIK sebab ilmu tentang mendidik anak dianggap
tidak penting atau berpikir nanti juga bisa dipelajari kalau benar-benar sudah
berkeluarga. Akhirnya, lahirlah orang tua yang minim literasi tentang
pendidikan anak.
4.
Banyak
orang tua yang TIDAK FOKUS DALAM MENDIDIK ANAK disaat anak membutuhkan proses
pendidikan yang baik dari orang tua, sebab orang tua sibuk dengan urusanya
sendiri atau urusan menata ekonomi keluarga. Ingin bisa segera sukses
sebagaimana lainnya, tapi dirinya tak menyadari bahwa ternyata masih ada amanah
anak-anak (Usia 0 s/d 15 tahun) yang membutuhkan dukungan dan perhatian terbaik
dari orang tuanya.
5.
ORANG
TUA YANG KEKANAK-KANAKAN ikut menjadi andil tak terbangunnya karakter anak-anak
kita dengan baik. Dhohirnya dan usianya sih sebagaimana orang tua yang matang,
tapi karakter, sikap dan prilakunya bak ubahnya masih kekanak-kanakan.
6.
Orang
tua TERLALU BANYAK KEINGINAN terhadap proses pendidikan anak, sedangkan anaknya
masih pada usia dasar yakni Usia 0 s/d 15 Tahun. Ingin anaknya bisa ini dan
itu, ingin anaknya hafal qur’an 30 juz, punya keilmuan mumpuni, bisa teknologi,
menguasai bahasa, punya karakter hebat, punya kebiasaan yang baik dll, tapi
tidak tahu cara memberinya.
Jika kita ibaratkan
proses pengasuhan/pendidikan adalah menu makanan, maka orang tua yang pintar,
paham dan bijak mendidik anak tentunya tidak sembarangan memberi makan meskipun
makanan itu baik dan punya nilai gizi tinggi pada anak, tapi memberikannya
sesuai dengan kebutuhan anak dengan porsi yang tepat. Sebab dengan gizi terbaik
dan porsi yang tepat, akan menjadikan anak sehat dan tumbuh kembangnya pun akan
baik, tidak terjadi obesitas dan sakit-sakitan
Inilah ke 6 point yang seringkali merusak
proses pembangunan karakter dasar anak-anak kita saat ini. Sehingga karakter
dasar yang seharusnya punya cukup waktu untuk kita berikan pada anak-anak kita,
justru tak fokus dan tak bisa maksimal diberikan.
Padahal karakter dasar anak, jika kita ibaratkan bangunan rumah dia adalah pondasi awal yang akan menjadi pendompang seluruh stuktur bangunan yang ada di atasnya. Pondasi yang kokoh tentu dibangun tidak asal-asalan, terlebih lagi pondasi gedung pencakar langit, semua harus diperhitugkan dan direncanakan dengan matang, fokus, totalitas, diberi perhatian terbaik, siap dengan anggaran maksial, dikerjakan dengan baik dll
Tapi, sayangnya disaat proses pembangunan
karakter dasar anak sudah dilakukan dengan baik saat anak dekat/bersama orang
tua di rumah, kemudian anak sudah memasuki usia sekolah, khususnya usia SD/MI s/d SMP/MTs anak sudah
dibebani dengan banyak tugas2 sekolah yang luar biasa, sebagai bagian dari
mengejar target kurikulum sekolah yang harus tuntas untuk waktu tertentu.
Bahkan banyak anak-anak kita diusia dini sudah harus mulai sekolah melalui pendidikan usia dini. Hari ini banyak orang tua yang tak berani mengambil jalan beda dalam mendidik anak yakni anak usia 0 s/d 6 (sebelum sekolah SD/MI) dididik sendiri di rumah karena ada sekian banyak alasan
Hadirnya kurikulum ponpes/ sekolah diera pendidikan modern saat ini, tidak serta merta baik untuk proses pengasuhan/ pendidikan anak-anak kita, khususnya terkait dengan membangun/ memperbaiki karakter dasar anak. Mungkin saja kehadiran kurikulum ini baik untuk proses pendidikan anak dalam hal kelimuan/ pengembangan bakat/ mengasah ketrampilan anak dll agar mendapatkan hasil yang maksimal dengan pengeluaran yang minimal, tapi tidak dengan membangun/ memperbaiki karakter dasar anak.
Membangun/memperbaiki karakter dasar anak
tidak boleh “tersandra” oleh kurikulum, dia harus berjalan sealamiyah mungkin,
sebab masing-masing anak butuh penanganan yang berbeda satu sama lainnya. Anak
yang “punya masalah” tentu beda dengan anak yang “tak punya masalah”, anak yang
“punya masalah” butuh cukup waktu untuk membangun/ memperbaiki karakter dasar
anak dan tidak bisa dibatasi kurun waktu tertentu, misalkan 3 tahun dll
Sayangnya hari ini pola pendidikan berbasis
kurikulum ini banyak dipakai di pondok pesatren kita saat ini. Waktu lamanya
anak di ponpes anak dibatasi dengan target pembelajaran kurikulum yang harus diselesaikan
dan waktu yang dibatasi dengan ijazah formalitas sekolah anak. Bahkan ponpes
yang katanya sih pakai sistem mulazamah pun seringkali “tersandra” oleh
kurikulum yang ada, tak mampu dan berani mengambil jalan beda sebab kuatir
nanti tak mendapatkan santri/wati baru.
Sebab banyak ponpes yang perjalanan pondoknya
ditompang oleh spp bulanan santri/watinya, sehingga jika berani mengambil jalan
beda kuatir tidak mendapatkan santri/wati baru (minim peminat ditengah
persaingan ponpes yang ada). Akhirnya mencari jalan aman adalah langkah yang
menurutnya paling rasional, walaupun banyak sisi pendidikan anak yang
fondamental harus dikorbankan, yakni proses membangun/memperbaiki karakter
dasar anak yang tak tuntas.
Tak peduli proses pembanguan/ perbaikan karakter
dasar anak di ponpes tuntas atau tidak, kalau target kurikulum dan waktu nya
sudah tersampaikan, maka anak harus diluluskan (keluar pondok) sebab sistem dan
kurikulum yang menghendaki.
Akhirnya pola pengasuhan pondok yang menjadi indikator
real model karakter anak, terkalahkan dengan sistem dan kurikulum yang
diterapkan pondok. Sehingga jika kurikulum sudah selesai maka otomatis pola
pengasuhan anak juga ikut-ikutan selesai.
Padahal bisa saja pola pengasuhan pondok
dijadikan dasar pijakan berjalannya kurikulum di ponpes. Maknanya jika anak
mampu menyelsaikan kurikulum dengan cepat dan mudah, sedangkan karakternya belum
beres anak tidak diijinkan untuk keluar dari pondok sampai benar-benar pengasuhan
pondok maksimal dan tuntas diberikan pada anak. Cuma kebijakan ini tentu tidak
poluler jika diterapkan pada ponpes era saat ini, kecuali ponpes yang mengusung
KONSEP PONPES TEMPO DULU.
Wallahu 'alam bishowab
________
MENDIDIK ANAK BERKARAKTER SEJAK USIA DINI (Diambilkan dari Catatan harian Pola Pendidikan di PONPES TAHFIZHUL QUR'AN "KH khoirotun Hisan"
PENDAFTARAN SETIAP SAAT SELAMA KUOTA MASIH ADA
DAPATKAN BUKU :
SERIAL 01 MENDIDIK ANAK BERKARAKTER SEJAK
USIA DINI (BERBASIS PESANTREN)/ 0823 2474 5151







Posting Komentar
Yuk, tinggalkan komentar mu