Pribahasa yang mengatakan : BUAH JATUH TIDAK
JAUH DARI POHONNYA, pribahasa ini untuk mengambarkan pada kita kemiripan antara
orang tua dan anak. Bahwa ucapan, sikap dan prilaku anak atau bahasa kerennya
karakter dasar anak tak jauh dari karakter orang tua. Jika kita menemukan buah
jatuh, sudah pasti naluri kita akan melihat ke atas dan memastikan dari pohon terdekat
mana asal buah yang jatuh tersebut. Sebab memang tidak akan pernah ada buah jatuh
dari pohon lainnya, apalagi posisinya berjauhan.
Pribahasa ini memberikan pelajaran pada kita
bahwa pada prinsipnya proses pendidikan karakter dasar anak, tak lepas dari
karakter dasar orang tuanya, maka proses membangun karakter dasar anak mustahil
dilakukan jika tidak diiringi dengan proses membangun kesadaran orang tua untuk
BELAJAR dan BERUBAH demi anak-anaknya. Bukan merubah orang tua melalui proses
pendidikan kembali sebagai mana saat kecil, tapi membangun/menumbuhkan
kesadaran orang tua demi kebaikkan anak ke depan.
Maka kunci keberhasilan anak mondok di
pesantren sejatinya bukan ditentukan seberapa hebatnya pengasuh pondok,
seberapa megahnya pondok atau seberapa komplitnya sarana prasarana pondok, tapi
akumulasi dari 3 proses, antara lain :
- 1. Bagaimana proses membangun karakter dasar anak selama anak dekat/bersama orang tuanya di rumah (ini yang paling fundamental bagi kebaikkan anak ke depan)
- 2. Lingkungan terdekat anak, baik dari keluarga, tetangga atau teman-teman anak
- 3. Pengasuh pesantren, dengan syarat ikhlas dan siap dididik selama mondok di pesantren
Dari ke 3 hal ini, point No. 1 adalah kunci
utama keberhasilan anak mondok di pesantren, selebihnya adalah pelengkap dan
penguat semata
Kembali pada tema diatas, anak sejatinya
terlahir dalam kondisi fitroh (MENTAUHIDKAN ALLAH TA’ALA dan SIAP DIDIDIK
MENJADI ANAK SHOLEH/AH). Maka, ketika anak manusia terlahir di dunia kaidah
secara umum mengharuskan adanya orang tua yang melahirkannya, mengasuh,
merawat, dan mendidiknya dengan baik (Kecuali Nabi Isa Allahisalam yang Allah
Takdirkan lahir tanpa sosok ayah), semua itu mutlak atas kehendak Allah semata.
Untuk itulah, untuk menjadi pribadi yang baik, manusia membutuhkan proses
pengasuhan/ pendidikan dari orang tuanya.
Kemudian Allah lah yang mengamanahkan anak-anak
ini pada setiap orang tua yang dikehendakiNya untuk menjaga FITROH ANAK agar
tetap lurus dan DIDIDIK MENJADI ANAK SHOLEH/AH. Dalam hal ini orang tua tidak
bisa memilih anak model apa yang akan menjadi anaknya di dunia dan anak pun juga
tak bisa memilih orang tua mana yang akan melahirkannya, kecuali orang tua/anak
ikhlas dan ridho sebagai bagian dari takdir/ketentuan yang telah Allah Ta’ala
tetapkan.
Sayangnya tidak setiap orang tua yang
diamanahi anak oleh Allah Ta’ala siap
dan mampu mendidiknya dengan baik. Padahal Allah tidak menyuruh kita untuk terus-terusan
mendidik anak sepanjang waktu dan sepanjang jatah usia kita. Allah hanya meminta
kurun waktu yang singkat pada kita disaat anak membutuhkan pengasuhan/pendidikan
yang baik sebagai hak anak yang wajib diberikan. Selebihnya adalah bonus orang
tua, ketika anak telah mampu menjadi dirinya sendiri atau di saat kedudukan
orang tua dan anak sama dimata Allah Ta’ala
Disamping itu, Allah mengamanahkan anak pada
orang tua tidak dengan “kosongan”, tapi
Allah pun juga menyertakan rizqi anak pada setiap orang tua. Jadi jangan merasa
orang tua hebat, sukses atau merasa selama ini hidup berkecukupan dll, bisa
jadi itu adalah rizqi salah satu atau berapa anak yang diamanah kita selama
ini.
Maka, jangan disalahkan jika ada ungkapan
banyak anak banyak rizqi, ungkapan yang harus didasarkan pada kokohnya aqidah
dan keyakinan atas rizqi yang Allah Ta’ala berikan pada semua makhlukNya. Bahwa
rizqi kita tak akan pernah tertukar atau salah alamat. Sedangkan jika kita
diharuskan berusaha, semua itu adalah bagian dari ketentuan syari’ah, bahwa
rizqi harus dijemput dengan ikhtiar dan usaha sebagai bagian dari kita ibadah
pada Allah Ta’ala. Selebihnya rizqi adalah mutlak hak Allah Ta’ala, Allah punya
hak untuk melapangkan dan menyempitkan siapa-siapa yang dikehendakiNya.
Tapi kenyataannya, banyak orang tua yang justru
dihinggapi ketakutan tidak bisa memberi makan dan takut dengan masa depan anak
kelak dll, semua itu tak lain karena lemahnya aqidah dan terlalu condong pada
dunia saat anak bersama orang tua. Sebab punya keinginan yang berlebihan pada
urusan dunia, akhirnya orang tua pun menuntut anak secara berlebihan, padahal sejatinya
tugas pokok orang tua hanya sebatas mendidik anak menjadi anak sholeh/ah,
sedangkan lainya adalah bonus orang tua.
Ya, yang namanya bonus ada yang mendapatkan
sempurna, ada yang mendapatkan sebagian, bahkan ada yang tidak mendapatkan
apa-apa. Yang penting, anak masih dalam koridor /bingkai anak sholeh/ah
Kemudian ketika seorang tumbuh dari anak-anak
menjadi dewasa, berlanjut pada level jadi orang tua yang sesungguhnya
(diamanahi anak) setiap orang tua diberikan modal yang sama oleh Allah Ta’ala
agar anak-anak yang diamanahkan padanya bisa terdidik dengan baik, tanpa terkontaminasi
keburukan masa lalu orang tuanya, sebab sejatinya setiap orang tua berawal dari
TITIK NOL yang sama ketika amanah anak itu telah datang pada nya.
Anak adalah darah daging orang tuanya
(khususnya ayahnya) dan anak adalah cerminan dari orang tuanya, maka pada diri
seorang anak terkumpul pada dirinya sebagian dari ayahnya dan sebagian dari
ibunya. Tinggal sebagian itu mana yang lebih dominan dan mana yang paling
memberikan pengaruh bagi anak. Tentu kita sebagai orang tua berharap yang terkumpul
pada diri anak-anak kita adalah berbagai kebaikan-kebaikan yang dimiliki ayah/ibunya
dan meminimalkan keburukan yang ada pada kita sebagai orang tua agar tak
tertanam pada anak-anak kita.
Sebab pada kenyataanya ada anak yang terkumpul
berbagai keburukan ayah dan ibunya sekaligus. Ada pula yang terkumpul keburukan
dari ayahnya dan kebaikkan ibunya atau sebaliknya.
Sisi kebaikkan dan keburukan orang tua itu
adalah keniscayaan, maknanya bahwa setiap orang tua tidak ada yang sempurna dan
hanya memiliki sisi kebaikkan semata. Maka pada diri setiap orang tua pasti berkumpul
padanya sisi kebaikkan/keburukan sekaligus. Terlebih lagi suami/istri kita yang
notabene bukan prodak didikan kita sendiri, tapi prodak didikan dari mertua
kita, sehingga ada diantara kita bisa berjodoh dengan suami/istri yang terdidik
dengan baik, ada yang tak terdidik dengan baik dll, semua adalah bagian dari
takdir yang harus diterima dengan ikhlas dan ridho
Pertanyaannya, jika pada diri setiap orang
tua terkumpul sisi kebaikkan/keburukan lalu dengan apa kita menanamkan pada
anak-anak kita, agar anak-anak tertanam dengan berbagai kebaikan yang dimiliki ayah/ibunya
dan minim keburukan ? yakni :
1. MELALUI
PROSES PENDIDIKAN YANG BAIK DAN BENAR, yakni proses pendidikan yang tidak
sekedar baik jika ditinjau dari konsep pendidikan, tapi juga benar menurut
konsep pendidikan illahiyyah (baca pada catatan saya sebelumnya)
Proses pendidikan
yang baik itu bertumpu pada 3 hal, yang seharusnya
setiap orang tua punya bekal yang cukup untuk mendidik anak-anak mereka, antara
lain :
· Pendidikan
yang selaras dengan FITROH ANAK (Mentauhidkan Allah Ta’lla)
· Pendidikan
yang sesuai dengan SIKAP, PRILAKU ANAK dan selaras dengan USIA ANAK
· Pendidikan
yang tidak mengabaikan HAK- HAK ANAK
2. Jika
kita tak mampu mendidik anak kita dengan baik dan benar minimal kita TAK
MERUSAK ANAK DENGAN UCAPAN, SIKAP DAN PRILAKU BURUK KITA.
Sebagaimana perkataan
Abul Ala’ mengatakan melalui syairnya :
ANAK-ANAK KITA AKAN
TUMBUH MENURUT APA YANG DIBIASAKAN OLEH ORANG TUANYA, ANAK TIDAK LAH MENJADI
TERCELA OLEH AKALNYA, NAMUN ORANG-ORANG DEKATNYA YANG MEMBUATNYA HINA
Maknanya bahwa
anak-anak kita sejatinya tumbuh pada prinsip dan pola hidup yang sudah benar
menurut fitrohnya, tapi ketika anak tumbuh di tengah orang tua yang tak bisa
mendidik anak dengan baik dan benar, maka anak akan tumbuh menjadi anak yang
rusak ucapan, sikap dan prilakunya
Contohkan
sederhananya yakni :
Jika kita sebagai
orang tua, menghendaki anak-anak kita nantinya mampu menjaga waktu subuhnya
dengan baik, bisa bangun sholat subuh di masjid (laki-laki), minimal yang bisa
di tanamkan orang tua yakni jangan ajari anak bergadang malam tanpa alasan syar’i.
Atau jika kita ingin
anak kita nanti tidak menjadi seorang perokok saat muda/menjadi orang tua,
minimal jangan merokok di depan anak atau diketahui anak. Jika, kita ingin anak
kita rajin mengerjakan berbagai pekerjaan rumah membantu orang tua, minimal
tampilkan sosok orang tua yang rajin di depan anak-anak kita dll sekalipun kita
sebenarnya orang yang pemalas jika harus bersih-bersih rumah.
Intinya, jika setiap orang tua yang memiliki
sisi kebaikkan/keburukan mampu dan berjuang menampilkan sisi baiknya saja di
depan anak dan menutup rapat-rapat sisi buruk pada anak, niscaya anak akan
tumbuh menjadi pribadi yang baik sekalipun kita adalah orang tua yang tak mampu
mendidik anak dengan baik dan benar. Sebab anak akan tetap tumbuh sebagaimana
fitrohnya yang dimilikinya.
Sayangnya banyak kita temukan saat ini orang
tua yang tidak peduli dengan kebaikkan anak-anak mereka sendiri. Sudah tidak
bisa mendidik anak dengan baik dan benar, tapi justru merusak anak dengan
ucapan, sikap dan prilaku nya yang buruk. Mungkinkah orang tua model seperti
ini adalah kita ?
Wallahu 'alam bishowab
________
MENDIDIK ANAK BERKARAKTER SEJAK USIA DINI
(Diambilkan dari Catatan harian Pola Pendidikan di PONPES TAHFIZHUL QUR'AN
"KH khoirotun Hisan"
PENDAFTARAN SETIAP SAAT SELAMA KUOTA MASIH
ADA
DAPATKAN BUKU :
SERIAL 01 MENDIDIK ANAK BERKARAKTER SEJAK
USIA DINI (BERBASIS PESANTREN)/ 0823 2474 5151





Posting Komentar
Yuk, tinggalkan komentar mu