CATATAN 99 : JIKA KITA TAK BISA/MAMPU MENDIDIK ANAK DENGAN BAIK, MINIMAL JANGAN RUSAK ANAK KITA DENGAN UCAPAN, SIKAP & PRILAKU KITA YANG BURUK (Oleh : Nashrullah Jumadi)

 

 

Pribahasa yang mengatakan : BUAH JATUH TIDAK JAUH DARI POHONNYA, pribahasa ini untuk mengambarkan pada kita kemiripan antara orang tua dan anak. Bahwa ucapan, sikap dan prilaku anak atau bahasa kerennya karakter dasar anak tak jauh dari karakter orang tua. Jika kita menemukan buah jatuh, sudah pasti naluri kita akan melihat ke atas dan memastikan dari pohon terdekat mana asal buah yang jatuh tersebut. Sebab memang tidak akan pernah ada buah jatuh dari pohon lainnya, apalagi posisinya berjauhan. 

 

Pribahasa ini memberikan pelajaran pada kita bahwa pada prinsipnya proses pendidikan karakter dasar anak, tak lepas dari karakter dasar orang tuanya, maka proses membangun karakter dasar anak mustahil dilakukan jika tidak diiringi dengan proses membangun kesadaran orang tua untuk BELAJAR dan BERUBAH demi anak-anaknya. Bukan merubah orang tua melalui proses pendidikan kembali sebagai mana saat kecil, tapi membangun/menumbuhkan kesadaran orang tua demi kebaikkan anak ke depan.    

 

Maka kunci keberhasilan anak mondok di pesantren sejatinya bukan ditentukan seberapa hebatnya pengasuh pondok, seberapa megahnya pondok atau seberapa komplitnya sarana prasarana pondok, tapi akumulasi dari 3 proses, antara lain :

  1. 1. Bagaimana proses membangun karakter dasar  anak selama anak dekat/bersama orang tuanya di rumah (ini yang paling fundamental bagi kebaikkan anak ke depan)  
  2. 2. Lingkungan terdekat anak, baik dari keluarga, tetangga atau teman-teman anak
  3. 3.  Pengasuh pesantren, dengan syarat ikhlas dan siap dididik selama mondok di pesantren
 

Dari ke 3 hal ini, point No. 1 adalah kunci utama keberhasilan anak mondok di pesantren, selebihnya adalah pelengkap dan penguat semata

 

Kembali pada tema diatas, anak sejatinya terlahir dalam kondisi fitroh (MENTAUHIDKAN ALLAH TA’ALA dan SIAP DIDIDIK MENJADI ANAK SHOLEH/AH). Maka, ketika anak manusia terlahir di dunia kaidah secara umum mengharuskan adanya orang tua yang melahirkannya, mengasuh, merawat, dan mendidiknya dengan baik (Kecuali Nabi Isa Allahisalam yang Allah Takdirkan lahir tanpa sosok ayah), semua itu mutlak atas kehendak Allah semata. Untuk itulah, untuk menjadi pribadi yang baik, manusia membutuhkan proses pengasuhan/ pendidikan dari orang tuanya.    

 

Kemudian Allah lah yang mengamanahkan anak-anak ini pada setiap orang tua yang dikehendakiNya untuk menjaga FITROH ANAK agar tetap lurus dan DIDIDIK MENJADI ANAK SHOLEH/AH. Dalam hal ini orang tua tidak bisa memilih anak model apa yang akan menjadi anaknya di dunia dan anak pun juga tak bisa memilih orang tua mana yang akan melahirkannya, kecuali orang tua/anak ikhlas dan ridho sebagai bagian dari takdir/ketentuan yang telah Allah Ta’ala tetapkan. 


Sayangnya tidak setiap orang tua yang diamanahi anak oleh Allah Ta’ala  siap dan mampu mendidiknya dengan baik. Padahal Allah tidak menyuruh kita untuk terus-terusan mendidik anak sepanjang waktu dan sepanjang jatah usia kita. Allah hanya meminta kurun waktu yang singkat pada kita disaat anak membutuhkan pengasuhan/pendidikan yang baik sebagai hak anak yang wajib diberikan. Selebihnya adalah bonus orang tua, ketika anak telah mampu menjadi dirinya sendiri atau di saat kedudukan orang tua dan anak sama dimata Allah Ta’ala


OTTOMAN LIBRARY 


Disamping itu, Allah mengamanahkan anak pada orang tua tidak dengan “kosongan”,  tapi Allah pun juga menyertakan rizqi anak pada setiap orang tua. Jadi jangan merasa orang tua hebat, sukses atau merasa selama ini hidup berkecukupan dll, bisa jadi itu adalah rizqi salah satu atau berapa anak yang diamanah kita selama ini.

 

Maka, jangan disalahkan jika ada ungkapan banyak anak banyak rizqi, ungkapan yang harus didasarkan pada kokohnya aqidah dan keyakinan atas rizqi yang Allah Ta’ala berikan pada semua makhlukNya. Bahwa rizqi kita tak akan pernah tertukar atau salah alamat. Sedangkan jika kita diharuskan berusaha, semua itu adalah bagian dari ketentuan syari’ah, bahwa rizqi harus dijemput dengan ikhtiar dan usaha sebagai bagian dari kita ibadah pada Allah Ta’ala. Selebihnya rizqi adalah mutlak hak Allah Ta’ala, Allah punya hak untuk melapangkan dan menyempitkan siapa-siapa yang dikehendakiNya.

 

Tapi kenyataannya, banyak orang tua yang justru dihinggapi ketakutan tidak bisa memberi makan dan takut dengan masa depan anak kelak dll, semua itu tak lain karena lemahnya aqidah dan terlalu condong pada dunia saat anak bersama orang tua. Sebab punya keinginan yang berlebihan pada urusan dunia, akhirnya orang tua pun menuntut anak secara berlebihan, padahal sejatinya tugas pokok orang tua hanya sebatas mendidik anak menjadi anak sholeh/ah, sedangkan lainya adalah bonus orang tua.

 

Ya, yang namanya bonus ada yang mendapatkan sempurna, ada yang mendapatkan sebagian, bahkan ada yang tidak mendapatkan apa-apa. Yang penting, anak masih dalam koridor /bingkai anak sholeh/ah

 

Kemudian ketika seorang tumbuh dari anak-anak menjadi dewasa, berlanjut pada level jadi orang tua yang sesungguhnya (diamanahi anak) setiap orang tua diberikan modal yang sama oleh Allah Ta’ala agar anak-anak yang diamanahkan padanya bisa terdidik dengan baik, tanpa terkontaminasi keburukan masa lalu orang tuanya, sebab sejatinya setiap orang tua berawal dari TITIK NOL yang sama ketika amanah anak itu telah datang pada nya.  

 

Anak adalah darah daging orang tuanya (khususnya ayahnya) dan anak adalah cerminan dari orang tuanya, maka pada diri seorang anak terkumpul pada dirinya sebagian dari ayahnya dan sebagian dari ibunya. Tinggal sebagian itu mana yang lebih dominan dan mana yang paling memberikan pengaruh bagi anak. Tentu kita sebagai orang tua berharap yang terkumpul pada diri anak-anak kita adalah berbagai kebaikan-kebaikan yang dimiliki ayah/ibunya dan meminimalkan keburukan yang ada pada kita sebagai orang tua agar tak tertanam pada anak-anak kita.

 

Sebab pada kenyataanya ada anak yang terkumpul berbagai keburukan ayah dan ibunya sekaligus. Ada pula yang terkumpul keburukan dari ayahnya dan kebaikkan ibunya atau sebaliknya.

 

Sisi kebaikkan dan keburukan orang tua itu adalah keniscayaan, maknanya bahwa setiap orang tua tidak ada yang sempurna dan hanya memiliki sisi kebaikkan semata. Maka pada diri setiap orang tua pasti berkumpul padanya sisi kebaikkan/keburukan sekaligus. Terlebih lagi suami/istri kita yang notabene bukan prodak didikan kita sendiri, tapi prodak didikan dari mertua kita, sehingga ada diantara kita bisa berjodoh dengan suami/istri yang terdidik dengan baik, ada yang tak terdidik dengan baik dll, semua adalah bagian dari takdir yang harus diterima dengan ikhlas dan ridho

 


Pertanyaannya, jika pada diri setiap orang tua terkumpul sisi kebaikkan/keburukan lalu dengan apa kita menanamkan pada anak-anak kita, agar anak-anak tertanam dengan berbagai kebaikan yang dimiliki ayah/ibunya dan minim keburukan ? yakni :

1. MELALUI PROSES PENDIDIKAN YANG BAIK DAN BENAR, yakni proses pendidikan yang tidak sekedar baik jika ditinjau dari konsep pendidikan, tapi juga benar menurut konsep pendidikan illahiyyah (baca pada catatan saya sebelumnya)

 

Proses pendidikan yang baik itu bertumpu pada 3 hal,  yang seharusnya setiap orang tua punya bekal yang cukup untuk mendidik anak-anak mereka, antara lain :

·   Pendidikan yang selaras dengan FITROH ANAK (Mentauhidkan Allah Ta’lla)

·   Pendidikan yang sesuai dengan SIKAP, PRILAKU ANAK dan selaras dengan USIA ANAK

·  Pendidikan yang tidak mengabaikan HAK- HAK ANAK

 

2. Jika kita tak mampu mendidik anak kita dengan baik dan benar minimal kita TAK MERUSAK ANAK DENGAN UCAPAN, SIKAP DAN PRILAKU BURUK KITA.

 

Sebagaimana perkataan Abul Ala’ mengatakan melalui syairnya :

ANAK-ANAK KITA AKAN TUMBUH MENURUT APA YANG DIBIASAKAN OLEH ORANG TUANYA, ANAK TIDAK LAH MENJADI TERCELA OLEH AKALNYA, NAMUN ORANG-ORANG DEKATNYA YANG MEMBUATNYA HINA

Maknanya bahwa anak-anak kita sejatinya tumbuh pada prinsip dan pola hidup yang sudah benar menurut fitrohnya, tapi ketika anak tumbuh di tengah orang tua yang tak bisa mendidik anak dengan baik dan benar, maka anak akan tumbuh menjadi anak yang rusak ucapan, sikap dan prilakunya

 

Contohkan sederhananya yakni :

Jika kita sebagai orang tua, menghendaki anak-anak kita nantinya mampu menjaga waktu subuhnya dengan baik, bisa bangun sholat subuh di masjid (laki-laki), minimal yang bisa di tanamkan orang tua yakni jangan ajari anak bergadang malam tanpa alasan syar’i.

 

Atau jika kita ingin anak kita nanti tidak menjadi seorang perokok saat muda/menjadi orang tua, minimal jangan merokok di depan anak atau diketahui anak. Jika, kita ingin anak kita rajin mengerjakan berbagai pekerjaan rumah membantu orang tua, minimal tampilkan sosok orang tua yang rajin di depan anak-anak kita dll sekalipun kita sebenarnya orang yang pemalas jika harus bersih-bersih rumah.

 



Intinya, jika setiap orang tua yang memiliki sisi kebaikkan/keburukan mampu dan berjuang menampilkan sisi baiknya saja di depan anak dan menutup rapat-rapat sisi buruk pada anak, niscaya anak akan tumbuh menjadi pribadi yang baik sekalipun kita adalah orang tua yang tak mampu mendidik anak dengan baik dan benar. Sebab anak akan tetap tumbuh sebagaimana fitrohnya yang dimilikinya.

 

Sayangnya banyak kita temukan saat ini orang tua yang tidak peduli dengan kebaikkan anak-anak mereka sendiri. Sudah tidak bisa mendidik anak dengan baik dan benar, tapi justru merusak anak dengan ucapan, sikap dan prilaku nya yang buruk. Mungkinkah orang tua model seperti ini adalah kita ?

  

 

Wallahu 'alam bishowab

________

MENDIDIK ANAK BERKARAKTER SEJAK USIA DINI (Diambilkan dari Catatan harian Pola Pendidikan di PONPES TAHFIZHUL QUR'AN "KH khoirotun Hisan" 

 

PENDAFTARAN SETIAP SAAT SELAMA KUOTA MASIH ADA

 

DAPATKAN BUKU :

SERIAL 01 MENDIDIK ANAK BERKARAKTER SEJAK USIA DINI (BERBASIS PESANTREN)/ 0823 2474 5151

 

0/Post a Comment/Comments

Yuk, tinggalkan komentar mu

Ads1
Ads2