Sebagaimana dalam catatan saya di Buku Pertama yakni Catatan 23 : NASEHAT, TAULADHAN (CONTOH
YANG BAIK), TEGURAN & PUJIAN ADALAH HAK ANAK-ANAK KITA merupakan 4 proses
pendidikan yang harus diberikan pada anak-anak kita sejak usia dini, sebab 4 proses diatas sejatinya bukan lah
KEWAJIBAN ORANG TUA PADA ANAK, tapi lebih pada hak anak yang harus diberikan
oleh setiap orang tua.
Hak adalah sesuatu kebutuhan dasar yang harus diberikan
pada anak, maknanya jika hak itu tak diberikan oleh orang tuanya pada usia
dimana anak membutuhkan pengasuhan dan pendidikan yang baik, maka secara fitroh
anak akan menuntut haknya pada orang-orang terdekat anak, jika orang tua
terdekat tak mampu memberikannya, maka anak akan menuntut pada orang lain yang
dekat dengan lingkungan anak, dalam hal ini misalnya pengasuh ponpes atau guru
sekolah.
Terus berlanjut, jika pengasuh pesantren/guru sekolah juga
yang mampu memberikan dengan baik, maka dirinya akan meminta hak itu pada
suami/istrinya kelak. Dan sudah tentu suami/istri akan sangat repot sekali
dibuatnya, karena sikap dan prilaku “kekanak-kanakkanya”. Ketika suami/istrinya
juga tak mampu memenuhi haknya pula, maka dia akan “merebut” hak itu pada
anak-anaknya sendiri. Kita bisa bayangkan bagaimana proses pendidikan anak-anak
kita nanti jika ternyata orang tua yang seharusnya memberikan hak-hak pada
anaknya dengan baik, tapi justru “merebut” hak anak itu dari anak-anaknya sendiri.
Naudzubillahi min dzalik
Inilah bahaya dan rusaknya proses pendidikan yang tidak
sesuai dengan fitroh anak dan hanya berorientasi pada dunia semata. Secara
perlahan generasi kita akan rusak dan tak sadar lahir dari kita generasi yang
tak berkualitas. Bagaimana kita akan memiliki generasi yang baik, berkualitas
dan siap mengemban amanah umat, jika generasi itu justru terlahir dari orang
tua-orang tua macam kita saat ini yang tak selesai proses pendidikan dasarnya
dengan baik ?
Proses pendidikan yang baik itu harus mampu menjalankan 4
proses diatas yakni NASEHAT,
TAULADHAN (CONTOH YANG BAIK), TEGURAN & PUJIAN
dengan baik dan seimbang. Silahkan cermati dengan baik pada anak-anak kita hari
ini, persoalan yang muncul pada anak-anak saat ini, yang katanya nakal, tak
bisa diatur, semau gue, tak punya empati pada orang tua, malas sholat, tak bisa
bangun subuh dengan baik dll pasti muaranya ada pada 4 proses diatas yang tak
berjalan dengan baik
Maka, sejatinya orang tua yang pandai
mendidik anak dengan baik tentunya orang tua yang paham betul 4 proses diatas
dan mampu menyeimbangkan serta menempatkan setiap proses tersebut pada waktu
dan tempatnya dengan baik. Kapan anak harus dinasehati, kapan harus ditegur,
kapan harus diberi pujian dll
Dari 4 proses diatas yang terberat untuk
dijalani setiap orang tua yakni memberikan Tauladan, sebab keteladanan sudah
mencerminkan adanya nasehat, teguran dan pujian. Ada ulama bilang : “1
ketauladan lebih baik dari pada 1.000 kali nasehat. Untuk itulah, kenapa
Rasulullah Shollahu ‘alahi wa salam diutus untuk menjadi Suri Tauladan yang
baik bagi manusia., sebab secara fitroh memang manusia didesign oleh Allah
Ta’ala makhluk yang bisa berubah jika ada tauladan yang iikutinya.
Jika umat manusia Allah Ta’ala memberikannya
figur yang harus dijadikan tauladan, agar selalu berjalan di jalan kehidupan yang
benar, maka dalam bingkai keluarga pun Allah Ta’ala menjadikan ayah menjadi
figur tauladan istri dan anaknya.Jika ketauladan itu tak hadir pada sosok ayah,
maka mustahil keluarga akan terbangun dengan baik. Bisa jadi keluarga itu mampu
secara finasial, cukup hidupnya, bisa beli ini dan itu, tapi tak terbangun
keberkahan dalam keluarganya. Sebab sang nahkoda kapal adalah sosok yang tak
bisa dijadikan tauladan untuk seisi rumahnya.
Catatan ke 100 ini adalah catatan yang berat
untuk ditulis penulis, sebab syarat akan nasehat untuk diri sendiri, bahwa
menjadi seorang ayah tidaklah mudah dijalani. Banyak tanggung jawab yang
nantinya menuntut untuk dipertanggung jawabkannya. Menanggung beban sendiri
saja belum tentu bisa, apalagi harus menanggung beban istri dan anak di akhirat
kelak.
Sosok ayah yang sempurna tak akan mampu kita
dapatkan, pasti ada saja kekurangan dan kesalahannya, mungkin juga jarang untuk
bisa bersama keluarga. Tetapi menjadi tauladan istri dan anak harus mampu
dijalani oleh setiap ayah. Ketauladan ayah pada istri dan anak tak bisa
digantikan oleh orang lain, baik itu pengasuh pesantren/guru sekolah, sebab
tauladan ayah adalah bagian hak anak yang harus diberikan saat anak
bersama/dekat orang tua
Banyak ketauladanan yang harus dihadirkan
sosok ayah pada seisi rumah, khususnya anak-anak. Dari sekian ketauladanan itu
yang paling penting dan mendasar sebagai bagian dari membangun karakter dasar
anak yakni MENEGAKKAN SHOLAT, KHUSUSNYA SHOLAT SUBUH BERJAMA’AH KE MASJID
Banyak sosok ayah yang mampu dan hebat dalam
memberikan tauladan untuk sekolah anak agar berhasil, membangun karier agar
cemerlang, merintis dan membangun bisnis pada anak-anaknya agar sukses, tetapi
banyak orang tua lupa membangun ketauladanan dalam hal menegakkan sholat,
khususnya sholat subuh berjama’ah ke masjid.
Memberikan ketauladanan anak untuk bangun
pagi kemudian menunaikan sholat subuh ke masjid, tidak bisa dijalani oleh
seorang ibu/istri. Tetapi sosok ayah lah yang harus punya peran utama untuk
menjadi pengerak dan contoh bagi anak-anaknya. Sebab sosok ayah memang
ditakdirkan untuk menjadi pelindung, pendidik, guru bagi keluarganya, khususnya
anak-anaknya.
Tapi hari ini sungguh sangat ironis
perjalanan kehidupan keluarga muslim saat ini, dimana keluarga-keluarga muslim
hari ini telah kehilangan ketauladanan sosok ayahnya. Sosok ayah tidak lagi
punya wibawa dihadapan istri dan anak-anaknya, sosok ayah yang hanya dibutuhkan
ketika istri dan anaknya tak mampu mengerjakan sesuatu. Sosok ayah yang
seharusnya mampu menjadi tauladan hilang entah kemana.
Mari kita berbenah, untuk terus menjadi sosok
ayah yang hebat bagi anak-anak kita dengan berjuang menjadi contoh bagi anak
dalam kebaikkan, khususnya sholat subuh berjama’ah ke masjid. Jika setiap rumah
tangga muslim, sosok ayah mampu menjadi contoh yang baik bagi anaknya untuk sholat
subuh berjama’ah ke masjid, maka sudah bisa dipastikan masjid akan penuh dengan
jama’ahnya.
Untuk menjadi ayah yang pantas dijadikan
tauladan anak-anakya dalam hal kebaikkan,khususnya sholat setiap ayah tidak
harus menjadi kaya, menjadi tokoh masyarakat, punya gelar akademik yang banyak dll.
Tapi, cukup setiap ayah mau belajar dan berubah menjadi lebih baik demi
kebaikkan anak-anak kita kedepan. Agar anak-anak kita punya figur tauladan yang
memang pantas untuk dibanggakan dan diikuti.
Jika sosok ayah mampu menjadi tauladan bagi
anak-anak dalam sholat, khususnya sholat subuh berjama’ah ke masjid, Insya
Allah dirinya akan mampu menjadi tauladan bagi keluarga, masyarakat atau urusan
lainnya. Tapi, jika menjadi tauladan untuk urusan sholat saja tak mampu di
jalani seorang ayah dengan baik, lalu dari sisi mana dirinya pantas menjadi
tauladan bagi masyarakat atau urusan lainnya ?
Menjadi contoh yang baik untuk anak sendiri saja
ngak bisa, masak mau jadi contoh bagi orang lain ??
Wallahu 'alam bishowab
________
MENDIDIK ANAK BERKARAKTER SEJAK USIA DINI
(Diambilkan dari Catatan harian Pola Pendidikan di PONPES TAHFIZHUL QUR'AN
"KH khoirotun Hisan"
PENDAFTARAN SETIAP SAAT SELAMA KUOTA MASIH
ADA
DAPATKAN BUKU :
SERIAL 01 MENDIDIK ANAK BERKARAKTER SEJAK
USIA DINI (BERBASIS PESANTREN)/ 0823 2474 5151








Posting Komentar
Yuk, tinggalkan komentar mu