CATATAN 101 : MENGEMBALIKAN MASA PENGASUHAN ANAK YANG HILANG, MUNGKINKAH ?

 


 

Berbicara tentang proses pendidikan anak memang tiada habisnya, ada saja hal yang menarik untuk kita cermati dan perlu kita pahami bersama selaku orang tua. Secara fitroh anak terlahir di dunia ini telah di design untuk siap dididik oleh orang tua/lingkungan terdekat anak. Pada USIA DASAR s/d USIA TRANSISI seorang anak tidak punya kemampuan apa-apa, semua tergantung pada orang tuanya, urusan makan, minum, berpakaian, pendidikan dll

 

Ketidakmampuan anak pada USIA DASAR s/d USIA TRANSISI (Usia 0 s/d 15 Tahun) adalah ruang yang telah Allah Ta’ala berikan pada setiap orang tua untuk memberikan pengasuhan dan pendidikan terbaik bagi anak. Waktu yang sangat cukup bagi setiap orang tua untuk memberikan perhatian yang terbaik pada anak. Mau dimodel kayak apa,semua adalah pilihan orang tuanya sebab anak tinggal menerima dan menerima.

 

Sayangnya, justru ruang yang disediakan Allah Ta’ala bagi orang tua untuk memberikan pengasahuan/pendidikan terbaik tidak mampu digunakan dengan baik oleh orang tua. Banyak orang tua yang lalai, tdak fokus dan kurang memahami persoalan ini dengan baik. Padahal dalam kondisi normal (misalkan anak tidak pada kodisi sakit) tidak banyak kebutuhan yang dikeluarkan untuk anak, semisal anak sekolah dll. Pada kondisi seperti ini seharusnya orang tua bisa fokus, maksimal, mampu memberikan pendidikan terbaik pada anak dll, tapi kenyataannya tidaklah demikian  

 

Kondisi ini diperparah dengan orang tua seperti kita yang tak punya ilmu dan kemampuan mendidik anak dengan baik. Sebab ilmu yang selama ini diperjuangkan hanya sekedar ilmu untuk meniti karier dan kesuksesan orang tua sendiri. Akhirnya bekal menjadi seorang ayah/ibu tak dimilikinya, sebab memang tidak disiapkan dengan baik. Akhirnya lahirnya sosok ayah tak bisa mendidik keluarganya (istri dan anak-anaknya) dan istri tak bisa mendidik anak dengan baik khususnya disaat seorang ayah tak berada di rumah.

 

Sedih ya, jika lihat kenyataan proses pendidikan anak-anak muslim kita hari ini, pada tingkat dasar sudah remuk redam. Akibatnya, banyak anak-anak yang kehilangan masa pengasuhannya. Padahal pola pengasuhan anak adalah pondasi membangun karakter dasar anak dengan baik. Dan sangat dibutuhkan seorang anak dalam menjalani masa depannya nanti. Hasil riset mengatakan bahwa sejatinya kesusksesan seorang anak nanti yang paling mendasar bukan pada kepintaran/bakatnya, tapi lebih pada karakter dasar anak yang baik 

 

PENERIMAAN SANTRIWATI BARU 


MENGEMBALIKAN MASA PENGASUHAN ANAK YANG HILANG, MUNGKINKAH ? Ya, itulah catatan saya kali ini catatan ke 101

 

Seiring dengan perjalanan waktu, kemudian disaat anak mulai menempuh pendidikan baik di sekolah, khususnya dipesantren, kurikulum pesantren terkadang memaksa anak untuk menjalani rutinitas pondok yang telah didesign sedemikian rupa. Maka, seorang anak harus mampu bertahan dan kuat dalam segala hal agar tetap bisa bertahan di pesantren hingga lulus nanti.

 

Jika kita ibaratkan proses pendidikan pesantren adalah sebuah mesin produksi dan anak adalah bahan bakunya, mesin akan terus berproduksi dari waktu ke waktu. Yang tak mampu bertahan atau kuat akan tersingkir dengan sendirinya entah keluar/dikeluarkan. Dan hasil akhirnya adalah nilai2, anak yang nilai baik adalah prodak pesantren yang berkualitas, sedangkan anak yang sedang-sedang/ cenderung kurang dianggap hasil prodak pesantren yang kurang berkualitas

 

Di pesantren yang basis keilmuanya lebih dominan, tentunya akan lebih fokus pada keilmuan dan bakat anak, sedangkan pengasuhan bukanlah prioritas sebab anak yang masuk ke pesantren dianggap pengasuhan telah selesai saat anak bersama/dekat dengan orang tua. Walaupun pesantren tetap memberikan pola pengasuhan pada anak, tetapi pola pengasuhannya tidak menyentuh pada setiap promblematika setiap anak, sebab terkendala dengan banyaknya santri/wati dan sedikitnya ustadz/ah pengasuh. Belum lagi jika para ustadz/ah pengasuh adalah lulusan tahun lalu yang minim pengalaman mengasuh anak dengan baik.

 


Jika kita masukkan anak ke pesantren yang basis keilmuan/bakatnya dominan semacam gontor, maka jangan berharap mendapatkan hasil pengasuhan yang baik untuk anak, walaupun setiap pesantren tentu sudah berjuang memberikan pengasuhan terbaik pada anak-anak kita saat anak di pesanten selama 24 jam. Perjuangan pesantren memberikan pengasuhan walaupun hasilnya tidak maksimal tetap harus kita apresiasi sebab belum tentu orang tua mampu melakukannya dengan baik.   

 

Sebagaimana yang pernah saya sampaikan pada catatan-catatan saya sebelumnya, bahwa keberhasilan/kegagalan anak mondok di pesantren adalah akumulasi dari 3 proses pendidikan, yakni saat anak dekat/bersama orang tua, lingkungan terdekat anak dan saat anak di pesantren. Jadi tidak semuanya keberhasilan/kegagalan bersumber dari pengasuh pesantren dalam mendidik anak-anak kita, tetapi justru yang terpenting/mendasar adalah kita sendiri selaku orang tua bagaimana kita menyiapkan anak sebelum mondok, bagaimana amalan ibadah orang tua, bagaimana cara mendidik anak dengan cara langit dll. Jadi pondok pesantren hanya sebatas mitra orang tua untuk mendidik anak-anak, bukan penanggung jawab pendidikan anak, apalagi menjamin anak menjadi anak berkarater baik.      

 

Pertanyaan, kenapa di pesantren juga ada pola pengasuhan santri/wati, selain keilmuan/bakat anak ? Padahal jika di lihat dari konsep pendidikan anak, pola pengasuhan anak ada waktu dan tempatnya tersendiri, khususnya pada usia dasar s/d usia transisi ? Yuk, mari kita pelajari bersama kenapa pengasuhan masih tetap dipakai hingga kini

 

Kehadiran pola pengasuhan di pesantren,khususnya pesantren tempo dulu tak lepas dari bashiroh nya kyai tempo dulu dalam melihat kebutuhan proses pendidikan anak jauh kedepan. Tentunya pola pengasuhan ini wujud dari kondisi jaman saat itu yang masih terbelenggu dalam kemiskinan, kebodohan dan ketidakpahaman tentang syariat Islam. Sehingga banyak orang tua yang memilih menitipkan anaknya pada seorang Kyai yang dipandang mampu mengasuh, mendidik anaknya dengan baik. Bahkan menitipkan dalam segala hal makan, tempat tinggal, pengasuhan, pendidikan dll

 

Pola pengasuhan ini tetap dipertahankan di pesantren fungsinya tak lain adalah untuk mengembalikan pola pengasuhan anak yang hilang saat usia dasar s/d usia transisi. Sebab tidak semua anak yang masuk ke pesantren adalah anak yang dalam kondisi baik-baik saja, ada yang “punya masalah” dan ada pula anak yang “bermasalah”.

 

Lalu bagaimana tingkat keberhasilannya ? Tentu masing-masing anak berbeda-beda sebab saat anak masuk pondok pun sejatinya anak telah membawa modal pengasuhan yang berbeda-beda dari orang tuanya masing-masing. Ada yang membawa modal pengasuhan 80%, 60%, 50%, 40% dll, bahkan ada yang modal pengasuhannya o % sampai -%. Jika anak punya modal pengasuhan 0 % sampai -% tentu ini adalah tantangan tersendiri bagi pengasuh pesantren, akan ada banyak drama yang terkadang berjilid-jilid dan tak kunjung selesai saat mengasuh anak.   

 



Yang penting dan harus kita pahami dengan baik oleh kita selaku otang tua, bahwa kehadiran pola pengasuhan di pesantren adalah bagian niat baik pengasuh pesantren membantu setiap orang tua mengasuh anak. Agar pola pengasuhan yang dilakukan mampu mengembalikan pola pengasuhan anak yang barangkali hilang di saat usia dasar s/d usia transisi. Maka, jika pola pengasuhan pesantren yang dilakukan banyak kekurangan. Ya, harus dimaklumi oleh orang tua, tidak justru pengasuh disalahkan jika ada yang kurang pas dengan anak kita.  

 

Kesimpulannya yakni MUNGKINKAN, MENGEMBALIKAN MASA PENGASUHAN ANAK YANG HILANG ? Untuk anak yang punya modal pengasuhan baik tentu akan mampu kembali Insya Allah, tapi untuk anak yang modal pengasuhannya 0 % dan cenderung - % akan sulit untuk kembali. Ibarat, kaya jika pecah tak akan kembali seperti sedia kala. Yang bisa dilakukan yakni menutup pintu keburukan dan masa lalu dengan hal yang positif dan tidak memberinya ruang untuk muncul kembali apalagi diajarkan pada anak-anaknya nanti.  Sebab orang tua yang “punya masalah” cendeung akan melahirkan anak yang “punya masalah”

 

Jika dilihat dari konsep pendidikan, pengasuhan yang hilang saat usia dasar s/d transisi akan bisa kembali jika dilakukan pada waktu, tempat dan pengasuh yang tepat. Setelah usia dewasa sudah tidak ada lagi pola pengasuhan anak yang ada hanyalah proses membangun kesadaran anak. Tetapi semua akan kembali pada hidayah Allah semata, untuk itu jangan terlalu tergantung pada konsep pendidikan modern dan melupakan/meninggalkan konsep pendidikan illahiyyah untuk anak-anak kita.

 


 

Wallahu 'alam bishowab

________

MENDIDIK ANAK BERKARAKTER SEJAK USIA DINI (Diambilkan dari Catatan harian Pola Pendidikan di PONPES TAHFIZHUL QUR'AN "KH khoirotun Hisan"  

PENDAFTARAN SETIAP SAAT SELAMA KUOTA MASIH ADA 

DAPATKAN BUKU :

SERIAL 01 MENDIDIK ANAK BERKARAKTER SEJAK USIA DINI (BERBASIS PESANTREN)/ 0823 2474 5151

 

0/Post a Comment/Comments

Yuk, tinggalkan komentar mu

Ads1
Ads2