Berbicara tentang proses pendidikan anak
memang tiada habisnya, ada saja hal yang menarik untuk kita cermati dan perlu kita
pahami bersama selaku orang tua. Secara fitroh anak terlahir di dunia ini telah
di design untuk siap dididik oleh orang tua/lingkungan terdekat anak. Pada USIA
DASAR s/d USIA TRANSISI seorang anak tidak punya kemampuan apa-apa, semua
tergantung pada orang tuanya, urusan makan, minum, berpakaian, pendidikan dll
Ketidakmampuan anak pada USIA DASAR s/d USIA
TRANSISI (Usia 0 s/d 15 Tahun) adalah ruang yang telah Allah Ta’ala berikan
pada setiap orang tua untuk memberikan pengasuhan dan pendidikan terbaik bagi
anak. Waktu yang sangat cukup bagi setiap orang tua untuk memberikan perhatian yang
terbaik pada anak. Mau dimodel kayak apa,semua adalah pilihan orang tuanya
sebab anak tinggal menerima dan menerima.
Sayangnya, justru ruang yang disediakan Allah
Ta’ala bagi orang tua untuk memberikan pengasahuan/pendidikan terbaik tidak mampu
digunakan dengan baik oleh orang tua. Banyak orang tua yang lalai, tdak fokus
dan kurang memahami persoalan ini dengan baik. Padahal dalam kondisi normal (misalkan
anak tidak pada kodisi sakit) tidak banyak kebutuhan yang dikeluarkan untuk
anak, semisal anak sekolah dll. Pada kondisi seperti ini seharusnya orang tua
bisa fokus, maksimal, mampu memberikan pendidikan terbaik pada anak dll, tapi
kenyataannya tidaklah demikian
Kondisi ini diperparah dengan orang tua seperti
kita yang tak punya ilmu dan kemampuan mendidik anak dengan baik. Sebab ilmu
yang selama ini diperjuangkan hanya sekedar ilmu untuk meniti karier dan kesuksesan
orang tua sendiri. Akhirnya bekal menjadi seorang ayah/ibu tak dimilikinya,
sebab memang tidak disiapkan dengan baik. Akhirnya lahirnya sosok ayah tak bisa
mendidik keluarganya (istri dan anak-anaknya) dan istri tak bisa mendidik anak
dengan baik khususnya disaat seorang ayah tak berada di rumah.
Sedih ya, jika lihat kenyataan proses
pendidikan anak-anak muslim kita hari ini, pada tingkat dasar sudah remuk
redam. Akibatnya, banyak anak-anak yang kehilangan masa pengasuhannya. Padahal
pola pengasuhan anak adalah pondasi membangun karakter dasar anak dengan baik.
Dan sangat dibutuhkan seorang anak dalam menjalani masa depannya nanti. Hasil
riset mengatakan bahwa sejatinya kesusksesan seorang anak nanti yang paling
mendasar bukan pada kepintaran/bakatnya, tapi lebih pada karakter dasar anak
yang baik
MENGEMBALIKAN MASA PENGASUHAN ANAK YANG HILANG,
MUNGKINKAH ? Ya, itulah catatan saya kali ini catatan ke 101
Seiring dengan perjalanan waktu, kemudian
disaat anak mulai menempuh pendidikan baik di sekolah, khususnya dipesantren,
kurikulum pesantren terkadang memaksa anak untuk menjalani rutinitas pondok
yang telah didesign sedemikian rupa. Maka, seorang anak harus mampu bertahan
dan kuat dalam segala hal agar tetap bisa bertahan di pesantren hingga lulus
nanti.
Jika kita ibaratkan proses pendidikan
pesantren adalah sebuah mesin produksi dan anak adalah bahan bakunya, mesin
akan terus berproduksi dari waktu ke waktu. Yang tak mampu bertahan atau kuat
akan tersingkir dengan sendirinya entah keluar/dikeluarkan. Dan hasil akhirnya
adalah nilai2, anak yang nilai baik adalah prodak pesantren yang berkualitas,
sedangkan anak yang sedang-sedang/ cenderung kurang dianggap hasil prodak
pesantren yang kurang berkualitas
Di pesantren yang basis keilmuanya lebih
dominan, tentunya akan lebih fokus pada keilmuan dan bakat anak, sedangkan
pengasuhan bukanlah prioritas sebab anak yang masuk ke pesantren dianggap
pengasuhan telah selesai saat anak bersama/dekat dengan orang tua. Walaupun
pesantren tetap memberikan pola pengasuhan pada anak, tetapi pola pengasuhannya
tidak menyentuh pada setiap promblematika setiap anak, sebab terkendala dengan
banyaknya santri/wati dan sedikitnya ustadz/ah pengasuh. Belum lagi jika para
ustadz/ah pengasuh adalah lulusan tahun lalu yang minim pengalaman mengasuh
anak dengan baik.
Jika kita masukkan anak ke pesantren yang
basis keilmuan/bakatnya dominan semacam gontor, maka jangan berharap
mendapatkan hasil pengasuhan yang baik untuk anak, walaupun setiap pesantren
tentu sudah berjuang memberikan pengasuhan terbaik pada anak-anak kita saat
anak di pesanten selama 24 jam. Perjuangan pesantren memberikan pengasuhan
walaupun hasilnya tidak maksimal tetap harus kita apresiasi sebab belum tentu
orang tua mampu melakukannya dengan baik.
Sebagaimana yang pernah saya sampaikan pada
catatan-catatan saya sebelumnya, bahwa keberhasilan/kegagalan anak mondok di
pesantren adalah akumulasi dari 3 proses pendidikan, yakni saat anak dekat/bersama
orang tua, lingkungan terdekat anak dan saat anak di pesantren. Jadi tidak
semuanya keberhasilan/kegagalan bersumber dari pengasuh pesantren dalam
mendidik anak-anak kita, tetapi justru yang terpenting/mendasar adalah kita
sendiri selaku orang tua bagaimana kita menyiapkan anak sebelum mondok, bagaimana
amalan ibadah orang tua, bagaimana cara mendidik anak dengan cara langit dll.
Jadi pondok pesantren hanya sebatas mitra orang tua untuk mendidik anak-anak, bukan
penanggung jawab pendidikan anak, apalagi menjamin anak menjadi anak berkarater
baik.
Pertanyaan, kenapa di pesantren juga ada pola
pengasuhan santri/wati, selain keilmuan/bakat anak ? Padahal jika di lihat dari
konsep pendidikan anak, pola pengasuhan anak ada waktu dan tempatnya
tersendiri, khususnya pada usia dasar s/d usia transisi ? Yuk, mari kita
pelajari bersama kenapa pengasuhan masih tetap dipakai hingga kini
Kehadiran pola pengasuhan di
pesantren,khususnya pesantren tempo dulu tak lepas dari bashiroh nya kyai tempo
dulu dalam melihat kebutuhan proses pendidikan anak jauh kedepan. Tentunya pola
pengasuhan ini wujud dari kondisi jaman saat itu yang masih terbelenggu dalam
kemiskinan, kebodohan dan ketidakpahaman tentang syariat Islam. Sehingga banyak
orang tua yang memilih menitipkan anaknya pada seorang Kyai yang dipandang
mampu mengasuh, mendidik anaknya dengan baik. Bahkan menitipkan dalam segala
hal makan, tempat tinggal, pengasuhan, pendidikan dll
Pola pengasuhan ini tetap dipertahankan di
pesantren fungsinya tak lain adalah untuk mengembalikan pola pengasuhan anak
yang hilang saat usia dasar s/d usia transisi. Sebab tidak semua anak yang
masuk ke pesantren adalah anak yang dalam kondisi baik-baik saja, ada yang “punya
masalah” dan ada pula anak yang “bermasalah”.
Lalu bagaimana tingkat keberhasilannya ? Tentu
masing-masing anak berbeda-beda sebab saat anak masuk pondok pun sejatinya anak
telah membawa modal pengasuhan yang berbeda-beda dari orang tuanya masing-masing.
Ada yang membawa modal pengasuhan 80%, 60%, 50%, 40% dll, bahkan ada yang modal
pengasuhannya o % sampai -%. Jika anak punya modal pengasuhan 0 % sampai -%
tentu ini adalah tantangan tersendiri bagi pengasuh pesantren, akan ada banyak
drama yang terkadang berjilid-jilid dan tak kunjung selesai saat mengasuh anak.
Yang penting dan harus kita pahami dengan
baik oleh kita selaku otang tua, bahwa kehadiran pola pengasuhan di pesantren
adalah bagian niat baik pengasuh pesantren membantu setiap orang tua mengasuh
anak. Agar pola pengasuhan yang dilakukan mampu mengembalikan pola pengasuhan
anak yang barangkali hilang di saat usia dasar s/d usia transisi. Maka, jika
pola pengasuhan pesantren yang dilakukan banyak kekurangan. Ya, harus dimaklumi
oleh orang tua, tidak justru pengasuh disalahkan jika ada yang kurang pas
dengan anak kita.
Kesimpulannya yakni MUNGKINKAN, MENGEMBALIKAN
MASA PENGASUHAN ANAK YANG HILANG ? Untuk anak yang punya modal pengasuhan baik
tentu akan mampu kembali Insya Allah, tapi untuk anak yang modal pengasuhannya
0 % dan cenderung - % akan sulit untuk kembali. Ibarat, kaya jika pecah tak
akan kembali seperti sedia kala. Yang bisa dilakukan yakni menutup pintu
keburukan dan masa lalu dengan hal yang positif dan tidak memberinya ruang
untuk muncul kembali apalagi diajarkan pada anak-anaknya nanti. Sebab orang tua yang “punya masalah” cendeung
akan melahirkan anak yang “punya masalah”
Jika dilihat dari konsep pendidikan,
pengasuhan yang hilang saat usia dasar s/d transisi akan bisa kembali jika
dilakukan pada waktu, tempat dan pengasuh yang tepat. Setelah usia dewasa sudah
tidak ada lagi pola pengasuhan anak yang ada hanyalah proses membangun
kesadaran anak. Tetapi semua akan kembali pada hidayah Allah semata, untuk itu jangan
terlalu tergantung pada konsep pendidikan modern dan melupakan/meninggalkan
konsep pendidikan illahiyyah untuk anak-anak kita.
Wallahu 'alam bishowab
________
MENDIDIK ANAK BERKARAKTER SEJAK USIA DINI (Diambilkan dari Catatan harian Pola Pendidikan di PONPES TAHFIZHUL QUR'AN "KH khoirotun Hisan"
PENDAFTARAN SETIAP SAAT SELAMA KUOTA MASIH ADA
DAPATKAN BUKU :
SERIAL 01 MENDIDIK ANAK BERKARAKTER SEJAK
USIA DINI (BERBASIS PESANTREN)/ 0823 2474 5151







Posting Komentar
Yuk, tinggalkan komentar mu