Pola pengasuhan/pendidikan anak yang
berkualitas itu banyak faktor penentu, tidak sekedar muatan materi yang
lengkap, cukupnya waktu dan perhatian, orang tua yang memiliki cukup ilmu
pareting yang hebat dll, tapi juga ditentukan dari proses tahapan yang benar
dalam memberi pengasuhan/pendidikan pada anak. Proses tahapan ini adalah bagian
dari fitroh yang telah Allah Ta’ala tetapkan. Sehingga mau tak mau, suka atau
tidak, jika ingin mendapatkan pola pengasuhan/pendidikan yang baik, maka
tahapan ini harus dijalani dengan benar walaupun orang tua tak menjalankan
secara sempurna.
Tanpa mendasarkan pada konsep pendidikan
modern saat ini, sejatinya proses tahapan ini telah didesign dengan sangat baik
oleh sang pencipta manusia yakni Allah Ta’ala. Kita sebagaimana manusia atau
orang tua, sebenarnya hanya diminta untuk mengenali, memahami, menjalankan
sebagaimana yang telah Allah Ta’ala tetapkan dalam mendidik anak-anak kita, agar
setiap tahapan itu mampu dijalaninya dengan baik
Adapun proses tahapan pengasuhan/pendidikan
anak, antara lain :
1.
PROSES
PENGASUHAN
2.
PROSES
PENDIDIKAN
3.
PROSES
MEMBANGUN KESADARAN
Ke 3 tahapan ini akan selaras dengan usia,
sikap dan prilaku anak. Maknanya bahwa proses pengasuhan/pendidikan yang baik
dan berkualitas sangat tergantung bagaimana kita menempatkan setiap proses diatas
dengan baik pada usia perkembangan anak.
Maka, bekal pertama kali yang harus dimiliki
setiap orang tua yakni mengetahui perkembangan anak atau psikologi perkembangan
anak. Ibarat anak adalah prodak, maka setiap orang tua harus paham betul
tentang prodak yang akan dijualnya. Tahu bahannya, tahu kandungan nilai
gizinya, kapan masa kadaluwarsanya dll. Kemudian perkembangan anak ini
dijadikan acuan untuk menjalani proses tahapan diatas.
Sehingga kita sebagai orang tua tahu
bagaimana penerapannya pada anak-anak kita. Kapan anak mulai diasuh, kapan anak
mulai ditanamkan nilai-nilai pendidikan dan kapan anak mulai dibangun
kesadarannya. Salah dalam menerapkan proses ini akan berakibat buruk pada
perkembangan anak ke depan yakni proses pengasuhan/pendidikan yang “terbalik”
Dalam realitas kehidupan kita sehari-hari, kadang
atau bahkan sering kita jumpai orang tua (mungkin orang tua itu kita) yang
terus memaksakan kehendaknya pada anaknya, padahal anak telah tumbuh dewasa.
Tanpa disadarinya sikap dan prilaku orang tua justru menjadikan anak gagal
menjadi dewasa. Anak sudah dewasa bahkan sangat dewasa, tapi sifat
kekanak-kanakkannya tak kunjung hilang dari kepribadiannya.
Hal ini terjadi karena orang tua yang tak
bisa/mampu menerapkan setiap tahapan dengan baik dan benar pada anak. Dan
ketidakpahaman ini berawal dari tidak pahamnya orang tua dengan usia perkembangan
anaknya, sedangkan ketidakpahaman orang tua usia perkembangan anak karena tidak
bisa mendidik anak dengan baik. Maka, mengetahui usia perkembangan anak hal
penting dan dasar dalam mendidikan anak ke depan, sebab usia perkembangan anak
adalah bagian dari fitroh anak yang telah Allah Ta’ala tentukan.
Untuk itu, sikap dan prilaku orang tua di atas
jika ditelusuri lebih dalam, bisa jadi disebabkan tidak pahamnya orang tua
menempatkan setiap tahapan proses pengasuhan/pendidikan dengan baik dan benar.
Padahal sudah sangat jelas, bahwa proses pengasuhan/pendidikan itu akan selaras
dengan usia perkembangan anak (sikap/prilaku anak).
Jika usia, sikap/prilaku anak masih pada
tingkatan dasar (usia 0 – 7 Tahun), maka yang dominan dibutuhkan anak adalah
pola pengasuhan yang baik (anak belum membutuhkan pendidikan atau penanaman
nilai). Pada usia ini anak cukup diasuh saja dengan baik dan hak-hak anak
diberikan sesempurna mungkin oleh orang tua. Walaupun anak tidak bisa apa2,
belum bisa kemana-mana sendiri, anak belum sekolah, belum membutuhkan biaya
yang banyak dll, bukan berarti pada usia ini anak tidak membutuhkan pola
pengasuhan yang baik. Justru disaat anak belum bisa dan punya keinginan
apa-apa, pengasuhan harus diberikan dengan baik, fokus dan totalitas agar tidak
ada hutang pengasuhan dikemudian hari.
Sayangnya pada usia ini, banyak orang tua
yang memahami pola pengasuhan anak tidak terlalu penting diberikan ada anak, toh
anak aktivitasnya juga itu-itu saja tak lebih dari makan, minum, minum asi ibunya,
bab, mandi, main2 dll. Akhirnya orang tua mencari berbagai kesibukkan diluar
yang tak terkait dengan pola pengasuhan anak-anaknya, bahkan ada yang
dititipkan orang lain yang tak mengerti bagaimana cara mengasuh anak dengan
baik. Akhirnya banyak lahir generasi kita saat ini yang tak tuntas
pengasuhannya.
Sedangkan jika anak pada usia perkembangan
(Usia 7 – 14 Tahun) adalah proses pendidikan anak yakni dengan mulai penanaman
nilai-nilai yang baik (tauhid, Ibadah, adab dan akhlaq, amal yaumi dan bekal
Qur’an). Penanaman nilai dilakukan setelah pengasuhan dianggap cukup atau telah
diberikan orang tua secara masksimal. Dalam perjalanannya tentu tidak mudah
bagi setiap orang tua nananmkan nilai-nilai pada anak-anaknya. Sehingga orang
tua perlu mitra dalam memberikan pendidikan pada anak-anak mereka dalam hal ini
guru jika disekolah atau pengasuh jika anak mondok di pesantren.
Maka pemilihan model pesantren bagaimana
untuk anak2 kita adalah hal yang penting untuk anak kedepan, sejauh mana pola
pengasuhan yang telah kita berikan dan sejauhmana nilai2 itu mampu kita
tanamkan pada anak selama ini. Sehingga sekolah/pesantren, nantinya akan
menguatkan apa-apa yang telah dibangun dirumah dan menambah apa-apa yang kurang
pada diri anak.
Kemudian berlanjut pada proses membangun kesadaran
anak yakni antara rentang waktu (15 ke atas). Usia2 ini anak seharusnya telah
tumbuh dewasa dalam arti yang sesungguhnya, baik dewasa secara mental, sikap,
prilaku dan tindakannya. Bukan dewasa secara usia saja, sedangkan mental,
sikap, prilaku dan tindakannya tak ubahnya seperti anak-anak. Anak-anak kita pada
akhirnya akan tumbuh menjadi anak yang telat dewasa.
Kenapa hal ini bisa terjadi ? karena proses
pengasuhan/pendidikan anak yang terbalik. Disaat anak masih dalam usia dasar
orang tua abai, tidak fokus, kurang perhatian, tidak memberikan pengasuhan
terbaik, tapi saat anak tumbuh dewasa mereka baru memulai untuk mengasuh anak
.... Wah ya telat, kenapa tidak sejak dulu ? Dan kemana saja kamu selama ini wahai
orang tua ...?
Pertanyaan selanjutnya, kenapa orang tua
melakukan hal ini, yakni mulai mengasuh/mendidik anak disaat anak telah dewasa
? Padahal apa yang dilakukannya tentu orang tua juga menyadari bahwa anaknya
telah tumbuh dewasa ? Karena orang tua yang seperti ini sejatinya sedang
menyalurkan fitrohnya untuk mengasuh dan mendidik anak, walaupun waktu dan
tempatnya tidak tepat. Dan belum tentu direspon dan diterima anak dengan baik.
Sebagaimana dalam catatan saya sebelumnya, Allah
Ta’ala melengkapi seorang anak yang terlahir didunia dengan fitroh “SIAP
DIDIDIK” oleh siapapun, khususnya orang tua kandungnya. Katakanlah jika orang
tua membuang anak dan tidak mengurus anak dengan baik, maka Allah Ta’ala pasti
akan menunjukkan jalannya agar anak bisa mendapatkan pengasuhan/pendidikan yang
baik sebagai fitrohnya. Bagi anak tidak penting siapa yang mendidik, yang penting
hak sebagai anak terpenuhi dengan baik
Begitu pula orang tua, khususnya ibu, Allah
Ta’ala sejatinya melengkapi dirinya dengan fitrohnya “MAMPU MENDIDIK ANAK
DENGAN BAIK”. Kemudian disaat dirinya diamanah anak, tapi tidak diasuh/dididik
dengan baik saat anak membutuhkan asuhan/pendidikan. Maka, orang tua akan
cenderung menyalurkan fitroh mengasuh/mendidik anak-anaknya, walaupun tidak
pada waktu dan tempatnya.
Akhirnya, tanpa kita sadari proses
pengasuhan, pendidikan dan membangun kesadaran anak terbalik-balik, tidak
sesuai dengan proses tahapan yang semestinya. Untuk itu, jika kita mendapati ada
orang tua yang terlalu memaksakan anak, intervensi pada anak ini dan itu, terlalu
mengatur anak, memperlakukan anak-anak yang telah dewasa seperti anak-anak
kembali dll, padahal anak telah tumbuh dewasa yang semestinya anak bisa menjadi
diri mereka sendiri, mandiri, tidak tergantung orang tua dll.
Bisa jadi orang tua seperti ini dulu saat
anak-anaknya kecil, kurang memberikan pengasuihan/pendidikan pada anak-anaknya,
sehingga dirinya merasa perlu memberikannya pada anak-anaknya walaupun
sejatinya anak sudah tidak membutuhkan pengasuhan/pendidikan kembali. Bahkan
tak jarang orang tua sangat perhatian sekali pada anaknya disaat dewasa atau
bahkan telah menikah, yang beraklibat pada karakter, kemandirain, intervensi
berlebihan saat anaknya menikah dan berkeluarga dll
Maka, menempatkan setiap proses dengan baik
dan benar menjadi penting bagi masa depan anak-anak kita, sehingga anak-anak
bisa tumbuh selaras dengan fitroh yang seharusnya.
Wallahu 'alam bishowab
________
MENDIDIK ANAK BERKARAKTER SEJAK USIA DINI
(Diambilkan dari Catatan harian Pola Pendidikan di PONPES TAHFIZHUL QUR'AN
"KH khoirotun Hisan"
PENDAFTARAN SETIAP SAAT SELAMA KUOTA MASIH
ADA
DAPATKAN BUKU :
SERIAL 01 MENDIDIK ANAK BERKARAKTER SEJAK
USIA DINI (BERBASIS PESANTREN)/ 0823 2474 5151











Posting Komentar
Yuk, tinggalkan komentar mu