CATATAN 102 : PROSES PENGASUHAN /PENDIDIKAN ANAK YANG “TERBALIK”

 


 

Pola pengasuhan/pendidikan anak yang berkualitas itu banyak faktor penentu, tidak sekedar muatan materi yang lengkap, cukupnya waktu dan perhatian, orang tua yang memiliki cukup ilmu pareting yang hebat dll, tapi juga ditentukan dari proses tahapan yang benar dalam memberi pengasuhan/pendidikan pada anak. Proses tahapan ini adalah bagian dari fitroh yang telah Allah Ta’ala tetapkan. Sehingga mau tak mau, suka atau tidak, jika ingin mendapatkan pola pengasuhan/pendidikan yang baik, maka tahapan ini harus dijalani dengan benar walaupun orang tua tak menjalankan secara sempurna.  

 

Tanpa mendasarkan pada konsep pendidikan modern saat ini, sejatinya proses tahapan ini telah didesign dengan sangat baik oleh sang pencipta manusia yakni Allah Ta’ala. Kita sebagaimana manusia atau orang tua, sebenarnya hanya diminta untuk mengenali, memahami, menjalankan sebagaimana yang telah Allah Ta’ala tetapkan dalam mendidik anak-anak kita, agar setiap tahapan itu mampu dijalaninya dengan baik

 

Adapun proses tahapan pengasuhan/pendidikan anak, antara lain :  

1.     PROSES PENGASUHAN

2.     PROSES PENDIDIKAN

3.     PROSES MEMBANGUN KESADARAN

 

Ke 3 tahapan ini akan selaras dengan usia, sikap dan prilaku anak. Maknanya bahwa proses pengasuhan/pendidikan yang baik dan berkualitas sangat tergantung bagaimana kita menempatkan setiap proses diatas dengan baik pada usia perkembangan anak.

 

Maka, bekal pertama kali yang harus dimiliki setiap orang tua yakni mengetahui perkembangan anak atau psikologi perkembangan anak. Ibarat anak adalah prodak, maka setiap orang tua harus paham betul tentang prodak yang akan dijualnya. Tahu bahannya, tahu kandungan nilai gizinya, kapan masa kadaluwarsanya dll. Kemudian perkembangan anak ini dijadikan acuan untuk menjalani proses tahapan diatas.

 

Sehingga kita sebagai orang tua tahu bagaimana penerapannya pada anak-anak kita. Kapan anak mulai diasuh, kapan anak mulai ditanamkan nilai-nilai pendidikan dan kapan anak mulai dibangun kesadarannya. Salah dalam menerapkan proses ini akan berakibat buruk pada perkembangan anak ke depan yakni proses pengasuhan/pendidikan yang “terbalik”

 

Dalam realitas kehidupan kita sehari-hari, kadang atau bahkan sering kita jumpai orang tua (mungkin orang tua itu kita) yang terus memaksakan kehendaknya pada anaknya, padahal anak telah tumbuh dewasa. Tanpa disadarinya sikap dan prilaku orang tua justru menjadikan anak gagal menjadi dewasa. Anak sudah dewasa bahkan sangat dewasa, tapi sifat kekanak-kanakkannya tak kunjung hilang dari kepribadiannya.

 

Hal ini terjadi karena orang tua yang tak bisa/mampu menerapkan setiap tahapan dengan baik dan benar pada anak. Dan ketidakpahaman ini berawal dari tidak pahamnya orang tua dengan usia perkembangan anaknya, sedangkan ketidakpahaman orang tua usia perkembangan anak karena tidak bisa mendidik anak dengan baik. Maka, mengetahui usia perkembangan anak hal penting dan dasar dalam mendidikan anak ke depan, sebab usia perkembangan anak adalah bagian dari fitroh anak yang telah Allah Ta’ala tentukan.     


Untuk itu, sikap dan prilaku orang tua di atas jika ditelusuri lebih dalam, bisa jadi disebabkan tidak pahamnya orang tua menempatkan setiap tahapan proses pengasuhan/pendidikan dengan baik dan benar. Padahal sudah sangat jelas, bahwa proses pengasuhan/pendidikan itu akan selaras dengan usia perkembangan anak (sikap/prilaku anak).

 

Jika usia, sikap/prilaku anak masih pada tingkatan dasar (usia 0 – 7 Tahun), maka yang dominan dibutuhkan anak adalah pola pengasuhan yang baik (anak belum membutuhkan pendidikan atau penanaman nilai). Pada usia ini anak cukup diasuh saja dengan baik dan hak-hak anak diberikan sesempurna mungkin oleh orang tua. Walaupun anak tidak bisa apa2, belum bisa kemana-mana sendiri, anak belum sekolah, belum membutuhkan biaya yang banyak dll, bukan berarti pada usia ini anak tidak membutuhkan pola pengasuhan yang baik. Justru disaat anak belum bisa dan punya keinginan apa-apa, pengasuhan harus diberikan dengan baik, fokus dan totalitas agar tidak ada hutang pengasuhan dikemudian hari.   

 

Sayangnya pada usia ini, banyak orang tua yang memahami pola pengasuhan anak tidak terlalu penting diberikan ada anak, toh anak aktivitasnya juga itu-itu saja tak lebih dari makan, minum, minum asi ibunya, bab, mandi, main2 dll. Akhirnya orang tua mencari berbagai kesibukkan diluar yang tak terkait dengan pola pengasuhan anak-anaknya, bahkan ada yang dititipkan orang lain yang tak mengerti bagaimana cara mengasuh anak dengan baik. Akhirnya banyak lahir generasi kita saat ini yang tak tuntas pengasuhannya.       

 

Sedangkan jika anak pada usia perkembangan (Usia 7 – 14 Tahun) adalah proses pendidikan anak yakni dengan mulai penanaman nilai-nilai yang baik (tauhid, Ibadah, adab dan akhlaq, amal yaumi dan bekal Qur’an). Penanaman nilai dilakukan setelah pengasuhan dianggap cukup atau telah diberikan orang tua secara masksimal. Dalam perjalanannya tentu tidak mudah bagi setiap orang tua nananmkan nilai-nilai pada anak-anaknya. Sehingga orang tua perlu mitra dalam memberikan pendidikan pada anak-anak mereka dalam hal ini guru jika disekolah atau pengasuh jika anak mondok di pesantren.

 

Maka pemilihan model pesantren bagaimana untuk anak2 kita adalah hal yang penting untuk anak kedepan, sejauh mana pola pengasuhan yang telah kita berikan dan sejauhmana nilai2 itu mampu kita tanamkan pada anak selama ini. Sehingga sekolah/pesantren, nantinya akan menguatkan apa-apa yang telah dibangun dirumah dan menambah apa-apa yang kurang pada diri anak.  








Kemudian berlanjut pada proses membangun kesadaran anak yakni antara rentang waktu (15 ke atas). Usia2 ini anak seharusnya telah tumbuh dewasa dalam arti yang sesungguhnya, baik dewasa secara mental, sikap, prilaku dan tindakannya. Bukan dewasa secara usia saja, sedangkan mental, sikap, prilaku dan tindakannya tak ubahnya seperti anak-anak. Anak-anak kita pada akhirnya akan tumbuh menjadi anak yang telat dewasa.

 

Kenapa hal ini bisa terjadi ? karena proses pengasuhan/pendidikan anak yang terbalik. Disaat anak masih dalam usia dasar orang tua abai, tidak fokus, kurang perhatian, tidak memberikan pengasuhan terbaik, tapi saat anak tumbuh dewasa mereka baru memulai untuk mengasuh anak .... Wah ya telat, kenapa tidak sejak dulu ? Dan kemana saja kamu selama ini wahai orang tua ...?     

 

Pertanyaan selanjutnya, kenapa orang tua melakukan hal ini, yakni mulai mengasuh/mendidik anak disaat anak telah dewasa ? Padahal apa yang dilakukannya tentu orang tua juga menyadari bahwa anaknya telah tumbuh dewasa ? Karena orang tua yang seperti ini sejatinya sedang menyalurkan fitrohnya untuk mengasuh dan mendidik anak, walaupun waktu dan tempatnya tidak tepat. Dan belum tentu direspon dan diterima anak dengan baik.  

 

Sebagaimana dalam catatan saya sebelumnya, Allah Ta’ala melengkapi seorang anak yang terlahir didunia dengan fitroh “SIAP DIDIDIK” oleh siapapun, khususnya orang tua kandungnya. Katakanlah jika orang tua membuang anak dan tidak mengurus anak dengan baik, maka Allah Ta’ala pasti akan menunjukkan jalannya agar anak bisa mendapatkan pengasuhan/pendidikan yang baik sebagai fitrohnya. Bagi anak tidak penting siapa yang mendidik, yang penting hak sebagai anak terpenuhi dengan baik

 

Begitu pula orang tua, khususnya ibu, Allah Ta’ala sejatinya melengkapi dirinya dengan fitrohnya “MAMPU MENDIDIK ANAK DENGAN BAIK”. Kemudian disaat dirinya diamanah anak, tapi tidak diasuh/dididik dengan baik saat anak membutuhkan asuhan/pendidikan. Maka, orang tua akan cenderung menyalurkan fitroh mengasuh/mendidik anak-anaknya, walaupun tidak pada waktu dan tempatnya.

 

Akhirnya, tanpa kita sadari proses pengasuhan, pendidikan dan membangun kesadaran anak terbalik-balik, tidak sesuai dengan proses tahapan yang semestinya. Untuk itu, jika kita mendapati ada orang tua yang terlalu memaksakan anak, intervensi pada anak ini dan itu, terlalu mengatur anak, memperlakukan anak-anak yang telah dewasa seperti anak-anak kembali dll, padahal anak telah tumbuh dewasa yang semestinya anak bisa menjadi diri mereka sendiri, mandiri, tidak tergantung orang tua dll.    

 


Bisa jadi orang tua seperti ini dulu saat anak-anaknya kecil, kurang memberikan pengasuihan/pendidikan pada anak-anaknya, sehingga dirinya merasa perlu memberikannya pada anak-anaknya walaupun sejatinya anak sudah tidak membutuhkan pengasuhan/pendidikan kembali. Bahkan tak jarang orang tua sangat perhatian sekali pada anaknya disaat dewasa atau bahkan telah menikah, yang beraklibat pada karakter, kemandirain, intervensi berlebihan saat anaknya menikah dan berkeluarga dll

 

Maka, menempatkan setiap proses dengan baik dan benar menjadi penting bagi masa depan anak-anak kita, sehingga anak-anak bisa tumbuh selaras dengan fitroh yang seharusnya.    

  

Wallahu 'alam bishowab

________










MENDIDIK ANAK BERKARAKTER SEJAK USIA DINI (Diambilkan dari Catatan harian Pola Pendidikan di PONPES TAHFIZHUL QUR'AN "KH khoirotun Hisan" 

 

PENDAFTARAN SETIAP SAAT SELAMA KUOTA MASIH ADA

 

DAPATKAN BUKU :

SERIAL 01 MENDIDIK ANAK BERKARAKTER SEJAK USIA DINI (BERBASIS PESANTREN)/ 0823 2474 5151

 

0/Post a Comment/Comments

Yuk, tinggalkan komentar mu

Ads1
Ads2