CATATAN 104 : KETIKA PESANTREN MENJADI “KAMBING HITAM” ATAS PROSES PENDIDIKAN ANAK YANG DINILAI GAGAL OLEH ORANG TUA

 




Catatan ini saya awali dari saat saya mendapatkan sebuah video pendek yang menceritakan tentang anak mondok di pesantren. Dalam video ini tema utamanya yakni “JANGAN MASUKKAN ANAK ANDA KE PESANTREN”. Yang membuat saya heran adalah narasi yang disampaikan si pembuat Video nampaknya emasional dan kurang bijak memandang model pendidikan ala pesantren. Dangkalnya pemahaman ini bisa jadi si pembuat memang tak punya basic pesantren atau pernah gagal menjadi santri. Yang jelas, dirinya bukan seorang pengasuh pesantren yang dengan ikhlas, sabar, tekun, menjaga anak selama 24 jam

 

Isi dalam video pendek tersebut disampaikan bahwa di pesantren saat ini ada banyak bully, senioritas, ada pukul-pukulan, banyak barang yang hilang (khususnya santri/wati baru) dll. Sebagai orang yang mengasuh pesantren dan anak juga mondok pesantren, persoalan bully, senioritas, barang hilang dll tentu hal ini pernah terjadi di pesantren, terlebih lagi pesantren yang besar dengan jumlah santri/wati yang banyak.

 

Sebab dimanapun jika disuatu tempat (sekolah, pesantren, asrama dll) berkumpul banyak orang dengan tujuan yang sama yakni belajar dan tinggal bersama selama 24 jam, terlebih lagi anak-anak usia belasan tahun, sangat memungkinkan terjadi tak terkecuali pesantren, bahkan sekelas taruna akademik pun bully, pukulan dll juga masih sering terjadi

 

Pengambaran diatas, tentu tidak mencerminkan pola pendidikan pesantren secara menyeluruh, apalagi jika kita mengabaikan kontribusi pesantren bagi proses pendidikan anak-anak kita saat ini.Menilai pendidikan ala pesantren harus bijak dan paham bagaimana konsep pendidikannya  

 

Bahkan ada yang menilai bahwa pesantren dianggap tempat yang lebih mengerikan dari sekolah tentu pendapat ini perlu diluruskan, sehingga tidak membuat sesat pemikiran seseorang dan akhirnya orang tua enggan untuk mondokkan anak di pesantren. Memang pesantren bukan lembaga pendidikan yang “sempurna” untuk mengasuh/mendidik anak-anak kita, tapi pesantren telah ikut memberikan andil dan kontribusi besar bagi proses pendidikan generasi Islam masa depan. Kehadirannya barangkali jauh sebelum kita terlahir di dunia, bahkan pesantren seperti Gontor ada sebelum NKRI berdiri

 

Pesantren memiliki model pendidikan yang unik yang barangkali hanya ada di Indonesia. Jika kita lihat siroh Nabawiyyah pun, kala itu juga tidak ada pesantren sebagaimana kita jumpai hari ini. Maka kehadiran pesantren ditengah-tengah kita  seharusnya bisa syukuri sebagai salah satu khasanah proses pendidikan anak, sehingga kita punya banyak pilihan model pendidikan yang tepat untuk anak kita, salah satunya yakni memasukkan anak ke pesantren. Dan perlu diingat, bahwa pesantren sejatinya hanya sebatas wadah pendidikan bagi anak2 sebagaimana wadah pendidikan anak lainnya semacam sekolah.

 

Sebagaimana sekolah atau lembaga pendidikan tentu pesantren jauh dari sempurna, maka setiap orang tua pun dituntut bijak dan paham tentang proses pendidikan ala pesantren sebelum anak di masukan ke pondok pesantren, biar nantinya para orang tua tidak salah dalam menilai pesantren jika pada kenyataannya tak sesuai dengan harapan orang tua selama ini. Dan bukan masukkan anak ke pesantren atas dasar gensi, ikut2an atau merasa tak mampu mendidik anak dengan baik

 

Memang, tidak semua anak yang mondok di pesantren berhasil lulus dan menjadi orang baik sholeh/ah, sebab tidak ada satu pun pesantren yang menjamin lulusannya menjadi anak yang sholeh/ah atau anak yang pintar dan punya bakat hebat. Semua pada akhirnya akan kembali pada masing-masing anak siap didik dan berubah menjadi lebih baik atau tidak. Pesantren hanya mampu memberikan tempat, sapra, pola pengasuhan/pendidikan dan pengembangan potensi/bakat anak yang terbaik untuk setiap anak asuhnya

 

Ingat, bahwa pondok pesantren sejatinya memang bukan penanggungjawab utama keberhasilan anak mondok di pesantren. Pesantren hanyalah sebatas mitra orang tua dalam mendidik anak menjadi anak sholeh/ah, syukur anak kita pintar dan punya bakat yang hebat. Semua tanggung jawab kembali pada orang tuanya masing-masing. Jadi tak bijak, jika ada yang kurang dari hasil dididik anak selama tinggal di pesantren, pesantren menjadi “kambing hitam” atas kegagalan anak yang tak sesuai harapan/target orang tua

 

Sebagaimana dalam catatan-catatan saya sebelumnya bahwa keberhasilan anak mondok itu adalah akumulasi dari 3 proses pendidikan anak, antara lain :

 

  1. 1. SAAT ANAK BERSAMA/DEKAT DENGAN ORANG TUA (Usia Dasar) /Pondasi Dasar Karakter sukses Anak Mondok di Pesantren)
  2. 2.    LINGKUNGAN TERDEKAT ANAK (Kakek/Nenek, Bibi/Paman, Tertangga, Teman kampung dll)
  3. 3.    PENGASUH PESANTREN SELAMA 24 JAM BERSAMA ANAK (Pesantren hanya sebatas MITRA ORANG TUA didik anak)

 

Dari ke 3 proses diatas yang paling mendasar bagi kesuksesan anak mondok di pesantren atau sukses dalam bidang2 lainnya ada point No. 1. Sebab terkait dengan karakter dasar anak yang hanya bisa di lakukan secara maksimal pada usia dini anak saat anak dekat/bersama orang tua.

 

Jika proses pengasuhan/pendidikan dasar anak telah tuntas saat anak bersama/dekat dengan orang tua, maka pengasuh pesantren sejatinya tinggal MENGUATKAN dan MENAMBAH apa-apa yang kurang dari proses pendidikan anak selama anak dekat/bersama orang tua. Tapi, pada kenyataannya justru pesantren HARUS MEMBANGUN PONDASI KARAKTER DASAR ANAK dari Nol. Belum lagi keilmuan dan bakat anak pun harus terus diberikan selama anak tinggal di pesantren selama 24 Jam. Ini saja, terkadang pengasuh pesantren masih dihadapkan dengan orang tua yang tak puas dengan hasil pendidikan di pesantren.

 

Tak jarang pengasuh pesantren dianggap sebagai “kambing hitam” pihak yang paling disalahkan jika anak gagal atau tak sesuai target yang diharapkan oleh orang tua. Mondok di pesantren tahunan ngak hafal-hafal Qur’an, keilmuannya ngak meningkat2, Ngak bisa ini dan itu dan lain-lain

 

Pertanyaannya, kenapa hal sebagaimana saya sampaikan diatas bisa terjadi ?

Tentunya banyak faktor yang mendasari salah satunya KURANG IKHLASNYA ORANG TUA MONDOKKAN ANAKNYA DI PESANTREN sehingga ada saja masalah, tidak puas, tidak nyaman dll. Dan pada akhirnya KEBERKAHAN HIDUP DENGAN MONDOKKAN ANAK di pesantren tak mampu kira raih.

 

Saya selain di amanahi mengasuh anak-anak di pesantren yang sederhana, juga punya anak yang saat ini mondok di pesantren.Harapan saya pada anak tidak berubah dan tetap sederhana, yakni tetap teruslah berjuang menjadi anak sholeh/ah. Adapun pada akhirnya anak hafal Qur’an, punya keilmuan yang luas, punya bakat hebat dll, semua adalah bonus orang tua yang harus kita syukuri. Sedangkan cara mensyukurinya yakni dengan tetap memberikan dukungan yang maksimal pada anak untuk terus berkembang sesuai dengan kemampuannya.

 

Maka, saya senantiasa berpesan pada anak, yakni :

1.    LURUSKAN NIAT MU AGAR ALLAH TA’ALA MUDAHKAN LANGKAH & URUSANMU sebab lurusnya niat akan memudahkan langkah dan perjuangan kita meraih cita-cita

2.    BERSUNGGUHLAH dengan apa yang kita lakukan saat ini

3.    NIKMATI PROSESNYA, apapun yang terjadi selama mondok dinikmati saja, santai, dibuat senyaman mungkin menjalani        

 

 

Wallahu 'alam bishowab

________

MENDIDIK ANAK BERKARAKTER SEJAK USIA DINI (Diambilkan dari Catatan harian Pola Pendidikan di PONPES TAHFIZHUL QUR'AN "KH khoirotun Hisan" 

 

PENDAFTARAN SETIAP SAAT SELAMA KUOTA MASIH ADA

 

DAPATKAN BUKU :

SERIAL 01 MENDIDIK ANAK BERKARAKTER SEJAK USIA DINI (BERBASIS PESANTREN)/ 0823 2474 5151

 

 

0/Post a Comment/Comments

Yuk, tinggalkan komentar mu

Ads1
Ads2