Catatan ini saya awali dari saat saya
mendapatkan sebuah video pendek yang menceritakan tentang anak mondok di
pesantren. Dalam video ini tema utamanya yakni “JANGAN MASUKKAN ANAK ANDA KE PESANTREN”.
Yang membuat saya heran adalah narasi yang disampaikan si pembuat Video
nampaknya emasional dan kurang bijak memandang model pendidikan ala pesantren.
Dangkalnya pemahaman ini bisa jadi si pembuat memang tak punya basic pesantren
atau pernah gagal menjadi santri. Yang jelas, dirinya bukan seorang pengasuh
pesantren yang dengan ikhlas, sabar, tekun, menjaga anak selama 24 jam
Isi dalam video pendek tersebut disampaikan
bahwa di pesantren saat ini ada banyak bully, senioritas, ada pukul-pukulan,
banyak barang yang hilang (khususnya santri/wati baru) dll. Sebagai orang yang
mengasuh pesantren dan anak juga mondok pesantren, persoalan bully, senioritas,
barang hilang dll tentu hal ini pernah terjadi di pesantren, terlebih lagi
pesantren yang besar dengan jumlah santri/wati yang banyak.
Sebab dimanapun jika disuatu tempat (sekolah,
pesantren, asrama dll) berkumpul banyak orang dengan tujuan yang sama yakni
belajar dan tinggal bersama selama 24 jam, terlebih lagi anak-anak usia belasan
tahun, sangat memungkinkan terjadi tak terkecuali pesantren, bahkan sekelas
taruna akademik pun bully, pukulan dll juga masih sering terjadi
Pengambaran diatas, tentu tidak mencerminkan
pola pendidikan pesantren secara menyeluruh, apalagi jika kita mengabaikan
kontribusi pesantren bagi proses pendidikan anak-anak kita saat ini.Menilai
pendidikan ala pesantren harus bijak dan paham bagaimana konsep pendidikannya
Bahkan ada yang menilai bahwa pesantren dianggap
tempat yang lebih mengerikan dari sekolah tentu pendapat ini perlu diluruskan,
sehingga tidak membuat sesat pemikiran seseorang dan akhirnya orang tua enggan
untuk mondokkan anak di pesantren. Memang pesantren bukan lembaga pendidikan
yang “sempurna” untuk mengasuh/mendidik anak-anak kita, tapi pesantren telah
ikut memberikan andil dan kontribusi besar bagi proses pendidikan generasi
Islam masa depan. Kehadirannya barangkali jauh sebelum kita terlahir di dunia,
bahkan pesantren seperti Gontor ada sebelum NKRI berdiri
Pesantren memiliki model pendidikan yang unik
yang barangkali hanya ada di Indonesia. Jika kita lihat siroh Nabawiyyah pun,
kala itu juga tidak ada pesantren sebagaimana kita jumpai hari ini. Maka
kehadiran pesantren ditengah-tengah kita seharusnya bisa syukuri sebagai salah satu khasanah
proses pendidikan anak, sehingga kita punya banyak pilihan model pendidikan
yang tepat untuk anak kita, salah satunya yakni memasukkan anak ke pesantren.
Dan perlu diingat, bahwa pesantren sejatinya hanya sebatas wadah pendidikan
bagi anak2 sebagaimana wadah pendidikan anak lainnya semacam sekolah.
Sebagaimana sekolah atau lembaga pendidikan
tentu pesantren jauh dari sempurna, maka setiap orang tua pun dituntut bijak dan
paham tentang proses pendidikan ala pesantren sebelum anak di masukan ke pondok
pesantren, biar nantinya para orang tua tidak salah dalam menilai pesantren
jika pada kenyataannya tak sesuai dengan harapan orang tua selama ini. Dan bukan
masukkan anak ke pesantren atas dasar gensi, ikut2an atau merasa tak mampu
mendidik anak dengan baik
Memang, tidak semua anak yang mondok di pesantren
berhasil lulus dan menjadi orang baik sholeh/ah, sebab tidak ada satu pun
pesantren yang menjamin lulusannya menjadi anak yang sholeh/ah atau anak yang
pintar dan punya bakat hebat. Semua pada akhirnya akan kembali pada
masing-masing anak siap didik dan berubah menjadi lebih baik atau tidak. Pesantren
hanya mampu memberikan tempat, sapra, pola pengasuhan/pendidikan dan
pengembangan potensi/bakat anak yang terbaik untuk setiap anak asuhnya
Ingat, bahwa pondok pesantren sejatinya memang
bukan penanggungjawab utama keberhasilan anak mondok di pesantren. Pesantren hanyalah
sebatas mitra orang tua dalam mendidik anak menjadi anak sholeh/ah, syukur anak
kita pintar dan punya bakat yang hebat. Semua tanggung jawab kembali pada orang
tuanya masing-masing. Jadi tak bijak, jika ada yang kurang dari hasil dididik
anak selama tinggal di pesantren, pesantren menjadi “kambing hitam” atas
kegagalan anak yang tak sesuai harapan/target orang tua
Sebagaimana dalam catatan-catatan saya
sebelumnya bahwa keberhasilan anak mondok itu adalah akumulasi dari 3 proses
pendidikan anak, antara lain :
- 1. SAAT ANAK BERSAMA/DEKAT DENGAN ORANG TUA (Usia Dasar) /Pondasi Dasar Karakter sukses Anak Mondok di Pesantren)
- 2.
LINGKUNGAN
TERDEKAT ANAK (Kakek/Nenek, Bibi/Paman, Tertangga, Teman kampung dll)
- 3.
PENGASUH
PESANTREN SELAMA 24 JAM BERSAMA ANAK (Pesantren hanya sebatas MITRA ORANG TUA
didik anak)
Dari ke 3 proses diatas yang paling mendasar
bagi kesuksesan anak mondok di pesantren atau sukses dalam bidang2 lainnya ada
point No. 1. Sebab terkait dengan karakter dasar anak yang hanya bisa di
lakukan secara maksimal pada usia dini anak saat anak dekat/bersama orang tua.
Jika proses pengasuhan/pendidikan dasar anak
telah tuntas saat anak bersama/dekat dengan orang tua, maka pengasuh pesantren sejatinya
tinggal MENGUATKAN dan MENAMBAH apa-apa yang kurang dari proses pendidikan anak
selama anak dekat/bersama orang tua. Tapi, pada kenyataannya justru pesantren HARUS
MEMBANGUN PONDASI KARAKTER DASAR ANAK dari Nol. Belum lagi keilmuan dan bakat
anak pun harus terus diberikan selama anak tinggal di pesantren selama 24 Jam.
Ini saja, terkadang pengasuh pesantren masih dihadapkan dengan orang tua yang
tak puas dengan hasil pendidikan di pesantren.
Tak jarang pengasuh pesantren dianggap
sebagai “kambing hitam” pihak yang paling disalahkan jika anak gagal atau tak
sesuai target yang diharapkan oleh orang tua. Mondok di pesantren tahunan ngak
hafal-hafal Qur’an, keilmuannya ngak meningkat2, Ngak bisa ini dan itu dan
lain-lain
Pertanyaannya, kenapa hal sebagaimana saya
sampaikan diatas bisa terjadi ?
Tentunya banyak faktor yang mendasari salah
satunya KURANG IKHLASNYA ORANG TUA MONDOKKAN ANAKNYA DI PESANTREN sehingga ada
saja masalah, tidak puas, tidak nyaman dll. Dan pada akhirnya KEBERKAHAN HIDUP
DENGAN MONDOKKAN ANAK di pesantren tak mampu kira raih.
Saya selain di amanahi mengasuh anak-anak di
pesantren yang sederhana, juga punya anak yang saat ini mondok di pesantren.Harapan
saya pada anak tidak berubah dan tetap sederhana, yakni tetap teruslah berjuang
menjadi anak sholeh/ah. Adapun pada akhirnya anak hafal Qur’an, punya keilmuan
yang luas, punya bakat hebat dll, semua adalah bonus orang tua yang harus kita
syukuri. Sedangkan cara mensyukurinya yakni dengan tetap memberikan dukungan
yang maksimal pada anak untuk terus berkembang sesuai dengan kemampuannya.
Maka, saya senantiasa berpesan pada anak,
yakni :
1.
LURUSKAN
NIAT MU AGAR ALLAH TA’ALA MUDAHKAN LANGKAH & URUSANMU sebab lurusnya niat
akan memudahkan langkah dan perjuangan kita meraih cita-cita
2.
BERSUNGGUHLAH
dengan apa yang kita lakukan saat ini
3.
NIKMATI
PROSESNYA, apapun yang terjadi selama mondok dinikmati saja, santai, dibuat
senyaman mungkin menjalani
Wallahu 'alam bishowab
________
MENDIDIK ANAK BERKARAKTER SEJAK USIA DINI
(Diambilkan dari Catatan harian Pola Pendidikan di PONPES TAHFIZHUL QUR'AN
"KH khoirotun Hisan"
PENDAFTARAN SETIAP SAAT SELAMA KUOTA MASIH
ADA
DAPATKAN BUKU :
SERIAL 01 MENDIDIK ANAK BERKARAKTER SEJAK
USIA DINI (BERBASIS PESANTREN)/ 0823 2474 5151


Posting Komentar
Yuk, tinggalkan komentar mu