KETIKA KEMAJUAN JAMAN TAK BISA DIANDALKAN
LAGI UNTUK “MENEMPA” ANAK. Inilah tema catatan saya kali ini, nampaknya kita
sebagai orang tua harus terus berproses menjadi orang tua yang lebih hebat
dalam mendidik anak. Proses kita dalam mencari, membekali diri dan memotivasi
untuk berubah pada akhirnya akan sampai pada kesimpulan yang sama, bahwa
mendidik anak tidaklah mudah dilakukan orang tua khususnya jaman saat ini
Kemajuan jaman adalah keniscayaan, yang tidak
bisa kita hindari, sebab ini adalah bagian dari proses perjalanan manusia untuk
terus memperbaiki kualitas kehidupannya dari waktu ke waktu. Dalam rangka
memperbaiki kualitas inilah pada akhirnya melahirkan teknologi dan informasi
seperti yang kita saksikan saat ini sebagai bagian dari alat untuk mempermudah
segala urusan manusia.
Seiring dengan perjalanan waktu, teknologi
dan informasi berkembang dengan sangat pesatnya, konsekwensinya setiap manusia
harus bisa dan mampu menyesuaikan dirinya dengan jaman. Perkembangan teknologi
dan informasi ini bisa berdampak baik untuk kepentingan manusia, tapi juga bisa
memberikan dampak buruk bagi manusia, khususnya proses pendidikan anak-anak
kita saat ini
Walaupun tidak semua anak, jujur harus kita
akui bahwa anak-anak jaman dulu sangat beda jauh dengan anak-anak dijaman
sekarang. Anak-anak jaman dulu mungkin tidak sepintar dengan anak-anak jaman
sekarang, sebab keterbatasan tekonologi dan informasi. Tetapi mayoritas, kita
sepakat bahwa anak didikan jaman dulu rata-rata adalah anak yang tangguh dan
gigih menjalani hidup. Semua ini karena jaman saat itu ikut andil dalam mendidik
dan “menempa” anak-anak saat itu secara tidak langsung. Sebagaimana dalam
catatan saya ke 73 : ANTARA “MENEMPA” DAN “MEMOLES” ANAK DIJAMAN FITNAH, bahwa keberadaan
jaman, memang sangat mempengaruhi pembentukan karakter dasar anak-anak kita.
Dulu barangkali kita punya orang tua yang rata-rata
sederhana dalam banyak hal, baik pendidikan atau materi yang mereka punya.
Mungkin juga ilmu dalam mendidik anak pun mereka dapatkan dari proses turun
temurun dari orang tuanya (atau kakek/nenek kita), tapi ingat jaman saat itu
dan proses pendidikan anak ikut andil menempa anak-anak kita secara tidak
langsung. Sehingga kekurangan orang tua dalam “menempa” anak sedikit banyak
bisa ditutupi oleh kondsisi jaman dan proses pendidikan anak
disekolah/pesantren.
Adapun kondisi saat
ini sangat jauh berbeda, dimana banyak orang tua yang pintar punya gelar
akademik hebat, finasial yang mapan, terpandang, jadi panutan masyarakat, tapi
tak punya cukup bekal dalam mendidik anak-anak mereka sendiri (orang tua tidak
mewariskan ilmunya pada anaknya). Hal ini diperparah dengan jaman yang
cenderung melemahkan karakter dasar anak-anak kita.
Maka, harapan orang tua untuk mendidik anak
hanya tinggal satu cara yakni proses pendidikan yang mampu “menempa” anak
dengan baik. Tapi sayangnya proses pendidikan anak-anak kita saat ini pun jauh
dari proses “menempa” anak, yang terjadi justru hanya sekedar “memoles” anak
agar tanpa hebat, berilmu, punya kemampuan yang luar biasa, tapi karakter
dasarnya jauh dari standart karater anak muslim/ah yang hebat.
Gambaran diatas, tentu harus menjadi
perhatian kita bersama dan mencarikan solusi bagaimana anak-anak kita dijaman
kita saat ini mampu “tertempa” dengan baik. Maka ada beberapa langkah yang
harus dilakukan orang tua dalam mendidik anak mereka saat ini :
1.
Jangan
kehilangan momentum membekali anak-anak saat mereka masih pada usia dasar (usia
0 s/d Usia SD). Fokus, penuh perhatian dan berikan yang terbaik dalam mendidik
anak. Mumpung Allah Ta’ala memberikan cukup waktu kita untuk membersamai
anak-anak kita, ingat bahwa kesempatan tak akan datang untuk kedua kalinya. Dan
usia dasar anak (Usia 0 s/sd Usia SD) adalah waktu terbaik untuk
mengasuh/mendidik karakter dasar anak.
2.
Kemudian
setelah anak mulai menginjak usia Transisi (usia smp/MTs) masukkan mereka pada
lembaga pendidikan/ponpes yang memiliki konsep pengasuhan yang jadul (minim
fasilitas, mandiri dan siap berjuang dan berpayah2). Kalau bisa jangan
dimasukkan di pesantren yang full fasilitas dan anak hanya sebagai objek yang
selalu dilayani (dilaundrikan, tinggal makan, apa-apa dilayani dll), sekalipun
orang tua punya kemampuan finasial yang cukup untuk memasukkan anak di
pesantren yang full fasilitas.
Hal ini bertujuan
agar saat anak usia transisi masih bisa “tertempa” dengan baik saat anak
tinggal di pondok pesantren. Biar jiwa dan mental anak kuat dalam menjalani
rutinitas kehidupan dalam miniatur pesantren. Jangan sampai kemampuan bertahan,
jiwa petarung, kerja keras, pantang menyerah pundar dalam diri anak-anak kita
Lain halnya anak
ketika tumbuh dewasa silahkan dimasukkan ke pesantren yang sesuai dengan
potensi dan bakat anak
Untuk itulah, mendidik anak jaman sekarang
tidak sekedar orang tua punya ilmu parenting yang hebat, punya finansial yang
cukup atau dukungan lainya, tapi orang tua juga harus punya keberanian mendidik
anak dengan cara beda dan tidak populer di mata orang tua kebanyakkan hari ini.
Setiap orang tua harus punya visi dan misi
untuk mendidik anak-anaknya dan jangan mudah terbawa arus dengan sistem
pendidikan yang lagi trend, sebab jaman, proses pendidikan anak-anak saat ini
jauh beda dengan anak tempo dulu
Wallahu 'alam bishowab
________
MENDIDIK ANAK BERKARAKTER SEJAK USIA DINI
(Diambilkan dari Catatan harian Pola Pendidikan di PONPES TAHFIZHUL QUR'AN
"KH khoirotun Hisan"
PENDAFTARAN SETIAP SAAT SELAMA KUOTA MASIH
ADA
DAPATKAN BUKU :
SERIAL 01 MENDIDIK ANAK BERKARAKTER SEJAK
USIA DINI (BERBASIS PESANTREN)/ 0823 2474 5151
.jpg)


Posting Komentar
Yuk, tinggalkan komentar mu