CATATAN 107 : KETIKA KEMAJUAN JAMAN TAK BISA DIANDALKAN LAGI UNTUK “MENEMPA” ANAK

 

 

KETIKA KEMAJUAN JAMAN TAK BISA DIANDALKAN LAGI UNTUK “MENEMPA” ANAK. Inilah tema catatan saya kali ini, nampaknya kita sebagai orang tua harus terus berproses menjadi orang tua yang lebih hebat dalam mendidik anak. Proses kita dalam mencari, membekali diri dan memotivasi untuk berubah pada akhirnya akan sampai pada kesimpulan yang sama, bahwa mendidik anak tidaklah mudah dilakukan orang tua khususnya jaman saat ini

 

Kemajuan jaman adalah keniscayaan, yang tidak bisa kita hindari, sebab ini adalah bagian dari proses perjalanan manusia untuk terus memperbaiki kualitas kehidupannya dari waktu ke waktu. Dalam rangka memperbaiki kualitas inilah pada akhirnya melahirkan teknologi dan informasi seperti yang kita saksikan saat ini sebagai bagian dari alat untuk mempermudah segala urusan manusia.

 

Seiring dengan perjalanan waktu, teknologi dan informasi berkembang dengan sangat pesatnya, konsekwensinya setiap manusia harus bisa dan mampu menyesuaikan dirinya dengan jaman. Perkembangan teknologi dan informasi ini bisa berdampak baik untuk kepentingan manusia, tapi juga bisa memberikan dampak buruk bagi manusia, khususnya proses pendidikan anak-anak kita saat ini

 

Walaupun tidak semua anak, jujur harus kita akui bahwa anak-anak jaman dulu sangat beda jauh dengan anak-anak dijaman sekarang. Anak-anak jaman dulu mungkin tidak sepintar dengan anak-anak jaman sekarang, sebab keterbatasan tekonologi dan informasi. Tetapi mayoritas, kita sepakat bahwa anak didikan jaman dulu rata-rata adalah anak yang tangguh dan gigih menjalani hidup. Semua ini karena jaman saat itu ikut andil dalam mendidik dan “menempa” anak-anak saat itu secara tidak langsung. Sebagaimana dalam catatan saya ke 73 : ANTARA “MENEMPA” DAN “MEMOLES” ANAK DIJAMAN FITNAH, bahwa keberadaan jaman, memang sangat mempengaruhi pembentukan karakter dasar anak-anak kita.

 

BELAJAR KOMPUTER

Dulu barangkali kita punya orang tua yang rata-rata sederhana dalam banyak hal, baik pendidikan atau materi yang mereka punya. Mungkin juga ilmu dalam mendidik anak pun mereka dapatkan dari proses turun temurun dari orang tuanya (atau kakek/nenek kita), tapi ingat jaman saat itu dan proses pendidikan anak ikut andil menempa anak-anak kita secara tidak langsung. Sehingga kekurangan orang tua dalam “menempa” anak sedikit banyak bisa ditutupi oleh kondsisi jaman dan proses pendidikan anak disekolah/pesantren.  

 

Adapun kondisi saat ini sangat jauh berbeda, dimana banyak orang tua yang pintar punya gelar akademik hebat, finasial yang mapan, terpandang, jadi panutan masyarakat, tapi tak punya cukup bekal dalam mendidik anak-anak mereka sendiri (orang tua tidak mewariskan ilmunya pada anaknya). Hal ini diperparah dengan jaman yang cenderung melemahkan karakter dasar anak-anak kita.

 

Maka, harapan orang tua untuk mendidik anak hanya tinggal satu cara yakni proses pendidikan yang mampu “menempa” anak dengan baik. Tapi sayangnya proses pendidikan anak-anak kita saat ini pun jauh dari proses “menempa” anak, yang terjadi justru hanya sekedar “memoles” anak agar tanpa hebat, berilmu, punya kemampuan yang luar biasa, tapi karakter dasarnya jauh dari standart karater anak muslim/ah yang hebat.

 

Gambaran diatas, tentu harus menjadi perhatian kita bersama dan mencarikan solusi bagaimana anak-anak kita dijaman kita saat ini mampu “tertempa” dengan baik. Maka ada beberapa langkah yang harus dilakukan orang tua dalam mendidik anak mereka saat ini :

1.    Jangan kehilangan momentum membekali anak-anak saat mereka masih pada usia dasar (usia 0 s/d Usia SD). Fokus, penuh perhatian dan berikan yang terbaik dalam mendidik anak. Mumpung Allah Ta’ala memberikan cukup waktu kita untuk membersamai anak-anak kita, ingat bahwa kesempatan tak akan datang untuk kedua kalinya. Dan usia dasar anak (Usia 0 s/sd Usia SD) adalah waktu terbaik untuk mengasuh/mendidik karakter dasar anak.   

 

2.    Kemudian setelah anak mulai menginjak usia Transisi (usia smp/MTs) masukkan mereka pada lembaga pendidikan/ponpes yang memiliki konsep pengasuhan yang jadul (minim fasilitas, mandiri dan siap berjuang dan berpayah2). Kalau bisa jangan dimasukkan di pesantren yang full fasilitas dan anak hanya sebagai objek yang selalu dilayani (dilaundrikan, tinggal makan, apa-apa dilayani dll), sekalipun orang tua punya kemampuan finasial yang cukup untuk memasukkan anak di pesantren yang full fasilitas.

 

Hal ini bertujuan agar saat anak usia transisi masih bisa “tertempa” dengan baik saat anak tinggal di pondok pesantren. Biar jiwa dan mental anak kuat dalam menjalani rutinitas kehidupan dalam miniatur pesantren. Jangan sampai kemampuan bertahan, jiwa petarung, kerja keras, pantang menyerah pundar dalam diri anak-anak kita

 

Lain halnya anak ketika tumbuh dewasa silahkan dimasukkan ke pesantren yang sesuai dengan potensi dan bakat anak

 

Untuk itulah, mendidik anak jaman sekarang tidak sekedar orang tua punya ilmu parenting yang hebat, punya finansial yang cukup atau dukungan lainya, tapi orang tua juga harus punya keberanian mendidik anak dengan cara beda dan tidak populer di mata orang tua kebanyakkan hari ini.

 

Setiap orang tua harus punya visi dan misi untuk mendidik anak-anaknya dan jangan mudah terbawa arus dengan sistem pendidikan yang lagi trend, sebab jaman, proses pendidikan anak-anak saat ini jauh beda dengan anak tempo dulu 

 


 

Wallahu 'alam bishowab

________

MENDIDIK ANAK BERKARAKTER SEJAK USIA DINI (Diambilkan dari Catatan harian Pola Pendidikan di PONPES TAHFIZHUL QUR'AN "KH khoirotun Hisan" 

 

PENDAFTARAN SETIAP SAAT SELAMA KUOTA MASIH ADA

 

DAPATKAN BUKU :

SERIAL 01 MENDIDIK ANAK BERKARAKTER SEJAK USIA DINI (BERBASIS PESANTREN)/ 0823 2474 5151

0/Post a Comment/Comments

Yuk, tinggalkan komentar mu

Ads1
Ads2