CATATAN 108 : KETIKA EKSPEKTASI (HARAPAN/KEINGINAN) ORANG TUA SAAT MONDOKKAN ANAK DI PESANTREN TAK SESUAI KENYATAAN

 


 

Setiap orang tua muslim dalam mendidik anak sejatinya telah memiliki real model atau konsep yang jelas yakni konsep pendidikan illahiyyah. Sebagaimana catatan saya sebelumnya bahwa konsep pendidikan anak muslim sudah sangat jelas baik dari sisi modal awalnya, proses pengasuhan/pendidikannya, materi ajarnya, tujuan mendidik anak dll. Sehingga jika setiap orang tua muslim mampu mengenali, memahami dengan baik persoalan ini, maka mendidik anak sejatinya hal yang mudah dilakukan oleh setiap orang tua muslim.

 

Akan tetapi proses mendidik anak menjadi rumit dan berat dijalani oleh para orang tua, karena orang tua banyak yang tak paham tentang konsep pendidikan illahiyyah dan tak berjuang untuk mendapatkannya. Selain itu, tentu banyak keinginan dunia yang ikut menyertai dari proses mendidik anak selama ini. Ingin anaknya punya kelebihan ini dan itu, punya prestasi hebat, menjadi juara dll. Ya, begitulah jika kepentingan dunia ikut menyertai dalam proses mendidik anak, maka ujung-ujungnya adalam beban dan merasa berat dalam mendidik anak.

 

Berapa banyak orang tua saat ini merasa terbebani dengan anak-anak mereka sendiri. Anak dianggap merepotkan dan dianggap menjadi beban orang tua. Dan berapa banyak orang tua yang setiap harinya hanya bisa mengeluh mengurusi anak-anaknya, mungkin orang tua itu adalah kita. Jarang kita temukan hari ini orang tua yang benar2 ikhlas dalam mendidik anak, tidak mudah mengeluh dan mampu menjadi sosok orang tua yang kuat dan tangguh dalam menjalani proses pendidikan anak-anak mereka. Ya, kuncinya adalah keikhlasan orang tua dalam mendidik anak.

 

Kembali pada tema catatan saya di atas, memasukan anak ke pesantren adalah salah satu pilihan dan upaya orang tua dalam mendidik anak agar anaknya tumbuh menjadi pribadi yang tidak sekedar sholeh/ah, tapi juga berilmu dan punya bakat yang hebat. Tapi terkadang banyak kita temukan orang tua yang terlalu punya ekspetasi (harapan/keinginan) berlebihan saat anaknya mondok di pesantren, padahal seringkali harapan itu tak sesuai dengan kenyataan.

 

Banyak orang tua yang menaruh harapan/keinginan pada proses pengasuhan/pendidikan di pesantren. Mereka sangat berharap anaknya menjadi pribadi yang sholeh/ah, pintar, berbakat, hafal Qur’an 30 Juz, punya skill yang hebat dll saat anak sedang/ketika anak selesai mondok di pesantren. Tapi, ingat bahwa harapan itu seringkali tak sesuai dengan kenyataannya, terlebih lagi pesantren sejatinya hanya sedekar mitra orang tua dalam mengasuh/mendidik anak selama mondok.

 

Berharap/punya keinginan itu tidak dilarang, bagaimana pun setiap orang tua pasti menginginkan yang terbaik pada anak-anak mereka saat mondok di pesantren. Tetapi, punya ekspektasi (harapan/keinginan) berlebihan itu bukanlah sikap yang bijak bagi orang tua yang mondokkan anak di pesantren.Apalagi orang tua yang hanya menginginkan prodak jadi dan enggan mengikuti/menghargai proses yang selama ini berjalan.

 

Banyak orang tua yang punya pandangan bahwa jika anak mondok pesantren yang serba lengkap sapranya, gedung megah, pondoknya terkenal, sistem pengasuhan/pendidikannya hebat, pengasuhnya berpegalaman, biayanya mahal dll hasil pengasuhan/pendidikan anak pasti akan melahirkan anak yang hebat.  Sehingga orang tua tidak perlu menjadi bagian dari proses pengasuhan/pendidikan anak selama mondok, toh yang pentingkan sudah bayar.

 

Padahal pondok pesantren hanya sekedar mitra orang tua dalam mendidik anak selama anak ada di pesantren. Dan ingat bahwa ponpes tidak mengambil tanggung jawab orang tua selama anak mondok di pesantren. Tanggung jawab ini tidak hilang/terputus hanya karena anak mondok di pesantren selama 24 jam penuh dan jarang pulang ke rumah ketemu orang tua.

 

Untuk itu setiap orang tua yang mondokkan anak di pesantren harus menjadi bagian dari proses pengasuhan/pendidikan anak selama anak mondok dibawah bimbingan pengasuh pesantren. Walaupun keterlibatan orang tua bukan keterlibatan secara langsung (karena sudah diamanahkan pada pengasuh pesantren), tapi keterlibatan secara tidak langsung mutlak harus diberikan orang tua sebagai bentuk tanggung jawab orang tua saat anaknya mondok di pesantren.

 

Yang jadi pertanyaan, bagaimana keterlibatan orang tua secara tidak langsung agar anak kita mudah didik di pesantren ? Caranya yakni silahkan baca kembali catatan saya sebelumnya :

1.    CATATAN 79 : MENDIDIK ANAK DENGAN CARA LANGIT 


2.    CATATAN 84 : BEREMPATI PADA ANAK YANG SEDANG BERJUANG MENUNUT ILMU DI PESANTREN 

 

Jadi jangan buru-buru menyalahkan pesantren atas hasil didik anak-anak kita selama mondok di pesantren, barangkali masih ada sisi ruhiyah orang tua, khususnya seorang ibu yang belum beres dan menuntut untuk segera memperbaiki diri       

 

Wallahu 'alam bishowab

________

MENDIDIK ANAK BERKARAKTER SEJAK USIA DINI (Diambilkan dari Catatan harian Pola Pendidikan di PONPES TAHFIZHUL QUR'AN "KH khoirotun Hisan" 

 

PENDAFTARAN SETIAP SAAT SELAMA KUOTA MASIH ADA

 

DAPATKAN BUKU :

SERIAL 01 MENDIDIK ANAK BERKARAKTER SEJAK USIA DINI (BERBASIS PESANTREN)/ 0823 2474 5151

0/Post a Comment/Comments

Yuk, tinggalkan komentar mu

Ads1
Ads2