Setiap orang tua muslim dalam mendidik anak
sejatinya telah memiliki real model atau konsep yang jelas yakni konsep
pendidikan illahiyyah. Sebagaimana catatan saya sebelumnya bahwa konsep
pendidikan anak muslim sudah sangat jelas baik dari sisi modal awalnya, proses
pengasuhan/pendidikannya, materi ajarnya, tujuan mendidik anak dll. Sehingga
jika setiap orang tua muslim mampu mengenali, memahami dengan baik persoalan
ini, maka mendidik anak sejatinya hal yang mudah dilakukan oleh setiap orang
tua muslim.
Akan tetapi proses mendidik anak menjadi
rumit dan berat dijalani oleh para orang tua, karena orang tua banyak yang tak
paham tentang konsep pendidikan illahiyyah dan tak berjuang untuk
mendapatkannya. Selain itu, tentu banyak keinginan dunia yang ikut menyertai
dari proses mendidik anak selama ini. Ingin anaknya punya kelebihan ini dan
itu, punya prestasi hebat, menjadi juara dll. Ya, begitulah jika kepentingan
dunia ikut menyertai dalam proses mendidik anak, maka ujung-ujungnya adalam
beban dan merasa berat dalam mendidik anak.
Berapa banyak orang tua saat ini merasa
terbebani dengan anak-anak mereka sendiri. Anak dianggap merepotkan dan
dianggap menjadi beban orang tua. Dan berapa banyak orang tua yang setiap harinya
hanya bisa mengeluh mengurusi anak-anaknya, mungkin orang tua itu adalah kita.
Jarang kita temukan hari ini orang tua yang benar2 ikhlas dalam mendidik anak,
tidak mudah mengeluh dan mampu menjadi sosok orang tua yang kuat dan tangguh dalam
menjalani proses pendidikan anak-anak mereka. Ya, kuncinya adalah keikhlasan
orang tua dalam mendidik anak.
Kembali pada tema catatan saya di atas,
memasukan anak ke pesantren adalah salah satu pilihan dan upaya orang tua dalam
mendidik anak agar anaknya tumbuh menjadi pribadi yang tidak sekedar sholeh/ah,
tapi juga berilmu dan punya bakat yang hebat. Tapi terkadang banyak kita
temukan orang tua yang terlalu punya ekspetasi (harapan/keinginan) berlebihan saat
anaknya mondok di pesantren, padahal seringkali harapan itu tak sesuai dengan
kenyataan.
Banyak orang tua yang menaruh
harapan/keinginan pada proses pengasuhan/pendidikan di pesantren. Mereka sangat
berharap anaknya menjadi pribadi yang sholeh/ah, pintar, berbakat, hafal Qur’an
30 Juz, punya skill yang hebat dll saat anak sedang/ketika anak selesai mondok
di pesantren. Tapi, ingat bahwa harapan itu seringkali tak sesuai dengan
kenyataannya, terlebih lagi pesantren sejatinya hanya sedekar mitra orang tua
dalam mengasuh/mendidik anak selama mondok.
Berharap/punya keinginan itu tidak dilarang,
bagaimana pun setiap orang tua pasti menginginkan yang terbaik pada anak-anak
mereka saat mondok di pesantren. Tetapi, punya ekspektasi (harapan/keinginan)
berlebihan itu bukanlah sikap yang bijak bagi orang tua yang mondokkan anak di
pesantren.Apalagi orang tua yang hanya menginginkan prodak jadi dan enggan
mengikuti/menghargai proses yang selama ini berjalan.
Banyak orang tua yang punya pandangan bahwa jika
anak mondok pesantren yang serba lengkap sapranya, gedung megah, pondoknya
terkenal, sistem pengasuhan/pendidikannya hebat, pengasuhnya berpegalaman,
biayanya mahal dll hasil pengasuhan/pendidikan anak pasti akan melahirkan anak
yang hebat. Sehingga orang tua tidak
perlu menjadi bagian dari proses pengasuhan/pendidikan anak selama mondok, toh
yang pentingkan sudah bayar.
Padahal pondok pesantren hanya sekedar mitra
orang tua dalam mendidik anak selama anak ada di pesantren. Dan ingat bahwa
ponpes tidak mengambil tanggung jawab orang tua selama anak mondok di
pesantren. Tanggung jawab ini tidak hilang/terputus hanya karena anak mondok di
pesantren selama 24 jam penuh dan jarang pulang ke rumah ketemu orang tua.
Untuk itu setiap orang tua yang mondokkan
anak di pesantren harus menjadi bagian dari proses pengasuhan/pendidikan anak
selama anak mondok dibawah bimbingan pengasuh pesantren. Walaupun keterlibatan
orang tua bukan keterlibatan secara langsung (karena sudah diamanahkan pada
pengasuh pesantren), tapi keterlibatan secara tidak langsung mutlak harus
diberikan orang tua sebagai bentuk tanggung jawab orang tua saat anaknya mondok
di pesantren.
Yang jadi pertanyaan, bagaimana keterlibatan
orang tua secara tidak langsung agar anak kita mudah didik di pesantren ? Caranya
yakni silahkan baca kembali catatan saya sebelumnya :
1. CATATAN 79 : MENDIDIK ANAK DENGAN CARA LANGIT
2.
CATATAN
84 : BEREMPATI PADA ANAK YANG SEDANG BERJUANG MENUNUT ILMU DI PESANTREN
Jadi jangan buru-buru menyalahkan pesantren
atas hasil didik anak-anak kita selama mondok di pesantren, barangkali masih
ada sisi ruhiyah orang tua, khususnya seorang ibu yang belum beres dan menuntut
untuk segera memperbaiki diri
Wallahu 'alam bishowab
________
MENDIDIK ANAK BERKARAKTER SEJAK USIA DINI
(Diambilkan dari Catatan harian Pola Pendidikan di PONPES TAHFIZHUL QUR'AN
"KH khoirotun Hisan"
PENDAFTARAN SETIAP SAAT SELAMA KUOTA MASIH
ADA
DAPATKAN BUKU :
SERIAL 01 MENDIDIK ANAK BERKARAKTER SEJAK
USIA DINI (BERBASIS PESANTREN)/ 0823 2474 5151


Posting Komentar
Yuk, tinggalkan komentar mu