Mendidik anak sejatinya pekerjaan yang mudah
dilakukan oleh setiap orang tua manapun, sebab mendidik anak selain menjadi
bagian tugas pokok orang tua hidup didunia juga menjadi bagian fitroh orang tua
yang telah Allah Ta’ala berikan. Untuk mendukung pernyataan ini, sebagaimana
catatan saya sebelumnya bahwa seorang anak yang terlahir di dunia, pada
hakekatnya akan mengikuti fitrohnya yakni mentauhidkan pada Allah Ta’ala dan
siap dididik menjadi pribadi yang baik, sholeh/ah (apapun latar belakang anak).
Tinggal pertanyaannya, bagaimana proses pendidikan itu diberikan pada anak.
Seiring dengan perjalanan waktu, banyak orang
tua seperti kita saat ini yang tak mampu mendidik anaknya dengan baik. Ambilah
contoh yakni proses mendidik anak agar memiliki mampu menjaga waktu subuhnya
dengan baik, kenyataannya banyak orang tua yang tak mampu menjalankan dengan
baik. Padahal, mendidik anak agar memiliki waktu subuh tidak mengharuskan
menjadi orang tua yang sukses, punya gelar akademik yang hebat, menjadi tokoh
masyarakat dll, setiap orang tua mampu menunaikan dengan baik, asal ada
komitmen dan perjuangan.
Akhirnya, atas dasar tuntutan jaman para
orang tua semakin tak mampu dan memahami perannya dengan baik dalam mendidik
keluarga dan anak-anak mereka. Para lelaki kehilangan sifat dan karakter
sebagai suami yang kuat dan ayah yang hebat untuk anak-anak mereka, sedangkan
para istri/ibu tak mampu menjadi istri yang patuh dan taat pada suami, serta
mampu mendidik anak dengan baik.
Kalau sudah seperti ini siapa yang salah ? Tentu
kita tidak bijak jika perkembangan jaman saat ini yang kita persalahkan. Atau
mungkin suami/istri kita yang salah ? Atau orang tua kita dulu yang tak bisa
mendidik kita dengan baik, sehingga kita tak punya kemampuan menjadi orang tua
yang hebat bagi anak-anak kita ? Yang jelas, saat ini kita sedang berada dalam
pusaran jaman yang serba fitnah. Sehingga tanpa kita sadari proses pendidik
anak-anak kita pun jauh dari konsep mendidik yang di tetapkan Allah Ta’ala.
Maka, untuk sekedar mendidik anak menjadi anak sholeh/ah (Belum sampai mendidik
anak pintar/berpakat lho) banyak orang tua yang gagal menjalani (gagal
mengemban misi Allah Ta’ala)
Lalu, bagaimana kita harus mendidik anak
dipusaran jaman seperti ini ? Ada beberapa cara salah satunya yakni MENDIDIK
ANAK DENGAN CARA LANGIT. Mendidik Anak dengan cara langit ini seharusnya
dipahami, dimengerti dan dimiliki oleh setiap orang tua muslim saat ini.
Pertanyaan kenapa ?
1.
Setiap
orang tua tidak mampu menjadi orang tua yang sempurna untuk anak-anak mereka.
Maka, ada ungkapan bahwa kehebatan orang tua dalam mendidik anak hanya untuk
anak-anaknya sendiri (bukan anak orang lain). Maknanya bahwa : Jika kita
pandang ada sosok orang tua yang hebat mendidik anak-anaknya, belum tentu orang
tua tersebut bisa hebat pula saat diserahi mendidik anak orang lain.
Begitu pula pengasuh
pondok pesantren yang diamanahi orang tua untuk mendidik anak-anak mereka,
sejatinya mereka hanya terpilih saja mendidik anak-anak kita, bukan karena
mereka sosok orang tua hebat.
2.
Anak-anak
kita pada akhirnya tidak terus bersama orang tua selama 24 jam non stop, ada
ruang untuk berpisah sementara atau “ruang tak berdaya”. Selama berpisah dengan
orang tua, entah karena sekolah/mondok di pesantren, selama itu pula anak tentu
lepas dari pantauan orang tua. Otomatis segala sikap, prilaku, mentalitas, amal
hariannya, ucapan2 nya diluar sepengetahuan orang tua. Orang tua tidak punya
kemampuan menjangkau dan mendidik anak, tidak sebagaimana saat anak
dekat/bersama orang tua
Di “ruang tak
berdaya” menurut istilah saya, apapun bisa terjadi dengan anak-anak kita.
Berpisahnya lama atau sebentar tidak menjamin anak-anak kita dalam kondisi
baik-baik saja. Bisa saja anak pagi sekolah sampai siang hari, kemudian
perjalanan pulang mendapatkan pendidikan yang buruk dari orang lain yang
ditemuinya dll. Terlebih lagi, jika anak mondok dipesantren, maka orang tua
harus bisa paham, mengerti dan memiliki kunci-kunci nya disaat kita berada pada
“ruang tak berdaya”
Untuk anak-anak kita
yang mondok dipesantren, lalu bagaimana kita sikap kita dan bagaimana kita menjadi
bagian dari proses pendidikan anak-anak kita ? Apalagi, tanggungjawab mendidik
anak tetap melekat pada orang tua, sedangkan pengasuh pesantren hanya sebatas
mitra kita dalam mendidik anak-anak kita ?
Ke 2 faktor di atas menjadi alasan bagi
setiap orang tua muslim, kenapa kita perlu memiliki kunci mendidik anak kita yakni
MENDIDIK ANAK DENGAN CARA LANGIT. Lalu bagaimana mendidik anak dengan cara
langit itu ? Paling tidak ada 2 hal yakni :
1)
MEMILIKI
AMALIYYAH YANG LUAR BIASA DI HADAPAN ALLAH TA’ALA
Berjuang agar kita
bisa memiliki amaliyyah yang punya nilai istimewa di mata Allah Ta’ala.
Sebagaimana perkataan Imam Malik, bahwa amal itu sebagaimana rizqi. Ada yang
dimudahkan dalam hal menjalankan puasa, ada yang dimudahkan sedekah, ada yang
dimudahkan dalam urusan amal lainnya. Mungkin, masing-masing kita tidak sama,
maka kenali potensi amal itu pada diri kita, kemudian lakukan secara rutin dan
istiqomah.
Sebagaimana contoh :
Ada orang yang mampu
menunaikan puasa Sunnah Senin dan Kamis secara istiqomah dan tidak pernah
ditinggalkan. Puasa ini telah dilakukan sampai puluhan tahun usia remaja hingga
tua. Mungkin, amalan puasa senin kamis ini di mata kita sangatlah mudah dan
sederhana, tapi amalan ini akan menjadi istimewa jika dilakukan berpuluh-puluh
tahun secara rutin dan tidak pernah ditinggalkannya. Adalagi yang mampu bangun
malam Qiyamulail, ada yang mampu sedekah dll
Untuk itu, seharusnya
setiap orang tua muslim memiliki amalan istiwema yang telah dijalaninya selama
ini, sebagai wasilah kita untuk mendidik anak-anak kita. Pertanyaannya,
sudahkan amalan itu kita lakukan dan kita perjuangan ??
2)
MENJADI
BAGIAN DARI PROSES PENDIDIKAN ANAK ORANG LAIN (MENDIDIK ANAK SHOLEH/AH)
Cara selanjutnya
yakni berjuanglah bisa menjadi bagian dari proses mendidik anak orang lain
menjadi anak sholeh/ah (bukan anak pintar/berbakat), khususnya di pondok
pesantren. Entah sebagai pengasuh, pengajar, donatur dari proses pendidikan
tersebut. Selama kita menjadi bagian dari program itu, niatkan pula perjuangan
kita mendidik anak-anak orang lain selama ini semata-mata karena Allah Ta’ala
dan sekaligus sebagai wasilah untuk mendidik anak-anak juga, yang barangkali
anak-anak sedang dididik oleh orang lain pula.
Insya Allah, melalui
perjuangan kita mendidik anak orang lain seberapa pun beratnya, Allah Ta’ala
akan mudahkan kita mendidik anak-anak kita selama ini.
Ke 2 kunci ini seharusnya dimiliki oleh orang
tua muslim dalam mendidik anak-anak mereka agar tumbuh menjadi anak sholeh/ah. Jika,
tak mampu ke 2 nya minimal 1 kunci saja sudah cukup, Alhamdulillah, jika ke 2
kunci itu bisa kita miliki. Sayangnya, hari ini banyak orang tua dalam mendidik
anak hanya sekedar menggadalkan lembaga yang berkualitas semata, Kurikulum yang
hebat, bangunan dan fasilitas yang megah dan komplit, Pengasuh yang mumpuni dan
handal semata dll.
Kemudian sudah merasa cukup dengan membayar
spp bulanan (tidak mau menjadi bagian dari proses pendidikan anak sholeh/ah
orang lain, padahal punya kemampuaan dan kesempatan). Mendidik anak hanya
sekedar transaksi bisnis untung dan rugi semata.
Banyak cerita dalam mendidik anak sholeh/ah
selama ini. Ada anak yang jika dilihat dari konsep teori pendidikan anak, anak
bisa dikatagorikan sebagai anak yang berpontensi “punya karakter yang buruk”
dan susah dididik. Saat menemukan kondisi seperti ini, saya bingung dan terus belajar
untuk menganalisa lebih dalam pada anak-anak ini, kenapa ya ?
Akhirnya terjawab : Bahwa pengaruh amaliyah
orang tua selama ini dan peran orang tua pada proses pendidikan anak orang lain
ternyata punya andil yang besar dalam proses pendidikan anak-anak kita
nantinya. Maka, saya istilahkan MENDIDIK ANAK DENGAN CARA LANGIT yakni dengan
cara melibatkan Allah Ta’ala dalam proses mendidik anak-anak kita selama ini.
Wallahu 'alam bishowab
________


Posting Komentar
Yuk, tinggalkan komentar mu