CATATAN 109 : SABARLAH MENANTI PERUBAHAN ANAK KITA YANG SEDANG BERJUANG MENJADI ANAK SHOLEH/AH DI PONDOK PESANTREN



Kesabaran adalah kunci kesuksesan, pepatah ini sangat sederhana tapi syarat dengan makna bagi mereka yang sedang proses berjuang membangun cita-cita. Setiap perjuangan apapun pasti membutuhkan kesabaran. Semakin tinggi cita-cita dan semakin besar pengorbanan, maka semakin besar pula kesabaran seseorang untuk meraihnya. 


Maka dibalik kesuksesan tersimpan pengorbanan dan dibalik pengorbanan ada kesabaran yang harus dijalani. Tidak ada kesuksesan tanpa pengorbanan dan tidak ada pengorbanan jika tanpa kesabaran 


Termasuk kita dalam proses mendidik anak-anak, bahwa kesabaran adalah kunci kesuksesan kita mendidik anak, khususnya anak yang mondok di pesantren yang mengharuskannya tinggal selama 24 jam, jauh dari orang tua, keluarga, lingkungan dan teman-teman kampungnya.  


SABARLAH MENANTI PERUBAHAN ANAK MU YANG SEDANG BERJUANG MENJADI ANAK SHOLEH/AH DI PONDOK PESANTREN. Ya, inilah tema catatan saya kali ini, tema yang barangkali sederhana bagi kita, tetapi realitanya banyak orang tua yang tak sabar menjalani dan sabar menanti. 


Karena anak sudah lama mondok tapi tak kunjung berubah, sudah lama mondok kok hafalannya ngak nambah-nambah, sudah lama mondok kok karakternya masih saja buruk dll. Banyak sekali keluhan yang dilontarkan orang tua atas hasil didikan pesantren terhadap anaknya, yang pada intinya orang tua tak puas dan tak sabar menanti perubahan anaknya yang sedang berjuang menjadi anak sholeh/ah selama di pesantren 


Ketidaksabaran ini tentu bermula karena kurang pahamnya orang tua terhadap pendidikan anak ala pesantren atau bisa jadi niat awal mondokkan anak ke pesantren harus diluruskan kembali. Kita sebagai orang tua yang anaknya mondok di pesantren seharusnya paham bahwa anak-anak kita di pesantren sejatinya sedang berjuang dan tidak hanya tidur, makan, main-main, belajar saja. Dan pengasuh pesantren (yang diamanahi orang tua) pun tidak hanya diam saja  dan tak berbuat apa2 terhadap anak-anak kita. 


Bahkan pengasuh pesantren punya tugas yang super berat ketika diamanahi anak mondok (yang setiap orang tua belum tentu mampu menunaikan dengan baik) yakni menjaga anak 24 jam, belum lagi jika anak tidak betah mondok atau kabur, memastikan anak tidak kelaparan, menjamin anak aman dan baik, membangun karakternya, menambah keilmuan anak, mengembangkan bakatnya dll


Aktivitas sebagaimana di atas, yakni makan, tidur, belajar dll adalah kegiatan yang mudah dijalani anak selama anak dan mudah pula bagi pengasuh pesantren untuk melakukannya, tapi yang terberat yakni merubah anak menjadi pribadi yang sholeh/ah. Menjadikan anak pintar/berbakat itu hal yang mudah dilakukan pesantren, melahirkan anak hafal qur’an 30 juz itu hal yang gampang bagi pesantren, membuat anak punya prestasi ini dan itu tidak sulit bagi pesantren untuk mewujudkan, tapi menjadikan anak menjadi pribadi yang baik sholeh/ah itu adalah tugas terberat pengasuh pesantren. 


Maka tugas yang berat mendidik anak-anak kita selama di pesantren yang dilakukan pengasuh, seharusnya tidak dibebani lagi dengan sikap dan prilaku serta keinginan orang tua untuk cepat mendapatkan hasil. Kalau bisa justru dibantu, dimudahkan, diringankan bebannya saat mendidik anak-anak kita. Jika tak mampu membantu sama sekali minimal jangan membuat repot pengasuh pesantren. 


Dari semua proses pengasuhan/pendidikan anak selama mondok, semua boleh ada waktu dan target kurikulum yang harus diberikan, tapi merubah anak menjadi pribadi anak sholeh/ah itu tidak boleh dibatasi waktu. Merubah anak menjadi lebih baik (berkarakter) tidak boleh tersandra oleh kurikulum, dia harus natural sesuai dengan kebutuhan masing-masing anak. Walaupun masuk pondok pesantren bersamaan, di pondok pesantren yang sama, dibawah pengasuh yang sama, pola pengasuhan/pendidikan yang sama, tapi setiap anak pasti punya proses yang berbeda satu sama lainnya untuk menjadi lebih baik. Jalan yang ditempuh anak untuk berubah belum tentu cocok bagi anak yang lainnya


Ada anak yang cepat adaptasi dan berubah menjadi lebih baik diawal masuk pesantren, ada yang berubah di tahun 2, 3, 4 bahkan tahun ke 5 mondok. Dinamika perubahan anak itu tidak sama dan masing-masing tentu punya dasar pilihan untuk berubah. Sayangnya anak yang mengalami proses perubahan yang lama, seringkali tidak ada toleransi untuk tetap mondok atau tidak, apalagi kurikulum pondok sudah mengharuskan dirinya untuk lulus. Akhirnya proses berubah belum final, anak diharuskan meninggalkan tempat yang sejak awal menempa dirinya, kemudian dipaksa untuk mulai dari awal lagi ditempat baru 


Dari sini kita bisa mengambil pelajaran bahwa sejatinya setiap anak punya modal untuk berubah menjadi lebih baik (sholeh/ah), yakni : 

1. Fitroh anak itu mudah untuk diasuh/dididik oleh siapa pun, maka bagi anak yang penting adalah pengasuhan/pendidikan dirinya dan tidak penting siapa yang memberi. Jika orang tua membuang dan mengabaikannya, anak pun bisa mendapatkan pengasuhan/pendidikan orang lain  

 

2. Setiap anak diberi ruang yang cukup untuk berubah menjadi lebih baik lagi, maknanya jika anak ditempatkan dilingkungan yang baik, interaksi dengan baik, komunikasi baik, contoh yang baik dll maka anak akan berubah menjadi lebih baik (walaupun tanpa proses pengasuhan/pendidikan yang ketat) 



Ada orang tua yang mengeluh tentang anaknya yang dinilainya “nakal”, akhirnya di pondok pesantren ditempat kita, kemudian orang tuanya bilang : “Bagaimana ya ustadz merubah anak saya ini bisa menjadi lebih baik ? “Ketika mendapatkan pertanyaan itu, terus terang saya tidak tahu harus jawab bagaimana, sebab saya juga tak tahu jawaban pastinya, bahkan secara teori pendidikan pun tidak ada jawaban yang tepat untuk anak ini. Saat itu saya hanya bilang : “Coba pak ditunggu saja prosesnya, mudah2 anaknya bisa berubah” . Alhamdulillah, seiring perjalanan waktu anak mulai berubah menjadi lebih baik 


Dari sini saya bisa belajar, bahwa terkadang untuk bisa menjadi lebih baik anak tidak memerlukan berbagai konsep/teori ilmu parenting yang detail, hebat, ilmiah dll, tapi cukup diberi ruang yang nyaman dan terkendali. Sayangnya, kenyamanan itu seringkali tak mampu kita hadirkan pada anak-anak kita, yang ada hanya tuntutan, omelan, target dll, sehingga anak terus-terusan dalam tekanan dan tak siap untuk berubah.         


Saat kenyamanan bisa dirasakan anak, maka proses selanjutnya sabar menanti anak untuk berubah menjadi lebih baik. Ada 3 pesan yang senantiasa saya ulang2 untuk menasehati anak yang sedang mondok yakni : 

1.  LURUSKAN NIAT agar Allah Ta’ala mudah setiap langkah kita


2. BERSUNGGUH-SUNGGUHLAH tidak harus berprestasi/juara (sebab prestasi/juara hanya sekedar bonus semata)

 

3. NIKMATI PROSES NYA, di hukum, dimarahi, dinasehati di omelin selama mondok siap diterima dengan ikhlas 


Sebagai akhir catatan, yuk belajar menanti anak kita yang berjuang menjadi anak sholeh/ah di pesantren ...jangan lupa do’anya untuk anak-anak kita 



Wallahu 'alam bishowab

________

MENDIDIK ANAK BERKARAKTER SEJAK USIA DINI (Diambilkan dari Catatan harian Pola Pendidikan di PONPES TAHFIZHUL QUR'AN "KH khoirotun Hisan"  


PENDAFTARAN SETIAP SAAT SELAMA KUOTA MASIH ADA 


DAPATKAN BUKU : 

SERIAL 01 MENDIDIK ANAK BERKARAKTER SEJAK USIA DINI (BERBASIS PESANTREN)/ 0823 2474 5151


https://chat.whatsapp.com/HTRRBOKd9F5KypFKquVgpH


0/Post a Comment/Comments

Yuk, tinggalkan komentar mu

Ads1
Ads2