Pada catatan kali ini
saya ingin sedikit mengulas kembali tema yang pernah saya lontarkan di Group WA
yakni ANAKMU BUKAN MILIKMU DAN DIRIMU BUKAN DIRINYA ...
Tema ini perlu saya
angkat menjadi tema catatan saya kali ini, pasalnya banyak kita temukan di
tengah2 kita, khususnya orang tua muslim yang tak memahami persoalan ini dengan
baik. Anak yang sejak awal telah kita pahami dengan sangat baik sebagai
amanah/titipan, seiring dengan
perjalanan waktu pemahaman ini tanpa kita sadari mulai pudar. Anak bukan lagi
amanah/titipan, akan tetapi anak seakan-akan telah menjadi milik kita
sepenuhnya.
Tak jarang pemahaman
ini pada akhirnya membawa pada tujuan yang salah dalam mendidik dan membesarkan
anak selama ini. Bukan lagi keikhlasan untuk menggapai hidup berkah bersama
anak, tapi lebih pada keuntungan duniawi sesaat. Terlebih lagi jika anak-anak
kita tumbuih menjadi pribadi yang hebat, cerdas, kuat dan punya kemampuaan
banyak hal, seakan-akan kebahagiaan dan masa depan orang tua ikut menyertainya.
Begitu pula sebaliknya,
jika dititip Allah Ta’ala anak yang tak sempurna, baik fisik, mental dan
pikirannya kita sebagai orang tua merasa anak menjadi beban orang tua. Akhirnya,
tak pernah bisa dekat, cepat bosan main-main bersama anak dan tak bisa bahagia
bersama anak, apalagi mampu menggapai hidup berkah bersama anak
Awalnya sekedar hanya
titipan/amanah semata, tanpa disadari kita merasa sebagai sang pemilik anak. Rasa
memiliki ini tentu hal yang wajar tumbuh pada diri setiap orang tua, mengingat
perjuangan orang tua khususnya ibu sangat luar biasa, rela berkorban apapun
demi sang buah hati tercinta. Beratnya saat melahirkan, mengasuh dan
mendidiknya memang tak terkira harganya
Maka, wajar seringkali orang
sudah tak tahu/sadar lagi bahwa anak adalah hanya titipan/amanah semata.
Kemudian ingin memilki anak kita sepenuhnya agar bisa mengatur anak sesuai
dengan apa yang kita inginkan. Tidak memperdulikan bahwa anak juga punya
fitroh, hak anak dan masa depannya sendiri
KETIKA ANAK HARUS MENJADI SEPERTI KEINGINAN ORANG TUANYA .......Ya,
inilah tema catatan saya kali ini, tema yang banyak tidak dipahami dengan baik
oleh para orang tua .....
Tema yang saya catat
kali ini, sejatinya menjadi indikator orang tua saat ini, bahwa dirinya termasuk
orang tua yang bisa mendidik anak dengan baik/tidak. Sebab Islam sendiri telah
membuat dasar pijakan dalam mendidik anak yakni :
- 1. Pahami dengan baik kenapa Allah menitipkan/mengamanahkan anak pada kita (Pemahaman atas Takdir Allah pada kita perwujudan dari Kalimat Tauhid)
- 2. Jalani proses mendidik anak dengan ikhlas (Ladang Amal)
- 3. Selanjutnya gapailah hidup berkah bersama anak (Kebahagiaan hidup yang sejati)
Ke 3 hal ini sebenarnya
point yang sangat mendasar bagi kita dalam mendidik anak-anak kita selama ini.
Bagaimana pun kondisi anak kita, berapa pun jumlah anak-anak yang kita miliki bukan
hal yang sulit dan berat untuk dijalani. Jika paham dengan ke 3 hal ini, insya
Allah proses mendidik anak itu mudah dan sederhana. Dan yang terpenting kita mampu
menghadirkan hidup kita berkah bersama anak-anak.
Mari kita coba
perhatikan dengan baik di sekitar kita saat ini, orang tua yang tak mampu
menggapai hidup berkah bersama anak, seringkali tak lepas dari 3 faktor di atas
yakni : tidak paham tentang kenapa Allah titipan/amanah anak pada kita, Kehadiran
anak tak mampu menjadikan sumber ladang amal sholeh bagi orang tuanya,
tujuannya seringkali orientasi dunia semata
Sebagaimana dalam catatan saya sebelumnya bahwa tugas pokok kita sebagai orang tua hanya satu yakni mendidik anak kita menjadi anak sholeh/ah. Sedangkan anak pintar, berbakat, berprestasi, hafal Qur’an, sukses, dll hanya sekedar bonus semata. Ya, namanya bonus ada yang tak mendapatkan sama sekali, ada yang mendapatkan sebagian dan ada yang mendapatkan secara sempurna. Tetapi, semua masih dalam koridor (bingkai) anak sholeh/ah
Kembali pada pembahasan
di atas, ketika orang tua merasa memiliki anak sepenuhnya, kemudian orang tua
mulai mengatur banyak hal dari anaknya, salah satunya ANAK HARUS MENJADI
SEPERTI KEINGINAN ORANG TUA NYA, maka sudah bisa dipastikan pola
pengasuhan/pendidikan anak akan rusak. Berapa banyak orang tua pusing tujuh
keliling memikirkan sang anak yang tidak bisa mewujudkan keinginannya dan
berapa banyak anak yang stres dan tertekan hidupnya karena serba diatur untuk
mengikuti keinginan orang tuanya.
Kondisi, sebagaimana gambaran
di atas, biasanya terjadi ketika anak sudah pada level dewasa, level di mana
anak sudah mulai bersiap-siap untuk menjadi diri mereka sendiri atau level di
mana anak sedang mulai membangun cita-citanya. Level dimana pola
pengasuhan/pendidikan dari orang tua sudah tak dibutuhkan anak lagi. Pada saat
bersamaan orang tua punya banyak harapan dan titipan pada anak, padahal belum
tentu anak punya kemampuan mewujudkan harapan/keinginan orang tuanya dan belum
tentu pula anak punya harapan yang sama dengan orang tuanya.
Berapa banyak anak
hancur hatinya, ketika dirinya harus dipaksa untuk mengikuti apa yang
diinginkan orang tuanya, meneruskan usaha, profesi dan kegiatan orang tuanya.
Meneruskan cita-cita orang tua yang dulu belum bisa di wujudkannya dan lain
sebagainya.
Yang jadi pertanyaan,
apakah orang tua yang menginginkan anaknya seperti dirinya salah ? Tentu tidak
salah, setiap orang tua pasti menginginkan yang terbaik pada setiap
anak-anaknya. Yang jadi persoalan yakni jika anak tak punya kemampuan
mewujudkan keinginan/harapan orang tuanya, baik fisik, maupun kecerdasan dll
dan anak tak punya harapan/keinginan yang sama sebagaimana orang tuanya.
Terkadang orang tua
merasa was-was dan galau, kalau apa yang telah dilakukannya/dirintisnya selama
ini tidak diteruskan oleh anak-anaknya. Padahal orang tua telah memulai dari
Nol dengan segala jerih payah dan perjuangannya. Karena beratnya mengawali itulah
orang tua berharap agar anaknya bisa meneruskan apa yang telah dilakukannya,
sehingga anak tidak perlu berpayah-payah membangun dari Nol kembali seperti
yang dialaminya.
Kegalauan orang tua ini
tentu beralasan, terlebih lagi orang tua saat ini yang rata-rata hanya memiliki
2 anak semata. Sehingga, jika ke 2 anaknya tak sesuai dengan harapan/keinginannya,
maka sudah tidak ada lagi anak yang diharapkan untuk bisa meneruskan apa yang
telah dijalani/dilakukan orang tuanya. Akhirnya orang tua, terkadang memaksa
anak untuk menjadi seperti dirinya.
Ambilan contoh : Jika
orang tua punya profesi dokter, sudah punya klinik yang telah dirintisnya
selama ini dari nol, untuk proses kelanjutan klinik ke depan, tentu orang tua
yang baik akan memikirkan penerus yang akan mengelola kliniknya. Dan harapan dan
keinginan itu sudah pasti akan di berikan pada anaknya. Sehingga anak mau tak
mau, suka atau tidak suka harus mengikuti keinginan orang tuanya menjadi
seorang dokter.
Contoh lainnya : Orang
tua yang bekerja di Perusahaan sejak awal kerja hingga dirinya pensiun,
terkadang juga memikirkan kelanjutan dari peluang yang telah dirinya jalani
selama ini, sehingga wajar jika ada orang tua mengharapkan/ menginginan anaknya
nantinya bisa menjadi penganti di posisinya di perusahaan yang dirinya mengabdi
selama ini.
Mari kita belajar, dari
orang tua kita dulu dalam mendidik anak-anak mereka. Rata-rata orang tua dulu
punya anak yang banyak, sederhana, pendidikannya rendah, tidak berharap/punya
keinginan yang macam-macam pada anak-anak mereka. Yang penting anak sehat,
tidak terlantar dan bahagia menjalani hidupnya. Bahkan orang tua pun masih rela
membantu anaknya jika saat berumah tangga punya banyak kendala.
Cita-cita dan harapan
mau jadi apa diserahkan pada masing-masing anak, orang tua hanya mendukung apa
yang diinginkan anaknya. Jika orang tua punya harapan/keinginan pun, tentu ada
salah satu dari anaknya yang bisa mewujudkannya, sebab punya banyak pilihan
dari sekian anak-anak nya (tidak hanya punya 2 anak cukup)
Jika dibandingkan kita
saat ini, tentu secara pendidikan orang tua jauh dibawah kita, secara kemampuan
skill menjalani hidup kita lebih hebat, mungkin secara materi kita juga lebih
banyak yang kita dapatkan dari pada orang tua kita dulu, sebab suami/istri
sama-sama punya pendapatan. Secara kemampuan mendidik anak, jelas kita lebih pintar
dalam hal leterasi dll
Lalu kira2 apa yang
membuat beda ?
Yang membedakan yakni KEIKHLASAN DALAM MENDIDIK ANAK-ANAK KITA SELAMA INI. Mari kita bercermin dalam diri kita masing-masing, sudahkah kita ikhlas dalam mengasuh/mendidik anak-anak kita selama ini ? Cermin dari ikhlasan orang tua yakni tidak terlalu banyak harapan/titipan/meneruskan apa yang belum bisa diwujudkan orang tua pada anaknya, sebab setiap anak punya kemampuan yang belum tentu mampu mewujudkannya dan belum tentu pula punya harapan yang sama dengan kita, kecuali jika anak punya kemampuan dan punya harapan yang sama dengan kita.
Wallahu 'alam bishowab
________
MENDIDIK ANAK
BERKARAKTER SEJAK USIA DINI (Diambilkan dari Catatan harian Pola Pendidikan di
PONPES TAHFIZHUL QUR'AN "KH khoirotun Hisan"
PENDAFTARAN SETIAP SAAT SELAMA KUOTA MASIH ADA
DAPATKAN BUKU :
SERIAL 01 MENDIDIK ANAK
BERKARAKTER SEJAK USIA DINI (BERBASIS PESANTREN)/ 0823 2474 5151







Posting Komentar
Yuk, tinggalkan komentar mu