CATATAN 112 : KETIKA ANAK HARUS MENJADI SEPERTI KEINGINAN ORANG TUANYA

  


Pada catatan kali ini saya ingin sedikit mengulas kembali tema yang pernah saya lontarkan di Group WA yakni ANAKMU BUKAN MILIKMU DAN DIRIMU BUKAN DIRINYA ...

 

Tema ini perlu saya angkat menjadi tema catatan saya kali ini, pasalnya banyak kita temukan di tengah2 kita, khususnya orang tua muslim yang tak memahami persoalan ini dengan baik. Anak yang sejak awal telah kita pahami dengan sangat baik sebagai amanah/titipan,  seiring dengan perjalanan waktu pemahaman ini tanpa kita sadari mulai pudar. Anak bukan lagi amanah/titipan, akan tetapi anak seakan-akan telah menjadi milik kita sepenuhnya.

 

Tak jarang pemahaman ini pada akhirnya membawa pada tujuan yang salah dalam mendidik dan membesarkan anak selama ini. Bukan lagi keikhlasan untuk menggapai hidup berkah bersama anak, tapi lebih pada keuntungan duniawi sesaat. Terlebih lagi jika anak-anak kita tumbuih menjadi pribadi yang hebat, cerdas, kuat dan punya kemampuaan banyak hal, seakan-akan kebahagiaan dan masa depan orang tua ikut menyertainya.

 

Begitu pula sebaliknya, jika dititip Allah Ta’ala anak yang tak sempurna, baik fisik, mental dan pikirannya kita sebagai orang tua merasa anak menjadi beban orang tua. Akhirnya, tak pernah bisa dekat, cepat bosan main-main bersama anak dan tak bisa bahagia bersama anak, apalagi mampu menggapai hidup berkah bersama anak  

 

Awalnya sekedar hanya titipan/amanah semata, tanpa disadari kita merasa sebagai sang pemilik anak. Rasa memiliki ini tentu hal yang wajar tumbuh pada diri setiap orang tua, mengingat perjuangan orang tua khususnya ibu sangat luar biasa, rela berkorban apapun demi sang buah hati tercinta. Beratnya saat melahirkan, mengasuh dan mendidiknya memang tak terkira harganya 

 

Maka, wajar seringkali orang sudah tak tahu/sadar lagi bahwa anak adalah hanya titipan/amanah semata. Kemudian ingin memilki anak kita sepenuhnya agar bisa mengatur anak sesuai dengan apa yang kita inginkan. Tidak memperdulikan bahwa anak juga punya fitroh, hak anak dan masa depannya sendiri

 

KETIKA ANAK HARUS MENJADI SEPERTI KEINGINAN ORANG TUANYA .......Ya, inilah tema catatan saya kali ini, tema yang banyak tidak dipahami dengan baik oleh para orang tua .....

 

Tema yang saya catat kali ini, sejatinya menjadi indikator orang tua saat ini, bahwa dirinya termasuk orang tua yang bisa mendidik anak dengan baik/tidak. Sebab Islam sendiri telah membuat dasar pijakan dalam mendidik anak yakni :  

  • 1. Pahami dengan baik kenapa Allah menitipkan/mengamanahkan anak pada kita (Pemahaman atas Takdir Allah pada kita perwujudan dari Kalimat Tauhid)
  • 2. Jalani proses mendidik anak dengan ikhlas (Ladang Amal)  
  • 3. Selanjutnya gapailah hidup berkah bersama anak (Kebahagiaan hidup yang sejati)

 

Ke 3 hal ini sebenarnya point yang sangat mendasar bagi kita dalam mendidik anak-anak kita selama ini. Bagaimana pun kondisi anak kita, berapa pun jumlah anak-anak yang kita miliki bukan hal yang sulit dan berat untuk dijalani. Jika paham dengan ke 3 hal ini, insya Allah proses mendidik anak itu mudah dan sederhana. Dan yang terpenting kita mampu menghadirkan hidup kita berkah bersama anak-anak.



Mari kita coba perhatikan dengan baik di sekitar kita saat ini, orang tua yang tak mampu menggapai hidup berkah bersama anak, seringkali tak lepas dari 3 faktor di atas yakni : tidak paham tentang kenapa Allah titipan/amanah anak pada kita, Kehadiran anak tak mampu menjadikan sumber ladang amal sholeh bagi orang tuanya, tujuannya seringkali orientasi dunia semata  

 

Sebagaimana dalam catatan saya sebelumnya bahwa tugas pokok kita sebagai orang tua hanya satu yakni mendidik anak kita menjadi anak sholeh/ah. Sedangkan anak pintar, berbakat, berprestasi, hafal Qur’an, sukses, dll hanya sekedar bonus semata. Ya, namanya bonus ada yang tak mendapatkan sama sekali, ada yang mendapatkan sebagian dan ada yang mendapatkan secara sempurna. Tetapi, semua masih dalam koridor (bingkai) anak sholeh/ah


 

Kembali pada pembahasan di atas, ketika orang tua merasa memiliki anak sepenuhnya, kemudian orang tua mulai mengatur banyak hal dari anaknya, salah satunya ANAK HARUS MENJADI SEPERTI KEINGINAN ORANG TUA NYA, maka sudah bisa dipastikan pola pengasuhan/pendidikan anak akan rusak. Berapa banyak orang tua pusing tujuh keliling memikirkan sang anak yang tidak bisa mewujudkan keinginannya dan berapa banyak anak yang stres dan tertekan hidupnya karena serba diatur untuk mengikuti keinginan orang tuanya.

 

Kondisi, sebagaimana gambaran di atas, biasanya terjadi ketika anak sudah pada level dewasa, level di mana anak sudah mulai bersiap-siap untuk menjadi diri mereka sendiri atau level di mana anak sedang mulai membangun cita-citanya. Level dimana pola pengasuhan/pendidikan dari orang tua sudah tak dibutuhkan anak lagi. Pada saat bersamaan orang tua punya banyak harapan dan titipan pada anak, padahal belum tentu anak punya kemampuan mewujudkan harapan/keinginan orang tuanya dan belum tentu pula anak punya harapan yang sama dengan orang tuanya.

 

Berapa banyak anak hancur hatinya, ketika dirinya harus dipaksa untuk mengikuti apa yang diinginkan orang tuanya, meneruskan usaha, profesi dan kegiatan orang tuanya. Meneruskan cita-cita orang tua yang dulu belum bisa di wujudkannya dan lain sebagainya.

 

Yang jadi pertanyaan, apakah orang tua yang menginginkan anaknya seperti dirinya salah ? Tentu tidak salah, setiap orang tua pasti menginginkan yang terbaik pada setiap anak-anaknya. Yang jadi persoalan yakni jika anak tak punya kemampuan mewujudkan keinginan/harapan orang tuanya, baik fisik, maupun kecerdasan dll dan anak tak punya harapan/keinginan yang sama sebagaimana orang tuanya.

 

Terkadang orang tua merasa was-was dan galau, kalau apa yang telah dilakukannya/dirintisnya selama ini tidak diteruskan oleh anak-anaknya. Padahal orang tua telah memulai dari Nol dengan segala jerih payah dan perjuangannya. Karena beratnya mengawali itulah orang tua berharap agar anaknya bisa meneruskan apa yang telah dilakukannya, sehingga anak tidak perlu berpayah-payah membangun dari Nol kembali seperti yang dialaminya.

 

Kegalauan orang tua ini tentu beralasan, terlebih lagi orang tua saat ini yang rata-rata hanya memiliki 2 anak semata. Sehingga, jika ke 2 anaknya tak sesuai dengan harapan/keinginannya, maka sudah tidak ada lagi anak yang diharapkan untuk bisa meneruskan apa yang telah dijalani/dilakukan orang tuanya. Akhirnya orang tua, terkadang memaksa anak untuk menjadi seperti dirinya.

 

Ambilan contoh : Jika orang tua punya profesi dokter, sudah punya klinik yang telah dirintisnya selama ini dari nol, untuk proses kelanjutan klinik ke depan, tentu orang tua yang baik akan memikirkan penerus yang akan mengelola kliniknya. Dan harapan dan keinginan itu sudah pasti akan di berikan pada anaknya. Sehingga anak mau tak mau, suka atau tidak suka harus mengikuti keinginan orang tuanya menjadi seorang dokter.

 

Contoh lainnya : Orang tua yang bekerja di Perusahaan sejak awal kerja hingga dirinya pensiun, terkadang juga memikirkan kelanjutan dari peluang yang telah dirinya jalani selama ini, sehingga wajar jika ada orang tua mengharapkan/ menginginan anaknya nantinya bisa menjadi penganti di posisinya di perusahaan yang dirinya mengabdi selama ini.

 

Mari kita belajar, dari orang tua kita dulu dalam mendidik anak-anak mereka. Rata-rata orang tua dulu punya anak yang banyak, sederhana, pendidikannya rendah, tidak berharap/punya keinginan yang macam-macam pada anak-anak mereka. Yang penting anak sehat, tidak terlantar dan bahagia menjalani hidupnya. Bahkan orang tua pun masih rela membantu anaknya jika saat berumah tangga punya banyak kendala.

 

Cita-cita dan harapan mau jadi apa diserahkan pada masing-masing anak, orang tua hanya mendukung apa yang diinginkan anaknya. Jika orang tua punya harapan/keinginan pun, tentu ada salah satu dari anaknya yang bisa mewujudkannya, sebab punya banyak pilihan dari sekian anak-anak nya (tidak hanya punya 2 anak cukup)   

 

Jika dibandingkan kita saat ini, tentu secara pendidikan orang tua jauh dibawah kita, secara kemampuan skill menjalani hidup kita lebih hebat, mungkin secara materi kita juga lebih banyak yang kita dapatkan dari pada orang tua kita dulu, sebab suami/istri sama-sama punya pendapatan. Secara kemampuan mendidik anak, jelas kita lebih pintar dalam hal leterasi dll

 

Lalu kira2 apa yang membuat beda ?

Yang membedakan yakni KEIKHLASAN DALAM MENDIDIK ANAK-ANAK KITA SELAMA INI. Mari kita bercermin dalam diri kita masing-masing, sudahkah kita ikhlas dalam mengasuh/mendidik anak-anak kita selama ini ? Cermin dari ikhlasan orang tua yakni tidak terlalu banyak harapan/titipan/meneruskan apa yang belum bisa diwujudkan orang tua pada anaknya, sebab setiap anak punya kemampuan yang belum tentu mampu mewujudkannya dan belum tentu pula punya harapan yang sama dengan kita, kecuali jika anak punya kemampuan dan punya harapan yang sama dengan kita.    


  

Wallahu 'alam bishowab

________

MENDIDIK ANAK BERKARAKTER SEJAK USIA DINI (Diambilkan dari Catatan harian Pola Pendidikan di PONPES TAHFIZHUL QUR'AN "KH khoirotun Hisan" 

PENDAFTARAN SETIAP SAAT SELAMA KUOTA MASIH ADA

DAPATKAN BUKU :

SERIAL 01 MENDIDIK ANAK BERKARAKTER SEJAK USIA DINI (BERBASIS PESANTREN)/ 0823 2474 5151

 

 

0/Post a Comment/Comments

Yuk, tinggalkan komentar mu

Ads1
Ads2