CATATAN 113 : LIBURAN ADALAH SAAT YANG TEPAT UNTUK “EVALUASI” ANAK SETELAH LAMA MONDOK DI PESANTREN

 


Liburan telah tiba ....Liburan telah tiba, Horee ...Horee ..Itulah gambaran keceriaan bagi anak-anak yang nyantri di pondok pesantren. Kegembiraan yang tentu saja hampir dirasakan semua anak nyantri, setelah sekian lama berkutat dengan rutinitas yang barangkali serba diatur, membosankan, harus disiplin dan lain sebagainya. Liburan adalah saat untuk rehat sejenak untuk melepas rindu pada orang tua/keluarga, menenangkan pikiran dan mengistirahatkan tubuh sejenak, terkadang perlu sedikit wisata agar hati bisa terhibur dengan hal yang baru.

 

Liburan bagi pengasuh pesantren, bagi orang tua yang anaknya mondok di pesantren atau bagi anak yg mondok di pesantren tentu tidak sebatas liburan, tetapi sebagai wahana kita untuk mengevaluasi anak selama ini ketika anak mondok di pesantren. Apakah anak-anak karakternya (prilaku, kebiasaannya, ucapannya dll) menjadi lebih baik atau tidak. Biasa saja atau tidak ada perubahan sama sekali (saat sebelum mondok dan setelah mondok sama saja). Sedangkan yang terkait dengan keilmuan selama anak mondok sudah bisa dipastikan anak semakin pandai dengan berbagai disiplin ilmu (bahasa arab, tafsir, aqidah dll) dan bakatnya terasah dengan baik, tapi belum tentu dengan karakter dasar anak. 

 

Maka karakter dasar anak harus menjadi prioritas untuk dijadikan bahan evaluasi saat anak liburan, bagaimana perkembangannya, apa saja yang masih kurang pada diri anak, apa yang perlu diperbaiki dll. Banyak anak-anak yang saat mondok mampu menjalankan sholat subuh dengan baik, tapi saat di rumah justru tak mampu bangun sholat subuh di masjid bagi laki-laki (Subuh kesiangan bahkan tidak sholat subuh). Sayangnya hal ini seringkali luput dari perhatian orang tua, sehingga liburan anak dari pesantren berlalu begitu saja. Kenapa hal ini bisa terjadi ? Ada beberapa faktor yang membuat orang tua kurang memberikan perhatian pada anaknya, antara lain :

1.      Orang tua tidak paham ilmunya bagaimana mendidik anak yang berkarakter yang baik  

2.      Orang tua terlalu sibuk sehingga kehadiran anak di rumah tidak dianggap penting, padahal liburan adalah saat yang tepat untuk mengevaluasi diri  

3.      Terlalu percaya dengan hasil didikan pesantren, sehingga dirinya tidak perlu untuk mengevaluasi anak selama mondok di pesantren, terlebih lagi jika pimpinan pesantrennya adalah ustadz terkenal (sudah dianggap hebat dalam semua hal)    

 

Memberikan evaluasi ini penting dilakukan oleh setiap orang tua untuk menilai sejauh mana hasil tarbiyah anak selama ini di pondok pesantren yang mengharuskan anak tinggal 24 jam di pesantren. Pertanyaannya, lalu siapa yang seharusnya melakukan evaluasi ? Tentu orang tua di rumah yang paling tepat untuk mengevalasi anak saat anak berada bersama/dekat dengan orang tuanya. Sedangkan saat anak mondok di pesantren yang berhak untuk mengevaluasi adalah pengasuh pesantren.

 

Ada sedikit cerita, pernah kami ketemu dengan seorang bapak-bapak yang anaknya mondok di pesantren. Saat itu adalah waktu liburan anak, seorang bapak ini bilang :”Wah, anak saya saat liburan di rumah justru malas sekali, sholat subuh ngak bisa bangun, tidak punya empati orang tua, tidak pernah membantu orang tua, kerjanya makan dan tidur melulu dll” . Kemudian beliau berkomentar : “Kalau begini hasil didik pesantren, lebih baik anak saya biar di pondok pesantren saja dan ngak usah ada liburan segala”.

 


Sebagai seorang pengasuh pesantren, saat mendengar komentar dari bapak ini saya jadi berpikir keras, kira-kira ada apa dengan hasil didikan anak pesantren ? Apakah ada yang salah dari proses pendidikan pesantren yang dilakukan selama ini dengan segala pengorbannya ? Menyiapkan gedung, makan sehari-hari, menjaga dan membina terus menerus anak-anak selama 24 jam dalam waktu yang lama. Bahkan banyak pengasuh yang mengorbankan kepentingan dan keinginannya sendiri demi bisa mendidik anak orang lain ? 

 

Kembali pada tema diatas ya ? Saat anak liburan, pada kenyataannya banyak orang tua yang hanya memposisikan diri sebagai orang tua yang menunggu prodak jadi hasil didikan pesantren semata, mereka sudah merasa berkontribusi besar dengan hanya membayar spp bulanan. Karena merasa telah membayar, maka sebagai kompensasi atas bayaran orang tua ingin mendapatkan hasil yang baik dari anaknya. Kalau anaknya sebelum mondok tidak sholat, susah diatur, semau gue, tiba-tiba anaknya ingin menjadi anak sholeh/ah.

 

Akhirnya saat anak tidak sesuai dengan expektasi (harapan) orang tua selama ini, orang tua justru menyalahkan dan mengevaluasi pesantrennya dimana anaknya diasuh dan dibina selama ini. Maka, langkah yang tepat yakni :

1.    Mengevaluasi kembali perjalanan anak kita mondok di pesantren, apakah niat kita saat mondokkan anak dulu sudah lurus atau belum, yakni mondokkan anak untuk menguatkan pondasi dasar karakter saat di rumah atau “membuang” anak sebab anak dianggap sebagai beban orang tua atau “merasa tidak mampu” mendidik anak sehingga anak harus mondok di pesantrten ? Semua pada akhirnya akan kembali pada niat kita masing-masing. DI PESANTREN, APA YANG KAU CARI ...?

 

2.    Apakah pondok dimana anak kita diasuh dan dibina sudah sesuai dengan kebutuhan anak kita selama ini atau hanya gengsi atau ikut-ikutan tren saja ?

......Baca kembali catatan saya sebelumnya : CATATAN 110 : MONDOKKAN ANAK DI PESANTREN, ANTARA KEBUTUHAN ANAK DAN KEINGINAN ORANG TUA .....

 

Lalu apa yang perlu dievaluasi saat anak liburan di rumah oleh setiap orang tua ? Tentu tidak bijak jika semua harus dievaluasi, kemudian memaksa anak layaknya hidup dipesantren kembali (liburan di rumah terasa hidup di pesantren). Semua serba diatur, harus disiplin, dibebani banyak tugas dll padahal anak waktunya liburan dirumah.

 

Menurut saya ada beberapa hal yang perlu di evaluasi pada diri anak saat liburan, antara lain : Bagaimana dengan Sholat lima waktunya, khususnya Sholat subuhnya, mampu bangun sholat berjama’ah ke masjid atau tidak bagi laki2 ? Dzikir pagi, baca Qur’an dan tidak tidur pagi atau sore hari, Membantu berbagai pekerjaan orang tua dll

 

Sayangnya, hari ini banyak anak-anak yang saat mondok di pesantren mampu bangun dan sholat subuh dengan baik, tapi saat di rumah justru tak mampu menunaikan sama sekali. Hidup bagaikan raja/putri raja yang serba dilayani. 

Kenapa anak-anak saat liburan gagal menjaga waktu subuhnya dengan baik saat di rumah ? Sebab yang paling mendasar yakni orang tua (khususnya bapak) tak mampu menjadi tauladhan yang baik bagi anaknya    

 

Wallahu 'alam bishowab

________

MENDIDIK ANAK BERKARAKTER SEJAK USIA DINI (Diambilkan dari Catatan harian Pola Pendidikan di PONPES TAHFIZHUL QUR'AN "KH khoirotun Hisan"  

PENDAFTARAN SETIAP SAAT SELAMA KUOTA MASIH ADA 

DAPATKAN BUKU : SERIAL 01 MENDIDIK ANAK BERKARAKTER SEJAK USIA DINI (BERBASIS PESANTREN)/ 0823 2474 5151

 

 

 

0/Post a Comment/Comments

Yuk, tinggalkan komentar mu

Ads1
Ads2