Liburan telah tiba
....Liburan telah tiba, Horee ...Horee ..Itulah gambaran keceriaan bagi
anak-anak yang nyantri di pondok pesantren. Kegembiraan yang tentu saja hampir
dirasakan semua anak nyantri, setelah sekian lama berkutat dengan rutinitas
yang barangkali serba diatur, membosankan, harus disiplin dan lain sebagainya.
Liburan adalah saat untuk rehat sejenak untuk melepas rindu pada orang
tua/keluarga, menenangkan pikiran dan mengistirahatkan tubuh sejenak, terkadang
perlu sedikit wisata agar hati bisa terhibur dengan hal yang baru.
Liburan bagi pengasuh
pesantren, bagi orang tua yang anaknya mondok di pesantren atau bagi anak yg
mondok di pesantren tentu tidak sebatas liburan, tetapi sebagai wahana kita
untuk mengevaluasi anak selama ini ketika anak mondok di pesantren. Apakah
anak-anak karakternya (prilaku, kebiasaannya, ucapannya dll) menjadi lebih baik
atau tidak. Biasa saja atau tidak ada perubahan sama sekali (saat sebelum
mondok dan setelah mondok sama saja). Sedangkan yang terkait dengan keilmuan
selama anak mondok sudah bisa dipastikan anak semakin pandai dengan berbagai
disiplin ilmu (bahasa arab, tafsir, aqidah dll) dan bakatnya terasah dengan
baik, tapi belum tentu dengan karakter dasar anak.
Maka karakter dasar
anak harus menjadi prioritas untuk dijadikan bahan evaluasi saat anak liburan,
bagaimana perkembangannya, apa saja yang masih kurang pada diri anak, apa yang
perlu diperbaiki dll. Banyak anak-anak yang saat mondok mampu menjalankan
sholat subuh dengan baik, tapi saat di rumah justru tak mampu bangun sholat
subuh di masjid bagi laki-laki (Subuh kesiangan bahkan tidak sholat subuh). Sayangnya
hal ini seringkali luput dari perhatian orang tua, sehingga liburan anak dari
pesantren berlalu begitu saja. Kenapa hal ini bisa terjadi ? Ada beberapa
faktor yang membuat orang tua kurang memberikan perhatian pada anaknya, antara
lain :
1.
Orang tua tidak paham ilmunya
bagaimana mendidik anak yang berkarakter yang baik
2.
Orang tua terlalu sibuk
sehingga kehadiran anak di rumah tidak dianggap penting, padahal liburan adalah
saat yang tepat untuk mengevaluasi diri
3.
Terlalu percaya dengan
hasil didikan pesantren, sehingga dirinya tidak perlu untuk mengevaluasi anak
selama mondok di pesantren, terlebih lagi jika pimpinan pesantrennya adalah ustadz
terkenal (sudah dianggap hebat dalam semua hal)
Memberikan evaluasi ini
penting dilakukan oleh setiap orang tua untuk menilai sejauh mana hasil
tarbiyah anak selama ini di pondok pesantren yang mengharuskan anak tinggal 24
jam di pesantren. Pertanyaannya, lalu siapa yang seharusnya melakukan evaluasi
? Tentu orang tua di rumah yang paling tepat untuk mengevalasi anak saat anak
berada bersama/dekat dengan orang tuanya. Sedangkan saat anak mondok di
pesantren yang berhak untuk mengevaluasi adalah pengasuh pesantren.
Ada sedikit cerita,
pernah kami ketemu dengan seorang bapak-bapak yang anaknya mondok di pesantren.
Saat itu adalah waktu liburan anak, seorang bapak ini bilang :”Wah, anak saya
saat liburan di rumah justru malas sekali, sholat subuh ngak bisa bangun, tidak
punya empati orang tua, tidak pernah membantu orang tua, kerjanya makan dan
tidur melulu dll” . Kemudian beliau berkomentar : “Kalau begini hasil didik
pesantren, lebih baik anak saya biar di pondok pesantren saja dan ngak usah ada
liburan segala”.
Sebagai seorang
pengasuh pesantren, saat mendengar komentar dari bapak ini saya jadi berpikir
keras, kira-kira ada apa dengan hasil didikan anak pesantren ? Apakah ada yang
salah dari proses pendidikan pesantren yang dilakukan selama ini dengan segala
pengorbannya ? Menyiapkan gedung, makan sehari-hari, menjaga dan membina terus
menerus anak-anak selama 24 jam dalam waktu yang lama. Bahkan banyak pengasuh
yang mengorbankan kepentingan dan keinginannya sendiri demi bisa mendidik anak
orang lain ?
Kembali pada tema
diatas ya ? Saat anak liburan, pada kenyataannya banyak orang tua yang hanya memposisikan
diri sebagai orang tua yang menunggu prodak jadi hasil didikan pesantren
semata, mereka sudah merasa berkontribusi besar dengan hanya membayar spp bulanan.
Karena merasa telah membayar, maka sebagai kompensasi atas bayaran orang tua
ingin mendapatkan hasil yang baik dari anaknya. Kalau anaknya sebelum mondok
tidak sholat, susah diatur, semau gue, tiba-tiba anaknya ingin menjadi anak
sholeh/ah.
Akhirnya saat anak
tidak sesuai dengan expektasi (harapan) orang tua selama ini, orang tua justru
menyalahkan dan mengevaluasi pesantrennya dimana anaknya diasuh dan dibina selama
ini. Maka, langkah yang tepat yakni :
1.
Mengevaluasi kembali
perjalanan anak kita mondok di pesantren, apakah niat kita saat mondokkan anak
dulu sudah lurus atau belum, yakni mondokkan anak untuk menguatkan pondasi
dasar karakter saat di rumah atau “membuang” anak sebab anak dianggap sebagai
beban orang tua atau “merasa tidak mampu” mendidik anak sehingga anak harus mondok
di pesantrten ? Semua pada akhirnya akan kembali pada niat kita masing-masing. DI
PESANTREN, APA YANG KAU CARI ...?
2.
Apakah pondok dimana
anak kita diasuh dan dibina sudah sesuai dengan kebutuhan anak kita selama ini
atau hanya gengsi atau ikut-ikutan tren saja ?
......Baca kembali catatan saya sebelumnya : CATATAN 110 : MONDOKKAN ANAK
DI PESANTREN, ANTARA KEBUTUHAN ANAK DAN KEINGINAN ORANG TUA .....
Lalu apa yang perlu
dievaluasi saat anak liburan di rumah oleh setiap orang tua ? Tentu tidak bijak
jika semua harus dievaluasi, kemudian memaksa anak layaknya hidup dipesantren
kembali (liburan di rumah terasa hidup di pesantren). Semua serba diatur, harus
disiplin, dibebani banyak tugas dll padahal anak waktunya liburan dirumah.
Menurut saya ada
beberapa hal yang perlu di evaluasi pada diri anak saat liburan, antara lain : Bagaimana
dengan Sholat lima waktunya, khususnya Sholat subuhnya, mampu bangun sholat berjama’ah ke masjid atau tidak bagi
laki2 ? Dzikir pagi, baca Qur’an dan tidak tidur pagi atau sore hari, Membantu
berbagai pekerjaan orang tua dll
Sayangnya, hari ini banyak anak-anak yang saat mondok di pesantren mampu bangun dan sholat subuh dengan baik, tapi saat di rumah justru tak mampu menunaikan sama sekali. Hidup bagaikan raja/putri raja yang serba dilayani.
Kenapa anak-anak saat
liburan gagal menjaga waktu subuhnya dengan baik saat di rumah ? Sebab yang
paling mendasar yakni orang tua (khususnya bapak) tak mampu menjadi tauladhan
yang baik bagi anaknya
Wallahu 'alam bishowab
________
MENDIDIK ANAK BERKARAKTER SEJAK USIA DINI (Diambilkan dari Catatan harian Pola Pendidikan di PONPES TAHFIZHUL QUR'AN "KH khoirotun Hisan"
PENDAFTARAN SETIAP SAAT SELAMA KUOTA MASIH ADA
DAPATKAN BUKU : SERIAL
01 MENDIDIK ANAK BERKARAKTER SEJAK USIA DINI (BERBASIS PESANTREN)/ 0823 2474
5151



Posting Komentar
Yuk, tinggalkan komentar mu