CATATAN 114 : MONDOKKAN ANAK KETIKA MASIH KECIL, TIDAK MENCERMINKAN SOSOK ORANG TUA YANG PAHAM MENDIDIK ANAK DENGAN BAIK ...?

 


 

Sebelum membahas tema diatas, ijinkan saya berceria : Ada seorang ustadz yang cukup terkenal mondokkan anak di salah satu pesantren, ustadz ini bersama istrinya membawa sendiri anaknya untuk bertemu langsung dan sekaligus menyerahkan anaknya untuk bisa mondok di pesantren pada seorang pengasuh pesantren. Kemudian, disaat prosesi menyerahkan tak lupa seorang ustadz ini memberikan nasehat dan tausyiyahnya pada para jama’ah hadir dan netizen senantiasa mengikuti beritanya. Beliau menyampaikan pentingnya pendidikan anak zaman ini dengan memasukkan anak di pesantren. Karena, pesantren adalah wadah pendidikan anak yang dipandang sangat relevan dibutuhkan orang tua saat ini.  

 

Sekilas jika kita ikut hadir pada proses penyerahan itu tentu suasananya akan sangat luar biasa. Bagaimana tidak,  ada seorang ustadz bersama istri yang mau dan rela menyerahkan sendiri anaknya untuk dididik di pesantren. Tapi, sayangnya anak yang dipondokkan ustadz ini usianya masih terlalu dini, lulus SD/MI saja belum. Ya mungkin sekitar sekitar 6 – 7 tahunan, usia yang masih haus kasih sayang orang tua, khususnya ibu.

 

Saat serah terima, drama anak menangis pun tak membuat ustadz dan istrinya bergeming untuk tetap menyerahkan anaknya di pondok pesantren. Ustadz ini sangat percaya diri bahwa apa yang dilakukannya adalah benar dan kedepannya akan baik untuk anaknya, sebab proses pendidikan anak yang dilakukan telah sesuai yakni memasukkan anak ke pesantren.

 

Pembaca sekalian, dari cerita diatas ada banyak hal harus kita pahami dengan baik, bahwa memondokkan anak tidak sama dengan “membuang” anak dan memondokkan anak itu juga bukan “melepas tanggung jawab” orang tua. Tapi, memodokkan anak adalah proses lanjutan dari proses pengasuhan/ pendidikan anak ketika anak bersama/dekat orang tua. Karakter dasar, prinsip hidup, kebiasaan, prilaku dasar harus tetap dibangun di rumah seberapa pun kemampuan/ kesanggupan orang tua mengasuh/ mendidik di rumah.

 

Sebab proses pengasuhan/ pendidikan yang dilakukan orang tua di rumah sejatinya tidak menuntut kesempurnaan, sebab tidak ada orang tua yang mampu memberikan proses pengasuhan/ pendidikan secara sempurna, sekalipun dirinya adalah pengasuh pesantren, profesor dunia pendidikan, pakar pendidikan dll. Proses pengasuhan/ pendidikan dalam islam tetap memberikan ruang bagi orang lain (selain kedua orang tua) untuk berkontribusi bagi proses pengasuhan/ pendidikan anak kita agar anak kita tumbuh menjadi pribadi yang memiliki karakter yang baik.

 

Disamping itu proses pengasuhan/ pendidikan dasar anak ada batas waktunya, sehingga setiap orang tua harus memahami ini dengan baik, jangan sampai kehilangan momentum dalam mengasuh/ mendidik anak. Sebab, saat anak tumbuh dewasa, proses pengasuhan /pendidikan itu tidak terlalu dibutuhkan anak, tapi yang dibutuhkan adalah proses membangun kesadaran anak. Orang tua yang telah mengasuh /mendidik anak disaat anak membutuhkanya, tentu akan lebih mudah membangun kesadaran anak untuk menjadi lebih baik.

 

Kembali pada tema diatas, bahwa memondokkan anak diusia yang masih terlalu dini adalah langkah yang salah dan musibah besar dari proses pengasuhan/ pendidikan anak. Dan orang tua yang “memaksa” anaknya mondok di pesantren, juga bukan cermin orang tua yang paham tentang pendidikan anak dengan baik, sekalipun dirinya adalah ustadz yang cukup dikenal. Kita harus paham juga bahwa, tidak setiap ustadz paham bagaimana mengasuh/ mendidik anak dengan baik, sebab proses pengasuhan/ pengasuhan terbaik hanya pada orang tua (hasil prodak turunan .....nanti kita bahas pada catatan selanjutnya, Insya Allah). Jadi tinggal pandai-pandainya orang tua memberikan formula pengasuhan/ pendidikan yang tepat dan baik pada anak.      

 

Tapi, lain halnya jika anak sebatang kara tidak memiliki orang tua (karena meninggal) atau ditinggal orang tuanya, maka pengasuhan/ pendidikan diserahkan pada keluarga orang tua dari ayahnya untuk memberikan pengasuhan/ pendidikan yang baik pada anak sebagai pengganti orang tua. Jika, keluarga paman tidak mampu (mengasuh/mendidik/mendanai), baru di serahkan ke pengasuh pesantren untuk diasuh/dididik dengan baik. Tapi, jangan lupa untuk dimasukkan ke pesantren yang sesuai kebutuhan anak, sehingga saat di pesantren anak bisa mendapatkan pengasuhan/ pendidikan yang selama ini “hilang”. Tentunya tanggung jawab tetap ada pada orang terdekat anak (pesantren tidak mengambil tanggung jawab....awas jangan salah !)

 

Masya’ Allah, disinilah keadilan Allah Ta’ala, bahwa yang dibutuhkan setiap anak yang terlahir didunia itu ternyata bukanlah orang tua, tapi pengasuhan/ pendidikan yang baik dan hak-hak anak. Bagi anak tidak penting siapa yang memberi pengasuhan/ pendidikan padanya yang seharusnya kedua orang tuanya lah yang paling berhak. Tapi, jika orang tua tak mampu sebab (meninggal/sakit), dibuang di sampah, tidak dianggap dll, maka proses pengasuhan/ pendidikan anak tetap akan menemukan jalannya.

 

Kesimpulannnya, apapun alasannya bahwa mondokkan anak di pesantren saat anak masih kecil adalah langkah yang salah dan “musibah” bagi proses pendidikan di pesantren sepanjang anak masih punya keluarga terdekat yang mampu mengasuh/mendidik dan membiayainya. Dan orang tua yang tega melalukannya adalah cermin orang tua yang “bodoh” terhadap proses pengasuhan/ pendidikan anak, sekalipun orang tuanya adalah pengasuh pesantren, pakar pendidikan, profesor pendidikan.

 

Maka, hati-hati saat mondokkan anak di pesantren, cari ilmunya terlebih dahulu jangan karena “gensi” atau anak dianggap “beban” orang tua, baru anak di masukkan ke pondok pesantren.

 

 

Wallahu 'alam bishowab

________

MENDIDIK ANAK BERKARAKTER SEJAK USIA DINI (Diambilkan dari Catatan harian Pola Pendidikan di PONPES TAHFIZHUL QUR'AN "KH khoirotun Hisan" 

 

PENDAFTARAN SETIAP SAAT SELAMA KUOTA MASIH ADA

 

DAPATKAN BUKU : SERIAL 01 MENDIDIK ANAK BERKARAKTER SEJAK USIA DINI (BERBASIS PESANTREN)/ 0823 2474 5151

 

0/Post a Comment/Comments

Yuk, tinggalkan komentar mu

Ads1
Ads2