Sebelum membahas tema
diatas, ijinkan saya berceria : Ada seorang ustadz yang cukup terkenal mondokkan
anak di salah satu pesantren, ustadz ini bersama istrinya membawa sendiri anaknya
untuk bertemu langsung dan sekaligus menyerahkan anaknya untuk bisa mondok di
pesantren pada seorang pengasuh pesantren. Kemudian, disaat prosesi menyerahkan
tak lupa seorang ustadz ini memberikan nasehat dan tausyiyahnya pada para
jama’ah hadir dan netizen senantiasa mengikuti beritanya. Beliau menyampaikan pentingnya
pendidikan anak zaman ini dengan memasukkan anak di pesantren. Karena,
pesantren adalah wadah pendidikan anak yang dipandang sangat relevan dibutuhkan
orang tua saat ini.
Sekilas jika kita ikut
hadir pada proses penyerahan itu tentu suasananya akan sangat luar biasa.
Bagaimana tidak, ada seorang ustadz bersama
istri yang mau dan rela menyerahkan sendiri anaknya untuk dididik di pesantren.
Tapi, sayangnya anak yang dipondokkan ustadz ini usianya masih terlalu dini,
lulus SD/MI saja belum. Ya mungkin sekitar sekitar 6 – 7 tahunan, usia yang masih
haus kasih sayang orang tua, khususnya ibu.
Saat serah terima,
drama anak menangis pun tak membuat ustadz dan istrinya bergeming untuk tetap
menyerahkan anaknya di pondok pesantren. Ustadz ini sangat percaya diri bahwa
apa yang dilakukannya adalah benar dan kedepannya akan baik untuk anaknya,
sebab proses pendidikan anak yang dilakukan telah sesuai yakni memasukkan anak
ke pesantren.
Pembaca sekalian, dari
cerita diatas ada banyak hal harus kita pahami dengan baik, bahwa memondokkan
anak tidak sama dengan “membuang” anak dan memondokkan anak itu juga bukan
“melepas tanggung jawab” orang tua. Tapi, memodokkan anak adalah proses
lanjutan dari proses pengasuhan/ pendidikan anak ketika anak bersama/dekat orang
tua. Karakter dasar, prinsip hidup, kebiasaan, prilaku dasar harus tetap
dibangun di rumah seberapa pun kemampuan/ kesanggupan orang tua
mengasuh/ mendidik di rumah.
Sebab proses
pengasuhan/ pendidikan yang dilakukan orang tua di rumah sejatinya tidak menuntut
kesempurnaan, sebab tidak ada orang tua yang mampu memberikan proses pengasuhan/ pendidikan
secara sempurna, sekalipun dirinya adalah pengasuh pesantren, profesor dunia
pendidikan, pakar pendidikan dll. Proses pengasuhan/ pendidikan dalam islam
tetap memberikan ruang bagi orang lain (selain kedua orang tua) untuk
berkontribusi bagi proses pengasuhan/ pendidikan anak kita agar anak kita tumbuh
menjadi pribadi yang memiliki karakter yang baik.
Disamping itu proses
pengasuhan/ pendidikan dasar anak ada batas waktunya, sehingga setiap orang tua harus memahami ini dengan baik, jangan sampai kehilangan momentum dalam
mengasuh/ mendidik anak. Sebab, saat anak tumbuh dewasa, proses
pengasuhan /pendidikan itu tidak terlalu dibutuhkan anak, tapi yang dibutuhkan
adalah proses membangun kesadaran anak. Orang tua yang telah mengasuh /mendidik
anak disaat anak membutuhkanya, tentu akan lebih mudah membangun kesadaran anak
untuk menjadi lebih baik.
Kembali pada tema
diatas, bahwa memondokkan anak diusia yang masih terlalu dini adalah langkah
yang salah dan musibah besar dari proses pengasuhan/ pendidikan anak. Dan orang
tua yang “memaksa” anaknya mondok di pesantren, juga bukan cermin orang tua
yang paham tentang pendidikan anak dengan baik, sekalipun dirinya adalah ustadz
yang cukup dikenal. Kita harus paham juga bahwa, tidak setiap ustadz paham
bagaimana mengasuh/ mendidik anak dengan baik, sebab proses
pengasuhan/ pengasuhan terbaik hanya pada orang tua (hasil prodak turunan
.....nanti kita bahas pada catatan selanjutnya, Insya Allah). Jadi tinggal
pandai-pandainya orang tua memberikan formula pengasuhan/ pendidikan yang tepat
dan baik pada anak.
Tapi, lain halnya jika
anak sebatang kara tidak memiliki orang tua (karena meninggal) atau ditinggal
orang tuanya, maka pengasuhan/ pendidikan diserahkan pada keluarga orang tua
dari ayahnya untuk memberikan pengasuhan/ pendidikan yang baik pada anak sebagai
pengganti orang tua. Jika, keluarga paman tidak mampu (mengasuh/mendidik/mendanai),
baru di serahkan ke pengasuh pesantren untuk diasuh/dididik dengan baik. Tapi, jangan lupa untuk dimasukkan ke pesantren yang sesuai kebutuhan anak, sehingga saat di
pesantren anak bisa mendapatkan pengasuhan/ pendidikan yang selama ini “hilang”.
Tentunya tanggung jawab tetap ada pada orang terdekat anak (pesantren
tidak mengambil tanggung jawab....awas jangan salah !)
Masya’ Allah, disinilah
keadilan Allah Ta’ala, bahwa yang dibutuhkan setiap anak yang terlahir didunia
itu ternyata bukanlah orang tua, tapi pengasuhan/ pendidikan yang baik dan
hak-hak anak. Bagi anak tidak penting siapa yang memberi pengasuhan/ pendidikan
padanya yang seharusnya kedua orang tuanya lah yang paling berhak. Tapi, jika
orang tua tak mampu sebab (meninggal/sakit), dibuang di sampah, tidak dianggap
dll, maka proses pengasuhan/ pendidikan anak tetap akan menemukan jalannya.
Kesimpulannnya, apapun
alasannya bahwa mondokkan anak di pesantren saat anak masih kecil adalah
langkah yang salah dan “musibah” bagi proses pendidikan di pesantren sepanjang
anak masih punya keluarga terdekat yang mampu mengasuh/mendidik dan membiayainya.
Dan orang tua yang tega melalukannya adalah cermin orang tua yang “bodoh”
terhadap proses pengasuhan/ pendidikan anak, sekalipun orang tuanya adalah
pengasuh pesantren, pakar pendidikan, profesor pendidikan.
Maka, hati-hati saat
mondokkan anak di pesantren, cari ilmunya terlebih dahulu jangan karena “gensi”
atau anak dianggap “beban” orang tua, baru anak di masukkan ke pondok
pesantren.
Wallahu 'alam bishowab
________
MENDIDIK ANAK
BERKARAKTER SEJAK USIA DINI (Diambilkan dari Catatan harian Pola Pendidikan di
PONPES TAHFIZHUL QUR'AN "KH khoirotun Hisan"
PENDAFTARAN SETIAP SAAT
SELAMA KUOTA MASIH ADA
DAPATKAN BUKU : SERIAL
01 MENDIDIK ANAK BERKARAKTER SEJAK USIA DINI (BERBASIS PESANTREN)/ 0823 2474
5151

Posting Komentar
Yuk, tinggalkan komentar mu