CATATAN 116 : ALUMNI PESANTREN ITU “BUKAN PRODAK JADI” TAPI MEREKA MASIH HARUS DITEMPA DENGAN KEHIDUPAN NYATA YANG SEBENARNYA ( Oleh : Nashrullah Jumadi)

 




Dalam catatan ini saya awali dengan cerita disalah satu media sosial yang mengkritisi alumni pesantren yang tidak siap jika harus bertani, bercocok tanam, berdagang. Tapi justru mengadalkan dari amplob sebagai penceramah diberbagai kajian-kajian. Kemudian menyoroti bahwa alumni pesantren ngak siap terjun ditengah-tengah masyarakat. Ngak bisa kerja, ngak bisa ini dan itu, padahal Alumni pesantren yang terkenal dan hebat.

 

Sekilas mencerna pemaparan diatas, nampaknya kita perlu memahami betul apa tujuan proses pengasuhan/pendidikan di pesantren dan bagaimana proses itu berjalan selama ini. Selain itu kita juga harus paham perjalanan anak asuh (inputan) pesantren dulu maupun saat ini. Bahwa proses pengasuhan/pendidikan yang tak berjalan sesuai harapan kita, bukan melulu karena pengasuhan/pendidikan pesantren yang buruk, tapi lebih karena input (calon pelajar/santri) yang rendah secara karakter.

 

Inputan pesantren sangat menentukan proses dan hasil dari pengasuhan/pendidikan pesantren. Jika kita mendapai input yang baik secara karakter, tentu proses pengasuhan/pendidikan akan lebih mudah berjalan dan hasilnya pun akan menjadi lebih baik, begitu pula sebaliknya. Pada kenyataan pesantren banyak menerima santri/wati untuk memenuhi jatah kuota yang aman agar pesantren bisa berjalan stabil, terlebih lagi terkait dengan berapa SPP bulanan yang harus diterima pesantren.

 

Proses seleksinya pun tak jarang luput dari pantauan yang telah ditetapkan, sehingga mereka yang secara karakter tidak layak pun (walaupun pintar) lolos dari proses seleksi. Pada akhirnya, semua akan diuji saat mengikuti dinamikan kehidupan pesantren yang sesungguhnya. Siapa-siapa yang bisa tetap bertahan dan siapa-siapa yang harus tersingkir dari pesantren. Walapun yang tersingkir bukan lah yang terburuk, sebab banyak tak bisa bertahap di pesantren karena tidak adanya biaya bukan karena karakternya yang buruk dan yang mampu bertahan bukanlah yang terbaik, sebab banyak yang bertahan karena pintar menyembunyikan karakter buruknya dengan baik sampai bisa jadi alumni.

 

Terlepas dari itu semua, pesantren hanya sekedar miniatur kehidupan dan bukan kehidupan yang sesungguhnya. Gagalnya anak mondok di pesantren, bukan gagal menjalani hidup. Sayangnya orang tua seringkali lebih sering menvonis anak yang tak sesuai harapan orang tua, termasuk ketika telah lulus dan menjadi alumni pesantren kemudian belajar menjalani hidup ternyata tak sebagaimana yang kita harapkan selama ini. Kemudian kita katakan “Alumni pesantren kok ngisi ceramah tidak bisa ?” Alumni pesantren terkenal kerja ini dan itu tak mampu, Alumni pesantren kok bisanya hanya ceramah dan ngajar ngaji saja”, Alumni pesantren kak gini saja ngak berani dan bisa dll       

 

Ungkapan sebagaimana diatas seharusnya tidak perlu kita lontarkan pada para alumni pesantren atau anak kita yang telah menjadi alumni pesantren. Sebab sejatinya alumni pesantren BUKAN PRODAK JADI. Tiba-tiba jadi Sholeh, tiba-tiba pandai cermah dan ngisi kajian, tiba-tiba bisa sambil kerja sebagai petani, pedangang, peternak dll. Ingat, semua perlu proses dan waktu, lama dan cepatnya tentu setiap anak beda-beda tergantung bagaimana dirinya belajar tentang kehidupan yang sesungguhnya.

 

Untuk itu, saat anak telah lulus dari pesantren, sejatinya dirinya sedang mulai belajar yang sesungguhnya yakni BELAJAR TENTANG KEHIDUPAN. Belajar tentang kehidupan hanya akan dijalani anak ketika anak sudah tidak terikat apapun dan menjalani hidup sebagaimana masyarakat lainnya. Jika, pesantren mengajarkan kehidupan pada anak kita, ingat itu hanyalah miniatur dari kehidupan nyata.

 

Jadi, sekali lagi bahwa alumni pesantren bukan PRODAK JADI, tapi mereka harus terus dibimbing dan diarahkan dengan baik agar mampu menjalani kehidupan yang sebenarnya dengan baik. Termasuk saat mereka nanti kembali pulang ke rumah tidak perlu punya ekspektasi berlebih-lebihan, tapi tetap bimbing mereka, arahkan dengan baik agar tujuan hidupnya manfaat dan berkah   

 

Wallahu 'alam bishowab

________


BEASISWA KULIAH GRATIS BAGI 
YANG BISA/MAMPU HAFAL QUR'AN 30 JUZ 



MENDIDIK ANAK BERKARAKTER SEJAK USIA DINI (Diambilkan dari Catatan harian Pola Pendidikan di PONPES TAHFIZHUL QUR'AN "KH khoirotun Hisan" 

 

PENDAFTARAN SETIAP SAAT SELAMA KUOTA MASIH ADA

 

DAPATKAN BUKU : SERIAL 01 MENDIDIK ANAK BERKARAKTER SEJAK USIA DINI (BERBASIS PESANTREN)/ 0823 2474 5151

 


0/Post a Comment/Comments

Yuk, tinggalkan komentar mu

Ads1
Ads2