PROSES PENGASUHAN/PENDIDIKAN ANAK YANG BAIK ADALAH “PRODAK TURUNAN” ORANG
TUA ...Inilah catatan saya kali ini bahwa sejatinya pengasuhan/pendidikan anak
yang baik adalah “prodak turunan” dari orang tua. Maknanya adalah kualitas
didikan orang tua kita saat masih kecil dulu sangat menentukan hasil kualitas
didikan anak-anaknya saat ini .....baca kembali CATATAN
62 : JIKA
KITA TAK “MEMILIKI” AMAL YAUMI DENGAN BAIK, MAKA JANGAN HARAP KITA MAMPU
“MEMBERI” PADA ANAK-ANAK KITA
Mereka yang terdidik disaat kecil, saat menjadi orang tua tentu lebih
siap mendidik anak-anak mereka di kemudian hari dari pada yang tidak. Tetapi,
bukan berarti mereka yang tidak terdidik saat kecil dulu oleh orang tua kita
(kakek/nenek anak kita) tidak mampu/bisa mengasuh/mendidik anak dengan baik,
tapi dengan syarat yakni MAU BELAJAR dan BERUBAH DEMI KEBAIKKAN ANAK2 KITA.
Banyak orang tua yang menyadari bahwa dulunya mereka anak-anak yang tak
terdidik dengan baik, sehingga mereka pun mulai belajar bagaimana menjadi orang
tua yang baik bagi anak-anak mereka (walaupun belajarnya terhitung terlambat,
lebih baik terlambat dari pada tidak ...). Bahkan saat ini banyak bermunculan
berbagai kajian atau sekolah parenting dengan berbagai nama, bahkan ada yang
pakai nama SEKOLAH IBU atau mungkin SEKOLAH BAPAK jika perlu.
Fenomena munculnya sekolah parenting, sekolah ibu atau bapak, bukan
indikasi kemajuan generasi hari ini dalam membangun keluarga atau mendidik anak
dari pada generasi dulu. Fenomena ini menurut saya justru adalah kemunduran
yang jauh dan indikasi bahwa generasi saat ini sangat kurang bekal untuk
menjadi seorang tua. Padahal sejatinya bekal menjadi seorang ayah/ibu dalam
mengasuh/mendidik anak adalah PRODAK TURUNAN yang diwariskan oleh orang tua
kepada anak secara turun temurun (bukan dari lembaga pendidikan formal)
Menjadi orang tua saat ini tidak cukup hanya belajar saja, akan tetapi
juga harus diiringi dengan SIAP DAN MAU BERUBAH DEMI KEBAIKKAN ANAK. Pada
kenyataannya, seringnya banyak orang tua hanya fokus pada mencari ilmu
parenting ke mana-mana, mulai dari browsing, membaca buku, ikut berbagai kajian
keluarga, menghadiri berbagai seminar dll, tapi tidak diiringi dengan perubahan
Sikap, bicara, Prilaku, kebiasaan dll
Maka jangan heran
banyak kita temukan orang tua saat ini yang pintar2 dan banyak literasinya
tentang mendidik anak, tapi minim aplikasi di lapangan. Bahkan tak sedikit dari
mereka pun bergelar S1, S2 dan S3. Sehingga hasil didikannya pun tidak mampu
menjadi bagian dari karakter anak-anak nya. Pertanyaannya kenapa ? Ada beberapa
faktor antara lain :
1. Bahwa tingginya
keilmuan yang dimiliki orang tua tidak berbanding lurus dengan kemampuan
dirinya mengasuh/mendidik anak dengan baik
2. Bahwa proses
pengasuhan/pendidikan anak yang baik itu bukan prodak pendidikan formal, tapi
dia adalah “PRODAK TURUNAN” yang diwariskan dari orang tua kepada anak secara
turun temurun. Prodak turunan ini yang pada akhirnya melahirkan PONDASI DASAR
KARAKTER saat anak dekat/bersama orang tua di rumah
Sedangkan
lembaga formal, hanya sebatas menambah/menguatkan apa yang telah dibangun orang
tua saat anak bersama orang tua di rumah.
Lalu bagaimana aplikasinya
bahwa pengasuhan/pendidikan anak yang baik itu adalah “PRODAK TURUNAN” ?
Perlu kita pahami bahwa
Allah Ta’ala memberikan fitroh pada setiap orang tua punya kemampuan
mengasuh/mendidik anak dengan baik, begitu pula setiap anak diberi fitroh siap
diasuh/dididik dengan baik. Jadi antara orang tua dan anak sudah berada pada
jalur yang benar yakni punya fitroh yang sama. Kemudian Allah Ta’ala memberikan
BAHAN AJAR yang berupa syari’ah (Al Qur’an dan As Sunnah) agar setiap orang
bisa membimbing anak-anak mereka dijalur yang tidak saja sesuai fitroh, tapi
juga sesuai dengan syari’ah.
Maka, mengasuh/mendidik
anak menjadi lebih mudah dan gampang untuk dilakukan oleh setiap tua kapan pun
dan di mana pun. Maknanya bahwa, untuk menjadi orang tua yang bisa
mengasuh/mendidik anak dengan baik sesuai fitroh dan syariah itu tidak
mengharuskan kita menjadi kaya terlebih dahulu atau orang yang punya gelar
akademik yang hebat. Tetapi, jika kita punya kekayaan, punya keilmuaan hebat,
punya gelar akademik tinggi dan mampu mengasuh/mendidikan anak tentu hasilnya
akan luar biasa dari pada yang tidak punya
Hasil prodak turunan
itu akan menjadi baik, berkualitas dan sesuai dengan fitroh dan syariah, jika
orang tuanya adalah orang tua yang sholeh/ah dalam mizan (timbangan) Allah
Ta’ala, bukan dari sudut pandang orang. Sebab apa yang dipandang sholeh
seseorang belum tentu sholeh dalam pandangan Allah Ta’ala. Kemudian orang tua
menjalani kehidupan yang nyata bersama sang anak sebagai muslim yang taat.
Jika kita ingin anak
bisa bangun padi Sholat subuh berjama’ah bagi laki2 dan tidak tidur pagi/sore
hari, ya kita sebagai orang tua harus memulai dulu dan memberi contoh yang
baik. Untuk bisa bangun diwaktu subuh tidak butuh biaya, tidak perlu harus
sekolah tinggi, tidak perlu harus kaya dll. Jika, kita ingin anak kita rajin
dan peduli pada orang tua, maka kita sebagai orang tua harus peduli dan rajin
melakukan hal2 yang kecil di rumah. Jika, anak kita ingin punya kebiasaan yang
baik, maka orang tua seharusnya bisa menjadi contoh bagi anak-anak mereka.
Begitu pula dalam hal
mendidik anak menjadi seorang “ayah/ibu masa depan” ucapan, sikap dan prilaku
kita pada pasangan kita akan menjadi ucapan/sikap dan prilakunya saat mereka
menjadi seorang tua.Dari beberapa contoh diatas, membuktikan bahwa kesholeh/an
orang tua menjadi kunci dari proses pengasuhan//pendidikan anak. Dan kesholeh/an
orang tua itu adalah PRODAK TURUNAN yang harus diwariskan orang tua pada
anak-anak mereka tanpa menunggu nanti.
Sayangnya hari ini,
orang tua enggan belajar dan berubah demi akan-anak mereka, tapi menuntut
kesholeha/an anak pada pengasuh pesantren. Karena anak nya sudah di pondok
pesantrenkan, maka anak wajib menjadi sholeh/ah. Orang tua enggan merubah
kebiasaan buruknya demi kebaikkan anak-anak mereka, bahkan tak jarang orang tua
justru mendorong mengikuti kebiasaan buruk orang tuanya.
Seharusnya orang tua
yang anaknya mondok di pesantren lebih bersemangat untuk ibadah, amal sholeh,
rajin ke masjid, membaca Qur’an, Sholat Sunnah, Puasa sunnah dll dari pada
orang tua yang anaknya tidak mondok di pesantren. Sehingga kesholihan orang tua
bisa di wariskan pada anak-anak mereka. Tapi pada kenyataannya banyak orang tua
yang anaknya mondok di pesantren, tak membawa perubahan apapun pada diri orang
tua, tidak semakin sholih tapi justru semakin malas ..... Lalu apa yang kau cari dengan anak mu
mondok di pesantren ?
Wallahu 'alam bishowab
ASA TALENTA
(Pengembangan potensi/bakat Sejak Dini)
________
MENDIDIK ANAK BERKARAKTER SEJAK USIA DINI (Diambilkan dari Catatan harian Pola Pendidikan di PONPES TAHFIZHUL QUR'AN "KH khoirotun Hisan"
PENDAFTARAN SETIAP SAAT SELAMA KUOTA MASIH ADA
DAPATKAN BUKU : SERIAL
01 MENDIDIK ANAK BERKARAKTER SEJAK USIA DINI (BERBASIS PESANTREN)/ 0823 2474
5151




Posting Komentar
Yuk, tinggalkan komentar mu