CATATAN 118 : PENTINGNYA MENGATASI “TRAUMA MASA LALU” ANAK SAAT MONDOK DI PESANTREN (Oleh : Nashrullah Jumadi)

 



Sebagaimana dalam catatan saya sebelumnya, bahwa pondok pesantren adalah salah satu wadah pendidikan dan pembinaan anak. Sebagai wadah pendidikan dan pembinaan tentunya pesantren jauh dari kata sempurna. Sehingga wajar saja jika proses pendidikan anak di pesantren terkadang juga tak mampu memuaskan semua orang tua. Terlebih lagi pesantren hanya sekedar mitra bagi orang tua untuk mendidik anak menjadi generasi yang lebih baik.

 

Saat orang tua menyerahkan anak pada pengasuh pesantren untuk dididik ala pesantren. Tentunya masing-masing orang tua berangkat dari niat yang tidak sama satu sama lainnya. Dan seorang anak pun tidak semua berangkat dari kondisi kejiwaan,mental dan bekal yang sama. Khususnya terkait dengan tema catatan di atas, bahwa tidak setiap anak punya kejiwaan dan mental yang baik-baik saja atau saya istilahkan “Trauma Masa Lalu” yang sama. Ada yang biasa saja sebagaimana umumnya anak, ada yang butuh perhatian lebih, bahkan ada yang membutuhkan proses konseling dengan baik.  

 

“Trauma Masa Lalu” ini menurut saya hal biasa terjadi pada seorang anak, sebab proses Trauma Masa Lalu ini berawal dari proses pengasuhan/pendidikan saat usia dini yang kurang pada anak. Kurangnya perhatian ini tak lain karena kualitas orang tua jauh kata sempurna. Sebab pada kenyataannya memang tidak ada orang tua yang mampu mendidik anak dengan sempurna. “Ketidaksempurnaan” ini justru menunjukkan dia adalah orang tua yang sempurna sebagaimana orang tua pada umumnya.

 

Pertanyaan, lalu dari mana Trauma Masa Lalu ini muncul pada diri anak ? Yakni dari proses pengasuhan/pendidikan anak usia dini yang tidak sempurna atau bahkan rusak selama anak bersama/dekat dengan orang tua. Jika kita mau jujur, sejatinya banyak juga para orang tua saat ini yang masih mengalami trauma masa lalu dari proses pendidikan orang tuanya dulu. Ada yang mampu mengatasinya dengan baik dan mengambil sisi positifnya, kemudian mampu memberikannya pada anak dengan baik melalui proses pengasuhan/pendidikan yang tepat. Tapi banyak pula orang tua yang sudah memiliki anak masih saja terbelenggu dengan trauma masa lalu yang tak kunjung bisa diatasinya. Sayangnya trauma masa lalu orang tua, justru dijadikan bahan untuk proses pengasuhan/pendidikan pada anak-anaknya.

 

Akhirnya lahirlah generasi yang tidak lebih baik dari orang tuanya, sebab anak masih saja mewarisi trauma masa lalu dari orang tua mereka sendiri. Padahal salah satu seni dari mengasuh/mendidik anak adalah bagaimana kemampuan orang tua menghilangkan/meminimalkan secara maksimal masa lalunya agar tidak diberikan pada anak-anak mereka. Sehingga anak akan mendapatkan proses pengasuhan/pendidikan yang sehat.


 

Untuk itu, saat anak masuk ke dunia pesantren tentu tak lepas dari trauma masa lalu yang tidak sama. Sehingga saat anak mondok di pesantren, anak tidak hanya mendapatkan pembinaan karakter, berbagai ilmu syar’i dan pengembangan potensi bakatnya, tapi juga proses HEALING TRAUMA MASA LALU anak dengan baik. Sehingga alumni pesantren nantinya tidak hanya punya karakter yang baik, disiplin keilmuan yang bagus, berkembang potensi/bakatnya, tapi juga mampu menghilangkan/mengatasi trauma masa lalu anak dengan baik.

 

Pada catatan saya ini saya membedakan antara TRAUMA MASA LALU dengan MEMBANGUN KARAKTER ANAK, sebab menurut saya ke 2 nya punya ranah yang berbeda. Kalau trauma lebih pada proses penyembuhan (menghilangkan/ meminimalkan), sedangkan karakter adalah proses menanam/membangun karakter pada anak. Untuk itu, saat anak masuk/mulai menjalani awal mondok di pesantren (sebelum proses pembinaan karakter berjalan) paling tidak kita harus memahami dengan baik setiap anak yang akan mondok, kira-kira punya trauma masa lalu atau tidak ?

 

Jika anak tidak punya masa lalu yang mengkuatirkan dan diyakini (secara keilmuan) mampu berjalan beriringan dengan pembinaan karakter anak, anak bisa saja menjalani proses pengasuhan/pendidikan di pesantrten sebagaimana lainnya. Tapi, jika saat observasi awal anak berpotensi ada trauma masa lalu yang akut, maka sebaiknya dikonseling dulu agar anak mampu menghilangkan/minimalkan trauma masa lalunya yang buruk (ada perlakukan khusus)  

 


Lalu bagaimana cara kita mengetahui anak ada trauma atau tidak ? yakni melalui proses konseling anak. Setiap anak yang masuk, tidak saja data pribadi dan hasil rapot dll yang diminta, tapi juga latar belakang anak di rumah, kesehaian anak, pendidikan dll. Kemudian anak menjalani proses adaptasi awal selama mondok (di Ponpes KH adaptasinya selama 3 bulan awal mondok). Waktu adaptasi anak belum 100% diterima sebagai santri/wati ponpes, dalam waktu kurun 3 bulan ini ruang bagi kita untuk mengetahui lebih dalam tentang anak dan sebagai observasi awal ada tidaknya trauma masa lalu anak

 

Terkait dengan pentingnya proses konseling ini, sayangnya banyak ponpes yang merasa tidak penting/dibutuhkan untuk menjadi bagian dari proses pengasuhan/pendidikan anak. Ada yang berpendapat ribet, ada yang merasa ngak penting karena konseling tidak ada referensinya, tidak terlalu manfaat untuk anak dll. Akhirnya proses pengasuhan/pendidikan berjalan di ponpes berjalan tanpa konseling (...Baca CATATAN 95 : HILANGNYA FUNGSI KONSELING DI PONDOK PESANTREN). 

Proses pengasuhan/pendidikan hanya mengadopsi prodak turunan yang telah berjalan selama ini di kultur pesantren, banyak pengasuh khususnya pengasuh muda yang secara langsung berinteraksi dengan anak sehari-hari minim bekal ilmu konseling. Semua dijalankan sesuai dengan sistem yang telah berjalan selama ini.

 

Lalu bagaimana proses penerapan konseling bagian dari proses HEALING TRAUMA ANAK di pesantren ? 

Membaca kembali pada catatan saya yakni CATATAN 110 : MONDOKKAN ANAK DI PESANTREN, ANTARA KEBUTUHAN ANAK DAN KEINGINAN ORANG TUA .... Dari catatan ini kita bisa simpulkan bahwa memondokkan anak di pesantren seharusnya mendasarkan pada kebutuhan anak. Sedangkan kebutuhan ini lebih pada kebutuhan akan POLA PENGASUHAN ANAK yang diberikan orang tua selama anak bersama/dekat dengan orang tua. Tidak mendasarkan pada kecerdasan anak atau orang tua punya cukup finansial  

 

Kenapa dasarnya pada POLA PENGASUHAN ANAK ? Jika anak mondok di pesantren sudah tentu anak pintar dengan berbagai ilmu syar’i, berkembang bakatnya dengan baik atau karakternya semakin baik, tapi tidak dengan pengasuhan anak. Pola pengasuhan ini unik sehingga pengasuh pesantren pun seringkali tak mampu memberikan solusi atas pengasuhan yang hilang disaat usia dini, terlebih lagi Trauma masa lalu anak. Sebab Trauma Masa Lalu anak biasanya terjadi anak sebelum masuk ke pesantren

 

Ujian Tahfizh Qur'an (Tanpa Kesalahan) 

Lalu pertanyaan selanjutnya, apakah mengharuskan setiap pesantren ada proses konseling yang baik, khususnya diawal masuk pesantren ? Tidak, sebab jika kita klasifikasikan ponpes berdasarkan pada pola pengasuhan, maka bisa kita bagi menjadi beberapa, antara lain :

   1.  Ponpes yang basis keilmuan dan pengembangan bakat anak dominan dijalankan. Ponpes seperti ini biasanya pola pengasuhan dianggap sudah selesai. Sehingga ponpes sifatnya hanya menguatkan saja dari proses yang dibangun saat anak dekat/bersama orang tua. Untuk ponpes model seperti ini tidak mengharuskan adanya konseling yang ketat


 
2.  Adapun ponpes yang memiliki latar belakang anak2 yang punya masalah(Misalkan dibuang, anak ditelantarkan, yatim\piatu, orang tuanya pisah dll) tentu keberadaan konseling menurut saya adalah keharusan dan perlu ditangani ahli Psikologi yang punya basis ilmu yang lengkap terhadap anak
 

Sehingga prioritas pola pengasuhan yang dijalankan akan menyasar pada HEALING TRAUMA MASA LALU anak terlebih dahulu. Kemudian berlanjut pada membangun karakternya, di bekali berbagai keilmuan dan dikembangkan bakatnya (Tidak usah buru-buru anak dipintarkan tapi dihilangkan dulu traumannya) agar anak bisa tumbuh dan berkembang secara sehat

 

Tapi, seringkali para pengasuh/pengurus model pesantren seperti ini justru memperlakukan anak sebagaimana anak pada umumnya (anak yang pengasuhan/pendidikannya sehat). Ingin hasil output yang berkalitas, keilmuan hebat, bakat berkembang dll, tapi lupa bahwa input itu sangat menentukan hasil ouputnya. Maka, mengasuh anak seperti ini harus punya jalan sendiri dan tak perlu menganggap ponpes lain adalah pesaing.

 

Dan tidak perlu menutut hasil lebih pada anak, sebab anak mampu mengatasi Trauma Masa Lalunya sudah merupakan pencapaian yang luar biasa untuk masa depan anak ke depan  

 

SEKOLAH SORE TAHFIZH QUR'AN (SSTQ) KH (Tanpa Mondok) 

Kesimpulan, bahwa proses MENGHILANGKAN TRAUMA MASA LALU ANAK seharusnya juga menjadi perhatian kita bersama dan menjadi bagian penting dari proses pengasuhan/pendidikan anak di pondok pesantren, khususnya di ponpes yang dominan pada pola pengasuhan anak   

 

Wallahu 'alam bishowab

________

MENDIDIK ANAK BERKARAKTER SEJAK USIA DINI (Diambilkan dari Catatan harian Pola Pendidikan di PONPES TAHFIZHUL QUR'AN "KH khoirotun Hisan" 

 

PENDAFTARAN SETIAP SAAT SELAMA KUOTA MASIH ADA

 

DAPATKAN BUKU : SERIAL 01 MENDIDIK ANAK BERKARAKTER SEJAK USIA DINI (BERBASIS PESANTREN)/ 0823 2474 5151

0/Post a Comment/Comments

Yuk, tinggalkan komentar mu

Ads1
Ads2