Sebagaimana dalam
catatan saya sebelumnya, bahwa pondok pesantren adalah salah satu wadah pendidikan
dan pembinaan anak. Sebagai wadah pendidikan dan pembinaan tentunya pesantren
jauh dari kata sempurna. Sehingga wajar saja jika proses pendidikan anak di
pesantren terkadang juga tak mampu memuaskan semua orang tua. Terlebih lagi
pesantren hanya sekedar mitra bagi orang tua untuk mendidik anak menjadi
generasi yang lebih baik.
Saat orang tua
menyerahkan anak pada pengasuh pesantren untuk dididik ala pesantren. Tentunya
masing-masing orang tua berangkat dari niat yang tidak sama satu sama lainnya.
Dan seorang anak pun tidak semua berangkat dari kondisi kejiwaan,mental dan
bekal yang sama. Khususnya terkait dengan tema catatan di atas, bahwa tidak
setiap anak punya kejiwaan dan mental yang baik-baik saja atau saya istilahkan
“Trauma Masa Lalu” yang sama. Ada yang biasa saja sebagaimana umumnya anak, ada
yang butuh perhatian lebih, bahkan ada yang membutuhkan proses konseling dengan
baik.
“Trauma Masa Lalu” ini
menurut saya hal biasa terjadi pada seorang anak, sebab proses Trauma Masa Lalu
ini berawal dari proses pengasuhan/pendidikan saat usia dini yang kurang pada
anak. Kurangnya perhatian ini tak lain karena kualitas orang tua jauh kata
sempurna. Sebab pada kenyataannya memang tidak ada orang tua yang mampu
mendidik anak dengan sempurna. “Ketidaksempurnaan” ini justru menunjukkan dia
adalah orang tua yang sempurna sebagaimana orang tua pada umumnya.
Pertanyaan, lalu dari
mana Trauma Masa Lalu ini muncul pada diri anak ? Yakni dari proses pengasuhan/pendidikan
anak usia dini yang tidak sempurna atau bahkan rusak selama anak bersama/dekat
dengan orang tua. Jika kita mau jujur, sejatinya banyak juga para orang tua
saat ini yang masih mengalami trauma masa lalu dari proses pendidikan orang
tuanya dulu. Ada yang mampu mengatasinya dengan baik dan mengambil sisi
positifnya, kemudian mampu memberikannya pada anak dengan baik melalui proses
pengasuhan/pendidikan yang tepat. Tapi banyak pula orang tua yang sudah
memiliki anak masih saja terbelenggu dengan trauma masa lalu yang tak kunjung
bisa diatasinya. Sayangnya trauma masa lalu orang tua, justru dijadikan bahan untuk
proses pengasuhan/pendidikan pada anak-anaknya.
Akhirnya lahirlah
generasi yang tidak lebih baik dari orang tuanya, sebab anak masih saja mewarisi
trauma masa lalu dari orang tua mereka sendiri. Padahal salah satu seni dari
mengasuh/mendidik anak adalah bagaimana kemampuan orang tua menghilangkan/meminimalkan
secara maksimal masa lalunya agar tidak diberikan pada anak-anak mereka.
Sehingga anak akan mendapatkan proses pengasuhan/pendidikan yang sehat.
Untuk itu, saat anak
masuk ke dunia pesantren tentu tak lepas dari trauma masa lalu yang tidak sama.
Sehingga saat anak mondok di pesantren, anak tidak hanya mendapatkan pembinaan
karakter, berbagai ilmu syar’i dan pengembangan potensi bakatnya, tapi juga proses
HEALING TRAUMA MASA LALU anak dengan baik. Sehingga alumni pesantren nantinya
tidak hanya punya karakter yang baik, disiplin keilmuan yang bagus, berkembang
potensi/bakatnya, tapi juga mampu menghilangkan/mengatasi trauma masa lalu anak
dengan baik.
Pada catatan saya ini
saya membedakan antara TRAUMA MASA LALU dengan MEMBANGUN KARAKTER ANAK, sebab
menurut saya ke 2 nya punya ranah yang berbeda. Kalau trauma lebih pada proses
penyembuhan (menghilangkan/ meminimalkan), sedangkan karakter adalah proses
menanam/membangun karakter pada anak. Untuk itu, saat anak masuk/mulai
menjalani awal mondok di pesantren (sebelum proses pembinaan karakter berjalan)
paling tidak kita harus memahami dengan baik setiap anak yang akan mondok, kira-kira
punya trauma masa lalu atau tidak ?
Jika anak tidak punya
masa lalu yang mengkuatirkan dan diyakini (secara keilmuan) mampu berjalan
beriringan dengan pembinaan karakter anak, anak bisa saja menjalani proses
pengasuhan/pendidikan di pesantrten sebagaimana lainnya. Tapi, jika saat observasi
awal anak berpotensi ada trauma masa lalu yang akut, maka sebaiknya dikonseling
dulu agar anak mampu menghilangkan/minimalkan trauma masa lalunya yang buruk
(ada perlakukan khusus)
Lalu bagaimana cara kita
mengetahui anak ada trauma atau tidak ? yakni melalui proses konseling anak. Setiap
anak yang masuk, tidak saja data pribadi dan hasil rapot dll yang diminta, tapi
juga latar belakang anak di rumah, kesehaian anak, pendidikan dll. Kemudian anak
menjalani proses adaptasi awal selama mondok (di Ponpes KH adaptasinya selama 3
bulan awal mondok). Waktu adaptasi anak belum 100% diterima sebagai santri/wati
ponpes, dalam waktu kurun 3 bulan ini ruang bagi kita untuk mengetahui lebih
dalam tentang anak dan sebagai observasi awal ada tidaknya trauma masa lalu
anak
Terkait dengan pentingnya proses konseling ini, sayangnya banyak ponpes yang merasa tidak penting/dibutuhkan untuk menjadi bagian dari proses pengasuhan/pendidikan anak. Ada yang berpendapat ribet, ada yang merasa ngak penting karena konseling tidak ada referensinya, tidak terlalu manfaat untuk anak dll. Akhirnya proses pengasuhan/pendidikan berjalan di ponpes berjalan tanpa konseling (...Baca CATATAN 95 : HILANGNYA FUNGSI KONSELING DI PONDOK PESANTREN).
Proses pengasuhan/pendidikan hanya mengadopsi prodak turunan yang
telah berjalan selama ini di kultur pesantren, banyak pengasuh khususnya
pengasuh muda yang secara langsung berinteraksi dengan anak sehari-hari minim bekal
ilmu konseling. Semua dijalankan sesuai dengan sistem yang telah berjalan
selama ini.
Lalu bagaimana proses penerapan konseling bagian dari proses HEALING TRAUMA ANAK di pesantren ?
Membaca kembali pada catatan saya yakni CATATAN 110
: MONDOKKAN ANAK DI PESANTREN, ANTARA KEBUTUHAN ANAK DAN KEINGINAN ORANG TUA ....
Dari catatan ini kita bisa simpulkan bahwa memondokkan anak di pesantren
seharusnya mendasarkan pada kebutuhan anak. Sedangkan kebutuhan ini lebih pada
kebutuhan akan POLA PENGASUHAN ANAK yang diberikan orang tua selama anak
bersama/dekat dengan orang tua. Tidak mendasarkan pada kecerdasan anak atau
orang tua punya cukup finansial
Kenapa dasarnya pada POLA PENGASUHAN ANAK ? Jika
anak mondok di pesantren sudah tentu anak pintar dengan berbagai ilmu syar’i, berkembang
bakatnya dengan baik atau karakternya semakin baik, tapi tidak dengan
pengasuhan anak. Pola pengasuhan ini unik sehingga pengasuh pesantren pun
seringkali tak mampu memberikan solusi atas pengasuhan yang hilang disaat usia dini,
terlebih lagi Trauma masa lalu anak. Sebab Trauma Masa Lalu anak biasanya
terjadi anak sebelum masuk ke pesantren
Lalu pertanyaan selanjutnya, apakah mengharuskan
setiap pesantren ada proses konseling yang baik, khususnya diawal masuk pesantren
? Tidak, sebab jika kita klasifikasikan ponpes berdasarkan pada pola
pengasuhan, maka bisa kita bagi menjadi beberapa, antara lain :
1. Ponpes yang basis keilmuan dan pengembangan bakat anak dominan dijalankan. Ponpes seperti ini biasanya pola pengasuhan dianggap sudah selesai. Sehingga ponpes sifatnya hanya menguatkan saja dari proses yang dibangun saat anak dekat/bersama orang tua. Untuk ponpes model seperti ini tidak mengharuskan adanya konseling yang ketat
2. Adapun ponpes yang memiliki latar belakang anak2
yang punya masalah(Misalkan dibuang, anak ditelantarkan, yatim\piatu, orang
tuanya pisah dll) tentu keberadaan konseling menurut saya adalah keharusan dan perlu
ditangani ahli Psikologi yang punya basis ilmu yang lengkap terhadap anak
Sehingga prioritas pola pengasuhan yang dijalankan
akan menyasar pada HEALING TRAUMA MASA LALU anak terlebih dahulu. Kemudian berlanjut
pada membangun karakternya, di bekali berbagai keilmuan dan dikembangkan
bakatnya (Tidak usah buru-buru anak dipintarkan tapi dihilangkan dulu
traumannya) agar anak bisa tumbuh dan berkembang secara sehat
Tapi, seringkali para pengasuh/pengurus model
pesantren seperti ini justru memperlakukan anak sebagaimana anak pada umumnya
(anak yang pengasuhan/pendidikannya sehat). Ingin hasil output yang berkalitas,
keilmuan hebat, bakat berkembang dll, tapi lupa bahwa input itu sangat menentukan
hasil ouputnya. Maka, mengasuh anak seperti ini harus punya jalan sendiri dan
tak perlu menganggap ponpes lain adalah pesaing.
Dan tidak perlu menutut hasil lebih pada anak, sebab
anak mampu mengatasi Trauma Masa Lalunya sudah merupakan pencapaian yang luar
biasa untuk masa depan anak ke depan
Kesimpulan, bahwa proses MENGHILANGKAN TRAUMA MASA
LALU ANAK seharusnya juga menjadi perhatian kita bersama dan menjadi bagian penting
dari proses pengasuhan/pendidikan anak di pondok pesantren, khususnya di ponpes
yang dominan pada pola pengasuhan anak
Wallahu 'alam bishowab
________
MENDIDIK ANAK
BERKARAKTER SEJAK USIA DINI (Diambilkan dari Catatan harian Pola Pendidikan di
PONPES TAHFIZHUL QUR'AN "KH khoirotun Hisan"
PENDAFTARAN SETIAP SAAT
SELAMA KUOTA MASIH ADA
DAPATKAN BUKU : SERIAL
01 MENDIDIK ANAK BERKARAKTER SEJAK USIA DINI (BERBASIS PESANTREN)/ 0823 2474
5151






Posting Komentar
Yuk, tinggalkan komentar mu