Sebelum membahas tema
catatan saya kali ini, ada baiknya kita memahami dengan baik beberapa point
penting terkait dengan pondok pesantren, antara lain :
1. Bahwa pondok pesantren
hanyalah wasilah orang tua untuk menempa dan mendidik anak dengan konsep yang
berbeda.
2. Pondok pesantren adalah
wahana belajar dan bukan kehidupan yang sebenarnya. Pesantren adalah minimatur
kehidupan nyata untuk menempa anak menjadi pribadi yang kuat dan tangguh agar
mampu menghadapi tuntutan zaman dimana dirinya nanti hidup
3. Bahwa tidak ada satu
pun yang pesantren yang bisa menjamin anak saat mondok atau setelah mondok
menjadi pribadi yang sholeh/ah. Semua terpulang pada niat awal mondok, siap
didik/tidak dan tentunya adalah hidayah Allah Ta’ala. Ponpes hanya membantu
menempa dan mendidik anak agar menjadi generasi hebat
4. Memandang
pesantren secara bijak, bahwa pesantren bukan tempat anak-anak yang terbuang,
nakal, tidak bisa diatur dll dan bukan pula tempat anak yang baik, sholeh/ah,
siap dididik saja. Pesantren tempat berkumpulnya anak dengan berbagai latar
belakang, karakter, sifat dan prilaku yang beda-beda, ada yang baik dan ada
pula yang buruk.
Dari
beberapa point penting diatas, kita harus paham bahwa orang tua yang mondokkan
anak di pesantren tentu juga punya niat yang tidak sama. Begitu pula modal dan
kesiapan anak masuk pesantren pun juga tidak sama antara anak satu dengan anak
lainnya. Sedangkan pesantren seringkali telah memiliki sistem
pengasuhan/pendidikan yang sudah baku untuk dijalankan, dari proses
pendaftaran, masuk pondok, menjalani rutinitas harian pesantren bahkan sampai
anak selesai mondok pun sudah tersistem dengan baik.
Dari sini kita harus memahami bahwa tidak setiap anak mampu dan siap menjalani proses tempaan ala pesantren. Maka, niat orang tua mondokkan anak, modal anak (kebiasaan, sikap dan prilaku, adab dan akhlaq) anak serta kesiapan mental yang kuat menjadi modal penting anak mondok di pesantren. Bahkan tidak cukup hanya itu saja, kemampuan finansial orang tua dalam mendukung anak pun punya peran yang tak kalah pentingnya.
Saat
anak menjalani proses pendindikan ala pesantren yang menuntut tinggal 24 jam
dalam waktu yang lama. Tidak semua anak mampu menjalani dan mampu bertahan
dengan berbagai tempaan di pondok pesantren. Niat awal, Modal awal, kesiapan
dan mental anak sebelum mondok punya peran yang penting dalam mendukung anak
sukses mondok di pesantren. Karena tidak mudah menjalani kehidupan ala
pesantren itulah, mengapa orang tua
harus punya niat yang benar dan memilihkan pesantren yang sesuai dengan
kebutuhan anak, bukan karena gensi, ikut-ikutan, atau hanya sekedar ingin
mondok di tempat yang megah dan lengkap semata.
Misalkan
saja, jika ada anak yang punya latar belakang kurang dalam pengasuhan, kemudian
masuk di ponpes yang pengasuhan dianggap telah selesai, tentu anak berpotensi
gagal mondok jika anak masih mencari perhatian, buat ulah, buat gaduh dan tidak
siap didik pengasuh, kekanak-kanakan dll. Jika anak punya latar belakang
ekonomi yang pas pasan, kemudian mondok di pesantren yang membutuhkan biaya
tinggi, baik untuk spp, pendidikan, kegiatan dll, tentu anak berpotensi gagal
mondok karena tak punya biaya. Jika anak lemah dari sisi kecerdasan, tentu akan
berat mengikuti jika anak masuk ke pesantren berbasis kader ulama yang menuntut
menguasai berbagai displin ilmu dengan baik.
Begitu
pula anak yang sejatinya baik dalam banyak hal, baik ibadahnya, karakternya,
keilmuannya terkadang harus gagal mondok karena buat kesalahan yang tidak
disengaja. Bahkan, ada anak yang terpaksa gagal mondok karena kedengkian,
hasutan, fitnah dari teman/kakak angkatannya yang berusaha menyingkirkan
dirinya agar gagal mondok dll. Ya, namanya juga hidup bersama, segala
kemungkinan yang membuat anak gagal mondok tentu bisa saja terjadi.
Yang
terpenting sejatinya, dukungan dan support orang tua/keluarga terdekat anak
agar mampu menjalani dengan baik, baik itu do’a, dukungan finasial, motivasi,
menerima berbagai keluhan anak, tak lupa adalah orang tua harus selalu
meningkatkan ruhiyahnya untuk dekat pada Allah Ta’ala. Untuk itu jangan sia-siakan
untuk ketemu anak jika ada jadwal penjengukan khususnya anak yang masih usia
smp/Mts /kmi Kelas 1 – 3 walaupun hanya sedekar gobrol dengan anak, sebab
terkadang ada permasalah yang dialami anak dan tak mampu diselesaikan oleh
pengasuh.
Dari
sini kita bisa mengambil pelajaran bahwa kegagalan anak mondok di pesantren itu
banyak hal yang melatar belakangi, sehingga kita tidak boleh terlalu dini
menilai bahwa anak yang gagal mondok itu sudah pasti anak yang buruk sikap dan
prilakunya. Sedangkan anak yang mampu bertahan di pondok adalah anak yang baik
? Belum tentu, sebab terkadang anak bisa bertahan di pondok karena dirinya
pintar menyembunyikan dan memanipulasi atas sikap dan prilakunya yang buruk,
sehingga dirinya mampu bertahan hingga lulus.
Untuk
itu, dalam menyikapi anak yang gagal mondok di pesantren manapun, seharusnya
setiap orang tua harus bijak dan tidak terlalu menyalahkan anak, sebab GAGAL
MONDOK, BUKAN BERATI GAGAL MENJALANI HIDUP. Setiap orang tua tentu berharap
anaknya sukses mondok hingga lulus, tapi jika gagal mondok bukan berarti dirinya
gagal menjalani hidup, gagal menjadi pribadi yang baik dan sukses. Jadi gagal/tidaknya
anak mondok bukan ukuran baik atau suksesnya anak nanti, tapi semua tentu ada
proses yang harus dijalani anak di kehidupan nyata yang sebenarnya.Sebab banyak
pula anak-anak yang gagal mondok kemudian berpindah atau meniti jalur beda
dalam menggapai cita-cita sukses dan mampu menjadi pribadi yang baik dan
sukses.
Wallahu 'alam bishowab
________
- MENDIDIK ANAK BERKARAKTER SEJAK USIA DINI (Diambilkan dari Catatan harian Pola Pendidikan di PONPES TAHFIZHUL QUR'AN "KH khoirotun Hisan"
- PENDAFTARAN SETIAP SAAT SELAMA KUOTA MASIH ADA
- DAPATKAN BUKU : SERIAL 01 MENDIDIK ANAK BERKARAKTER SEJAK USIA DINI (BERBASIS PESANTREN)/ 0823 2474 5151




Posting Komentar
Yuk, tinggalkan komentar mu